Derita Mirna

Derita Mirna
Sedikit Merasa Bahagia


__ADS_3

Setelah meminta izin hari itu, Mirna akhirnya mendapatkan haknya. Walaupun gadis itu harus merasakan kesusahan yang luar biasa. Karena setiap harinya, gadis belia itu harus menjalankan kewajibannya sebagai pelayan rumah itu dan juga pelayan di atas ranjang.


"Kenapa melamun terus?"tiba-tiba saja, seseorang datang dengan mengejutkannya.


Siapa lagi jika bukan Mbok  Min. Seketika itu pula, gadis cantik itu segera menoleh ke arah sumber suara.


"eh, Mbok  Min aku kira siapa,"ucapnya tersenyum manis. Dan setelahnya, memperbaiki posisi duduknya. saat wanita paruh baya itu ikut duduk di sampingnya.


"Kenapa, kok sepertinya cerah sekali?"tanya wanita paruh baya itu Seraya menyenggol lengan gadis itu. Dengan senyuman jenakanya.


Membuat Mirna yang mendengar itu seketika langsung memeluk tubuh wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai Ibunya sendiri itu.


"Aku sudah diperbolehkan sekolah, asalkan,..."gadis itu tampak menghela nafas saat ingin melanjutkan ucapannya.


Membuat Mbok Min yang melihat itu, menyentuh lengan Mirna dengan lembut.


"Asalkan apa?"tanya wanita paruh baya itu dengan nada lembutnya. Walaupun, wanita itu telah mengetahui apa yang dimaksud oleh Mirna si gadis Malang.


Tampak gadis cantik itu kembali menghela nafas panjang."asalkan, aku kembali menjadi budak mereka."gumamnya suara yang menundukkan kepala.


Mbok Min yang mendengar itu, seketika hatinya merasa sangat ngilu. karena rasa sakit yang dirasakan oleh Mirna, menular hingga menembus jantung wanita paruh baya itu. Namun demikian wanita paruh baya itu, tetap menasehati Mirna dengan sebaik mungkin.


"Sudah, tidak apa-apa, Anggap saja kau beramal. karena bagaimanapun juga, Tuan Vicky adalah suamimu yang wajib untuk kamu taati,"ucapnya dengan senyuman manis.


Walaupun di dalam hati wanita paruh baya itu merasa tidak rela saat mulutnya mengatakan hal seperti itu. Karena menurut Mbok Min, pernikahan yang mereka lakukan adalah melanggar norma sebagai seorang manusia.


Karena selain perbedaan keduanya yang cukup jauh, juga karena Mirna masihlah tergolong anak-anak. Yang seharusnya, mendapatkan perlindungan dari orang-orang sekitar. Tapi, semua sudah terlambat. karena Mirna telah berada di tempat itu.


Tempat yang Mbok Min sebut, sebagai neraka dunia. Karena saking kejamnya orang-orang yang berada di rumah itu. Dan saat ini, dirinya harus bisa menjaga seorang gadis yang terperangkap masuk ke dalam tempat itu.a


"Berarti, aku harus mengikhlaskan semuanya,?"tanya Mirna saraya tersenyum kecil.


Astaga bocah ini masih bisa untuk tersenyum dalam keadaan seperti ini? Pikir Mbok Min saraya menatap ke arah gadis itu.

__ADS_1


Anggukan kepala, adalah sebagai jawaban yang dikeluarkan oleh wanita paruh baya itu. Karena mulutnya, seakan kelu untuk mengatakan "iya"atas pertanyaan gadis itu.


Mirna yang melihat itu, seketika kembali tersenyum senang. Karena Pada akhirnya, dirinya bisa merasakan kebebasan walaupun itu hanyalah sementara. Dan Mirna tahu, setelah jam sekolah berakhir, gadis cantik itu harus kembali menjadi budak di rumah itu. Namun itu tak menjadi masalah bagi Mirna. Yang terpenting sekarang, dirinya dapat sedikit merasa bahagia.


*******


Hari ini, seperti kata Vicky, kembali bersekolah di tempat yang sama. Namun dengan catatan, gadis itu tidak boleh berdekatan dengan siapapun laki-laki di sekolah itu. Dan jika Sampai Mirna melanggar perjanjian itu, maka sesuatu hal yang besar akan langsung menanti gadis kecil itu.


"Wah dia sudah rapi, mau ke mana memangnya?"tanya Marcella menatap ke arah Vicky dan juga Nadira yang tengah menikmati sarapan pagi itu.


"Dia akan pergi ke sekolah!"ucap Vicky tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.


Uhuk uhuk


Seketika itu pula, Marcella  segera memuntahkan makanan makanan yang baru saja ia kunyah itu. Kemudian matanya, menatap ke arah sang suami dengan tatapan yang penuh dengan keliatan amarah.


"Kamu mau menyekolahkan dia?!"tanya Nadira dengan nada tinggi menunjuk ke arah gadis itu.


Setelah mengatakan hal itu, suasana di rumah itu tiba-tiba menjadi sangat hening. Karena semua orang, seketika menundukkan kepala karena merasa ketakutan.


"Di sini aku yang berkuasa, jadi akulah yang berhak untuk mengizinkan ataupun menolak sesuatu!"ucapnya dengan nada tinggi disertai tatapan tajam ke arah wanita paruh baya itu.


Tentu saja hal itu membuat Nadira yang mendengarnya, seketika menundukkan kepala.


"Jika kau tidak suka dengan keputusanku, maka kau boleh pergi dari sini."ucapnya dengan nada tegas dan sedikit merendah.


Membuat Nadira yang mendengarnya, semakin menundukkan kepala dengan tubuh bergetar hebat karena merasa ketakutan.


"Ma..maafkan aku suamiku, aku mohon jangan lakukan ini padaku,"ucap wanita paruh baya itu Soraya mengatupkan kedua tangan di depan dada.


Sementara Vicky yang mendengar itu, tak membalas ucapan dari istrinya. Mata laki-laki tua itu, malah fokus menatap ke arah Mirna yang masih terdiam di tempatnya.


"Sekarang, kau boleh pergi!"ujar laki-laki paruh baya itu Seraya memberikan selembar uang pada Mirna.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan,"Mirna segera mengambil uang itu dengan senyuman manis. Dan dengan segera, mengambil uang itu. Setelahnya, melangkah keluar dari rumah itu dengan perasaan bahagia.


Karena akhirnya, gadis itu mendapatkan sedikit kebebasan dengan bisa bersekolah lagi. Saat Mirna keluar dari tempat itu, gadis itu telah disambut oleh sebuah mobil berwarna putih. Yang sepertinya, mobil itu sengaja untuk menunggunya.


"Silakan masuk!"benar apa yang menjadi pikiran gadis itu. Karena saat Mirna melangkahkan kakinya, seseorang dengan sigap langsung membuka pintu mobil itu.


Membuat Mirna yang mendengar itu, segera masuk ke dalam mobil dengan langkah ringan. Karena memang, gadis kecil itu sudah tidak memperdulikan hal-hal yang menimpa hidupnya. Karena saking merasa senangnya dapat mengenyam pendidikan seperti dahulu lagi.


"Nanti setelah jam istirahat sekolah, kamu disuruh kembali ke mobil ini oleh Tuan."ucap orang itu tanpa menoleh ke arah si lawan bicara.


Mirna yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala."aku tahu apa tugasku,"ucap gadis Malang itu dalam hati.


Tak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh Mirna, telah sampai di depan sebuah sekolah yang sangat ia rindukan dalam beberapa hari ini.


"akhirnya aku bisa melihat bangunan ini lagi,"gumam Mirna Seraya melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam mobil mewah itu.


"Saya masuk dulu Pak,"ucap Mirna pada si sopir suruhan dari Vicky itu. Dan dengan segera, melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam bangunan sekolah itu.


"Semoga seterusnya akan seperti ini,"gumam gadis kecil itu Soraya melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolahan.


Namun tiba-tiba saja, langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya dari arah belakang.


"Mirna!" Tentu saja, si pemilik nama segera melangkahkan kakinya untuk mendekati seseorang yang memanggilnya itu.


Namun, setelah hampir sampai di depan orang itu, Mirna segera menghentikan langkahnya. dan dengan segera, berbalik untuk menuju langsung ke kelasnya. Saat gadis  itu menyadari apa yang harus dia lakukan saat di sekolah.


Mirna sama sekali tidak memperdulikan teriakan dari orang itu yang terus-menerus memanggil namanya.


"Maafkan aku Ridho, aku tidak bermaksud untuk menjauhimu,"ucap gadis itu Seraya mengusap air matanya yang mulai berjatuhan membasahi wajah cantiknya.


Sementara laki-laki yang bernama Ridho itu, masih terus melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mengejar Mirna yang semakin lama semakin menjauh.


"Kenapa, ada apa, kenapa dia menjauh seperti ini?"tanya laki-laki itu pada dirinya sendiri. Seraya langkahnya semakin dipercepat untuk sampai dan meraih tangan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2