DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 21. Apakah Gilang Anakku?


__ADS_3

Gerald mengingat semuanya. Tanggal dan tahun berapa wanita itu masuk penjara. Tidak akan pernah dia lupa saat itu. Gerald memandangi Gilang dari ujung rambut hingga kaki. Apa mungkin Gilang anaknya? Tanya Gerald dalam hatinya.


Gerald masih saja terus berpikir. Apakah Gilang adalah anaknya. Namun, dia ingat saat Agatha masuk ke penjara, mantan istrinya itu belum hamil.


Agatha yang melihat itu mengajak Bima, pria yang saat ini telah berstatus suaminya untuk menghampiri Gerald dan Merlin. Dengan langkah pasti Agatha berjalan menuju keduanya.


Agatha memeluk lengan Bima saat berjalan mendekati Gerald dan Merlin. Dia ingin memberikan kejutan buat keduanya.


"Selamat malam, Mas Gerald. Selamat Malam Merlin. Terima kasih karena telah sudi datang buat menghadiri pesta pernikahanku."


Gerald dan Merlin serempak memandang ke arah asal suara. Tampak keduanya kaget melihat kehadiran Agatha. Walau Merlin telah pernah bertemu, tapi tetap saja kaget.


"Mas Gerald, Merlin, kenalkan ini Dokter Bima. Suami aku!" ucap Agatha. Dia sengaja menekankan kata Dokter Bima saat mengenalkan suaminya.


Gerald dan Merlin hanya diam tanpa bisa berkata apa pun. Memandangi Agatha. Wanita itu tampak sangat berbeda. Dia makin tampak cantik.


Gilang menghampiri Bima dan Agatha ibunya. Memeluk pria itu dengan manjanya. Gerald memandangi dengan perasaan sedikit cemburu.


"Ayah, Ibu, tadi Om Gerald bertanya, apakah aku anak kandung Ibu?" Gilang sengaja mengatakan itu agar Ibunya bisa menjawab pertanyaan Gerald.


"Kenapa Mas Gerald bertanya begitu? Apakah Mas Gerald tidak bisa melihat ada kemiripan antara aku dan Gilang."


"Bukan begitu maksudku. Menurut perhitungan, Gilang lahir 7 bulan setelah kamu dihukum. Apakah Gilang adalah anakku?" tanya Gerald akhirnya.


Dia dari tadi telah mencoba mencari jawaban. Jika memang Gilang anak kandung Agatha, berarti itu adalah anak kandungnya. Namun, mengapa Agatha menyembunyikan semua ini?

__ADS_1


"Apa Mas Gerald pantas menjadi Ayahnya Gilang?" Agatha balik bertanya.


Dia sengaja mengulur memberi jawaban untuk membuat hati Gerald menjadi bimbang dan teraduk dengan perasaan sendiri.


"Aku ingin kamu menjawab dengan jujur, apakah Gilang anakku?" tanya Gerald lagi. Merlin yang berdiri di samping Gerald tampak gelisah dan gugup.


"Ya ... Gilang anak kandungmu! Hari itu aku datang untuk mengatakan jika di rahimku sedang ada janin dari hasil pernikahan kita."


Bagai di sambar petir Gilang mendengar ucapan Agatha. Jadi selama ini dia telah dekat dengan anak kandungnya. Takdir macam apa ini yang sedang dia jalani. Kenapa selama ini dia tidak tahu tentang anak kandungnya ini.


Agatha menjeda ucapannya. Belum saat nya Gerald tahu kebusukan istrinya. Dia masih ingin mempermainkan perasaan ayah anaknya itu.


"Terus kenapa kamu tidak mengatakan semua itu?" tanya Gerald. Tampak sekali jika ada kekesalan dan marah di wajahnya.


Agatha menunjuk ke arah Merlin. Wanita itu tampak gelisah. Mungkin dia merasa takut jika kebusukannya selama ini terbongkar.


Agatha menggenggam tangan Bima suaminya. Mencoba mencari kekuatan. Sebenarnya dadanya sesak. Dulu dia tidak diberi kesempatan untuk bicara. Gerald hanya mendengar ucapan kekasihnya tanpa mau mendengarkan ucapannya.


"Bukankah kamu bisa mengatakan saat persidangan atau saat kau di penjara. Aku ini ayahnya Gilang. Aku berhak tahu kehadirannya. Kamu telah memisahkan ayah dan anak!" ucap Gerald dengan suara parau.


Tampaknya Gerald juga sedang menahan sesak di dadanya. Selama ini dia sangat mendambakan kehadiran seorang anak. Ternyata anak kandungnya berada sangat dekat dengannya.


"Memisahkan ayah dan anak! Apa Mas Gerald tidak salah mengucapkan kata. Mas yang tidak menginginkan kehadirannya. Buktinya setelah aku kalian masukan ke penjara apa pernah sekali saja kau menjengukku, Mas? Tidak pernah kau lakukan ...." Agatha menjeda ucapannya. Dia tidak ingin menangis dihadapan kedua orang itu.


Bima menggenggam tangan Agatha, wanita yang saat ini telah menjadi istrinya. Dia hanya diam. Membiarkan Agatha meluapkan semua yang ingin dia katakan.

__ADS_1


Selama 8 tahun lebih, semua hanya bisa dipendam. Agatha hanya sesekali bercerita padanya. Tentang perasaannya yang hancur karena suami yang dia percaya, tempat dia berlindung ternyata mencampakkan dirinya.


"Maafkan aku, Agatha. Jika aku tahu kamu sedang mengandung anakku, pasti aku akan mempertimbangkan untuk melaporkan kamu. Sekali lagi maafkan aku!"


Gerald tampak tulus mengucapkan kata maaf itu. Namun, bagi Agatha semua tidak ada artinya. Dia telah terlanjur sakit hati.


"Maaf ... maaf, apa Mas Gerald kira dengan kata maaf itu akan dapat mengembalikan waktuku. Apa Mas kira dengan kata maaf dari mulut Mas itu akan dapat mengembalikan nama baikku?" tanya Agatha dengan suara yang cukup keras.


Saat ini semua pandangan para tamu undangan tertuju pada mereka berlima. Gilang yang berada di samping Bima masih terus memeluk lengan pria itu.


Agatha memang meminta Bima dan Gilang diam saja, jangan ikut campur dulu. Biar dia mengutarakan semua kata-kata yang dia pendam selama ini.


"Agatha, aku mohon kamu mau memaafkan aku. Akan aku lakukan apa saja agar kamu dan Gilang mau memaafkan kesalahan yang pernah aku lakukan," ucap Gerald.


Gerald lalu berjalan ke arah Gilang dan berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Gilang.


"Gilang, maafkan Papa. Selama ini mengabaikan kamu. Jika saja Papa tahu kamu adalah anak kandungku, pasti akan aku lakukan apa saja yang membuat kamu bahagia. Tidak akan Papa biarkan sedetik saja waktu berlalu. Sekali lagi, Papa minta maaf, Nak."


Gerald ingin memeluk putranya Gilang. Namun, tanpa Gerald duga anaknya menghindar. Gilang memeluk tubuh Bima erat.


"Ayahku cuma satu.Dokter Bima Setya Perdana. Aku tidak mau ayah yang lain," ucap Gilang.


Ucapan Gilang itu sangat menohok hatinya. Anak kandungnya menolak kehadirannya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2