
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, Mirna dan keluarganya telah sampai di sebuah rumah kosong yang sedikit jauh dari keramaian.
"Apa kita akan tinggal di sini?"tanya Mirna. saat Gadis itu, melihat sang Ibu menghentikan langkahnya.
Wati yang mendengar itu, seketika terdiam. Wanita paruh baya itu, merasa sangat kebingungan. Apakah yang ia lakukan itu benar atau salah, karena memang, saat ini dalam rombongan ada seorang bayi yang tidak bersalah yang hadir bersama dengan mereka.
"Sebenarnya, ini adalah tempat yang bagus untuk kita meneduh. Karena di sini, sepertinya jarang dikunjungi oleh orang. Namun sayangnya, kita membawa anak kecil yang rawan akan sebuah penyakit."ucap Wati Seraya mengusap kepala dunia itu dengan lembut.
Sementara Mirna yang mendengar itu, merasa sangat bersalah kepada wanita paruh baya yang menjadi ibunya itu.
"Maafkan Mirna Bu, andai saja Mirna berdiam sedikit dan tidak mengatakan sesuatu hal kepada ibu, mungkin kita tidak akan pernah diusir dari desa itu,"ucap Mirna Seraya menundukkan kepala karena merasa tidak tega dan bersalah dengan ibu kandungnya itu.
"Apa yang kau katakan?!"bentak Wati tidak suka. Wanita itu terlihat sangat marah saat mendengar ucapan dari putrinya itu.
Sementara Mirna, Gadis itu hanya menundukkan kepala. Karena merasa sedikit ketakutan dengan bentakan ibunya. Karena selama ini, memang Mirna tidak pernah mendengar suara ibunya yang meninggi. sekalipun, di situ melakukan kesalahan yang memang, terkadang sedikit fatal.
Tapi memang, Mirna merasa ini adalah kesalahannya. Kalau saja Gadis itu tidak memberitahu ibunya tentang kejadian itu, semuanya tidak akan seperti ini.
"Tapi ini memang kesalahan Mirna Bu,"ucap Gadis itu masih menundukkan kepala.
"Sudah cukup Mirna, Ibu tidak ingin mendengarnya lagi!"bentak wanita itu, Seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah kosong itu.
Hati Wanita paruh baya itu, merasa sangat terluka. Saat putrinya mengatakan hal seperti itu. Padahal, Jika saja Mirna tidak berkata jujur, maka Gadis itu akan tetap mengalami penderitaan seperti itu. Dan Wati tidak akan pernah mengampuni dirinya sendiri. Jika wanita paruh baya itu sampai melihat kondisi seperti itu.
"Maafkan Ibu Mirna,"ucapati saat mereka masuk ke dalam bangunan itu dan mulai melihat-lihat pemandangan sekitar.
__ADS_1
Mirna yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya. "Ini bukan salah Ibu kok, ini adalah salah Mirna sendiri."ucap Gadis itu Seraya tersenyum kecil.
Mereka akhirnya memutuskan untuk melebarkan tikar yang memang ia bawa. "Malam ini kita tidur di sini nggak papa, kan?"tanya Wati Soraya mengusap kepala putrinya dengan perasaan penuh kasih sayang.
Mirna yang mendengar itu, hanya dapat menggelengkan kepala. "Nggak papa Bu, sama si sama ibu, Mirna tidak masalah kok,"ucapkan Di situ Soraya tersenyum kecil.
Wati yang melihat itu, hanya bisa tersenyum kecil. Dan mulai membaringkan tubuhnya saat tikar itu telah dibuka dengan lebar. Dan malam itu, Mirna dan keluarganya tertidur pulas di dalam rumah kosong yang terlihat sangat mengerikan itu.
Namun tidak akan membuat Mirna dan juga ibunya terusik. Karena bagi mereka, manusia yang sejatinya lebih mengerikan daripada sosok makhluk tak kasat mata.
Mereka lebih rela, jika berhadapan dengan makhluk tak kasat mata. Daripada berhadapan dengan manusia yang memiliki hati seperti iblis. Karena itu lebih mengerikan daripada apapun.
Pagi harinya, seperti biasa Mirna bangun terlebih dahulu sebelum yang lain membuka mata. Gadis itu tersenyum, saat menyaksikan pemandangan indah yang tersaji di hadapannya itu.
" Sesuatu yang sangat indah ini, semoga tidak akan pudar nantinya," gumam Mirna Seraya tersenyum kecil. Gadis itu, segera berangkat dari duduknya. Dan Langsung menuju ke arah belakang.
"Enggak sia-sia aku dulu belajar sama Ridho, sekarang, aku bisa membuat dapur ini sendiri." Ucap Mirna tersenyum kecil.
Gadis itu, dengan cekatan mulai membuka dan memotong beberapa sayuran yang memang telah di beli olehnya dan juga sang ibu. Waktu mereka berjalan menyusuri arah untuk berteduh.
Setelah selesai memasak, Mirna segera masuk ke dalam rumah dan mendapati, ibunya telah terjaga dari tidurnya. Dengan segera, Mirna berjalan mendekati ibunya.
"Bu, makanannya sudah siap," ucapnya seraya tersenyum simpul ke arah wanita paruh baya itu.
Sementara Wati yang mendengarnya segera menganggukkan kepala dan dengan segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sebelum akhirnya, wanita itu sarapan bersama dengan anak kesayangannya.
__ADS_1
"Bagaimana?" Tanya Wati. Saat mereka sedang menikmati makanan mereka.
"Bagaimana apanya Bu?" Mirna yang mendengar itu, seketika balik bertanya. Karena gadis itu tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang ibu.
"Bagaimana rencanamu kedepannya?" Tanya Wati memperjelas pertanyaannya itu.
Seketika itu pula, wajah Mirna mendadak menjadi murung. Karena gadis itu tahun, bahwa nasib hidupnya telah hancur tak bersisa.
"Maafkan Ibu sayang, ibu tidak bermaksud menyakitimu," ucap Wanita paruh baya itu Seraya mengusap kepala Putrinya dengan penuh kasih sayang.
Membuat Mirna yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala." Ibu tidak perlu minta maaf karena ini semua, adalah salah Mirna sendiri," ucapnya dengan nada yang sangat lirih.
"tidak! Semua ini salah Ibu, kalau saja dulu ibu tidak membiarkan Ayahmu berhutang kepada laki-laki tua itu, mungkin saat ini, kita sudah dalam keadaan bahagia!" Ucap Wati Seraya melayangkan tatapan tajam ke arah gadis itu.
Namun sebenarnya Wati sedang merasa murka kepada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
"Sudah tidak masalah, lebih baik, kita lanjutkan makan," ucap Mirna mencoba untuk mengalihkan perhatian Ibunya. Mirna dapat bernafas dengan lega. Saat wanita paruh baya itu menganggukkan kepala. Dan mulai menyantap makanan itu.
Selesai sarapan, Mirna dan ibunya, memutuskan untuk menjemur bayi mungil itu di bawah sinar matahari yang lumayan hangat itu.
" Kasihan sekali dia, baru bisa mendapatkan hangatnya sinar matahari," gumam Mirna pada putranya itu.
Sementara Wati yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala
"Kamu benar sayang, memang semenjak lahir, anak kamu ini, tidak pernah mendapatkan manfaat dari matahari. tapi, kamu tenang saja, tidak usah khawatir, karena di sini, putramu akan mendapatkan sesuatu yang memang ia dapatkan," ucap Wati, seraya menatap ke arah bayi mungil itu, dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1
"Semoga nantinya, kamu menjadi laki-laki yang kuat yang bisa menjaga Ibumu dengan baik," ucapnya dengan senyuman hangat.
Akhirnya setelah sekian lama mendapatkan masalah, akhirnya sekarang dirinya dapat merasakan sedikit ketenangan. Mirna merasa sangat bersyukur. Karena ibunya, adalah sosok yang sangat luar biasa