
Satu minggu telah berlalu. Gilang telah ada bukti jika ayah dan istrinya saat ini terbukti berselingkuh. Ada CCTV yang lupa di matikan saat kejadian di hari itu. Walau tidak terlalu jelas tapi terlihat setelah Merlin jatuh baru Agatha menghampiri wanita itu untuk menolongnya.
"Hasil tidak akan mengkhianati usaha," gumam Gilang di dalam kamarnya.
Guna merayakan keberhasilannya, Gilang sengaja memutar musik kencang-kencang dan ikut bernyanyi. Lelaki itu tidak peduli kalau seandainya suaranya akan terdengar hingga area luar kamar. Baginya, yang terpenting sekarang itu ialah merayakan hari senangnya.
Tidak sia-sia usaha Gilang untuk mengumpulkan bukti-bukti mengenai kejahatan Merlin dan Gerald selama ini. Akhirnya kerja kerasnya pun membuahkan hasil juga. Gilang sudah berhasil mengantongi bukti yang dia cari berkat kerja cerdasnya, dan kini lelaki itu akan lanjut ke misi selanjutnya.
Dalam kepala Gilang sudah ada banyak sekali rencana yang dia rancang untuk menjalankan misi-misinya. Gilang ingin, nanti semuanya akan berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan. Kalaupun ada hambatan, Gilang harap bukan sebuah hambatan besar.
Musik yang diputar Gilang tiba-tiba berhenti ketika ada suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Lelaki itu yakin, pasti Agatha mencarinya untuk mengajaknya segera ke meja makan. Gilang membukakan pintu dan tersenyum ke arah ibunya.
"Kamu tidak latihan lagi hari ini?" tanya Agatha kepada putranya sembari mengusap kepala Gilang.
Gilang menggelengkan kepalanya, dia keluar dari kamar dan ikut berjalan menuju meja makan sesuai ajakan Agatha. Bocah itu duduk di salah satu kursi lalu melihat ibunya mengambilkan nasi serta lauk pauk ke piringnya.
"Makan yang banyak ya, biar cepat besar." Agatha hari ini memasakkan makanan kesukaan Gilang untuk memanjakan putranya supaya lahap makan.
"Iya, Bu. Ibu juga makan yang banyak biar tetap sehat," balas Gilang balik memberi perhatian kepada Agatha.
"Iya, Sayang." Agatha merasa bersyukur memiliki putra sepandai Gilang. Selain pandai dan sudah berpikir seperti orang dewasa, Gilang juga sangat perhatian dan begitu menyayangi Agatha. Mereka hidup saling melindungi.
Bahkan saat Gilang mengetahui apabila Agatha itu mantan narapidana, Gilang tidak pernah malu mengakui Agatha sebagai ibunya. Gilang tetap menerima Agatha apa adanya tanpa menyalahkan Agatha yang sudah menitipkannya di panti asuhan.
Seperti yang dikatakan ibunya, Gilang makan dengan sangat lahap. Tak lupa, lelaki itu juga memuji rasa masakan Agatha yang selalu enak di lidahnya.
Selesai makan kini Gilang memilih untuk beristirahat di kamarnya. Dia juga menyimpan baik-baik bukti yang sudah dia dapatkan di dalam kamarnya supaya tidak hilang atau terselip.
***
__ADS_1
Akhir-akhir ini Gilang jarang latihan. Gilang juga melakukannya dengan sengaja. Gilang sengaja tidak datang ke tempat latihan untuk membuat Gerald kesal dan untuk memanas-manasi Gerald yang sudah terlanjur dekat dengannya.
"Kamu sudah lama menunggu Om?" tanya seorang laki-laki yang baru saja tiba di rumah Agatha.
Gilang menggelengkan kepalanya, dia tersenyum kepada lelaki itu dan mengulurkan tangannya ke arah lelaki yang sudah dia kenal sejak lama.
"Belum kok, Om. Aku juga baru siap," jawab Gilang seadanya, membuat lelaki itu tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan lucu Gilang.
Agatha keluar dari rumah, dia memberi segelas air mineral kepada Bima yang beberapa minggu terakhir ini jadi sering datang ke rumahnya untuk mengantar jemput Gilang ke tempat latihan. Perlu dicatat, Gilang hanya jarang latihan. Bukan berarti tidak latihan sama sekali.
"Terima kasih, Agatha." Bima menerima gelas dari Agatha lalu meminumnya sampai tandas.
"Maaf, saya lama. Soalnya tadi ada pekerjaan mendadak," ujar laki-laki itu.
"Tidak apa-apa, Om Bima." Gilang kembali menegaskan kalau dia tidak masalah meski harus menunggu Bima lama, karena Gilang tahu bahwa Bima akan datang.
Kenangan itu selamanya akan menjadi kenangan yang menyenangkan dalam ingatan Gilang sehingga Gilang tidak akan pernah menghapus atau melupakannya. Bagi Gilang, Bima itu pria yang begitu baik.
Akhir-akhir ini mereka jadi kembali dekat lagi karena sebuah alasan. Karena alasan itu pula lah, mereka jadi sering bertemu. Entah itu untuk urusan penting atau hanya sekadar bermain-main belaka.
"Kita berangkat sekarang?" tanya Bima seraya melihat ke arah Gilang.
"Boleh." Gilang mengangguk, dia lalu berpamitan kepada Agatha untuk pergi latihan.
Agatha menyaksikan kepergian mereka berdua. Dalam hati, Agatha senang karena Bima begitu baik kepada Gilang dan karena Bima juga maka Gilang tidak terlalu merasa kesepian karena tidak adanya sosok ayah.
Bima akan mengantarkan Gilang ke tempat latihan. Laki-laki itu sudah hafal betul di mana Bima latihan karena beberapa kali dia sering mengantarkan Bima ke sana.
Sampailah Bima di depan pelataran sebuah rumah yang menjadi tempat latihan Gilang. Bima juga mengantarkan Gilang sampai di depan pintu. Ternyata di sana sudah ada Gerald yang menunggu.
__ADS_1
Melihat Gilang datang latihan diantar lagi oleh Bima, hal itu membuat Gerald sedikit cemburu. Kedekatan Gilang dan Bima juga berhasil membuat Gerald panas hati.
Terlebih lagi selama ini Gerald sudah merasa bahwa Gilang seakan-akan menganggap dirinya seperti sosok ayah. Sehingga saat Gerald melihat Gilang akrab dengan laki-laki dewasa lainnya, hal itu membuat Gerald iri dan ada perasaan tidak rela.
Padahal Gerald tahu apabila Gilang itu bukan siapa-siapanya, hanya salah satu anak yang dia latih saja.
"Gilang, hari ini datang latihan?" Gerald mendatangi Gilang yang masih asik bercanda dengan Bima.
"Iya, coach," jawab Gilang singkat.
Bima tersenyum ramah kepada Gerald, dan dibalas oleh Gerald pakai senyuman tipis yang dipaksakan.
"Kamu ke mana saja? Beberapa hari ini sudah jarang sekali latihan?" tanya Gerald yang penasaran pada kegiatan Gilang sampai-sampai lelaki kecil itu jarang datang ke tempat latihannya.
Gilang merasa senang saat salah satu misinya tercapai, yaitu membuat Gerald mencari-cari dirinya. Gilang yakin, Gerald akan merindukannya karena mereka sudah bisa dibilang dekat.
"Aku memang sedikit sibuk bermain sama Om Bima, coach." Gilang memang tidak menyiapkan jawaban lain selain sibuk, tapi dia sengaja mengimbuhi mengenai kesibukannya itu bermain bersama Bima.
"Maaf, Pak. Saya memang sering mengajak Gilang bermain. Namun Gilang tidak pernah cerita kalau itu menghambat latihannya." Bima menyela seraya menatap ke arah Gerald dengan ramah.
"Sebenarnya boleh saja, Pak," sahut Gerald sedikit tidak rela.
Bima kini menyamakan tingginya dengan Gilang, dia merapikan baju Gilang sekilas dan memegang kedua bahu Gilang, "Om tinggal ya? Kamu jangan nakal di sini, nanti pulangnya Om jemput lagi. Kamu tinggal telfon Om saja, pasti Om akan datang," pesan Bima lalu dia cium pipi Gilang sekilas.
Gilang menganggukkan kepalanya, "Iya Om, aku nggak akan nakal dan aku akan terus ingat pesan Om Bima." Selain memang apa yang Gilang katakan ini tulus dari hati, Gilang juga sengaja ingin menyakiti hati Gerald yang sudah bisa dipastikan oleh Gilang kalau ayahnya itu akan iri melihat kedekatannya dengan Bima.
...****************...
__ADS_1