Derita Mirna

Derita Mirna
Lebih baik Keluar


__ADS_3

Pasangan ibu dan anak itu, ketika merasa sangat ketakutan. Saat melihat betapa mengerikannya para warga itu saat menatapnya.


"Pergi dari sini! Tunggu apa lagi kamu,"ucap salah seorang warga Seraya mendorong tubuh Mirna.


Hingga membuat gadis itu, seketika terhuyung ke depan. Dan hampir saja, menabrak sebuah tiang yang berdiri tidak jauh dari tempat itu.


"Jangan perlakukan kami seperti ini, kami bukan hewan."ucap Wati Seraya melayangkan tatapan tajam dan memeluk tubuh Putri beserta cucunya agar tidak menjadi bulan-bulanan para warga yang marah itu.


Namun sepertinya, para warga itu tidak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Wati. Karena mereka semua, semakin terlihat garang dan ganas.


"Jangan banyak omong kamu, segera keluar dari sini atau kami akan mengusirnya secara paksa!"teriak salah seorang warga dengan membawa sebuah balok kayu yang ada di tangannya.


Tentu saja hal itu membuat Mirna dan ibunya, seketika merasa sangat ketakutan. Dan dengan perlahan, pasangan ibu dan anak itu segera melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.


Mungkin, hal ini adalah hal-hal lebih baik daripada melihat putrinya menderita seperti itu. "Tenang sayang, Ibu janji akan terus menjaga kamu. Apapun yang terjadi nantinya,"ujar Wati Seraya mengusap kepala Mirna dengan perasaan yang campur aduk di dalam hatinya.


Para warga itu segera mengawal dan menggiring Mirna dan ibunya. Agar cepat cepat meninggalkan tempat itu. Karena mereka tidak ingin, tinggal bersama seorang pezina seperti Mirna.


"Kalau tahu gadis ini adalah seorang pezina, maka aku tidak akan pernah memberikan dia tumpangan,"seru salah seorang warga dengan raut wajah yang sangat marah.


"Apalagi aku, nyesel aku masih dia makan kemarin,"timpal yang lainnya Seraya mulai melemparkan botol-botol minuman ke arah Mirna dan ibunya.


Tiba-tiba saja, kegiatan mereka terhenti saat melihat dan mendengar suara seseorang yang sangat mereka Kagumi dan mereka agungkan di kampung itu.


"Stop apa yang kalian lakukan?!"teriak Pak Tono dengan menyilangkan tangannya di depan dada. Tatapan mata laki-laki itu, sangatlah tajam. Hingga menghunus sampai ke ulu hati.


Membuat para warga itu, seketika merasa sangat ketakutan. Mereka semua, menundukkan kepala karena tidak ada yang berani saat melihat pandangan mata dari laki-laki itu yang begitu menakutkan.


Sementara Pak Tono, laki-laki paruh baya itu melangkahkan kakinya mendekati Mirna dan ibunya. Kemudian, berbalik arah menatap ke arah para warga itu.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Hmm,"tanya Pak Tono Seraya menajamkan pandangannya ke arah para warga itu.


Seketika itu pula, para warga itu langsung menundukkan kepala dengan tubuh yang bergetar hebat. "Maafkan kami pak, tapi kami tidak ingin ada pezina yang berada di dalam kampung ini,"ucap salah satu warga.


Pak Tono yang mendengar itu, sejenak terdiam. laki-laki paruh baya itu, seketika merasa tubuhnya menggigil hebat. Karena dirinya sangat takut, jika nantinya akan di amuk massa.


"Si.. siapa yang kalian maksud pezina?" Tanya pak Tono yang mulai bergetar hebat karena merasa sangat takut.


"Mirna Pak, dia ketahuan telah berzina sampai melahirkan seorang anak," ucap seorang wanita dengan wajah serius.


Degh


Seketika itu pula, jantung laki-laki paruh baya itu, serasa ingin lepas dari tempatnya. saat mendengar penuturan dari warganya itu. Akan di taruh di mana wajahnya nanti? Jika mereka tahu yang sebenarnya?


"Dengan siapa dia berbuat zinah?" Tanya pak Tono dengan ekspresi wajah yang telah berubah menjadi seperti Dewa.


"Kami tidak tahu, Pak!" Sahut salah satu warga itu dengan cepat.


Setelahnya, laki-laki itu, menatap Mirna dan juga Wati, dengan senyuman yang sangat menyebalkan. Karena Pak Tono yakin, jika wanita tua itu telah mengetahui semuanya


Mirna yang melihat itu, seketika tangannya terkepal hebat karena merasa sangat kesal dan marah kepada laki-laki itu.


"Dasar laki-laki biadab!" Makinya dengan penuh emosi. Namun sayangnya, umpatan itu, hanya bisa ia lakukan di dalam hatinya.


Entah mengapa, saat ini Mirna menjadi sedikit lebih berani dalam mengatakan kata-kata yang menurutnya sangat kotor. Karena Mirna yang sebenarnya, bukanlah gadis seperti itu


"Mirna, kita bisa bicara sebentar?" Entah sejak kapan, laki-laki jahanam itu, berada di sebelahnya.


"Tidak perlu! Lebih baik, saya pergi dari sini!" Ucap Mirna dengan tatapan yang sangat tajam. Yang membuat semua orang, yang ada di sana, seketika menatap Mirna dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


Jangankan orang lain, Wati yang merupakan Ibunya sendiri, juga sampai tercengang. Saat mendengar penuturan dari putrinya itu. Wanita paruh baya itu, sampai menepuk pundak Mirna. guna menyadarkan gadis itu dari perbuatannya.


Namun, bukannya semakin membaik, tingkah Mirna malah semakin di luar batas. Saat ini, gadis itu malah menatap ke arah para warga yang tadi mengusirnya, dengan tatapan lebih berani.


"Asal kalian tau, saya menjadi seperti ini, karena ada campur tangan dari kepala desa kesayangan kalian!" Sepertinya, gadis itu sudah merasa muak dengan situasi seperti ini.


"Hei! Apa yang kamu maksud?!_ teriak salah satu warga. dengan mata melotot.


"Kalian harus tahu. Kalau,...." Ucapan Mirna seketika terhenti. Saat ada seorang warga menarik mereka secara paksa.


"Sudah, tidak usah banyak alasan!  Sebaiknya, Kalian segera pergi dari sini! Jangan pernah injakan kaki kalian di kampung ini lagi," teriak mereka semua secara bersamaan.


Akhirnya, Mirna dan juga Ibunya, memutuskan untuk segera keluar dari kampung itu. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua selalu mendapatkan tatapan tajam dari para warga.


"Lebih baik kita keluar dari sini Bu,"  ucap gadis itu. Saat Mirna mulai melihat raut wajah yang sendu dari wajah ibunya.


Wati yang mendengar itu, seketika hanya menganggukkan kepala dan dengan segera melangkahkan kakinya untuk segera keluar dari tempat itu.


Wati sesekali menatap ke arah sang Cucu yang berada di dalam gendongannya. "Maafkan kami ya sayang," ucap wanita paruh baya itu Seraya sesekali mencium kening bayi mungil itu.


******


Kini, mereka telah keluar dari dalam desa itu. Dan saat ini, tengah berada di dalam sebuah kendaraan umum. Yang entah membawa mereka kemana. Karena mereka memang tidak mempunyai tujuan yang ingin mereka tuju.


"Kita mau ke mana, Bu ?" Tanya Mirna dengan nada telah kembali seperti semula. Yaitu seperti seorang anak kecil seperti biasa.


Tentu saja, hal itu membuat Wati yang menyaksikannya, merasa sedikit kebingungan. Karena dirinya seperti melihat dua orang dalam satu tubuh.


"Nak, apa kau baik-baik saja?" Tanya Wati dengan sedikit khawatir.

__ADS_1


"Memangnya aku kenapa, Bu?" Mirna balik bertanya pada ibunya.


__ADS_2