
Mirna yang mendengar penuturan dari ibu mertuanya itu, seketika merasa begitu bahagia. tak mudah itu langsung memeluk tubuh dari wanita paruh baya itu dengan begitu eratnya dengan tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada sang pencipta karena sudah mengabulkan semua doa-doanya.
Sementara Ridho, laki-laki muda itu hanya tersenyum saat melihat dua wanita yang berarti dalam hidupnya itu sudah kembali harmonis seperti dahulu kala.
"kalian memang tidak pantas untuk saling bermusuhan. karena kalian, ditakdirkan hanya untuk menjadi keluarga yang harmonis."laki-laki itu bangkit dari tempat duduknya dan langsung memeluk tubuh dari kedua wanita itu dengan begitu eratnya.
Sementara dua Kakak dari Ridho, hanya menatap pemandangan itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. namun tak lama berselang dari itu, ada senyuman sinis di wajah keduanya entah apa yang mereka rencanakan. itu menjadi urusan author hihihi.
Setelah selesai drama-drama itu, pada akhirnya Ridho membawa istrinya itu untuk masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. karena memang hari sudah tampak malam.
Laki-laki itu segera mendudukkan tubuh dari istrinya di atas paha dan memeluknya dengan begitu erat.
"bagaimana Apakah sudah tidak merasa sedih lagi?"tanya laki-laki itu mengeratkan pelukannya.
Mirna segera menyandarkan tubuhnya di dada bidang milik sang suami menghirup aroma yang begitu menenangkan.
"aku sangat bahagia. Terima kasih karena kamu telah membuat aku merasakan memiliki keluarga harmonis seperti ini."ucapnya penuh dengan nada ketulusan.
Tuk
Ridho langsung menyentil kening milik istrinya itu saat mendengar penuturan yang sedikit nyeleneh keluar dari bibir wanitanya.
"Kenapa diketuk sih kan sakit,"protes wanita itu Seraya menyentuh keningnya sendiri.
"kamu itu ngomong apa? kamu nggak usah bilang makasih karena tugasku untuk membahagiakan kamu."jawab Ridho yang langsung memeluk tubuh dari wanitanya itu dengan begitu eratnya.
Mirna yang mendengar itu seketika tersenyum kecil kemudian menyatukan kedua bibir mereka hingga terjadilah adegan yang mereka inginkan.
"udah sekarang tidur."setelah mengatakan itu, Ridho segera membawa tubuh istrinya untuk menuju ke rancang mereka dan merebahkannya secara pelan-pelan.
"mau minta hak kamu?"tanya Mirna menatap ke arah suaminya itu dengan tatapan menggoda dan juga malu-malu.
Karena jujur saja, mereka jarang melakukan aktivitas itu. karena memang Ridho pulangnya selalu larut malam dan yang pasti Mirna sudah terlelap dan terbaik di alam mimpi. karena hal itulah, mereka menjadi jarang untuk melakukannya. namun tidak untuk malam ini. karena memang, Ridho pulang terlalu sore. sehingga mereka, mampu menciptakan kehangatan itu.
"apa kamu tidak lelah?"tanya laki-laki itu Seraya mengusap wajah milik istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"kamu ini bicara apa sih, Mas? kalaupun Aku lelah, aku juga berkewajiban memberikan hak."jawabnya Seraya mengalungkan kedua tangannya di leher kekar laki-laki itu.
Ridho yang mendengar itu pun seketika tersenyum kemudian memajukan wajahnya dan...
Cup
Laki-laki itu memberikan satu kali kecupan di kening wanita kesayangannya. kemudian, mulai melaksanakan aktivitas yang memang sudah mereka rindukan.
"
"
"
Sementara itu di kamar lain lebih tepatnya di kamar milik Dewi, terlihat tiga orang wanita itu tengah berbincang-bincang dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
"kapan kita akan melaksanakan rencana itu? aku sudah merasa tidak kuat jika harus bersandiwara terus menerus seperti ini,"Maulia menatap ke arah sang ibu.
"benar Bu. sampai kapan kita harus berbaikan dengan wanita itu?"sambung Niken menatap ke arah ibunya.
"masalahnya kita sudah merasa muak harus selalu berbaikan pada wanita itu,"keluh Maulia lagi.
"bener itu. rasanya ingin muntah jika harus selalu berbaikan dengan wanita seperti itu."balas Niken ikut menimpali.
Dewi yang mendengar keluh kesah dari kedua anaknya itu, segera beranjak dari tempat tidur Kemudian mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.
"kapan kau akan melaksanakan rencana ini? kedua putriku sudah merasa tidak sabar,"ucap Dewi pada seseorang di seberang sana setelah sambungan telepon itu terhubung.
("sabarlah Bu, kita harus merencanakan ini sebaik mungkin aku juga masih mendekor tempat ini agar menjadi tempat yang meyakinkan nantinya.")
"baiklah kalau begitu Aku akan mencoba untuk bersabar sedikit lagi,"setelah mengatakan itu, Dewi segera kembali duduk di samping kedua putrinya.
"
"
__ADS_1
"
"
Sementara itu di tempat lain, terlihat dua orang wanita yang menempati sebuah rumah kecil disebut tempat pelosok tengah merencanakan sesuatu.
"Apakah kamu sudah berhasil masuk ke dalam keluarga itu?"tanya wanita paruh baya yang merupakan ibu dari wanita muda itu.
"belum Bu. tapi Ibu tenang saja. karena sebentar lagi, rencana kita akan segera berhasil. aku akan memastikan wanita itu akan menderita bahkan lebih menderita dari sebelumnya."ucap wanita muda itu Seraya menatap tajam ke sebuah foto yang memang terpasang di dinding rumah kecil itu.
"kau benar. aku sudah merasa tidak sabar ingin melihat kehancuran dari wanita itu. dia harus merasakan kepedihan berkali-kali lipat dari yang sebelumnya. karena dia, sudah berani-beraninya membuat kita menjadi tersangka dan sempat mendekam di penjara."ucap wanita paruh baya itu yang juga ikut mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Ibu tenang saja. aku akan membalas semua rasa sakit hati yang pernah kita rasakan di masa lalu."pungkas wanita muda itu Seraya pergi dari sana.
Sementara wanita tua itu, masih tetap berdiri di tempatnya dengan tatapan yang begitu tajam menatap ke arah sebuah foto dari seorang wanita.
"Kau pasti akan hancur Mirna."ucapnya dengan dada naik turun. menandakan bahwa wanita itu, saat ini tengah dalam keadaan murka.
****
Pagi harinya..
Mirna bangun terlebih dahulu untuk membersihkan dirinya akibat aktivitas malam yang begitu sangat melelahkan. wanita itu sempat tersenyum saat menatap ke arah sang suami yang masih terlelap dalam buaian alam mimpi.
"Mas, kau tidak bangun?"tanya Mirna dengan nada suara yang begitu pelan.
Laki-laki Itu tampak tidak terusik sama sekali. Ridho justru malah menarik tangan dari istrinya itu dan dibawa ke dalam pelukan.
"Mas aku mau mandi,"bisiknya Seraya mencoba untuk melepaskan genggaman tangan itu.
"lima menit lagi ya,"cinta laki-laki itu Seraya masih dalam memejamkan mata.
Mirna tampak menghembuskan nafasnya kasar. jika sudah seperti ini, wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa. dan pada akhirnya, ikut berbaring di dada bidang milik suaminya itu.
Cup
__ADS_1
"selamat pagi sayang,"sapa laki-laki itu dengan nada suara yang serak khas orang bangun tidur.