Derita Mirna

Derita Mirna
DM~S2 part 2


__ADS_3

"nanti kalau Ibu marah gimana?"tanya Ridho dengan raut wajah cemasnya.


Tirta yang mendengar itu pun, seketika langsung menundukkan kepala. "Yah padahal aku ingin banget makan makanan itu."gumamnya dengan ekspresi wajah yang begitu sedih.


Hal itu tentu saja, membuat Ridho yang melihatnya, sama sekali tidak tega dan pada akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk membelikan Putra sambungnya itu apa yang dia mau.


"Ya udah kalau gitu, ayah akan belikan kamu. tapi ingat, harus segera dihabiskan sekarang juga. dan nanti kalau sampai rumah, tolong segera sikat gigi. karena Ayah tidak ingin, ibumu nanti marah-marah. Apakah kamu mengerti Tirta?"tanya Ridho pada anak laki-lakinya itu.


Tirta yang mendengar itu, seketika menatap Ayah sambungnya itu dengan tatapan antusias.


"Yeay makasih ayah!"seru bocah laki-laki itu Seraya memeluk tubuh Ridho dengan begitu eratnya.


Sementara Ridho sendiri, hanya menggeleng-gelengan kepalanya saat melihat bagaimana antusiasme yang ditunjukkan oleh bocah laki-laki itu.


****


Sementara itu di dalam rumah milik keluarga Mario, terlihat Dewi tengah mondar-mandir di dalam kamarnya.


"aku harus melakukan sesuatu agar wanita itu tahu posisinya di sini hanya numpang dan tidak boleh membuat Putraku menjadi pembangkang seperti itu."gumam Dewi Seraya melangkah ke sana kemari.


sepertinya wanita paruh baya itu masih sangat merasa kesal pada menantunya itu. terbukti dengan tatapan yang masih terasa begitu dingin saat tidak sengaja menatap ke arah wanita cantik itu.


"aha aku tahu apa yang harus aku lakukan,"ucap wanita itu secara tiba-tiba Seraya tersenyum cerah.


Pada akhirnya, Dewi memutuskan untuk segera keluar dari dalam kamarnya dengan langkah biasa saja agar tidak diketahui oleh orang-orang yang ada di rumah itu.


Wanita paruh baya itu sempat melihat ke arah dapur. di mana Mirna, masih sibuk untuk mempersiapkan makanannya. kedua sudut bibir dari Dewi seketika tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman yang begitu manis.


Dengan langkah secepat kilat, wanita paruh baya itu segera melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah.


Kemudian menatap ke arah seorang laki-laki yang tengah memainkan kucing peliharaannya. Lagi Dan Lagi, senyuman dari wanita paruh baya itu pun mengembang saat mendapati laki-laki itu seperti tidak melakukan apapun.

__ADS_1


"pssstt... pssstt.."


Beberapa kali, Dewi memberikan kode pada laki-laki itu agar menoleh kepadanya. dan setelah mengulangi untuk beberapa saat, pada akhirnya Karyo menoleh ke arah sumber suara.


"eh Ibu Dewi, ada apa?"tanya Karyo dengan tersenyum lebar.


"aku ada sesuatu untukmu."ucap Ibu Dewi yang langsung mengeluarkan sebuah amplop coklat berisikan beberapa gambar uang berwarna merah.


Mata dari Karyo seketika membelalak dengan sempurna saat mendapati pemandangan yang begitu menggiurkan di hadapannya itu.


"ini buat saya?"tanya Karyo menatap ke arah wanita paruh baya itu dan juga uang yang ada di tangannya secara berulang-ulang.


"hmm, tapi ini tidak gratis."jawab Dewi kembali mengambil uang yang ada di tangan Karyo itu.


"apa yang harus saya lakukan?"tanya Karyo menatap ke arah wanita paruh baya itu dengan tatapan berbinar-binar karena mendapatkan bayaran sebesar itu.


Dewi yang mendengar itu segera membisikkan sesuatu di telinga Karyo. membuat laki-laki berusia 50 tahun itu, seketika membulatkan kedua matanya.


"tentu saja. karena aku merasa, menantuku itu bukanlah wanita baik-baik. jadi tidak ada salahnya bukan Jika kamu memberikan sedikit pelajaran pada wanita itu. karena gara-gara dia, aku hampir saja kehilangan Ridho."jawab Dewi dengan tatapan tajamnya.


Karyo yang mendengar itu seketika tersenyum kecil. karena pada kenyataannya, laki-laki setengah baya itu pun juga menyukai sosok Mirna yang seperti seorang bidadari Karena kecantikannya yang tidak kaleng-kaleng.


"kapan aku harus melakukan itu?"tanya kario menatap ke arah wanita paruh baya itu dengan tatapan antusiasnya.


"lebih cepat lebih baik."balas Dewi masih dengan tatapan tajamnya.


"Bu...Ibu...Ibu di mana?"tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang memanggilnya dengan nada suara yang begitu lembut Hal itu membuat karya seketika menyeka air liurnya sendiri karena benar-benar merasa tergoda hanya mendengar suara dari wanita itu.


"benar-benar menggairahkan."gumamnya Soraya tersenyum senang. tak lama berselang, Mirna muncul dengan pakaian rumahan yaitu daster tipis sebatas lutut.


Hal itu membuat Karyo, semakin merasa kepanasan saat membayangkan sesuatu di balik gaun tipis itu pastilah sangat menggoda dirinya.

__ADS_1


"lakukan itu secara rapi. dan jangan pernah, kau menampilkan wajah aslimu itu."bisik Dewi di telinga Karyo.


Sontak saja laki-laki paruh baya itu segera menatap ke arah Dewi dengan tatapan bertanya-tanya.


"coba kamu pakai ini."wanita paruh baya itu segera menyerahkan sebuah topeng kulit di tangan Karyo. membuat laki-laki paruh baya itu, seketika tersenyum dengan begitu senangnya.


"ibu, Kenapa ada di sini?"tanya Mirna yang entah sejak kapan sudah berada di belakang mereka berdua.


tentu saja hal itu membuat karya dan juga Dewi yang mendengarnya, dibuat gelagapan. mereka berdua segera berjalan menjauh dan melakukan aktivitas mereka seperti sedia kala.


"kamu ngapain ada di sini?"bukannya menjawab, Dewi justru malah bertanya pada menantunya itu.


"Aku di sini ingin membawa ibu masuk."jawabnya dengan raut wajah kebingungan.


"lain kali nggak usah. karena pakaian kamu ini, bisa mengundang mata keranjang laki-laki lain."setelah mengatakan itu, Dewi segera pergi dari sana.


sementara Mirna sendiri, hanya menatap penampilannya itu dengan tatapan penuh kebingungan.


"perasaan pakaianku biasa saja deh,"gumam wanita itu pada dirinya sendiri. hingga tak lama berselang, kedua mata dari wanita itu juga bertatapan dengan Karyo.


Kedua bola mata milik Mirna seketika membulat dengan sempurna saat mendapati laki-laki itu, menatapnya dengan menjilati bibirnya sendiri.


Mirna dengan segera langsung berlari dengan sangat kencang untuk masuk ke dalam rumah mertuanya itu.


Membuat Dewi yang melihat tingkah laku dari menantunya itu, sempat mengerutkan kening.


"Kau ini kenapa?"tanya Dewi menatap ke arah Mirna dengan tatapan menyelidiki.


"a..anu emm tidak ada apa-apa Bu lebih baik sekarang kita makan dulu saja."dengan gelagapan, Mirna segera menuntun Dewi untuk masuk ke dalam ruang makan dan melayani wanita paruh baya itu dengan sebaik mungkin.


"oh ya Bu, Mbak Maulia ke mana?"tanya Mirna karena tidak mendapati kakak iparnya itu.

__ADS_1


"dia sudah pulang tadi dia ke sini hanya ingin memberikan kue kering ini pada ibu."sahut Dewi dibuat senatural mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Mirna.


__ADS_2