
Beberapa hari setelah kejadian itu, Mirna dan yang lain, masih berada di dalam tempat persembunyian mereka tanpa melakukan hal apapun. yang dapat mereka lakukan, hanya berdiam diri entah sampai kapan.
"sampai kapan kita akan terus berada di sini?"tanya Mirna yang mulai jengkel dengan keadaannya mereka alami selama ini.
"sabar Mirna, kita harus tetap berada di sini."ucap Ridho mencoba menenangkan gadis itu.
Mendengar ucapan laki-laki itu, seketika membuat Mirna menggelengkan kepala."lebih baik aku menyerahkan diri saja,"ucap gadis itu dengan suara lantang.
tentu saja, ucapan dari Mirna, membuat kedua orang itu seketika saling pandang."apa yang kamu lakukan? apa kamu ingin menyerah, setelah apa yang kita lakukan akhir-akhir ini?"tanya Ridho Soraya mencengkeram kedua pundak gadis itu.
Mirna yang mendengar itu, seketika menangis tersedu-sedu. karena sesungguhnya, gadis Malang itu telah merasa lelah dengan semua keadaan yang ada.
"aku lelah, aku ingin menyerah!"teriak Gadis itu dengan lantang. tentu saja hal itu membuat bayi mungil yang ada di dalam gendongannya, seketika menangis kencang karena mungkin merasa kaget dengan apa yang dilakukan oleh ibunya itu.
"kau tidak boleh gegabah Mirna, kau harus mementingkan keselamatan semua orang."ucap Ridho mencoba untuk menyadarkan gadis itu. karena di dalam kelompok ini, ada orang-orang yang tidak bersalah bersama dengan mereka. dan Ridho tidak akan pernah rela, jika wanita kesayangannya itu kembali menjadi korban kebengisan laki-laki itu.
"tapi aku sungguh merasa sudah tidak kuat,"ucap Gadis itu sungguh merasa sangat lelah dengan kejadian itu. Gadis itu seketika terisak tersedu-sedu.
Melihat hal itu, Mbok Min segera memeluk tubuh gadis itu dengan erat. Seraya sesekali mengusap kepala Mirna dengan penuh kasih sayang.
"jangan pernah menyerah. ingat di dalam hidupmu Saat ini, ada sosok manusia yang sangat bergantung kepadamu. jadi kamu jangan pernah menyerah begitu saja."ucap wanita paruh baya itu.
Mirna yang mendengar itu, seketika mendongakkan kepalanya dan menatap wajah yang sangat damai itu, dengan tatapan terluka. dan tak lama berselang, air mata keduanya jatuh membasahi wajah masing-masing.
Suasana haru, seketika menyeruak menghampiri kedua wanita berbeda generasi itu. dan tak lama berselang, kedua sudut bibir Mirna, seketika terangkat. membentuk senyuman kecil.
"Mbok Min dan Ridho benar. aku sudah sejauh ini melangkah. dan aku tidak ingin, langkahku ini sia-sia. aku harus tetap berjuang untuk bersembunyi dan menghindar dari laki-laki itu."gumamnya penuh dengan keyakinan.
__ADS_1
Seketika itu, Mbok Min dan juga Ridho saling pandang dan saling melempar senyum satu sama lain. dengan menghela nafas lega.
"lalu apa yang akan kita lakukan saat ini?"tanya Mirna menatap kedua orang itu secara bergantian.
"kita berdoa saja. semoga kita menemukan bukti dari apa yang dilakukan oleh juragan Vicky kepadamu. karena, hanya dengan bukti itulah, kamu bisa bebas."ucap Ridho menatap Mirna.
Membuat Mirna dan juga Mbok Min yang mendengar itu, seketika saling pandang."bagaimana caranya?"tanya kedua wanita itu secara bersamaan.
"nanti aku akan pikirkan caranya."ucap Ridho Seraya menarik bayi mungil itu dari dekapan ibunya. karena sejak tadi, laki-laki itu sudah merasa gemas ingin menggendong bayi mungil itu.
"wajahmu tampan. persis seperti ibumu yang cantik."ucap Ridho Seraya tersenyum simpul.
Tentu saja hal itu membuat Mirna yang mendengarnya, seketika wajahnya memerah karena merasa malu.
"kamu itu bisa saja menggombalnya."ucap Mirna Seraya tersenyum simpul.
Dengan segera, Mirna menundukkan kepala. karena memang sebenarnya, gadis itu telah memilih perasaan kepada temannya itu sejak pertama kali mereka bertemu.
Mirna mendongakkan kepala. saat Gadis itu, merasa tangannya digenggam oleh Ridho. membuat kedua mata mereka, seketika bertemu dan saling mengunci satu sama lain.
"aku berjanji padamu, setelah masalahmu dengan laki-laki itu selesai, aku akan menikahimu."ucap Ridho dengan suara tegas dan juga senyuman tipis.
degh
Jantung Mirna seakan ingin lepas dari tempatnya. saat mendengar ucapan dari laki-laki itu.
"a.. apa kamu serius?"hanya Mirna dengan nada terbata-bata. sungguh, gadis itu tidak akan pernah menyangka jika laki-laki yang iya idam-idamkan selama ini, tiba-tiba saja melamarnya.
__ADS_1
"iya Mirna aku serius. apalagi sekarang, aku sudah memiliki pekerjaan dan juga penghasilan yang tetap. aku merasa, aku bisa menghidupimu dan juga bayi ini."ucap Ridho Seraya menatap Mirna dan juga menatap bayi mungil itu secara bergantian.
"tapi aku sudah bekas orang,"ucap Gadis itu Seraya menundukkan kepala. sungguh Mirna sangat malu di situasi saat ini. walaupun dia melakukan itu dalam keadaan sah secara agama dan juga negara, namun tetap saja, Mirna merasa, bahwa Ridho tidak pantas mendapatkan wanita sepertinya.
"kau berhak mendapatkan gadis yang lebih baik dariku."setelah menundukkan kepala cukup lama, Mirna mengangkat kepalanya dan mengatakan hal itu.
Ridho yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepala."aku tidak peduli dengan apa yang terjadi padamu. yang aku pedulikan saat ini, hanyalah perasaanku."ucapnya dengan tersenyum tipis.
"jadi apa kamu mau menerima lamaranku?"tanya Ridho Seraya menggenggam tangan gadis itu dengan menampilkan senyuman yang sangat manis.
Mirna yang mendengar itu, sejenak terdiam. sepertinya Gadis itu merasa sangat kebingungan untuk sementara ini.
"maafkan aku, aku perlu waktu."ucapnya Seraya merindukan kepala. hal itu tentu saja membuat Ridho yang mendengarnya, seketika menghela nafas panjang.
"kalau begitu aku akan menunggumu sampai kau benar-benar siap."gumam laki-laki itu mencoba untuk meyakinkan gadis pujaan hatinya.
****
Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita paruh baya terlihat sangat lelah. Terbersit dibenaknya untuk menyerah saja. karena memang wanita itu, merasa sangat lelah baik fisik maupun batinnya.
Namun sesaat kemudian, Wati seperti tersadar dari apa yang baru saja ia lakukan.
"tidak aku tidak boleh menyerah. aku tidak boleh lelah. Karena sekarang, aku mempunyai tanggungan yang sangat berat. aku harus memastikan putri dan juga cucuku baik-baik saja."ucapnya penuh dengan tekad.
Akhirnya Setelah beberapa lama berdiam diri, wanita paruh baya itu memutuskan untuk kembali melanjutkan rencananya untuk menyelamatkan orang-orang yang ia sayangi.
Langkah kaki wanita paruh baya itu, semakin lama semakin dipercepat. meski tidak tahu, Di mana keberadaan putri dan juga cucunya, namun Wati bertekad untuk menemukan dua orang-orang kesayangannya itu di manapun mereka berada. dan wanita paruh baya itu yakin, bahwa Mirna dan juga cucunya, selamat.
__ADS_1