
Bima yang kebetulan jadwal praktiknya di hari ini di rumah tahanan, membawa Gilang sekalian untuk bertemu dengan papanya Gerlad.
Sebelum berangkat, Bima dan Gilang menyantap sarapan yang dimasak ibunya. Gilang dan Bima tampak sangat lahap menyantap nasi goreng seafood yang Agatha masak.
"Jangan terlalu banyak makannya. Kamu mau latihan," ucap Agatha melihat putranya makan dengan lahapnya.
"Ibu benar, Gilang. Perut yang penuh makanan ketika dipaksa olahraga bisa menyebabkan keluhan muntah, perut begah, nyeri perut, hingga kram otot di sekitar perut. Maka itu harus diberikan jeda waktu setelah usai makan jika ingin berolahraga. Dua atau tiga jam setelah makan baru kamu bisa latihan."
Para ahli menyarankan untuk memberikan jeda waktu 2-3 jam setelah makan besar. Jeda waktu ini penting untuk memberi waktu bagi makanan agar bisa dicerna, sehingga perut sudah tak lagi dalam keadaan penuh saat berolahraga.
"Sebelum latihan aku bisa mengobrol dulu dengan Papa. Apa boleh, Ayah, Ibu?" tanya Gilang. Putra Agatha itu selalu meminta izin, apa pun yang akan dia lakukan. Sekali pun dia yakin jika itu tidak masalah bagi kedua orang tuanya, tetap menunggu izin dari mereka dulu.
"Kenapa tidak boleh? Ayah bahkan senang jika kamu sudah mulai bisa menerima Papa Gerald. Karena memelihara dendam sama saja menyakiti diri sendiri. Memaafkan orang yang melukai hatimu adalah kebaikanmu untuknya. Meneruskan hidup tanpa mendendam kepadanya adalah kebaikanmu untuk dirimu sendiri. Orang lemah, balas dendam. Orang kuat, memaafkan. Orang cerdas, mengabaikannya," ucap Bima dengan tersenyum.
"Ayah Bima benar, Nak. Jika kejahatan dibalas kejahatan, itu dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan, itu biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu zalim. Tetapi jika kejahatan dibalas dengan kebaikan. Itu adalah mulia dan terpuji. Itu yang harus kamu lakukan. Jika kemarin Ibu membalas perbuatan Papa dan Tante Merlin, semua hanya untuk membuktikan jika Ibu tidak bersalah. Sekarang Papa kamu telah mendapatkan balasannya, sebaiknya kamu lupakan saja semua salahnya," ucap Agatha.
__ADS_1
Agatha melihat sendiri bagaimana Gerald saat ini. Pria itu telah banyak berubah. Mungkin dia telah sadar dengan kesalahannya yang terlalu percaya dengan ucapan Merlin.
Setelah sarapan keduanya pamit dengan mencium kedua pipi Agatha secara bergantian. Wanita itu tersenyum melihat Bima dan Gilang yang rebutan untuk menciumnya.
"Hati-hati, Ibu. Jangan kangen ya. Aku cuma pergi beberapa jam," ucap Gilang, yang membuat Agatha tersenyum mendengar ucapan putranya itu.
"Dadah, Sayang. Ayah pamit dulu. Jangan nangis ya, Ayah cuma pergi beberapa jam," ucap Bima tidak mau kalah dari Gilang. Agatha tertawa melihat ayah dan anak itu yang tidak akan mau kalah.
Setelah mobil menghilang dari pandangannya, barulah Agatha masuk ke rumah. Dia menarik napas dalam. Sebenarnya ada sedikit rasa takut di hari Agatha jika Gilang putranya dekat dengan Gerald. Wanita itu takut jika Gerald meminta hak asuh atas putranya itu.
Di tempat lain, dalam rumah tahanan, Merlin bertemu Gerald. Wanita itu tidak terima jika semua harta atas namanya dipindah tangankan atas nama Gilang.
"Apa maksud semua ini," ucap Merlin pada Gerald dengan melempar berkas kepemilikan perusahaan dan butik yang telah berpindah atas nama Gilang.
"Jangan pura-pura tidak paham. Kau yang lebih tahu, mengapa semua itu bisa berpindah tangan atas nama kamu. Jika aku mau, aku bisa menuntut kamu. Dan itu akan membuat kamu lebih lama lagi mendekam di penjara ini."
__ADS_1
"Bukankah butik itu memang kau beri buatku. Namun, kenapa sekarang semuanya atas nama Gilang. Apa kau yakin jika Gilang itu anak kandungmu? Bisa saja Agatha berbohong untuk mendapatkan hartamu!"
"Agatha atau kamu yang hanya menginginkan hartaku?" tanya Gerald dengan suara sinis.
Merlin merasa tersinggung. Dia menatap Gerald dengan mata tajam. Wanita merasa di hina.
"Aku ini istrimu. Lebih lama aku menemani kamu dari Agatha. Aku juga berhak atas hartamu! Kenapa hanya Agatha yang mendapatkannya?" ucap Merlin emosi.
"Karena kamu telah membohongi aku, dan menipuku. Lagi pula kita hanya nikah siri. Jangan lupakan itu!"
Mendengar ucapan Gerald, hati Merlin makin emosi. "Sekali lagi aku tanya, apa kamu yakin jika Gilang itu darah dagingmu? Kenapa Agatha tidak pernah mengatakan tentang kehamilannya? Jangan tertipu!"
Gerald hanya menanggapi dengan senyuman. Dirinya bukanlah bodoh. Gerald telah melakukan tes DNA. Saat pertandingan terakhir sebelum Gerald masuk penjara, dia telah meminta bawahannya buat tes DNA. Dengan alasan mengecek darah untuk memeriksa kesehatan, darah Gilang diambil buat tes DNA.
...****************...
__ADS_1