Derita Mirna

Derita Mirna
DM~S2 part 5


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang cukup lama, pada akhirnya Ridho memutuskan untuk membawa istrinya pulang ke rumah. hal itu tentu saja membuat Mirna, sedikit merasa tidak semangat. Karena Wanita itu tahu, akan terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan di rumah nanti. karena melihat bagaimana sikap Dewi akhir-akhir ini.


"Apakah kita bisa mampir dulu?"tanya Mirna beralasan pada sang suami.


"emangnya kau mau membeli apa?"tanya Mario Seraya menatap ke arah istrinya itu beberapa kali. karena memang, dia harus menyetir dan melihat jalan.


"mau beli kue-kuean dan juga cemilan untuk stok di kamar nanti."jawab Mirna Seraya tersenyum kecil.


Mario dengan segera langsung mengikuti ucapan dari istrinya itu. Mirna dengan segera turun dari dalam mobil untuk menuju tempat yang telah dia tuju.


Setelah selesai dalam membeli apa yang mereka inginkan, pada akhirnya Mirna dan juga Mario memutuskan untuk pulang ke kediaman keluarga laki-laki itu. namun sebelumnya, pasangan muda itu memutuskan untuk menjemput Tirta di sekolahnya


"Ayah! ibu!"Tirta berteriak dengan sangat kencang. saat mendapati, kedua orang tuanya sudah berada di area sekolah dan siap untuk menjemputnya.


Ridho yang mendengar itu, seketika langsung berjongkok untuk menyamakan tinggi badan pada anak sambungnya itu.


"hai jagoan kecil, bagaimana sekolahnya hari ini?"tanya Ridho yang langsung menggendong Tirta dan memutar-mutar nya. membuat bocah kecil berusia 5 tahun itu, seketika tertawa lepas karena merasa terbang.


Sementara Mirna sendiri, sesekali akan menitihkan air matanya karena merasa sangat beruntung mendapatkan laki-laki seperti Ridho. andai saja mereka tidak menikah, mungkin saja Mirna masih berada dalam keterpurukannya karena kejadian di masa lalu.


"terima kasih, Terima kasih karena kamu telah menjadi obat penyembuh untuk kami berdua. semoga, aku bisa menjalankan baktiku sebagai seorang istri sampai kapanpun juga."gumam wanita itu Seraya tersenyum kecil masih menatap ke arah dua laki-laki terindah dalam hidupnya itu.


"Sayang, ayo kita pulang!"ajak Mirna pada suami dan juga anaknya.


Mereka berdua pun menganggukkan kepala dan melangkahkan kaki untuk menuju ke parkiran di mana kendaraan mereka berada saat ini. setelah selesai membuka pintu mobil itu mereka segera melajukan kendaraannya untuk menjauh dari area sekolah milik Tirta.


Tanpa disadari oleh semua orang yang ada di sana, ada seseorang yang mengawasi gerak-gerik dari keluarga bahagia itu. dan tanpa sepengetahuan orang lain, orang itu pun tersenyum menyeringai. setelahnya memutuskan untuk pergi dari sana.


"

__ADS_1


"


"


"


"


Sesampainya di rumah kediaman keluarga Ridho, Tirta segara turun dari dalam mobil untuk menghampiri Dewi yang kebetulan berada di teras rumah tengah merawat tanaman hiasnya.


"nenek!"panggil bocah berusia 5 tahun itu pada wanita paruh baya yang saat ini ada di depannya.


Tidak seperti biasanya yang akan langsung menyambut cucunya itu dengan senyuman hangat, Dewi justru menatap sekilas ke arah bocah laki-laki itu sebelum pada akhirnya kembali untuk menatap ke arah bunga-bunganya.


"nenek kenapa kok nggak seperti biasanya?"tanya Tirta penuh dengan tanda tanya.


"sepertinya Ibu masih marah Mas,"beritahu Mirna dengan raut wajah yang begitu sedih. menata putranya itu dengan tatapan sendu.


Karena Wanita itu merasa, apa yang dilakukan Dewi itu bukanlah tindakan yang bijak. bukankah seharusnya yang mendapatkan balasan itu adalah dirinya? Kenapa juga Tirta harus dibawa-bawa seperti ini? bocah kecil itu tidak tahu menahun tentang permasalahan mereka.


"sudahlah nanti aku kan coba untuk berbicara pada ibu. siapa tahu saja beliau bisa sedikit dulu jika mendengar penuturan ku nanti,"Ridho segera membawa tubuh istrinya itu untuk masuk ke dalam rumah kedua orang tuanya.


Sesampainya di dalam sana, mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Tentunya, Mirna sudah mengajak Dewi untuk makan bersama. namun wanita paruh baya itu beralasan sudah menyantap makanan dari anak perempuannya yang kebetulan tadi lewat di depan rumah.


Lagi dan lagi, yang dapat dilakukan oleh Mirna hanyalah menghela nafas panjang. sementara Ridho sendiri hanya mencoba untuk membujuk dan menenangkan istrinya agar tidak merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu.


"sudahlah mungkin Ibu sedang tidak ingin diganggu. sebaiknya kita makan dulu. nanti setelah ini, Aku akan coba berbicara dengan beliau."Mario kembali berusaha untuk menenangkan istrinya.


Mirna hanya menganggukkan kepala saja Kemudian mulai menyantap makanan itu seperti biasa walaupun masih tidak berselera.

__ADS_1


***


Selesai menyantap makan siang itu, pada akhirnya Mirna dan juga Tirta memutuskan untuk istirahat di kamar masing-masing. sementara Ridho, laki-laki jangkung itu memutuskan untuk menemui ibunya.


"ibu,"panggil Ridho pada wanita paruh baya itu.


Tak lama berselang dari itu, terdengar pintu kamar yang dibuka dari dalam.


"ada apa?"tanya Dewi dengan nada suaranya sedikit Ketus.


"Kenapa Ibu bersikap seperti itu padahal Tirta dan juga Mirna? Apakah Ibu masih marah karena perbuatan dari Mirna? jika memang iya, tolong maafkan mereka."ucap Ridho dengan menggenggam tangan milik sang Ibu dan mencoba untuk menenangkannya.


Dewi dengan segera melepaskan genggaman tangan itu dan memutuskan untuk duduk di ruang keluarga.


"sepertinya keputusan ibu untuk merestui hubungan kalian, adalah sebuah kesalahan yang sangat besar."ucap Dewi dengan Ketus.


Kedua bola mata dari Ridho seketika membelalak dengan sempurna saat mendengar penuturan yang tidak dia sangka-sangka.


"apa maksud ibu? Kenapa Ibu berkata seperti itu?"tanya Ridho dengan raut wajah tidak suka.


Dewi dengan segera membuang nafasnya kasar."sepertinya Ibu mau, kau segera bercerai dengan wanita itu karena dia sepertinya bukan wanita baik-baik."balasnya dengan tatapan yang begitu tajam.


"Ibu!" Bentak Mario tanpa sadar Hal itu membuat Dewi yang mendengarnya, seketika kedua bola matanya berkaca-kaca karena tidak menyangka jika anaknya akan membentaknya seperti ini.


"ke.. kenapa kamu membentak ibu?"tanya wanita paruh baya itu dengan nada suara terbata-bata.


Ridho yang tersadar dari ucapannya, segera meminta maaf dan bersimpuh di depan kaki wanita paruh baya itu.


"maafkan Aku Bu, aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. hanya saja aku tidak menyukai jika Ibu mengatakan kata-kata seperti itu. karena perkataan yang keluar dari mulut orang tua, itu adalah sebuah doa yang bisa saja didengar oleh Tuhan."ucapnya penuh dengan sesal dan mencoba untuk menenangkan hatinya yang masih bergejolak.

__ADS_1


__ADS_2