
Berapa hari kemudian,...
Mirna masih merasakan kesakitan yang luar biasa. karena laki-laki paruh baya itu, masih selalu menyiksa tubuh dan batinnya.
Hampir saja, Gadis itu merasa tidak kuat dan penyiksaan penyiksaan yang dilakukan oleh suaminya itu.
"Mbok Min, aku telah merasa tidak kuat "ucap Gadis itu Seraya berderai air mata. di dalam dekapannya saat ini, terlihat seorang bayi laki-laki yang tengah tertidur lelap.
Mirna menatap sendu pada bayi laki-laki itu. dan seketika itu pula, rasa bersalah langsung menyeruak masuk ke dalam hati gadis itu.
"sabar Mirna, sekarang kamu memiliki penyemangat baru."ucap wanita paruh baya itu Seraya mengusap kepala Mirna dengan penuh kasih sayang.
prang!
Kedua wanita berbeda generasi itu, seketika terjingkat kaget. saat mendengar sesuatu yang dibanting dari depan kamar itu. dan tak berselang lama, pintu kamar itu segera terbuka. menampilkan kedua orang wanita yang melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu.
"oh jadi gadis pembawa sial itu telah kembali? dan sekarang, sudah ada anggota lain di sini?"tanya Marcella seraya menatap sinis ke arah bayi laki-laki itu.
Dengan perlahan, menatap arah ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. dan hal itu membuat Mirna yang melihatnya, merasa sangat ketakutan. Gadis itu, bahkan beringsut mundur
"sebentar lagi kita akan punya uang lagi,"ucap Nadira penuh dengan penekanan.
"benar apa kata ibu, pasti harga bayi ini sangat mahal,"ucap Marcella Seraya tersenyum sinis ke arah Mirna.
Membuat Gadis itu seketika menggigil ketakutan."jangan lakukan itu. aku mohon, jangan lakukan hal itu."ucap Mirna Seraya menggelengkan kepala dengan memeluk tubuh bayi mungil itu dengan sangat erat.
Marcella dan juga Nadira yang melihat itu, seketika saling pandang. kemudian, tersenyum penuh arti. dan dengan segera, melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Selepas kepergian dari kedua Wanita berhati iblis itu, Mirna dengan segera langsung turun dari atas ranjang.
"Mbok Min, aku mohon tolong selamatkan putraku."ucap Gadis itu. dengan tubuh bergetar hebat.
"lalu akan aku bawa pergi ke mana?"tanya Mbok Min dengan raut wajah kebingungan. karena jujur saja, wanita tidak memiliki tempat persembunyian yang aman. karena selama ini, wanita paruh baya itu terlalu bergantung kepada keluarga Juragan Vicky.
Mirna yang mendengar itu seketika terdiam. karena mereka, memang tidak memiliki jawaban yang lain. hal itu membuat gadis itu, seketika menundukkan kepala.
__ADS_1
*****
"sayang apakah kau sibuk?"tanya Nadira pada laki-laki paruh baya itu.
Pertanyaan dari wanita itu, sukses membuat Vicky yang tengah fokus membaca buku, seketika mendongakkan kepala. menatap ke arah wanita itu, dengan tatapan keheranan.
"ada apa?"tanya laki-laki paruh baya itu dengan menatap sekilas ke arah istri tuanya itu.
"apa kau ingin menampung anak itu?"tanya Nadira ambigu.
Kedua alis Vicky seketika menaut karena merasa bingung dengan pertanyaan wanita itu.
"siapa yang kau maksud? bukankah memang Mirna adalah istriku? jadi untuk apa kau bertanya seperti itu?"tanya Vicky dengan raut wajah garangnya.
Karena laki-laki tua itu mengira, jika istri tuanya saat ini tidak menyetujui dirinya menikahi Mirna.
"bukan Mirna yang aku maksud. jika Mirna, aku malah senang kau mengurusnya. karena dia, membuat pekerjaanku sebagai pelayanmu teralihkan,"ucap Nadira menatap ke arah laki-laki itu.
"lalu siapa?"tanya Vicky yang memang tidak mengerti.
Mendengar ucapan dari istrinya itu, membuat fiqih sejenak terdiam. tak berselang lama, laki-laki itu membuka suaranya.
"sejujurnya, aku tidak ingin menampung anak itu di dalam keluarga kita. karena sedari awal, aku hanya ingin memanfaatkan Gadis itu sebagai pelayanku."ucap laki-laki paruh baya itu menatap pada sang istri.
"lalu bagaimana rencana?"benar apa tebakan yang dipikirkan oleh wanita paruh baya itu. karena ternyata, suaminya tidak akan pernah Sudi untuk membiayai atau mengurus anggota keluarga baru.
Vicky yang mendengarnya, segera mengedikkan bahu. pertanda bahwa laki-laki itu, tidak memiliki rencana. karena memang tujuan menangkap Mirna, hanya untuk menyalurkan hasratnya yang telah lama terpendam.
"Bagus ternyata rencanaku sepertinya akan berjalan mulus."ucap wanita itu dalam hati. Seraya menatap ke arah suaminya itu, dengan tatapan yang sulit diartikan. " euumm bagaimana kalau kita buang saja bayi itu di panti asuhan."ucap Nadira memberikan usul.
Membuat Vicky yang mendengarnya, sejenak terdiam. karena laki-laki paruh baya itu, merasa sedikit bimbang dengan keputusan yang akan diambil.
"bagaimana apa kamu setuju?"tanya Nadira menuntut.
"oke baiklah aku setuju!"ucap laki-laki itu pada akhirnya. dan hal itu membuat Nadira yang mendengarnya, seketika tersenyum senang.
__ADS_1
Tolong!!!"
Tiba-tiba saja, terdengar suara teriakan dari arah belakang. yang berasal dari ruangan tempat di mana, Mirna dikurung.
Membuat Vicky dan juga Nadira yang mendengarnya, seketika langsung bangkit dari tempat duduknya.
"ada apa?"tanya Nadira menatap ke arah Mbok Min yang berlari ke arahnya.
Sementara wanita paruh baya itu, hanya menunjukkan arah belakang sana dengan tubuh bergetar hebat.
Dengan segera dan tanpa basa-basi lagi, Nadira dan juga Vicky segera berlari ke arah ruangan itu dan membukanya dengan sekuat tenaga.
brakkk
Pintu dibuka dengan paksa. dan seketika itu pula, wajah mereka sama-sama tercengang. saat melihat pemandangan di hadapan mereka itu.
"kenapa bisa begitu?"tanya Vicky menatap ke arah dua wanita yang ada di sebelahnya.
"kami tidak tahu tuan, saat saya ingin memberikan sarapan kepada Mirna, keadaannya sudah seperti itu."ucap Mbok Min Seraya menunjuk ke arah atas ranjang.
Di mana saat ini, di sebelah Mirna tengah tertutup seonggok daging dengan penomoran darah.
Sementara Mirna, gadis itu menatap kosong ke arah depan. seperti manusia yang tidak memiliki gairah hidup sama sekali.
Sementara Nadira yang melihat itu, sejenak terdiam. namun setelahnya, melangkahkan kakinya untuk mendekati tempat di mana mereka berada.
"segera kuburkan jasad bayi ini!"perintah Nadira pada Mbok Min. dan hal itu langsung diangguki oleh wanita paruh baya itu.
Sementara Vicky, laki-laki itu masih menatap Mirna dengan tatapan tidak percaya. karena gadis polos seperti Mirna, ternyata bisa melakukan hal sesadis itu.
"aku tidak menyangka, ternyata kau ini bisa sesadis itu,"ucap laki-laki paruh baya itu Seraya mencengkeram dagu Mirna.
"baguslah Mas, kita tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk menaruh bayi itu di tempat panti asuhan."ucap Nadira pada akhirnya.
Vicky yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala."benar apa katamu, sudah lebih baik kau kuburkan saja bayi ini."ucap Vicky yang kini menatap ke arah Mbok Min.
__ADS_1