
Beberapa hari kemudian, Mirna telah bersikap seperti biasa. Gadis belia itu telah terbiasa dengan semua sikap dan tingkah laku dari keluarga itu. Walaupun terkadang, Mirna merasakan rindu yang luar biasa terhadap sang ibu.
Gadis itu, ingin sekali bertemu dengan wanita paruh baya yang telah melahirkannya ke dunia itu. Namun keinginannya selalu ditentang oleh Vicky. Karena laki-laki itu, tidak pernah memberikan akses kepada Mirna untuk menghubungi keluarganya.
Menurutnya, apa yang telah menjadi miliknya, tidak bisa dimiliki orang lain. Termasuk juga istri kecilnya itu. Apalagi status Mirna saat ini, hanyalah sebagai pelayan ranjang bagi Vicky.
"Ingat gadis kecil, kau hanya seperti debu bagiku. Jangan pernah berbuat sesukamu. Atau keluargamu yang akan menjadi sasaran kemarahanku,"ucap laki-laki tua itu saat mereka tengah melakukan ritual suami istri.
Memang, Vicky tidak pernah merasa bosan pada gadis cantik itu. Apalagi semua inci tubuhnya, masihlah kencang dan juga mulus. Berbeda dengan Marcella. Wanita itu telah mengalami penuaan di berbagai tempat.
Dan dari dulu, Vicky sangat berniat membuang wanita itu. Agar tidak ada yang dapat mengganggunya dalam hal apapun. Termasuk dalam memilih pasangan selanjutnya. Karena Marcella mengancam, akan membocorkan pada semua orang bahwa dirinya, adalah seorang predator ganas.
Vicky bisa saja langsung menghabisi wanita itu seperti biasanya. Namun, tidak bisa dilakukan, karena mereka mempunyai Nadira. Gadis berusia 25 tahun yang sangat disayangi oleh laki-laki itu. Bahkan, Vicky tidak segan-segan demi menuruti ucapan dari Putri kesayangannya itu.
Setelah ritual itu berakhir, Mirna kembali menuju ke kamar yang memang telah disediakan oleh keluarga itu. Yaitu kamar kecil di sebelah kamar Mbok Min.
Tubuhnya terasa remuk redam. sesaat, setelah gadis itu menyelesaikan tugasnya. Segera, Mirna mendudukkan diri di tepi ranjang setelah sampai di dalam kamar itu.
Tak lama berselang, terdengar suara ketukan pintu dari arah depan. Di Susul dengan sebuah suara yang sangat dikenal oleh gadis itu. Dengan gerakan lemas, gadis Malang itu segera membuka pintu. Benar apa dugaannya. Ternyata Mbok Min, telah berdiri di depan pintu dengan membawa sebuah nampan di tangannya.
"Silakan masuk Mbok,"ucap Mirna saat gadis itu telah benar-benar membukakan pintu dengan lebar.
Wanita paruh baya itu segera masuk ke dalam kamar Mirna dan meletakkan minuman itu tepat di atas meja yang berada tak jauh dari ranjang kecil itu.
"Itu apa Mbok?"tanya Mirna dengan mata yang fokus menatap ke arah sebuah gelas yang berwarna putih dengan cairan berwarna coklat dan memiliki bau khas seperti rempah-rempah.
Mbok Min yang mendengar itu, ikut menatap ke arah gelas yang bersajak ia bawa itu. Kemudian tangannya terulur, untuk mengambil benda itu dan menyerahkannya pada Mirna.
"Ini namanya jamu,"ucap wanita paruh baya itu dengan senyuman manis yang menghiasi wajah keriputnya itu.
__ADS_1
Membuat Mirna yang mendengarnya, seketika mengerutkan kening. karena, merasa heran dengan sikap wanita paruh baya yang ada di sampingnya itu.
"Kenapa Mbok Min tiba-tiba memberikan aku minuman seperti ini?"tanya Mirna Soraya menatap wanita paruh baya itu dengan tatapan terheran-heran.
Lagi Dan Lagi, wanita paruh baya itu tersenyum Seraya mengusap kepala gadis itu dengan perasaan sayang.
"Entah mengapa, Mbok seperti merasakan akan kehadiran sesuatu yang membuatmu sedikit melupakan masalah ini,"ujar wanita itu Seraya masih tersenyum tipis.
Aneh,
Satu kata itu yang muncul di benak Mirna saat mendengar ucapan dari wanita paruh baya yang ada di sampingnya itu.
"Maksud Mbok Min apa?"tanya Mirna yang memang tidak mengerti apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu.
Namun bukannya menjawab, Mbok Min segera menyerahkan gelas itu kepada Mirna. Dan meminta gadis itu untuk segera meminumnya.
Gadis itu awalnya ingin menolak. Karena merasa asing dengan apa yang ada di hadapannya itu. Namun, Mbok Min dengan segera dan telaten membujuk gadis itu agar tetap meminum ramuan itu.
Akhirnya, perlahan demi perlahan Mirna segera meneguk sedikit demi sedikit minuman itu hingga semuanya tanda tak tersisa. Setelahnya, gadis itu, merasa sedikit aneh. Tubuhnya, terasa sangat berbeda. Lebih segar dan lebih enteng.
"Ini ramuan apa, Mbok?" Tanya Mirna Seraya menyerahkan kepada wanita paruh baya yang ada di sampingnya itu.
" Hanya ramuan untuk menyegarkan tubuhmu," ucap wanita itu Seraya mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
Membuat Mirna yang mendengar itu seketika mengerti disertai senyuman tipis. Setelah selesai berbincang-bincang untuk beberapa saat, Mbok Min memutuskan untuk segera keluar dari tempat itu.
"Semoga prediksiku tidak salah,"ucap wanita itu pada dirinya sendiri saat telah keluar dari dalam kamar Mirna.
"Prediksi apa?"seketika Mbok Min terjingkat kaget saat mendengar suara dari arah belakang.
__ADS_1
"Eh, Nyonya itu loh saya dan Mirna sedang bermain untuk meramal masa depan."ucap wanita itu disertai senyuman kecil.
Membuat Marcella yang mendengarnya, seketika menatapnya dengan tatapan tajam dan juga disertai cibiran yang keluar dari mulutnya.
"Dasar kampungan! Hari gini masih saja percaya dengan hal-hal seperti itu,"ucap wanita itu Seraya melangkah pergi dari hadapan Mbok Min.
"Huffftt lega!"ujar wanita paruh baya itu saat melihat kepergian dari majikan wanitanya itu.
Kemudian dengan segera, melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam kamar yang memang bersebelahan dengan kamar Mirna.
****
Sementara Mirna yang berada di dalam, menatap kosong ke arah langit-langit kamar, dengan sesekali tersenyum getir. "Semoga aku bisa kuat dalam menghadapi semua ini,"ujarnya mulai memejamkan mata.
Entah mengapa, Gadis cantik itu merasa begitu letih dan juga lelah. Biasanya, Mirna tidak akan pernah selemah ini. Karena memang, gadis itu telah terbiasa dengan kehidupan yang buat hidupnya hancur dan seperti dijungkirbalikkan.
****
Pagi Harinya Mirna seperti biasa akan menjalankan semua aktivitas di rumah itu. Baik menjadi pelayan rumah mewah milik laki-laki tua itu, ataupun menjadi pelayan ranjang seperti biasanya.
Hanya saja, setiap mereka melakukan hal itu, Mirna akan merasa sedikit mual saat mencium bau dari tubuh laki-laki tua itu. Alhasil, sekuat tenaga Gadis itu akan mencoba menahan gejolak dari dalam perutnya.
Karena Mirna tidak ingin mendapatkan hukuman yang lebih sadis dari sebelumnya. Jika tahu Gadis itu merasa mual saat berdekatan dengan laki-laki itu.
"Apa kau ingin berangkat?" Tanya Vicky Seraya menghampiri Mirna. Sontak saja, hal itu membuat gadis itu, sedikit melangkah mundur.
"Kau kenapa?"tanya Vicky saat menyadari ada yang tidak beres dari istri kecilnya itu.
"Saya tidak apa-apa tuan, kalau begitu saya permisi dulu."ujar gadis Malang itu Seraya melangkahkan kaki untuk keluar dari rumah Vicky dengan menutup hidungnya.
__ADS_1