DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 23. Aku Talak Kamu!


__ADS_3

Wajah Gerald sudah merah padam bagai dilalap sijago merah. Dia sudah kepalang malu karena mendengar kenyataan mengenai perlakuan istri keduanya dulu kepada Agatha. Bahkan Gerald tidak menyangka kalau Agatha akan tega mengungkap kenyataan ini di hari pernikahannya sendiri.


Banyak dari tamu undangan yang menatap aneh ke arah Gerald dan Merlin. Mereka mencibir tingkah Merlin yang menurut mereka sudah tidak bisa ditoleransi. Perempuan manapun pasti akan sakit hati dan melakukan balas dendam kalau ada di posisi Agatha.


Sudah banyak suara-suara yang tidak mengenakkan keluar dari bibir para tamu undangan. Walaupun notabenenya mereka memang tidak mengenal Merlin dan Gerald, tapi mereka ikut kesal karena ulah Merlin di masa lalu.


Agatha maupun Gilang menatap puas ke arah Gerald dan Merlin. Hingga tak lama, ibu dan anak itu melihat Gerald beserta istri keduanya langsung meninggalkan tempat pernikahannya sekarang.


Puas sekali mereka berdua melihat sepasang suami istri itu dipermalukan di pesta pernikahan Agatha dan Bima.


Akhirnya, aku bisa melihat wajah kalian yang dilanda rasa malu seperti itu. Batin Agatha.


Gilang juga senang karena rencana balas dendam yang sudah dia rencanakan dan didukung oleh ibunya itu akhirnya berjalan dengan lancar sampai mereka bisa mempermalukan Gerald beserta Merlin.


Demi apa pun, tidak ada rasa kasihan di hati Gilang untuk Gerald meskipun Gilang tahu bahwa Gerald itu adalah ayah kandungnya.


Mungkin karena efek Gilang yang tidak pernah diasuh oleh Gerald sedari kecil, jadi Gilang tidak merasakan adanya rasa kasih sayang secuil pun buat Gerald. Malah yang ada, Gilang merasa senang karena sudah bisa membuat ayahnya malu di depan banyak orang.


Di lain tempat, Gerald cepat-cepat berjalan menuju mobilnya. Tentu saja diikuti oleh Merlin yang juga sudah kepalang malu. Perempuan itu bahkan sampai terserimpat rok span yang dia pakai. Untungnya Merlin tidak sampai terjatuh, andai saja perempuan itu jatuh pasti dia sudah malu berkali-kali lipat lagi.


"Mas, tunggu aku dong!" Merlin berteriak ke arah suaminya yang sama sekali tidak menghiraukannya.

__ADS_1


Gerald masuk ke mobil, dia benar-benar mengabaikan Merlin. Meski istri keduanya itu sudah memanggilnya berulang kali. Merlin pun ikut marah kepada Gerald.


"Ini semua salah kamu, Mas." Merlin menyalahkan suaminya saat dia baru saja masuk ke mobil.


Gerald pun menyalakan mesin dan meninggalkan tempat itu dengan perasaan campur aduk. Mobilnya dia kendarai dengan kecepatan maksimal, sampai Merlin ketakutan. Perempuan itu sampai memegangi sabuk pengamannya guna mengurangi perasaan takutnya.


"Mas, kamu pelan-pelan dong bawa mobilnya." Merlin kembali bersuara tapi Gerald sepertinya acuh tak acuh kepadanya.


Lelaki itu menyelip banyak sekali mobil. Merlin berharap dalam hati semoga dia dan suaminya tidak kenapa-napa. Tentu saja Merlin mau kalau dia selamat sampai rumah, terlepas dari dia yang marah kepada Gerald tapi Merlin juga tidak bisa membohongi harapannya apabila yang menyetir itu adalah suaminya.


"Semua ini salah kamu, Mas. Coba saja kalau tadi kamu nggak ngajak aku buat pergi ke pernikahannya mantan istrimu itu, kita tidak akan dipermalukan di depan umum begini." Merlin masih menyalahkan Gerald tanpa mau berkaca bahwa semua ini terjadi juga karena dirinya.


Setibanya di dalam rumah, Gerald sudah mengamuk. Dia membuang semua barang yang ada di atas meja panjang samping kamar utama. Di atas meja itu ada vas bunga, pigura foto, guci kecil dan entah ada apa lagi, semuanya hancur berkeping-keping dan berantakan di lantai. Bahkan, salah jalan saja pecahan barang-barang itu bisa menancap di kaki.


Merlin tertegun, dia belum pernah melihat suaminya semarah ini. Baru kali ini Merlin melihat Gerald marah sampai memecahkan barang-barang. Di sini, Merlin sudah mulai takut. Perempuan itu takut kalau Gerald akan melakukan hal-hal aneh kepadanya.


"Aku tidak menyangka kalau ternyata, aku sudah percaya tipu muslihat kamu selama ini, Merlin!" Gerald menyentak Merlin. Kedua matanya terlihat nyalang. Gerald seperti orang yang siap memakan Merlin.


Merlin tergagap, dia susah payah menelan salivanya, "Kamu dengarkan aku dulu, Mas. Aku bisa menjelaskan yang sebenarnya." Merlin berusaha menenangkan Gerald sebisanya. "Apa yang aku bicarakan sama Gilang waktu itu adalah kebohongan, aku membohongi dia. Ya masa aku bilang yang sebenarnya ke anak kecil sih?" Merlin masih bisa-bisanya terkekeh, dia berusaha mencairkan suasana. Namun Gerald sudah terlanjur marah.


Gerald tersenyum sinis, "Kamu bohong? Iya?" tanya Gerald dan seketika diangguki oleh Merlin.

__ADS_1


"Saking pandainya kamu bohong, aku sampai tidak tertipu olehmu selama ini. Bertahun-tahun aku hidup denganmu dan aku percaya pada kebohonganmu," balas Gerald seraya tersenyum sinis melihat perubahan wajah Merlin yang sudah sulit dijelaskan.


"Aku tidak bohong sama kamu kalau aku cinta sama kamu, Mas," ucap Merlin masih berusaha merayu hati Gerald.


"Persetan dengan cinta, aku sudah tidak butuh hal seperti itu lagi. Ditambah, aku sudah tidak percaya kepada perempuan seperti kamu lagi. Bagiku, kamu hanyalah ular berbisa." Gerald tidak segan-segan mengatai Merlin dengan peribahasa yang bisa menyakitkan hati.


Merlin menggeleng-gelengkan kepalanya, dia takut kalau Gerald tidak percaya lagi kepadanya.


"Kamu harus percaya sama aku dong, Mas. Aku ini istri kamu, masa kamu lebih percaya sama mereka sih?" Merlin berusaha mendekat tapi yang ada malah kakinya terkena pecahan kaca. Melihat itu, Gerald juga tidak ingin menolong Merlin.


"Mulai saat ini, detik ini, hari ini, aku talak kamu. Aku tidak mau lagi memiliki istri seperti kamu. Kamu sudah bukan istriku." Gerald benar-benar menalak Merlin saat itu juga. Dia juga langsung meninggalkan Merlin ke kamar tanpa mendengarkan suara teriakan perempuan itu.


"Aku nggak mau cerai sama kamu, Mas! Aku nggak terima ditalak begini!" Merlin berteriak-teriak seperti di hutan, berharap kalau Gerald akan mau mendengarkannya dan tidak jadi menalaknya.


Tidak ada jawaban dari Gerald, lelaki itu sungguh tidak menghiraukan Merlin yang merengek-rengek supaya tidak diceraikan. Merlin ingin menyusul Gerald, tapi tidak bisa karena kakinya terkena pecahan kaca dan tentu saja rasanya sakit. Perempuan itu menangis di sana karena luka di kakinya dan karena ditalak oleh Gerald.


"Dasar, Agatha sama anaknya itu sama-sama kurang ajar!" umpat Merlin guna melampiaskan perasaan kesalnya kepada Agatha dan Gilang.


Merlin mulanya tidak menanggapi ancaman Agatha dengan serius, tapi setelah terjadi begini maka Merlin menyesal karena dia tidak lebih hati-hati dari ancaman Agatha.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2