
Tidak terasa telah lima bulan berlalu. Saat ini kandungan Agatha telah makin membesar. Gilang bahagia banget mengetahui jika dalam waktu dekat dia akan memiliki adik.
Begitu juga Bima. Perhatiannya pada Agatha makin bertambah. Walau Bima hanyalah dokter umum, tapi sebagai tenaga kesehatan tahu semua yang boleh dan tidak boleh istrinya itu lakukan saat hamil. Baik Agatha ataupun Gilang, selalu diperhatikan makanannya.
"Ayah, kata Ibu sebentar lagi adik aku lahir," ucap Gilang dengan memeluk tubuh ayah sambungnya itu.
Saat ini Bima, Agatha dan Gilang berada di ruang keluarga sedang menonton televisi. Gilang selalu saja berpelukan dengan Bima jika menonton, seolah Bima akan pergi jika pelukannya di lepas. Melihat semua itu, Agatha tidak pernah lupa mengucapkan rasa syukurnya.
"Iya, Sayang. Adik Gilang lahir sekitar 3 bulan lagi. Berarti Gilang udah mau jadi Abang!" ucap Bima sambil mengusap kepala bocah itu.
Kasih sayang Bima dengan Gilang tidak usah diragukan lagi. Walau hanya ayah sambung, tanggung jawabnya kepada sang anak begitu besarnya. Itulah mengapa Gilang begitu menyayangi ayah sambungnya itu.
"Ayah, besok aku libur sekolah. Apa aku boleh bermain dengan Papa Gerald lebih lama. Aku ingin latihan. Dengan pelatihku sekarang teknik yang biasa Papa Gerald ajarkan, tidak diajarkan," ucap Gilang, masih dengan memeluk pinggang Bima.
Walaupun Bima tidak pernah melarang Gilang bertemu Gerald kapan pun dia mau, tapi Gilang selalu saja meminta izin dan bertanya dengan Bima sebagai rasa hormatnya pada pria itu.
"Tentu saja boleh, Nak. Besok ayah minta izin biar kamu bisa lebih lama bersama Papa Gerald. Biar latihannya lebih lama juga."
__ADS_1
"Terima kasih, Ayah. Aku sayang Ayah," ucap Gilang. Bocah itu naik ke pangkuan Bima dan memeluk lehernya. Gilang mengecup kedua pipi pria yang telah dia anggap seperti ayah kandungnya.
Setelah jam 9, Bima meminta putranya itu untuk tidur. Gilang bangun dari duduknya dan mengecup kedua pipi Bima.
"Selamat malam, Ayah. Semoga mimpi indah."
Setelah itu Gilang menuju ibunya. "Selamat malam Ibu yang cantik. Semoga ibu juga mimpi indah." Gilang mengecup kedua pipi ibunya dan dibalas Agatha dengan mengecup kedua pipi Gilang juga.
"Selamat malam juga, Sayang. Semoga mimpi indah. Semoga semua cita-citamu tercapai," ucap Agatha.
Setelah membersihkan wajahnya, Agatha naik ke ranjang diikuti Bima. Pria itu langsung menunduk dan mengecup perut wanitanya itu.
"Sayang, Ayah sudah nggak sabar ingin bertemu kamu, Nak." Bima mengusap dan mengecup perut istrinya itu.
"Mas ...," panggil Agatha pelan.
"Iya, Sayang."
__ADS_1
"Mas tidak marah kalau Gilang sering minta ditemani ke rumah tahanan buat bertemu Mas Gerald?" tanya Agatha.
"Kenapa aku harus marah, Sayang? Itu Papa kandung Gilang. Dia pantas mendapatkan perhatian dari putranya. Walau dia pernah melakukan kesalahan tetap dia yang membuat Gerald ada di dunia. Lagi pula, aku melihat jika Gerald sungguh jauh berubah. Dari interaksinya dengan Gilang, tampak dia sangat menyayangi putranya."
Agatha memeluk tubuh Bima mendengar ucapan pria itu. Agatha takut Bima tidak senang karena Gilang yang sering minta bertemu dengan Gerald. Karena setiap pertemuan anak dan Papa itu, Bima yang selalu mengurusnya agar diberikan izin khusus.
"Terima kasih, Mas. Gilang pasti bahagia karena memiliki Ayah dan Papa yang sangat menyayangi dirinya."
"Tapi semua itu tidak gratis, Sayang. Kamu harus membayarnya."
"Membayarnya? Berapa aku harus membayar, Mas?" tanya Agatha dengan polosnya.
"Kamu harus membayar dengan melayani aku malam ini, aku lagi pengin," bisik Bima.
Mendengar bisikan suaminya itu, Agatha mencubit lengannya.
...****************...
__ADS_1