
Kondisi itu, terus menerus berlangsung. Membuat Mirna, hampir merasa putus asa karena tidak ada cara lain untuk menghindari dari laki-laki itu.
"Mirna, Kau kenapa?"tiba-tiba saja, Wati datang menghampiri putrinya itu yang tengah melamun.
Membuat gadis cantik itu, seketika terjingkat kaget. Dan dengan segera, merubah ekspresi wajahnya. Yang awalnya sedih, menjadi ceria kembali.
Hal itu semata-mata dilakukan oleh Mirna, hanya untuk menutupi sebuah kebohongan besar yang telah ia lakukan. Di samping itu, Mirna juga merasa takut akan ancaman yang ditunjukkan oleh Pak Tono terhadapnya.
"Eh, I... ibu, Mirna tidak apa-apa Bu,"ucap Gadis itu Seraya menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Membuat Wati yang mendengarnya, merasa sedikit heran. Warna putrinya itu tidak pernah bersikap seperti itu terhadapnya.
"Jujur sama ibu, kamu ini kenapa?"tanya Wati Seraya duduk di samping Mirna. dan langsung menggenggam tangan gadis itu.
Tentu saja itu membuat Mirna yang mendengarnya, merasa bingung apa yang harus ia katakan sebelumnya kepada wanita yang telah berjasa melahirkannya itu.
Wati tersentak kaget, saat melihat putrinya sendiri, saat ini menatapnya dengan berlinang air mata. Sontak Saja, itu membuat Wati merasa begitu terkejut. Wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh rasa sesak di dalam dadanya.
"Ibu maafkan Mirna, hiks hiks."ucap Gadis itu Seraya menangis tersedu-sedu. Hingga membuat Wati, yang melihat dan mendengar itu, merasa sangat khawatir namun juga kebingungan.
Karena wanita paruh baya itu, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh putrinya itu."sayang, coba kamu bicara apa yang kamu rasakan. Kenapa kamu minta maaf seperti ini?"tanya Wati mulai membawa putrinya ke dalam pelukannya.
Di dalam pelukan ibunya, Mirna malah menangis tersedu-sedu. Dada Gadis itu terasa sangat sesak. Apalagi saat berusaha untuk mengatakan sesuatu yang selama ini ia pendam.
"Apa Ibu janji, setelah aku mengatakan hal ini Ibu mau memaafkanku?"tanya Mirna dengan mendongakkan kepalanya.
Wati yang mendengar itu, seketika menegang. Entah mengapa, degup jantungnya berdetak semakin cepat. Seperti sesuatu yang besar, akan terjadi dan menimpa hidup mereka.
__ADS_1
Dengan tubuh gemetaran, Wati mencoba menenangkan putrinya. Wanita paruh baya itu mencoba menasehati putrinya untuk berkata jujur. Walaupun kejujuran itu, seringkali sangat menyakitkan.
"Apa yang mau kamu katakan, sayang?"tanya Wati dengan nada gemetar menahan tangis. Entahlah, mengapa Wati bersikap seperti itu. Padahal wanita paruh baya itu, belum mengetahui apa yang akan dikatakan oleh putrinya.
Namun sepertinya, insting seorang ibu itu sangatlah kuat. Mereka dapat merasakan sesuatu hal yang buruk yang akan menimpa buah hati mereka. Mungkin itu juga yang dirasakan oleh Wati saat ini. Sehingga alam bawah sadar wanita itu, sedikit bereaksi.
Sementara Mirna, setelah mengumpulkan keberanian cukup besar, akhirnya Gadis itu mulai menceritakan semua yang menimpanya.
Brak
Seketika itu pula, tubuh Wati ambruk ke lantai yang masih terbuat dari papan itu. Hingga membuat bayi mungil yang berada di samping mereka, seketika menangis kencang. karena mungkin, merasakan terkejut dengan tingkah wanita paruh baya itu.
Dengan sigap, Mirna langsung menggendong dan menenangkan putranya. Dengan sesekali memberikan bayi mungil itu ASI agar terdiam. Dan setelah beberapa saat, akhirnya bayi mungil itu pun terdiam dan tertidur pulas.
Mirna kembali meletakkan bayi mungil itu ke dalam box bayi yang tak jauh dari sana. Setelah semuanya selesai, Gadis itu kembali menatap ke arah ibunya. Yang kini tengah menangis tersedu-sedu.
Tangisannya begitu sangat pilu. Membuat Mirna yang mendengarnya, seketika ikut menangis. Gadis itu, sampai harus berlutut dihadapan wanita yang telah melahirkannya itu.
"Ibu maafkan aku, tidak seharusnya Mirna berbohong pada ibu. Tapi jujur saja, Mirna sangat takut dengan ancaman laki-laki itu."ucap gadis cantik itu dengan suara serak dan juga suara yang terbata-bata.
Sementara Wati, wanita paruh baya itu menatap kosong ke arah depan. Seakan-akan, di dalam tubuhnya saat ini tidak ada yang menempati. Alias kosong.
Coba kalian bayangkan, mana ada seorang ibu, rela saat mendengar pengakuan yang menyakitkan tentang putrinya sendiri. Apalagi, kenyataan itu baru saja dia dapatkan setelah beberapa waktu lamanya.
Wati tidak dapat membayangkan bagaimana perasaan hancur dan tersiksanya Putri semata wayangnya itu saat menghadapi situasi seperti ini.
"Maafkan Ibu sayang, seharusnya ibu berada di sampingmu saat-saat seperti itu. Maafkan Ibu, karena Ibu menjadi seorang ibu yang tidak berguna,"ucap Wati mulai bertindak brutal.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu mulai menjambak rambutnya sendiri. Dan mulai berteriak histeris. Tentu saja hal itu membuat putra Mirna yang baru saja terlelap, seketika terbangun dan menangis kencang.
Sehingga suasana di rumah itu, yang awalnya sangat tenang dan juga damai, kini berubah menjadi ramai akibat tangisan dari mereka. Dan tak lama berselang, beberapa orang warga datang berbondong-bondong untuk melihat keadaan di rumah Mirna.
Mereka semua seketika tercengang saat melihat ada seorang bayi mungil yang berada di gendongan Mirna.
"Maaf Itu anak siapa, ya?"tanya salah seorang warga menatap ke arah Mirna dan juga Wati secara bergantian.
Namun kedua wanita berbeda usia itu, hanya memberikan reaksi diam. Sehingga, membuat suasana menjadi tak kondusif.
"Ayo coba Bu Wati Dia anak siapa?"tanya salah seorang ibu-ibu yang memakai tusuk konde di rambutnya.
Wanita itu terlihat sangat garang saat melihat pemandangan yang begitu mencengangkan yang tersaji di depan matanya itu.
"Ayo jawab!"bentak mereka semua secara bersamaan.
Tentu saja hal itu membuat Wati, seketika angkat bicara. "Dia adalah cucu saya,"setelah mengatakan hal itu, wanita paruh baya itu kembali menitikan air mata.
Mendengar penjelasan dari Wati, membuat beberapa warga yang awalnya telah bersimpati terhadap wanita paruh baya itu, seketika berubah menjadi rasa benci yang sangat dalam.
"Usir dia dari sini!"entah suara siapa itu, yang jelas, Mirna dan Wati seketika menjadi bulan-bulanan para warga yang merasa marah dan juga kecewa dengan kedua wanita itu.
"Stop!! dia itu adalah cucu kandung saya. Dan dia terlahir dalam keadaan dalam perkawinan. Alias memiliki orang tua yang sangat sah di mata hukum dan juga negara!"ucap Wati dengan sekuat tenaga disertai lelehan air mata yang membasahi wajah keriputnya.
"Halah buktinya mana?! Kalau memang anakmu itu mempunyai suami, lalu sekarang mana dia?"teriak salah seorang warga.
Membuat beberapa orang yang mendengar itu, seketika juga ikut menghakimi Mirna dan juga ibunya. Seakan-akan, mereka adalah orang-orang suci tanpa dosa. Padahal, belum tentu mereka lebih baik daripada Mirna dan Ibunya
__ADS_1