DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 51. Mengancam Merlin.


__ADS_3

"Ingat Merlin, kau bisa membuat aku mendekam dalam penjara, begitu juga denganku. Aku masih bisa memaafkan orang yang menyakiti aku, tapi tidak untuk anakku. Siapa saja yang berani menyentuh mereka, aku tidak akan tinggal diam. Jika selama ini aku tidak melawan, bukan berarti aku takut!" ucap Agatha dengan penuh penekanan.


Merlin merubah duduknya mendekati pada Agatha. Ditatapnya wajah wanita itu dengan mata menyala. Dari dulu dia telah iri dengan Agatha.


"Aku tidak takut dengan ancamanmu. Tanpa melakukan apa pun aku juga akan mendekam dalam penjara ini. Jadi diam atau pun aku membalas, aku akan tetap abadi di sini karena ulah mantan suaminya itu!" ucap Merlin.


"Merlin, aku ingin kau berubah. Jika kau masih tetap dendam, hidupmu tidak akan pernah tenang. Cobalah menerima semua yang menjadi takdirmu ini secara ikhlas. Apa kamu pikir dengan membalas sakit hatimu padaku dan anak-anak semua akan berubah? Kau bahkan akan lebih menderita!"


Merlin bersandar ke kursi, mencoba memahami apa yang Agatha katakan. Dia juga ingin menghilangkan rasa dendam itu, tapi tidak bisa. Semakin dia mencoba melupakan, rasa dendam itu makin muncul.


Dia telah melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Gerald agar bisa menguasai hati dan harta pria itu. Namun, keduanya tidak dia dapati. Baik harta maupun cinta Gerald, tidak dia dapati.


"Aku harap kamu bisa memahami apa yang aku katakan. Jangan pernah menyentuh anakku. Cobalah merubah sikapmu. Mungkin jika kamu ingin berubah, aku bisa meminta bantuan Gerald untuk mengurangi masa tahanan kamu!" Merlin hanya diam, tidak menjawab apa pun ucapan Agatha.


"Aku pamit. Ingatlah Merlin, hidup hanya sekali. Jangan kamu sia-siakan!"


Setelah mengucapkan itu, Agatha melangkah pergi meninggalkan Merlin seorang diri.

__ADS_1


***


Telah satu minggu Cinta tinggal di rumah kediaman Gerald. Pria itu sudah tampak makin akrab dengan bu guru Gilang itu.


Kaki Bu Cinta juga makin membaik. Hari ini dia sudah mulai tidak menggunakan bantuan kayu penyangga lagi, walau jalannya masih terlihat sedikit pincang.


"Pak Gerald, aku mungkin hari ini akan kembali ke rumah kontrakan. Terima kasih karena telah menampung dan menerima aku selama ini. Aku tidak akan melupakan semua kebaikan Bapak. Aku juga pasti tidak akan bisa membalasnya. Hanya doa yang bisa aku panjatkan. Semoga Tuhan memberikan kebaikan untuk kekehidupan Bapak!" ucap Cinta.


Semua pakaian dan barang-barang miliknya telah disusun untuk dibawa kembali ke kontrakan. Satu minggu lagi masa cutinya habis.


Selama dua minggu Cinta tinggal di rumahnya, wanita itu selalu membantu bibi masak. Dia hanya tinggal mengatakan apa yang harus bibi lakukan. Menu yang diajarkan Cinta dengan bibi sangat cocok di lidah Gerald.


"Aku juga harus membesihkan tempat kontrakan. Sudah hampir satu bulan aku tinggalkan."


Gerald tampak diam. Entah apa yang pria itu pikirkan. Cinta itu ikut terdiam. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.


"Apa kamu ingin membalas semua yang telah aku lakukan?" tanya Gerald tiba-tiba.

__ADS_1


Cinta memandangi Gerald dengan wajah penuh tanda tanya. "Apa maksud Pak Gerald? Jika Bapak ingin meminta balasan berupa uang, aku tidak bisa membayarnya. Aku tidak memiliki apa-apa!"


"Aku tidak butuh uang karena uangku sudah cukup banyak. Aku hanya ingin kamu menemaniku!" ucap Gerald.


"Maksud Bapak?" tanya Cinta. Dia memandangi Gerald dengan dahi berkerut. Tidak paham apa yang pria itu katakan. Menemani kemana? Tanya Cinta dalam hatinya.


"Aku ingin kamu menemani aku menjalani hidup ini. Aku ingin kamu menjadi pendamping hidupku!" ucap Gerald pelan. Namun, masih dapat di dengar Cinta.


Cinta sangat kaget dengan ucapan Gerald. Bagaimana mungkin pria itu berkata begitu dengan santainya. Apa dia tidak tahu jika detak jantung Cinta saat ini begitu kuatnya seperti genderang perang. Dia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Maksud Bapak?" Kembali Cinta bertanya hal yang sama.


Gerald jadi tersenyum mendengar Cinta bertanya hal yang sama dua kali. Gerald yakin jika wanita sebenarnya cukup paham dengan apa yang dia katakan.


"Aku ingin kamu menjadi istriku!" ucap Gerald akhirnya. Cinta yang sedang memegang gelas menjadi kaget dan menjatuhkan ke lantai. Seorang Gerald melamarnya. Apakah itu benar dan ini bukan mimpi?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2