
Walau sedang hamil muda dan merasakan ngidam, Agatha tetap berusaha untuk membuat sarapan bagi suami dan putranya. Gilang selalu dibekali dengan makanan buatan tangan Agatha sendiri.
Agatha ingin menebus waktunya yang 8 tahun terbuang. Seharusnya dia menyiapkan sarapan setiap pagi sejak anaknya itu berusia dua tahun.
Namun, Agatha ikhlas dengan apa yang telah dia lalui. Jika dia tidak masuk penjara, mungkin Agatha tidak bertemu Bima. Sosok pria tampan yang sangat baik.
Jika di lihat dari fisiknya yang begitu sempurna dengan wajah tampan, tubuh tinggi, putih dan bentuk badan yang atletis, pasti sangat mudah bagi Bima mencari wanita cantik buat dijadikan istri.
Namun, pria itu lebih memilih Agatha yang seorang wanita biasa dan juga mantan nara pidana. Wanita mana yang tidak tersanjung jika berada di posisi Agatha. Apa lagi dia dijadikan ratu di dalam rumah tangga mereka.
"Selamat pagi, Sayang," ucap Bima. Pria itu memeluk dan mengecup kedua pipi Agatha.
"Selamat pagi, Mas. Aku sudah masak bihun goreng campur udang kesukaan kamu."
"Harus berapa kali aku katakan, jangan paksakan buat masak. Tubuhmu kuat buat makan saja, aku sudah senang. Ada bibi yang bisa masakan semua."
__ADS_1
"Tapi aku ingin suami dan anakku makan masakanku saja. Aku cemburu kalau ada orang yang melayani suami dan anakku," ucap Agatha dengan suara yang begitu manja.
Wanita itu berkata apa adanya. Dia memang cemburu jika suaminya dilayani orang lain. Bukannya Agatha posesif, tapi melihat orang yang melayani suami dan anaknya, sebak terasa di dada. Dia ingin seluruh kebutuhan ayah dan anaknya dilayani oleh dirinya sendiri.
"Selamat Pagi, Ibu, Ayah," ucap Gilang. Bocah itu tampaknya telah siap buat berangkat ke sekolah. Untuk berpakaian, dia tidak butuh bantuan. Dari kecil Gilang telah diajarkan mandiri di panti asuhan.
Gilang langsung duduk di dekat meja makan dan menyantap masakan bundanya. Agatha menyiapkan bekal Gilang. Nasi dengan lauk nugget ayam dan telur mata sapi di masak saos padang. Walau sederhana, Agatha tetap menyiapkan menu buat makan siang putranya.
"Mas, aku dan Gilang diminta datang ke kantor pengacaranya Gerald siang ini. Menurut Mas, aku datang saja atau tidak?" tanya Agatha. Dia tidak ingin Bima merasa tidak dihargai jika dia masih saja berhubungan dengan Gerald.
Jika itu Gilang, mungkin bagi Bima tidak masalah. Dia darah daging Gerald. Namun, beda dengan Agatha yang hanya mantan istri.
"Aku nanti sekalian jemput Gilang di sekolah. Jadi Mas nggak perlu lagi menjemput Gilang."
"Biar aku yang antar, jika tidak ada lagi pasien."
__ADS_1
"Apa Mas nggak capek bolak balik?" tanya Agatha.
"Buat anak dan istri, tidak ada kata capek. Lagi pula kamu sedang hamil muda, aku kuatir jika membiarkan kamu pergi tanpaku," ucap Bima.
"Terserah Mas saja. Jika tidak merepotkan!"
"Ini yang aku nggak suka dari ucapanmu, Sayang. Masa buat istri aku repot. Apa pun itu, akan aku lakukan demi istri dan anakku."
Setelah sarapan, Bima pamit dengan mengecup dahi istrinya. Begitu juga Gilang. Mencium kedua pipi ibunya. Bima dan Gilang berangkat bersamaan. Antar dan jemput Gilang, selalu di lakukan Bima.
Siang harinya ternyata ada pasien yang mendadak harus di operasi sehingga Agatha dan Gilang terpaksa ditemani supir ke kantor pengacaranya Gerald.
Agatha dan Gilang telah berada di ruang kerja Bapak Sariman Siregar. Pria itu tersenyum dengan Gilang dan Agatha. Setelah menyalami keduanya, Bapak Sariman duduk dan mulai bicara.
"Begini, Bu Agatha. Semua harta milik Pak Gerald di pindah namakan atas Gilang. Karena Gilang masih di bawah umur, pengelolaan keuangan atas pengawasan Bu Agatha. Semua pengeluaran perusahaan harus atas izin Ibu Agatha," ucap Pengacara itu.
__ADS_1
Agatha yang mendengarnya menjadi kaget. Kenapa Gerald mengalihkan semua hartanya pada Gilang?
...****************...