
Entah bagaimana ceritanya, namun yang jelas saat ini Mirna telah bersama-sama
Entahlah, nalurinya sebagai seorang ibu, membuat Wati akhirnya melanggar prinsipnya sendiri dengan membawa kabur putrinya itu yang telah menjadi istri orang. Pertama-tama, wanita paruh baya itu meminta izin pada pihak sekolah.
Karena mereka tidak merasa curiga sedikitpun dengan tingkah laku wanita paruh baya itu. Padahal, Wati tidak membawa anaknya pulang. Wanita paruh baya itu, membawa Sang Putri untuk menuju ke sebuah kampung terpencil di sudut kota itu.
Di sepanjang perjalanan, Mirna sedikit berpikir bagaimanakah nasib sang adik saat ini? apakah dia baik-baik saja, semoga mimpi baik-baik saja.
"bagaimana keadaan adik?"tanya Mirna menatap ke arah wanita paruh baya itu.
Wati yang mendengar itu, seketika tersenyum kecil."kau tenang saja sayang, adikmu telah aku ungsikan ke tempat yang jauh."ucap wanita terbaik itu Seraya tersenyum tipis. dan setelah ibunya mengatakan hal itu, tidak ada lagi obrolan di antara mereka.
Sejak tadi, wanita itu hanya tersenyum memandang ke arah putrinya.
"nanti kita akan langsung memeriksakan kandunganmu,"ucap Wati tersenyum kecil.
Karena Wati, akan mencoba memeriksakan kandungan putrinya pada seorang dukun bayi yang sudah terkenal di kampung itu. Awalnya, Mirna mengira bahwa ibunya akan membawa ke sebuah rumah sakit. Dan Hal itu sempat membuat Mirna merasa ketakutan.
Gadis itu takut jika aksinya itu diketahui oleh juragan Vicky. Gadis itu sangat takut, jika laki-laki kejam itu berbuat sesuka hatinya.
Apalagi, dirinya telah mewanti-wanti Mirna agar tidak hamil. Jika itu terbukti, maka Mirna akan merasa sangat ketakutan. Warna nyawanya akan terancam. Tapi ternyata, prasangkanya salah besar. Sang ibu membawa ke sebuah lokasi terpencilĀ di kota itu.
Wati memang sengaja membawa putrinya ke tempat seperti itu. Agar tidak ditemukan oleh laki-laki kejam itu. Karena dirinya, sudah merasa tidak sanggup jika melihat darah dagingnya diperlakukan sedemikian rupa oleh orang lain.
"Maafkan Ibu ya Mirna, Ibu sengaja membawamu ke sini. Agar laki-laki kejam itu, tidak menemukanmu di tempat seperti ini."ucap Wati Soraya mengusap kepala putrinya dengan perasaan sayang.
"Makasih ya Bu, nggak masalah kita tinggal di sini. Yang penting, kita aman. Walaupun mungkin, hanya sementara kita aman."ucap Gadis itu dengan perasaan campur aduk.
Ya Wati dan Mirna memutuskan akan tinggal di tempat terpencil seperti itu dan memilih rumah di tempat itu yang mungkin saja lebih murah dari tempat tinggalnya yang sebelumnya. Setelah nanti, mereka memeriksakan kandungan putrinya bidan atau dukun bayi itu.
__ADS_1
Namun sebelum itu, Wati meminta Mirna untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. Tujuannya adalah, agar warga di sana tidak mencurigai Mirna sebagai gadis yang tidak baik. Karena Wati percaya, bahwa warga di desa itu masih menjunjung tinggi norma-norma dan kemanusiaan.
Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, akhirnya Mirna dan sang ibu, sampai di sebuah gerbang yang bertuliskan "dusun suci"
"ayo nak, kita masuk,"ajak wanita paruh baya itu kepada Putri kesayangannya. Membuat Mirna yang sedari tadi diam, menganggukkan kepala dan mengikuti langkah ibunya.
Entah mengapa, Mirna merasakan ketenangan di hatinya. Mungkin karena untuk beberapa saat, Gadis itu tidak akan bertemu dengan orang-orang yang selalu menyiksanya.
"Kita ke rumah kepala desa terlebih dahulu ya,"ucap Wati Seraya menarik tangan putrinya untuk menuju ke sebuah rumah yang paling besar di dusun itu.
"Selamat siang!"ucap Wati dengan nada yang sedikit keras.
Tak berapa lama, terdengar pintu yang dibuka dari arah dalam. Dan beberapa saat kemudian, muncullah seorang laki-laki paruh baya menatap ke arah Mirna dan juga Wati, secara bergantian.
"Maaf Pak, saya orang yang ingin membeli rumah di sini, kira-kira ada rumah yang kosong atau tidak ya?"tanya Wati. membuat lamunan laki-laki itu, seketika buyar.
Wati yang mendengar itu, segera merogoh saku kemejanya. Kemudian memberikan uang 10 juta kepada laki-laki itu. Jangan tanya, dari mana Wati mendapatkan uang itu. Tentu saja dirinya mengambil dari laci suaminya saat lelaki itu tidak ada di rumah.
Entah apa yang akan dilakukan laki-laki itu nanti saat mengetahui uangnya telah rahib. Dan Wati tidak memperdulikan hal itu. Yang jelas saat ini, putrinya harus selamat terlebih dahulu.
"Baiklah kalau begitu, saya ambilkan surat-surat rumahnya dulu."ujar laki-laki itu Seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Namun, sebelum masuk ke dalam rumah, laki-laki itu sempat menatap ke arah Mirna barang sebentar. Dan hal itu pun disadari oleh gadis itu.
"Kenapa dengan orang itu?"tanya Mirna dalam hati. Seketika itu pula, hatinya merasa sangat tidak nyaman berada di sini. Namun Demikian, Mirna belum berani untuk berkata kepada ibunya. Selain karena hal itu belum pasti, itu juga karena Mirna merasa kasihan dengan ibunya yang sudah jauh-jauh datang kemari. Jadi Mirna memutuskan untuk diam saja.
Tak berselang lama, akhirnya kepala desa itu datang bersama dengan seorang pemuda yang terlihat sangat seram. Bahkan Mirna sampai harus menutup mata barang sejenak karena merasa terkejut dengan apa yang ia lihat itu.
"Ini Bu tolong ditandatangani,"ujar kepala desa itu Seraya menyerahkan surat itu. Setelah selesai menandatangani berkas itu, kepala desa beserta laki-laki itu, mempersilahkan Wati dan juga Mirna untuk menuju ke rumah itu.
Entah Kebetulan ataupun apa, tapi yang jelas Mirna dan Wati mendapatkan rumah yang posisinyapaling ujung dari dusun itu. Dan jaraknya, sangat jauh dari rumah lain. Tentu saja hal itu membuat Mirna dan juga Wati seketika saling pandang.
__ADS_1
"Apa ini tidak ada yang posisi rumahnya di tengah-tengah?"tanya Wati pada kepala desa itu.
"Maaf sebelumnya Bu, tapi rumah yang kosong saat ini hanyalah ini. Ada sih dua atau tiga rumah yang berada di tengah-tengah, namun rumah itu baru akan selesai 4 bulan lagi."ujar kepala desa itu Seraya mengulas senyum tipis.
"Tidak usah Bu ini lebih baik, lagi pula kan aku sedang hamil. Tidak apa kita memilih rumah yang itu saja," bisik Mirna pada ibunya.
Wati yang mendengar itu, ingin menimpali ucapan putrinya. Namun seketika itu pula, Wati mengingat sesuatu. Akhirnya, wanita itu memutuskan untuk berdiam.
Setelah mereka berjalan hampir lima menit, akhirnya sampai juga di sebuah rumah yang terlihat sangat kecil namun sangat asri. karena dindingnya, berwarna biru yang melambangkan tentang kesejukan.
"Nah ini rumahnya, silakan Bu Wati dan neng Mirna,"ucap kepala desa itu Seraya tersenyum misterius saat melihat gadis itu.
"Terima kasih Pak,"ucap Wati yang langsung masuk ke dalam rumah itu. Sementara dua laki-laki itu, memutuskan untuk pergi dari sana karena memang sudah tidak diperlukan lagi di tempat itu.
"Kapan kita akan pergi ke dukun, Bu?"tanya Mirna saat mereka sudah selesai bersih-bersih rumah.
Karena memang rumah itu sangatlah kecil. Mungkin hanya cukup ditinggali oleh mereka berdua. Atau nanti bertiga dengan anggota baru.
"Nanti sore,"ucap wanita paruh baya itu Seraya tersenyum kecil kepada Mirna. Sementara gadis itu, hanya tersenyum manis.
*****
Sementara itu, di tempat lain lebih tepatnya di kediaman Vicky, terlihat kekacauan di sana. Karena terlihat laki-laki itu tengah mengamuk karena mengetahui "barang" miliknya telah hilang dari peredaran. Dan bahkan tidak bisa untuk dilacak.
"Kalian itu gimana sih? Kenapa tidak becus menjaga satu wanita saja?!"tanya Vicky dengan suara yang sangat meninggi.
"Maafkan saya tuan, saya sudah mencari keberadaan Mirna dengan baik. Namun Gadis itu tidak bisa ditemukan."ucap bawahan Vicky Seraya menundukkan kepala karena merasa ketakutan dengan amarah laki-laki paruh baya itu.
"Aku tidak mau tahu, segera kau cari gadis itu. Atau keluargamu yang menjadi gantinya!"antamnya Seraya mendorong tubuh bawahannya itu dengan sangat kencang. Hingga membuat laki-laki itu seketika ambruk ke lantai.
__ADS_1