
Agatha telah berpakaian rapi. Hari ini rencananya mereka akan pergi berbulan madu. Agatha naik ke ranjang membangunkan suaminya. Mungkin Bima sangat kelelahan setelah pertempuran mereka semalam. Tiga ronde mereka lakukan hingga subuh.
Bima masih tampak larut dalam mimpi indahnya. Agatha tidak tega membangunkan suaminya. Dia berencana membangunkan Gilang saja terlebih dahulu.
Keluar dari kamar hotel, Agatha berjalan pelan menuju kamar Gilang. Wanita itu mengetuk pelan pintu kamar hotel putranya.
"Gilang ... Gilang. Bangun, Nak!" ucap Agatha dengan suara sedikit keras.
"Ya, Bu. Sebentar!" Terdengar sahutan dari dalam. Gilang membuka pintu kamar. Ternyata dia telah berpakaian rapi.
"Sayang, sudah rapi dan wangi aja." Agatha memeluk dan mencium kedua pipi putranya itu. "Ke kamar Ibu dulu,ya? Ayah Bima belum bangun. Kita bangunkan dulu ayah. Baru sarapan bersama."
"Iya, Bu." Gilang mengunci pintu kamarnya dan berjalan dengan memeluk lengan wanita itu.
Sampai di kamar ternyata Bima belum juga bangun. Agatha dan Gilang naik ke ranjang. Gilang memeluk ayah Bima. Membuka selimut ayahnya dan kaget melihat Bima hanya tidur dengan pakaian dalam.
"Kenapa ayah tidur hanya dengan pakaian dalam?" teriak Gilang.Putranya itu menutup kembali badan Bima dengan selimut.
Wajah Agatha merah karena malu. Wanita itu membangunkan Bima dengan mengguncang pelan lengan suaminya.
"Mas Bima, Mas ... Bangun!" ucap Agatha.
Beberapa kali dibangun barulah Bima membuka matanya. Tersenyum melihat Agatha. Bima menunjuk bibirnya membuat dahi Agatha berkerut.
"Apa sih, Mas?" tanya Agatha.
"Morning kiss dulu, Sayang," ucap Bima dengan memajukan bibirnya.
__ADS_1
"Malu lah, Mas!"
"Kenapa malu, Sayang? Tadi malam kamu nggak malu?" tanya Bima.
"Mas, ada Gilang," bisik Agatha. Bima yang kaget langsung bangun. Selimut yang membalut tubuhnya bahkan jatuh ke lantai.
"Ayah ... tak malu hanya berpakaian dalam," teriak Gilang.
Bima tersenyum dan melihat tubuhnya yang hampir polos. Agatha mengambil selimut dan menutup tubuh suaminya. Bima masih tersenyum dengan malu.
"Ayah gerah, makanya buka baju!" ucap Bima.
"Suhu AC masih bisa di setelkan?" tanya Gilang. Bima lupa jika Gilang bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi. Anak itu terlalu cerdas jika hanya masalah itu.
Dengan menyengir Bima memandangi Gilang. Dia bangun dengan selimut membalut tubuh menuju kamar mandi. Tanpa berkata sepatah katapun.
"Nanti sore kita berangkat ke Tanjung Pinang buat jalan-jalan. Kali ini ayah baru bisa bawa Ibu dan kamu ke sana. Liburan ayah hanya 3 hari. Ada operasi setelah itu."
"Ayah dan Ibu saja yang pergi. Aku mau latihan. Seminggu lagi ada turnamen. Aku tidak mau kalah."
"Cuma 3 hari aja, Nak!" ucap Ibu mencoba membujuk putranya.
"Benar, Gilang. Kita pergi hanya 3 hari saja. Setelah itu kamu bisa latihan lagi."
"Aku nggak bisa, Ayah. Aku harus terus latihan biar bisa juara."
"Sayang, itu artinya kamu masih terus bertemu Papa Gerald?" tanya Agatha.
__ADS_1
"Iya, Bu."
"Jangan terlalu keras dengan Papa Gerald. Bagaimana pun dia ayah kandungmu. Sejahat apa pun Gerald, darahnya ada pada kamu," ucap Bima.
Mendengar ucapan Bima, Agatha menjadi tersenyum. Beruntung mendapatkan suami yang sangat pengertian seperti Bima.
"Baik, Yah," jawab Gilang pelan.
Setelah sarapan mereka bertiga cek out dari hotel. Bima akan membawa anak dan istrinya pindah ke rumah kediaman miliknya.
Gilang di titipkan di panti asuhan dulu selama mereka bulan madu. Bima dan Agatha telah berusaha membujuk tapi putranya tetap pada pendiriannya. Tidak akan ikut pergi.
Setelah mengantar Gilang, Bima melajukan mobilnya menuju suatu tempat. Agatha ingat betul jalan yang mereka tempuh ini menuju ke rumah siapa.
"Mas, kenapa kita menuju ke rumah Mas Gerald?" tanya Agatha.
"Kita lihat saja nanti!" ucap Bima dengan tersenyum.
Mobil memasuki halaman rumah. Bima memarkirkan mobil dan langsung masuk ke rumah itu.
Agatha melihat banyak polisi dan aparat keamanan di dalam rumah. Tampak Merlin yang sedang menangis.
"Aku tidak bersalah, kenapa kalian menangkapku. Aku akan tuntut kalian semua!" teriak Merlin.
Tiba-tiba Merlin menatap ke arah Agatha yang berdiri di samping Bima. Dia mendekati Agatha.
"Kau pasti yang melaporkan semua ini. Aku bersumpah akan membalas semua perbuatanmu ini!" teriak Merlin.
__ADS_1
...****************...