Derita Mirna

Derita Mirna
Mulai Berseri


__ADS_3

Hari ini tepat satu minggu Mirna berada di tempat itu. Gadis cantik itu sudah menampakkan senyuman yang sangat ceria. Dan hal itu membuat Wati sang ibu, merasa begitu bahagia. Karena ternyata, senyuman itu bisa muncul kembali di kedua sudut bibir Putri kesayangannya.


"Akhirnya, Putri Ibu telah ceria kembali,"ucap Wati Seraya membawa nampan yang berisi makanan untuk Mirna sarapan.


"Ini makanan kesukaan aku kan, Bu?"Tanya Gadis itu dengan raut wajah yang berbinar. Karena rasanya, Mirna telah lama sekali tidak menikmati makanan itu. Semenjak dirinya terkurung dalam neraka berkedok rumah itu.


"Iya sayang itu makanan kesukaan kamu,"ucap Wati Seraya mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


Mirna yang mendengar itu, seketika tersenyum lebar. Perutnya mendadak terasa sangat lapar karena melihat betapa menggugahnya makanan yang ada di atas nampan itu.


"Ini enak sekali Bu,"ucap Mirna Seraya mengangkat kedua jempolnya ke arah sang ibu. Tentu saja hal itu membuat Wati yang melihat kelakuan putrinya, seketika tertawa kecil.


"Memang kamu tidak akan pernah berubah, kamu akan tetap menjadi bocah kecil yang menggemaskan untuk ibu."ucap Wati dengan nada yang sangat sendu.


Karena wanita paruh baya itu merasa, hidupnya benar-benar seperti roller coaster. yang awalnya hidup dengan berkecukupan, ini harus ditinggal dan menetap di desa terpencil yang jauh dari keramaian seperti ini.


Namun itu tak masalah bagi Wati. Asalkan putrinya kembali bahagia, apapun akan dilakukan untuk gadis kecil kesayangannya itu.


Setelah menyelesaikan sarapan, Mirna segera berpamitan kepada ibunya untuk berangkat ke sekolah. Karena perpindahannya terlalu mendadak, akhirnya Gadis itu kembali ke tahap awal yaitu kelas 11 semester 1. Namun itu tidak menjadi masalah untuk Mirna. Yang terpenting saat ini, dirinya dapat hidup dengan tenang. Walaupun mungkin itu hanya sementara. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Mirna menyusuri jalanan setapak menuju ke sekolah yang ada di desa itu. Dan sepanjang itu pula, Mirna bertemu dengan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan heran. Karena banyak dari warga dusun yang belum mengenal Mirna dan sang ibu. Karena mereka, saat tiba di tempat itu sudah sedikit malam.


"Mari Pak Bu!"Sapa Mirna pada  orang-orang yang berjalan melewatinya.


Mereka semua hanya menganggukkan kepala Seraya membalas senyuman Mirna dengan senyuman hangat.

__ADS_1


Mirna segera melajukan langkahnya untuk menuju ke tempat tujuan, saat mata gadis itu telah mendapati bangunan megah yang bertuliskan nama sekolah di desa itu.


"Ternyata jaraknya sangat dekat,"ujar Mirna pada dirinya sendiri. Gadis cantik itu segera melangkahkan kakinya untuk memasuki gerbang sekolah itu.


Mirna segera mendaftar di ruang kepala sekolah. dan di sana, gadis kecil itu diberi seragam yang merupakan seragam almamater di sekolah itu.


Mirna berjalan mengikuti seorang guru yang membawanya ke sebuah kelas yang berada di lantai bawah gedung itu.


"Selamat pagi anak-anak!"sapa guru wanita itu pada semua murid yang ada di kelas X itu. Mereka seketika terdiam saat melihat siapa yang dibawa oleh Bu Yani. Nama guru yang ada di samping Mirna itu.


"Pagi bu Yani!"ucap mereka serempak. Namun mata mereka, tidak bisa lepas dari sosok Mirna yang terbilang sangat mencolok.


Karena Mirna memiliki perawakan tubuh yang sangat sempurna menurut mereka yang berasal dari desa terpencil. Tubuhnya yang sangat langsing, dengan kulit seputih kapas. Ditambah dengan raut wajah yang sangat cantik. berbeda dengan kebanyakan siswi di sekolah itu.


"Halo semuanya Nama saya Mirna Mirabella. Saya pindahan dari kota.xx"ucap gadis cantik itu Seraya menyunggingkan senyuman tipis.


Tentu saja hal itu membuat para siswa yang ada di sana, membulatkan mata mereka masing-masing. Karena merasa tidak percaya dengan penjelasan dari Mirna. Karena mereka tahu, sudah sejak lama bisa itu tidak dikunjungi oleh orang dari kota. Apalagi yang ingin berniat tinggal dan bersekolah di sana. Sangat jarang atau bahkan tidak ada.


"Pagi Mirna, kenapa memilih bersekolah di sini?"tanya Sisil yang merupakan gadis paling cantik dan berprestasi di kelas itu.


Mirna yang mendengar pertanyaan dari Sisil itu, seketika terdiam sejenak. Karena gadis itu, bingung harus mengatakan hal apa pada mereka semua. Tidak mungkin kan, Mirna berkata kalau dia sedang kabur dari sang suami, malah akan menambah kondisi menjadi runyam.


"Sudah sudah, nanti saja tanyanya saat istirahat atau pulang sekolah. Sekarang, kita mulai pelajaran hari ini."Mirna bernafas dengan lega saat Bu Yani menegur mereka dan menyuruh Mirna untuk duduk di tempat yang kosong.


Akhirnya hari itu, Mirna mengikuti pelajaran dengan hati yang sangat ceria tanpa beban. Karena pada akhirnya, dirinya akan menjadi remaja pada umumnya. Wajah Gadis itu mulai menunjukkan cahaya yang berseri-seri. Yang membuat dirinya semakin cantik.

__ADS_1


*****


Sementara itu di kediaman orang tua Mirna, tampak sekali juragan Vicky mengamuk di tempat itu. Laki-laki sepuh itu, membanting semua barang yang ada di rumah Roni ayah Mirna.


"Ampun Tuan, saya benar-benar tidak mengerti apa yang anda maksud,"ucap Roni Seraya mencoba menghentikan tindakan laki-laki tua itu.


Karena dapat dipastikan, bahwa barang-barang yang ada di rumah keluarga Mirna itu sangat berharga. Walaupun tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan sang juragan.


"Katakan di mana keberadaan istri dan anakmu,"tanya Vicky Seraya menarik kerah baju milik Roni dan melayangkan satu bogeman ke arah wajah laki-laki itu.


Seketika itu pula, laki-laki itu tersungkur di atas lantai dengan hidung dan mulut yang berdarah akibat hantaman dari Vicky.


"Aaarrrgggh! "Roni mengerang kesakitan saat menyadari di salah satu giginya, ada yang patah hingga mengeluarkan darah segar.


"Katakan di mana Anak dan istrimu?!"tanya Vicky yang masih tidak ingin menyerah. Laki-laki tua itu masih berusaha untuk mencari keberadaan si gadis Malang.


" Saya Benar-benar tidak tahu tuan,"ucapnya masih dengan kalimat yang sama.


"Dasar tidak berguna!"teriak laki-laki itu Seraya mendorong tubuh Roni hingga membuatnya terpental cukup jauh.


"Aku tidak mau tahu, segera kau cari istrimu dan juga anakmu dalam waktu 6 bulan. Jika kau tidak dapat menemukannya, maka akan aku pastikan kau dan rumah ini, akan langsung rata dengan tanah!"ucap Vicky dan langsung melangkah pergi.


Roni yang mendengar itu, seketika, dilanda ketakutan yang luar biasa. Karena laki-laki paruh baya itu, tidak mengerti dan tidak menau Di mana keberadaan istri dan juga anaknya.


"Tidak diuntung!"maki Roni entah pada siapa karena di rumah itu, sudah tidak ada siapa-siapa. Semua asisten rumah tangganya, telah dihabisi oleh laki-laki tua itu.

__ADS_1


__ADS_2