Derita Mirna

Derita Mirna
Menyiksa Mirna 2


__ADS_3

Beberapa saat setelah "permainan" itu selesai, Vicky segera membopong tubuh tanpa benang gadis itu, dan membawanya ke kolam renang. Dan tiba-tiba saja,...


Byurr,...


Laki-laki kejam itu segera melemparkan tubuh Mirna ke dalam kolam renang. Sontak saja hal itu membuat gadis cantik itu, gelagapan dibuatnya.


"Hah, hah, hah, Tuan tolong! hmmpph!"gadis itu berteriak dengan sekuat tenaga di sela-sela usaha dirinya untuk melepaskan diri.


Sungguh gadis itu merasa sangat kepayahan karena Mirna memang tidak bisa berenang sama sekali. Namun, hal itu malah dipandang rendah oleh laki-laki sepuh itu.


Vicky sama sekali tidak bergeming dari posisinya berdiri sementara orang-orang yang ada di sana, menatap gadis itu dengan tatapan yang sangat kasihan dan juga mengiba.


"Tuan apakah tidak keterlaluan?" tanya salah satu pekerja di rumah itu yang menatap Mirna dengan tatapan mirisnya.


"Tidak perlu, gadis itu tidak akan mati hanya karena diceburkan di kolam renang."ucap laki-laki sepuh itu Seraya menatap pekerja itu dengan tatapan yang sangat tajam.


Hingga membuat orang itu seketika menundukkan kepala karena merasa ketakutan.


*****


Sementara itu di dalam kolam renang itu, Mirna mencoba sekuat tenaga untuk bertahan dan mencoba untuk menepi dari kolam itu.


Walaupun harus bersusah payah dalam menggapai pinggiran kolam renang itu, namun akhirnya berhasil melewati masa, di mana nyawanya bisa saja terancam. Setelah sampai di pinggiran kolam renang, Mirna segera naik ke permukaan dan langsung tergeletak tak sadarkan diri.


Alih-alih digendong dan dibawa ke dalam rumah, tubuh Mirna dibiarkan tergeletak tak berdaya di pinggir kolam sementara orang-orang yang melihat itu, hanya bisa terdiam tanpa dapat berbuat sesuatu untuk menolong gadis itu.


*****

__ADS_1


Setelah hampir 30 menit berlalu, Mirna baru saja dibopong oleh Vicky seperti seseorang yang tengah menggendong sebuah karung. Sangat kasar dan juga tidak manusiawi.


"Dia mengalami demam tinggi,"ujar salah satu asisten rumah tangga yang memang sediri tadi menatap gadis itu dengan tatapan kasihan.


"Segera kompres dan beri obat warung saja,"ujar laki-laki kejam itu Seraya melangkah meninggalkan ruang tengah.


Sementara dua orang wanita yang berbeda generasi itu, seketika tersenyum sinis dan menatap pekerja itu dengan tatapan yang sangat menghunus.


"Untuk apa kau di sini?"segera urus gadis itu! Dan pastikan dia sembuh secepatnya, karena aku tidak ingin menggantikan posisi dia sebagai pelayan ranjang suamiku!"ucap wanita paruh baya itu.


"Baik nyonya Nadira,"ucap pekerja itu Seraya melangkahkan kakinya menuju kamar yang masih terdapat tubuh Mirna.


Wanita paruh baya yang bernama Nadira itu, seketika tersenyum miring. Dan menghampiri Putri tercintanya. "Sepertinya, ini akan menjadi sangat menarik,"ucap wanita paruh baya itu.


Membuat wanita muda itu seketika juga ikut tersenyum miring. "Mama tenang saja, dia akan mendapatkan siksaan yang lebih dari ini. Karena telah berani masuk ke kandang macan!"ucap wanita muda itu dengan kilatan amarah.


*******


Sementara itu di dalam kamar, Mirna menangis tersedu-sedu dengan tubuh yang bergetar hebat karena merasa kedinginan dan juga lelah yang sangat amat mendera tubuhnya itu.


Tiba-tiba saja seseorang duduk di sebelahnya dan menatapnya dengan tatapan yang sangat lembut. Tentu saja hal itu membuat Mirna, awalnya merasa sangat terkejut. Gadis cantik itu seketika beringsut mundur.


"a-anda Si-apa?"tanya Mirna dengan suara bergetar dan nada yang terbata-bata. Karena gadis itu memang sangat merasa ketakutan.


"Tenang nyonya, saya tidak akan pernah menyakitinya. Bahkan saya akan menjadi teman baik Nyonya di sini,"ucap wanita paruh baya itu Soraya tersenyum tipis.


Mendengar ucapan dari wanita itu, seketika membuat Mirna menangis tersedu-sedu dan langsung memeluk wanita paruh baya itu.

__ADS_1


"Hiks hiks hiks, aku ingin keluar dari dalam neraka ini,"ucapnya masih mendekap tubuh wanita rentah itu dengan sangat erat.


"Sabar, percaya sama saya semua pasti akan baik-baik saja. Kuncinya itu, asal kamu kuat pasti semua akan mudah dilalui,"ucap wanita paruh baya itu mencoba menenangkan Mirna yang masih saja menangis tersedu-sedu.


Mirna yang mendengar ucapan dari wanita paruh baya itu seketika mendogak dan menatapnya dengan tatapan yang sangat sendu. "Iya Ibu benar, Mirna harus kuat karena keluarga Mirna akan menjadi ancaman jika Mirna kalah dan lemah."ucap gadis itu Soraya menatap lurus ke depan.


"Jangan panggil Ibu, panggil saja Mbok Min,"ucapnya Seraya mengusap air mata Mirna yang mengalir dengan derasnya.


Mirna yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. "Kalau begitu, jangan panggil Mirna dengan sebutan nyonya. Karena memang nyatanya, Mirna hanyalah budak **** bagi keluarga ini,"ucap gadis itu dengan ada yang sangat lirih.


Mbok Min yang mendengar itu, seketika tersenyum simpul. kemudian menganggukkan kepala dan memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat.


"Sekarang Mirna makan ya, Mbok sudah membuatkan makanan enak untuk kamu,"ujar wanita paruh baya itu Seraya menyerahkan satu piring berisi nasi dan juga berbagai lauk.


Tentu saja hal itu membuat Mirna yang melihatnya, merasa begitu senang. Matanya terlihat sangat berbinar-binar. Karena memang, dirinya begitu sangat lapar.


Dengan tanpa berpikir panjang lagi, Mirna segera menyambar piring itu dan langsung menyantapnya dengan sedikit rakus. Karena memang gadis itu merasakan perutnya begitu perih akibat lambungnya yang terlalu lama kosong.


Mbok Min yang melihat kejadian itu, seketika menitikan air mata secara diam-diam."semoga kau bisa melewati ini semua,"ucap wanita paruh baya itu Seraya mengusap air matanya yang jatuh.


Setelah menyelesaikan semua makan yang ada di atas piring itu, Mbok Min segera membawa nampan berisi piring kotor dan gelas kotor itu, ke dapur kotor khusus para pelayan.


"Sepertinya gadis itu sedang dalam masa subur,"gumam bukmin Seraya sesekali melirik dan menoleh ke arah Mirna yang masih tertunduk lesu di kamarnya.


Beberapa hari setelah itu, Mirna sudah mulai terbiasa mendapatkan cacian hinaan bahkan siksaan dari keluarga itu. Dan gadis itu juga mulai terbiasa mendapatkan jatah makan satu hari sekali.


Namun rupanya wanita paruh baya itu tidak tinggal diam saat melihat Mirna hanya mendapatkan  jatah makan satu kali. Wanita paruh baya itu sesekali melemparkan roti gandum yang berisi sosis ke dalam kamar Mirna. Karena melihat gadis itu, Semakin hari semakin pucat saja.

__ADS_1


"Mirna!!"teriak suara yang sangat melengking dari arah ruang keluarga. Hal itu tentu saja membuat gadis itu, seketika terlunjak kaget. Dan dengan segera, berjalan tergopoh-gopoh untuk menghampiri sumber suara.


__ADS_2