
Beberapa saat setelah menangis sepuas-puasnya dan mencurahkan seluruh hatinya, Mirna akhirnya bangkit dari tempatnya bersimpuh. tatapan Gadis itu saat ini sangat mengerikan.
Hal itu membuat Ridho dan juga Mbok Min yang melihatnya, seketika saling pandang. mereka berdua sama-sama bergidik saat melihat raut wajah dari Mirna yang sepertinya, berbeda dari biasanya.
"apakah kau baik-baik saja?"tanya Ridho mencoba untuk menyentuh bahu gadis yang sangat ia idam-idamkan itu.
"aku tidak apa-apa,"ucap Mirna caranya tersenyum. hal itu membuat Mbok Min dan juga Ridho yang melihatnya, seketika saling pandang dan menghela nafas lega.
Namun tiba-tiba saja, Ridho seperti tersadar dengan senyuman gadis itu. senyumannya terlihat sangat ganjil dan juga menyeramkan.
"semoga saja dia tidak melakukan perbuatan aneh."ucap laki-laki itu suara yang melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
Diikuti oleh Mirna dan juga Mbok Min yang berjalan beriringan di belakang laki-laki itu.
"aku akan pulang,"ucap Mirna saat mereka tengah berada di sebuah ruangan yang mereka gunakan sebagai ruang tamu.
Mendengar ucapan dari Mirna, membuat Ridho seketika membulatkan kedua matanya."apakah kau serius?"tanya laki-laki itu memastikan.
"Tentu saja aku serius."ucap Mirna tanpa menoleh ke arah sumber suara. aura yang ditimbulkan oleh gadis itu, saat ini benar-benar berbeda.
Hal itu sangat dirasakan oleh Ridho dan juga Mbok Min. mereka bahkan saling menyinggung satu sama lain. untuk memberitahu, bahwa ada hal lain dari gadis itu.
"tapi Mirna, bukankah tujuan kita sekarang untuk menghindari mereka?"tanya Mbok Min mencoba mengingatkan Mirna tujuan mereka sampai masuk ke dalam hutan dan bersembunyi di dalam gua itu.
"aku tahu,"ucap Mirna Saraya menatap putranya yang masih terlelap. "tapi sepertinya, itu sudah sia-sia. karena sekarang pasti aku sudah sendiri."sambung gadis itu Seraya tersenyum getir.
__ADS_1
Sungguh, Mirna merasa cobaan kali ini, benar-benar sangat berat. dari coba-cobaan sebelumnya. gadis yang awalnya berhati tulus, kini sedikit demi sedikit bermunculan rasa dendam.
"aku bertekad akan membalas semua ini."gumam Mirna dalam hatinya.
Kemudian gadis itu, menatap Mbok Min dan juga Ridho secara bergantian."jika nanti aku tidak kembali, Mbok tolong rawat putraku dengan baik."ucap Mirna Seraya menyerahkan Tirta kepada wanita paruh baya itu.
Tentu saja ucapan dari Mirna itu, membuat dua orang yang ada di sebelahnya seketika saling pandang.
"kau jangan macam-macam Mirna."ucap Ridho mencoba untuk mengingatkan gadis itu.
Namun sayangnya, ucapan dari laki-laki itu sama sekali tidak digubris oleh Mirna. karena gadis itu, tetap melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar.
Tak lama berselang, Mirna kembali lagi dengan membawa tas kecil yang terbuat dari karung goni. yang berisi beberapa pakaian adiknya.
Gadis itu sama sekali tidak memperdulikan apapun di sekitarnya. bahkan kakinya beberapa kali terkena goresan dari tumbuhan liar yang memang tumbuh subur di sekitaran gubuk itu. bahkan teriakan dari Mbok Min dan juga Ridho, tidak dihiraukan oleh gadis itu.
Rasa sakit yang tengah ia rasakan, mengalahkan rasa sakit yang menghampiri tubuhnya.
"aku harus cepat sampai."ucap Mirna Seraya mengayunkan kakinya untuk bisa keluar dari hutan itu.
****
Di sinilah saat ini Mirna berada. yaitu di sebuah rumah yang terlihat Tak terawat karena ditinggal penghuninya.
"neng Mirna cari siapa?"tiba-tiba saja seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
__ADS_1
"oh tidak, Bu kalau begitu saya masuk dulu,"ucap Mirna Saraya tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah itu.
"kasihan sekali dia, harus kehilangan ibu dan juga tidak mengetahui Di mana keberadaan ayahnya."
Samar-samar, Mirna mendengar wanita paruh baya itu mengatakan sesuatu. hal itu membuat dada Mirna, seketika bergemuruh.
"aku berjanji, akan membalaskan ini semua."ucap Mirna pada dirinya sendiri. Gadis itu bertekad akan mencari keberadaan Ayahnya.
*****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kediaman juragan Vicky. terlihat suasana sangat tegang. karena saat ini, laki-laki paruh baya itu tengah kesakitan.
Luka yang ditimbulkan oleh Mirna dan juga yang lain beberapa hari yang lalu, sungguh membuat Vicky merasa sangat kesakitan. ditambah lagi, dengan sakit jantung yang tiba-tiba menyerang tubuhnya. membuat kondisinya semakin parah.
"bagaimana keadaan Ayah saya."ucap Marcella Soraya menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari kamar Ayahnya.
"sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. dia bisa saja sewaktu-waktu pergi meninggalkan kita."ucap dokter itu Seraya Menghela nafas panjang.
Setelah mengatakan hal itu, dokter itu pamit undur diri. sementara Marcella dan juga Nadira, masih mematung di tempatnya.
Saat ini, di dalam hati kedua wanita itu, telah muncul dendam yang sangat membara.
"dasar gadis sialan!"maki Nadira sebelum meninggalkan tempat itu.
"aku akan membalaskan semuanya."ucap Marcella Seraya tersenyum mengerikan. setelahnya mengikuti sang ibu.
__ADS_1