Derita Mirna

Derita Mirna
Tertangkap


__ADS_3

Mirna dan juga sang ibu, akhirnya melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. kedua wanita berbeda generasi itu, mengalami kesialan sekali lagi.


"sampai kapan kita akan bernasib sial seperti ini, Bu?"tanya Mirna Saraya berderai air mata. Gadis itu kini menatap ke arah putranya yang masih terlelap dalam gendongannya.


Sementara Wati yang mendengar itu, hanya terdiam. dengan tangan keriputnya, menggenggam tangan putrinya.


"sabar ya sayang, kita berdoa saja semoga penderitaan ini segera berakhir,"ucap wanita paruh baya itu Seraya tersenyum kecil. Mirna yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala.


"kita harus ke mana sekarang?"tanya Mirna menatap ke arah ibunya. saat mereka, kini telah berada di jalan besar. entah karena fokus berbincang-bincang dengan ibunya, atau memang telah biasa berjalan. sehingga lelah pun, tidak ia rasakan.


"ke tempat yang menurut kita aman."ucap wanita paruh baya itu Seraya tersenyum senang. dan dengan segera, masuk ke dalam angkutan umum yang baru saja berhenti tepat di hadapan mereka itu.


Tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil berwarna hitam yang memperhatikan gerak-gerik mereka. dan salah satu di antara mereka, segera mengeluarkan ponsel yang berada di dalam sakunya itu.


"halo Bos, kamu menemukan target!"ucap salah satu diantara mereka dengan suara sedikit girang. karena akhirnya, mereka dapat menemukan dua wanita itu.


"bagus, terus awasi saja mereka. jangan sampai kalian kehilangan jejak lagi. atau nanti, kalian tidak akan pernah mendapatkan bonus."ucap seseorang dari sebelah sana.


"baik Bos terima kasih!"ucap orang itu Seraya kembali fokus terhadap pemandangan yang ada di hadapannya itu.


Setelah menutup panggilan itu, mereka segera mengikuti ke manapun dua orang Wanita itu pergi."ikuti mereka kemanapun pergi,"ucap pimpinan kelompok itu.


Dengan segera, mobil Jeep hitam itu segera melaju mengikuti arah angkutan umum itu.


******


Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman keluarga Vicky, terlihat seorang laki-laki paruh baya tersenyum menyeringai. setelah mendapatkan kabar dari anak buahnya.


"Kau pasti tidak akan bisa lari lagi anak kecil," ucap laki-laki itu Seraya tersenyum menakutkan.


Dengan segera, laki-laki paruh baya itu bangkit dari tempat duduknya dan langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah mewah itu.


"Kau mau ke mana?"tanya seorang wanita dewasa menatap ke arah Vicky

__ADS_1


Membuat laki-laki itu, seketika menoleh dan mendapati Nadira telah menatapnya. dan hal itu membuat Vicky, seketika tersenyum misterius.


"kau tenang saja, sebentar lagi penderitaanmu ini akan berakhir."ucap laki-laki paruh baya itu Seraya melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.


Sementara Nadira yang mendengar itu seketika menghela nafas lega dan tersenyum senang. "akhirnya aku akan bebas,"ucapnya dengan girang.


"Ibu kenapa?"tiba-tiba saja suara Marcella berada tepat di belakang Nadira. hingga membuat wanita itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.


"kau ini buat aku terkejut saja,"gumam wanita paruh baya itu Seraya mengusap dadanya yang terasa berdenyut akibat terkejut.


Sementara Marcella yang mendengar itu, hanya tersenyum kecil."ada apa?"tanya Marcella sekali lagi.


Pertanyaan dari putrinya itu, membuat Nadira tersenyum senang."sebentar lagi penderitaan kita akan berakhir, karena gadis itu sudah ditemukan."setelah mengatakan hal itu, wanita paruh baya itu segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan itu.


*****


Sementara di tempat lain, terlihat seorang wanita paruh baya tengah menggendong bayi laki-laki. tangan yang satunya, menggandeng seorang gadis belia. siapa lagi orangnya jika bukan Wati dan juga Mirna. kedua wanita berbeda generasi itu, baru saja turun dari dalam angkutan umum.


"Ibu juga tidak tahu. tapi yang jelas, kita harus segera pergi dari sini."ucapnya dengan suara tegas. dan hal itu hanya dijawab anggukan oleh Mirna.


"hai kalian!"teriak seorang laki-laki paruh baya. hingga membuat kedua wanita itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.


Betapa terkejutnya mereka berdua, saat melihat ternyata di belakang sana, telah berdiri Roni dan juga Vicky dengan mata yang memancarkan kemarahan yang luar biasa.


"lari Bu!"teriak Mirna Seraya menarik tangan ibunya untuk segera melangkahkan kakinya untuk berlari sekencang-kencangnya.


Kedua wanita berbeda generasi itu, segera mengayunkan kakinya untuk berlari sekuat tenaga. Bahkan, Mirna sampai tidak menyadari jika putranya saat ini tengah menangis kencang.


Mungkin bayi mungil itu, merasa sangat terganggu dengan gerakan yang dilakukan oleh ibunya itu.


"cup cup sayang kamu jangan nangis ya, kita harus segera terlepas dari mereka!"gumam Mirna Saraya mendaratkan beberapa kecupan di wajah mungil itu.


Sementara di belakang sana, Vicky dan juga Roni segera mengejar dua wanita itu. dengan segera Vicky memerintahkan beberapa anak buahnya untuk berpencar. agar dapat menangkap Mirna lebih cepat.

__ADS_1


hap


Mirna seketika terjatuh. saat seseorang berhasil menangkapnya. dan tak berselang lama, Vicky dan juga Roni berjalan menghampirinya.


"dasar kurang ajar!"teriak laki-laki paruh baya itu. dan tak berselang lama,...


plak


Satu tamparan keras, seketika mendarat mulus di wajah cantik gadis itu. hingga membuat Mirna, seketika tertoleh dengan keras ke arah samping..


Dengan segera, laki-laki yang ada di sebelah Mirna merebut bayi mungil yang ada di dekapan gadis itu.


"tolong jangan sakiti anakku!"teriak Mirna dengan tangisan tersedu-sedu.


Mendengar ucapan dari gadis itu, membuat Vicky seketika naik pitam. dengan segera, laki-laki paruh baya itu menarik rambut dari Mirna. hingga membuat gadis itu, seketika mendongak ke atas


"saya mohon, tolong jangan sakiti mereka!"ucap Wati yang saat ini berada dalam genggaman suaminya.


"diam kau wanita tua! setelah ini kau akan mendapatkan bagianmu sendiri. jangan sampai, kau membuang tenagamu untuk hal yang sia-sia. Karena setelah ini, kau akan mendapatkan hal yang lebih dari ini!"ucap Roni Seraya meletakkan sebuah pistol tepat di atas kepalanya.


Akhirnya, mau tidak mau, Mirna dan juga Wati mengikuti ucapan dari mereka berdua.


"tolong jangan sakiti aku,"ucap Mirna dengan deraian air mata. saat Gadis itu melihat, bagaimana laki-laki yang tengah menggendong putranya itu, melakukan hal yang buruk.


plak


Terdengar geplakan yang diarahkan oleh laki-laki itu kepada bayi mungil yang ada dalam gendongannya. tentu saja hal itu membuat Mirna, seketika berteriak kencang.


"tidak jangan apa-apakan anakku!"teriak Mirna disertai tangisan pilu.


oeeekk! oeeekk! oeeekk!


Tangisan yang menyayat hati itu, seketika pecah. dan membuat Mirna terus-menerus meronta. Gadis itu ingin sekali menggendong putranya dan menenangkannya.

__ADS_1


__ADS_2