Derita Mirna

Derita Mirna
Bingung mencari alasan


__ADS_3

Setelah melakukan kegiatan laknat mereka Di dalam gubuk di tengah kebun milik Pak Tono, Mirna dan laki-laki paruh baya itu segera membereskan semuanya.


Karena mereka berdua, tidak ingin seseorang melihat atau bahkan menemukan jejak tentang kelakuan keduanya. Terutama, kelakuan Pak Tono. Karena warga telah terlanjur percaya dengan laki-laki paruh baya itu.


Karena menurut Para warga, keluarga Pak Tono adalah keluarga terpandang. Dan Pak Tono adalah kepala desa terbaik yang ada pada zaman itu. Tentu saja, laki-laki itu tidak ingin kehilangan kepercayaan dari para warganya.


"Ingat Mirna, setiap saat, kau harus selalu berada di sampingku. Dan ingat, jangan pernah membuka suara di hadapan orang lain. Atau jika tidak, aku akan membasmi keluargamu!"Ancam Pak Tono dengan raut wajah yang sangat serius.


Membuat Mirna yang mendengar itu, seketika menundukkan kepala. Karena gadis Malang itu, begitu sangat ketakutan saat mendengar penuturan dari laki-laki itu yang terdengar sangat mengerikan.


"Ba...baik Pak,"ujar Mirna dengan suara terbata-bata dan juga tubuh yang bergetar hebat karena merasa ketakutan dengan tatapan laki-laki paruh baya itu.


Setelah mengatakan hal itu, Pak Tono segera melangkah pergi dari sana. meninggalkan Mirna, yang masih mematung di tempatnya.


Sementara gadis itu, seketika menangis tersedu-sedu karena mendapati kehidupannya sudah hancur berkeping-keping.


"Aaaakkhh!! Sampai kapan penderitaanku ini akan berakhir Tuhan?!"teriak Mirna lantang. Gadis itu merasa tidak peduli jika seseorang mendengar teriakan darinya. Yang Mirna peduli saat ini, adalah bagaimana nasib hidupnya selanjutnya.


Karena pastinya, Gadis itu akan sulit untuk menghindar dari Pak Tono. Laki-laki paruh baya itu, pasti akan selalu mengejar dan mengancamnya untuk menuntaskan keinginannya itu. Dan sialnya, Mirna tidak bisa untuk tidak menurutinya. Karena ancaman dari Pak Tono, sangatlah mengerikan.


Karena saat ini, Mirna dan juga keluarganya tidak memiliki tempat tinggal lain selain desa itu. Mau tidak mau, Suka tidak suka, gadis Malang itu harus mengikuti semua permintaan dari laki-laki paruh baya itu.


Setelah puas menangisi kehidupannya yang sangat malang itu, barulah Mirna beranjak dari tempat pembaringan. Dan dengan perlahan-lahan, mulai mengenakan satu persatu benang itu. Hingga melekat sempurna di atas tubuhnya. Dan setelah semuanya selesai, Mirna segera melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumah. Di mana saat ini, pasti ibunya sudah menunggu.

__ADS_1


Karena Mirna beralasan hanya sebentar kepada wanita itu untuk pergi ke sebuah pasar untuk membeli kain. Yang akan dijadikan baju untuk putranya itu. Benar apa kata hatinya. Sesaat setelah gadis itu membuka pintu, sebuah pertanyaan langsung terlontar dari mulut sang ibu.


"Mirna, kenapa kau lama sekali?"tanya wanita paruh baya itu Seraya menggendong dan menimang-nimang cucunya itu. Yang nampak mulai menggeliat kecil. Menandakan bahwa bayi mungil itu pasti sudah merasa haus. Karna Mirna, meninggalkan anak itu terlalu lama. Padahal, Gadis itu beralasan pada sang Ibu hanya pergi ke pasar untuk membeli kain.


Sejenak, Mirna terdiam. Gadis itu tampak bingung. untuk mencari alasan yang tepat agar ibunya, tidak curiga sedikitpun.


"Eeeumm tadi aku keasikan milih kain-kain itu Bu. Kainnya sangat bagus-bagus semua. Hingga aku sulit untuk menjatuhkan pilihan."ucap Mirna setelah gadis itu berusaha keras untuk mencari alasan yang sangat logis.


Sangat diuntungkan, Pak Tono memberikan dirinya beberapa kain sebagai imbalan ataupun upah karena telah menyenangkannya.


Terlihat, Wati sejenak terdiam wanita paruh baya itu seakan tengah berpikir keras tentang sesuatu. Hingga membuat Mirna, seketika menundukkan kepala. Karena Gadis itu mengira, jika ibunya akan mengetahui sesuatu ataupun mencurigai sesuatu hal tentang dirinya.


"Ya sudah kalau begitu, ibu memasak ibu tinggal dulu ya,"ucap Wati Seraya meletakkan bayi mungil itu di atas dipan.


"Maafkan Ibu sayang, Ibu tidak pernah bisa menjadi Ibu yang baik bagimu. Maafkan Ibu hiks hiks hiks."Mirna memang tidak kuasa menahan tangis.


Saat Gadis itu kembali mengingat apa yang telah dialami olehnya dari awal hingga saat ini. Semua begitu menyakitkan. Namun Mirna tidak bisa untuk terlepas dari itu semua dengan mudah. Yang Mirna harapkan saat ini, ada seorang malaikat penolong yang mau mengeluarkannya dari tempat terkutuk seperti ini. Menurutnya, sudah tidak ada bedanya dirinya tinggal di tempat juragan Vicky ataupun di desa ini. Karena dirinya, sama-sama dijadikan pelampiasan oleh laki-laki.


Mirna baru berhenti menangis, saat mendengar suara telapak kaki yang beradu dengan lantai yang terbuat dari papan.


"Mirna, kau mau mandi dulu atau makan dulu?"tanya Wati. saat wanita paruh baya itu, telah berada di sampingnya.


"Mandi dulu saja lah Bu, Mirna udah merasa lengket karena habis panas-panasan,"ucap Gadis itu Seraya meletakkan putranya di atas pembaringan.

__ADS_1


Kemudian berjalan dengan langkah perlahan menuju ke arah belakang rumahnya. Namun, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengar ucapan dari sang ibu.


"Jangan lupa, nanti kamu kasih daun yang sudah didoakan oleh Mbah Mur."ucap Wati Soraya kembali menimbang ke arah bayi mungil itu.


Sejenak Mirna menatap ke arah ibunya. Gadis itu hendak mengatakan sesuatu. Bahwa pendarahan itu, telah selesai. Namun, hal itu urung dilakukan saat mengingat ancaman dari pak kepala desa itu. Belum lagi, sang Ibu pasti akan langsung curiga saat mendapati kenyataan bahwa Mirna telah menyelesaikan masa melahirkannya.


Karena memang, mereka belum mendapatkan ramuan itu karena belum sempat mendatangi rumah Mbah Mur. Akhirnya, mau tidak mau, Mirna kembali menyimpan semuanya sendiri.


***


Sementara  itu, di tempat lain, terlihat seorang laki-laki paruh baya tengah gelisah di atas kasur empuk miliknya. Dan sesaat kemudian,...


Brak


Prang


Terdengar benda-benda itu saling beradu dengan tembok rumah laki-laki itu. Membuat si pemilik, seketika merasa sangat ketakutan.


" Sial ! Apa yang harus aku lakukan?!"tanya laki-laki yang tak lain adalah Roni-ayah dari Mirna dengan raut wajah yang sangat frustasi.


"Keluar kau hadapi aku!" Ujar seorang laki laki paruh baya dari depan rumahnya. Dan laki-laki itu yakin, yang mengepung rumahnya saat ini adalah juragan Vicky dan juga anak buahnya. Mereka pasti menginginkan Mirna kembali. Karena sampai saat ini, Gadis itu masih belum ditemukan di mana keberadaannya.


"Sialan! Dasar gadis kurang ajar! Awas saja! Kalau aku dapat menemukanmu, maka kau akan langsung kubunuh!"ucap laki-laki itu dengan raut wajah yang merah padam. Menandakan, bahwa laki-laki paruh baya itu saat ini tengah marah besar. Karena akibat ulah dari anak dan istrinya itu, hidupnya menjadi sengsara dan penuh dengan teror seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2