DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG

DENDAM (ANAK) ISTRI TERBUANG
Bab 24. Kamu istimewa


__ADS_3

Setelah kepergian Merlin dan Gerald, Bima meminta maaf pada semua tamu yang hadir atas kekacauan yang tadi terjadi. Pesta kembali berlangsung seperti biasanya.


Hingga jam 12 malam satu persatu para tamu undangan mulai meninggalkan lokasi pesta. Jam 1 dini hari, Bima membawa anak dan istrinya ke hotel untuk mereka mengisap satu malam ini sebelum berbulan madu.


Di kamar hotel,


"Sayang, apa kamu tidak takut tidur sendirian?" tanya Agatha pada Gilang untuk memastikan.


"Ibu, aku sudah katakan tidak apa-apa. Aku ini jagoan bukan penakut. Apa ibu lupa?" tanya bocah itu.


"Ibu tahu anak Ibu jagoan. Tapi Ibu juga perlu memastikan semua. Jika kamu memang tidak masalah tidur sendirian, ibu pamit. Ayah Bima telah menunggu."


"Pergilah, Bu. Jangan biarkan ayah menunggu lama."


Agatha tersenyum mendengar ucapan putranya. Beruntung sekali dia memiliki putra yang sangat pintar dan berpikiran sangat dewasa. Agatha merasa Gilang adalah anugerah terindah yang dia miliki.


"Jika kamu butuh Ibu atau ayah Bima, hubungi saja. Ibu akan aktifkan ponsel selama 24 jam."

__ADS_1


"Ya, Bu. Aku sayang Ibu," ucap Gilang.


"Ibu juga sangat sayang kamu."


Agatha mengecup kedua pipi putranya sebelum meninggalkan Gilang di kamar itu. Awalnya Gilang di ajak buat satu kamar tapi anaknya itu menolak. Gilang mengatakan jika dia sering melihat di televisi kalau Ibu dan ayah tidur sekamar dan anak kamarnya beda. Jadi Gilang meminta kamarnya sendiri.


Agatha mengetuk pintu kamar hotel yang akan dia tempati. Wanita itu memegang dadanya. Detak jantungnya terdengar begitu kencang. Dia sangat gugup. Setelah berpisah dari Gerald dan masuk penjara tidak pernah Agatha dekat dengan pria manapun.


Terdengar langkah kaki mendekat. Bima membuka pintu dengan tersenyum. Pria itu telah mengganti pakaiannya dengan piyama. Tampaknya Bima baru saja selesai mandi. Wangi tubuhnya sangat segar, tercium hidungnya Agatha.


"Masuklah. Kenapa hanya berdiri?" tanya Dokter Bima dengan tersenyum.


Agatha melangkah masuk. Begitu kaki melangkah tercium bau wangi dari taburan bunga mawar yang di taburkan sepanjang jalan menuju ke tempat tidur. Di atas ranjang juga bertabur bunga mawar.


"Mas, wangi banget. Apa ini Mas yang lakukan?" tanya Agatha.


"Bukan. Petugas hotel tapi atas permintaan aku."

__ADS_1


"Berarti Mas yang inginkan!"


"Kamu suka, Sayang," ucap Bima. Dia memeluk pinggang Agatha membuat wanita itu makin gugup dan jantungnya seperti berpacu.


"Sejak aku melihat kamu dan mendengar kisah hidupmu dari seorang teman satu sel denganmu, aku menjadi simpati. Rasa simpati itu akhirnya berubah menjadi cinta. Namun, aku tidak berani mengatakan semua itu. Aku takut kamu menolak cintaku."


Agatha membalas memeluk Bima dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu.


"Mas, aku juga menyukai kamu. Tapi aku menyimpan semua perasaan ini, karena aku sadar siapa diri ini. Tidak pantas rasanya aku bersanding denganmu. Aku dan kamu jauh berbeda. Aku tidak percaya diri untuk hanya sekadar mencintai kamu. Aku berusaha mengubur cinta ini."


Tiba-tiba tubuh Agatha merasa melayang. Ternyata pria itu menggendongnya dan mendudukan di atas meja rias. Tubuh Agatha di kukung Bima.


"Kenapa kamu berpikir begitu? Manusia itu memiliki kedudukan yang sama. Lagi pula aku mencintaimu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Aku melihat sikap dan perilaku kamu yang sangat baik. Kamu itu istimewa."


Agatha memeluk pinggang Bima yang berdiri dihadapannya. Bima mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Agatha.


"Aku mencintaimu, Sayang. Aku ingin hidup denganmu hingga kita menua bersama. Orang-orang bilang kalau jatuh cinta hanya terjadi sekali, tapi mereka tidak benar. Setiap aku melihatmu, aku selalu jatuh cinta, lagi dan lagi. Aku ingin kau tahu bahwa aku selalu menitipkan harapan ke dalam beribu rintik hujan dalam diam. Aku ingin hari-hari depanku bersamamu. Jika harus memilih antara napas dan cinta. Aku tetap memilih untuk mengembuskan napas terakhirku dengan mengucap aku mencintaimu."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2