Derita Mirna

Derita Mirna
DM~S2 Part 1


__ADS_3

beberapa bulan kemudian.....


kini Ridho dan juga Mirna telah memisah dari kedua orang tua dan juga keluarga laki-laki itu. karena memang, Ridho beralasan ingin mandiri. hingga pada akhirnya, laki-laki itu memutuskan untuk membeli sebuah rumah minimalis untuk istri dan juga anaknya.


"Kenapa kalian harus pindah sih? memangnya tidak bisa tinggal di sini aja? bukankah selama ini, ibu selalu baik pada Mirna? Kenapa dia merasa tidak betah seperti itu?"tanya ibunda dari Ridho yang bernama Ibu Dewi.


Ridho langsung menggenggam tangan milik ibunya itu dengan sangat erat. ada perasaan bersalah yang menyeruak di dalam dadanya saat mendengar penuturan dari wanita tua yang telah berhasil membuatnya sampai seperti ini.


"maafkan Aku Bu. aku hanya ingin, hidup mandiri saja. lagi pula, rumahnya tidak jauh dari sini. dan sewaktu-waktu, kami bisa berkunjung kemari."jawab Ridho Seraya mencium punggung tangan milik wanita paruh baya itu dengan penuh kasih sayang.


'dasar wanita sialan. berani-beraninya kau menghasut Putraku untuk membenciku dan berniat untuk meninggalkanku. padahal, aku sudah menerimamu dan juga putramu dengan lapang dada. ternyata semua itu, justru membuatmu besar kepala. jangan salahkan aku, jika aku akan membencimu dan akan membuat perhitungan dengan kalian.' batin Dewi menatap sinis ke arah menantunya itu.


Entah sejak kapan, wanita paruh baya itu menjadi sangat membenci wanita sebatang kara seperti Mirna. padahal semenjak diperkenalkan oleh Ridho, wanita paruh baya itu menyambut baik kedatangan Mirna dan juga Tirta. bahkan kakak-kakak dari laki-laki itu, juga bersikap baik pada Mirna. tapi entah mengapa, mereka perlahan-lahan mulai berubah. apalagi saat mengetahui, Mirna pernah masuk dalam jeruji besi. beruntungnya mereka tidak tahu kasus apa yang menimpa wanita malang itu. jika sampai mereka mengetahui, maka dapat dipastikan Mirna akan semakin menderita.


" loh, kamu mau ke mana?"tanya kakak dari Ridho bernama Maulia itu.


"kami mau pindah dari sini Mbak."jawab Ridho dengan tersenyum canggung.


Maulia yang mendengar itu seketika membulatkan kedua matanya. kemudian, menatap mereka bertiga secara bersamaan.


"Kenapa buru-buru sekali? bukankah kalian aman-aman saja berada di sini?"tanya Maulia dengan raut wajah herannya.


"mungkin mereka merasa tidak betah berada di sini."Dewi langsung beranjak dari tempat duduknya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar.


Hal itu membuat Ridho dan juga Mirna yang melihatnya, seketika saling pandang satu sama lain. sementara Maulia sendiri, merasa sangat kebingungan.

__ADS_1


"kamu itu anak lelaki satu-satunya Ridho, dan kamu yang paling dibanggakan oleh ibu. jadi sebaiknya, kalian tetap tinggal di sini karena aku sama Mbak Niken, sudah ikut dengan suami masing-masing. sehingga kami akan jarang untuk memantau perkembangan dari ibu."tutur Maulia mencoba untuk memberikan nasihat pada adik bungsu dan juga istrinya itu.


Ridho tampak sangat kebingungan. Berkali-kali, laki-laki itu menatap ke arah Mirna seperti meminta persetujuan dari wanita itu. dan pada akhirnya, wanita cantik itu pun hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.


"baiklah Mbak. kalau begitu, kita berdua pamit dulu."setelah mengatakan itu, Ridho membawa Mirna untuk masuk kembali ke dalam kamarnya dengan menggeret koper yang memang sudah dipersiapkan oleh mereka sedari semalam. mereka pikir, pagi ini akan lancar karena hanya meminta izin pada wanita paruh baya itu untuk pindah. namun pada kenyataannya, semua tidak sesuai dengan ekspektasi.


"sabar ya Sayang, nanti aku akan coba untuk kembali berbicara pada ibu agar kita bisa segera pindah dari sini."Ridho mengusap kepala dari istrinya itu penuh dengan kasih sayang.


Mirna yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala Seraya tersenyum simpul.


"iya Mas aku nggak papa kok ada di sini. lagi pula, Ibu juga sangat baik padaku. kemarin itu aku memang tidak tahu diri. Bisa-bisanya, Aku ingin memisahkan antara Ibu dan juga anak. Aku sekarang sudah sadar kok Mas,"tutur Mirna dengan suara yang begitu lembut.


Ridho langsung membawa tubuh istrinya itu masuk ke dalam pelukan kemudian mengusap punggung dari wanita itu agar tidak ngelantur kemana-mana dalam berucap.


"tidak ada yang salah bagi seorang wanita yang ingin hidup terpisah dari mertuanya. Karena bagaimanapun juga, dalam satu istana tidak bisa diisi oleh dua ratu."sahud Ridho Soraya mengusap kepala dari istrinya itu penuh dengan kasih sayang.


Di saat mereka sedang berpelukan satu sama lain, ponsel milik Mirna berbunyi pertanda bahwa Tirta sebentar lagi akan pulang. wanita cantik itu segera mendongak ke arah sang suami.


"iya aku jemput Tirta dulu."setelah mengatakan itu, Ridho segera memberikan satu kali kecupan pada istrinya.


"Terima kasih Mas."


"sama-sama."


Setelah mengatakan itu, Ridho segera melangkahkan kakinya untuk segera menuju keluar dari dalam kamar.

__ADS_1


Sementara Mirna sendiri, memutuskan untuk membersihkan kamar dan juga memutuskan untuk memasak untuk makan siang suami dan juga anaknya.


Wanita cantik itu memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju dapur guna memasak sesuatu di sana.


Saat di area dapur, wanita itu berpapasan dengan Dewi. wanita paruh baya itu segera menatap Mirna dengan tatapan yang sulit diartikan. namun kedua sudut bibir dari wanita paruh baya itu, terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman.


"Apakah kamu ingin membuatkan sesuatu untuk anak dan juga suamimu?"tanya Dewi pada menantunya.


Mirna yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala. kemudian mulai mengeluarkan bahan-bahannya dan mulai meracik bumbu yang akan digunakan untuk memasak semur ayam kecap.


Sementara Dewi sendiri, masih menatap ke arah menantunya itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. namun tanpa disadari oleh orang-orang yang ada di sana, kedua tangan dari wanita paruh baya itu pun mengepal dengan sangat kuat.


"Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi."setelah mengatakan itu, Dewi segera pergi dari sana.


****


Sementara itu di area sekolah, terlihat Tirta yang berlari dengan kencangnya untuk menghampiri Ridho yang memang sudah berada di depan mobil.


"bagaimana tadi belajarnya?"tanya laki-laki itu Seraya mencium pipi dari bocah gembul berusia 6 tahun itu.


"Semuanya lancar ayah."balas Tirta dengan sangat riang.


"Ya udah ayo kita pulang. Ibu pasti sudah membuatkan makanan untuk kita berdua,"ucap Tirta Seraya memasukkan tubuh mungil putranya itu untuk masuk ke dalam mobil.


"Ayah nanti kita mampir ya beli coklat."di tengah-tengah perjalanan, Tirta merengek meminta coklat.

__ADS_1


Hal itu membuat Ridho yang mendengarnya, seketika terdiam. dirinya merasa begitu bimbang saat ini. karena istrinya, seringkali melarang dirinya saat memberikan coklat pada bocah laki-laki itu.


__ADS_2