DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 49. Melukis Wajah Gerald


__ADS_3

Bima mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah kediaman Gerald. Aurell yang duduk dibelakang asyik dengan bonekanya.


"Mas, kita mampir ke toko kue dulu. Aku mau beli sesuatu untuk Bu Cinta," ucap Agatha.


"Kita mampir di toko kue yang tidak jauh dari rumah Gerald saja."


"Bu, aku mau brownies," ucap Aurell dengan suara cadel khas anak-anak.


"Iya, Sayang." Agatha menjawab dengan tersenyum. Putri kecilnya itu sangat menggemaskan.


"Mas, apa benar yang Gilang katakan, jika kecelakaan yang menimpa Bu Cinta itu memang sengaja di tuju untuk dirinya. Target pengendara itu adalah Gilang," ucap Agatha ingin tahu kebenaran atas apa yang dia dengar dari putranya.


Bima hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dia tidak mau membuat istrinya kuatir, itulah sebabnya pria itu menyembunyikan kebenaran itu dari Agatha. Namun, ternyata Gilang yang mengatakan semua pada ibunya.


"Apa benar semua itu atas perintah Merlin?" tanya Agatha lagi. Kembali Bima hanya menjawab dengan menganggukkan kepala.


Agatha meremas kedua tangannya untuk menahan emosinya. Dia tidak akan terima siapapun yang ingin menyentuh apa lagi mencelakai anak-anaknya. Agatha harus meminta pertanggungjawaban dari Merlin. Wanita itu mengajak perang karena sudah berani mengusik anaknya.

__ADS_1


Dalam hatinya Agatha berkata jika dia ingin bertemu Merlin. Dia akan bicara dengan wanita itu. Ingat mengingatkan dia jika berani menyentuh anak-anaknya maka akan Agatha tidak akan tinggal diam.


Di rumah kediaman Gerald, putranya Gilang sedang belajar melukis. Bu Cinta juga ikutan melukis sambil mengajarkan cara yang baik. Tanpa dia sadari tangannya melukis wajah Gerald. Mungkin dipikiran Cinta ada wajah pria itu.


Gilang yang memperhatikan lukisan gurunya itu mengerutkan dahinya. Dia memperhatikan dengan seksama, apakah matanya tidak salah lihat.


"Bu, lukisan ini seperti wajah Papa!" ucap Gilang. Mendengar itu Cinta langsung melihat ke lukisan yang sedang dia buat, betapa kagetnya wanita itu menyadari jika apa yang Gilang katakan itu benar adanya.


Wajah Cinta memerah karena malu. Gerald yang penasaran, berdiri dari duduknya dan mendekati Cinta. Wanita itu segera menutupi wajah yang ditulisnya dengan kedua tangan.


Gerald yang penasaran memegang kedua tangan Cinta dan menjauhkan dari lukisannya. Wajah Cinta makin memerah ketika Gerald memandangi lukisannya. Gilang yang melihat itu jadi tersenyum.


Gilang yang menyadari itu, berusaha membuat gurunya nyaman dengan membelanya. Gilang merasa kasihan melihat Cinta yang gugup ketika Gerald bertanya.


"Papa, Bu Cinta itu melukis wajah Papa karena aku sudah melukis wajah Ibu. Pasti biar adil. Ada lukisan kedua orang tuaku. Jika ayah Bima, telah aku lukis kemarin," ucap Gilang.


Cinta yang merasa jawaban Gilang sangat membantunya, memberikan senyuman pada muridnya itu. Dia lalu memandangi wajah Gerald. Tampaknya kegugupan Cinta sudah mulai berkurang.

__ADS_1


"Dengar itu Bapak Gerald. Itulah alasannya kenapa aku melukis wajah Bapak. Jika aku tidak melakukan itu, nanti Bapak bisa sedih, bahkan mungkin menangis," ujar Cinta.


Gerald merasa jawaban Cinta mengada-ngada. Dia mencibir ke arah wanita itu. "Ngeles aja kayak bajai," ujar Gerald.


Agatha dan Bima serta Aurell yang baru masuk menjadi tersenyum mendengar ucapan Gerald. Pria itu belum menyadari kehadiran mantan istrinya itu. Agatha dan Bima masuk setelah dipersilakan penjaga rumah.


"Hhhmmm ...," deheman Agatha membuat ketiga orang itu langsung menoleh ke arah suara. Agatha memberikan senyumannya.


"Agatha, Bima, silakan duduk," ucap Gerald mempersilakan keduanya.


Agatha memilih duduk di dekat putranya. Melihat lukisan wajahnya yang sedang Gilang buat. Agatha memeluk putranya itu dan mengecup kedua pipinya. Air matanya jatuh tanpa dia bisa tahan.


Agatha teringat jika Gilang hampir saja jadi korban kejahatan dari Merlin. Seandainya saat itu Bu Cinta tidak mendorong tubuh Gilang, entah apa yang akan terjadi. Bu Cinta saja yang sudah melihat motor itu melaju bisa luka parah apa lagi Gilang yang tidak tahu.


Gilang yang melihat ibunya menangis menjadi heran. Diusapnya air mata Agatha. "Kenapa Ibu menangis?" tanya Gilang.


"Ini tangis bahagia, Nak. Ibu bangga kamu sangat pintar di segala bidang. Ibu sayang kamu," ucap Agatha mengecup pipi Gilang.

__ADS_1


Tidak mungkin wanita itu mengatakan yang sebenarnya jika Merlin ingin mencelakai dirinya. Agatha takut Gilang makin dendam dengan wanita itu.


...****************...


__ADS_2