Derita Mirna

Derita Mirna
Mencoba Tenang


__ADS_3

Setelah membersihkan rumah dan juga membersihkan diri, Mirna dan Wati memutuskan untuk menuju ke tengah hutan. Di mana paraji itu berada. Paraji adalah sebutan untuk orang yang menangani masalah kehamilan dan kelahiran.


Memang, di desa terpencil itu tidak memiliki tenaga medis yang mumpuni. Berbeda dengan wilayah tempat tinggalnya yang memiliki banyak sekali tenaga kesehatan.


Namun begitu, Mirna merasa sangat bersyukur berada di tempat ini. Setidaknya, dirinya dapat terbebas dari jeratan laki-laki tua itu.


Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, akhirnya Wati dan juga Mirna sampai di depan sebuah gubuk yang sangat memprihatinkan. Karena kondisi gubuk itu, yang hampir saja roboh.


Membuat Mirna yang melihat itu, seketika menarik lengan ibunya. "Apakah tidak masalah?"tanya Gadis itu berbisik kepada ibunya.


"Tidak sayang, ini tidak akan masalah kok."ucap wanita tua itu mencoba untuk menenangkan Putri kesayangannya itu.


"Nek Nek paraji permisi!"teriak Wati Seraya mengetuk pintu itu dengan sedikit terburu-buru. sebab, hari sudah mulai gelap menandakan malam akan segera tiba.


Kriket...


Tiba-tiba saja mereka berdua tersingkat kaget saat mendengar pintu dibuka dari dalam rumah itu. Dan mendapati, seorang wanita tua dengan tubuh sedikit bungkuk berdiri di hadapan mereka dengan tatapan tajamnya.


Tentu saja hal itu membuat Mirna dan Wati yang melihatnya, merasa sedikit ketakutan. Namun mereka mencoba untuk menenangkan diri masing-masing. Karena mereka berdua, datang kemari hanya untuk memeriksakan kondisi Mirna. Tidak untuk melakukan hal yang aneh-aneh.


"Ada apa kalian datang kemari?!"tanya wanita tua itu Seraya menekankan semua ucapannya.


Tentu saja, hal itu membuat Mirna semakin merasa ketakutan. Gadis itu bahkan bersembunyi di balik punggung ibunya.


"Maaf, saya kemari ingin memeriksakan kandungan anak saya."ucap Wati pada akhirnya. Walaupun dengan tubuh yang sedikit bergetar.


"Masuk!"ucap wanita itu dengan nada dinginnya.


Sementara Mirna, Gadis itu malah semakin mencengkeram kuat lengan sang ibu. "Aku takut Bu,"bisik gadis itu.


"Tidak apa-apa, Di sini masih ada ibu kok."ucap Wati mencoba untuk menenangkan putrinya itu.


Walaupun dirinya sendiri, merasa sedikit ketakutan akibat dari tekanan wanita tua itu.


Mirna yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala dan mengikuti langkah wanita tua itu untuk masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Silakan berbaring!"ujar wanita itu yang kini tengah duduk di kursi panjang miliknya.


Mirna segera menuruti perintah dari wanita tua itu. Gadis cantik itu membaringkan tubuhnya di sebuah tikar yang ada di hadapannya itu. Dan dengan segera, wanita tua yang diketahui bernama Mbah Mur itu, Segera memeriksa kondisi Mirna.


"Benar putrimu sedang hamil, dan kandungannya seperti baru menginjak usia 2 bulan."ucap Mbah mur tanpa menoleh ke arah siapa-siapa.


Tatapan wanita tua itu, masih fokus terhadap gadis yang ada di hadapannya itu. Tiba-tiba saja, wanita tua itu mengatakan sesuatu hal yang membuat jantung Mirna terasa tidak aman.


"Apa kamu masih sekolah?"tanya Mbah Mur dengan raut wajah serius dan mata yang menelisik ke arah gadis itu.


Degh


Glugh


Seketika itu pula, jantung Mirna seakan lepas dari tempatnya Gadis itu bahkan bersusah payah untuk menelan salivanya sendiri. Karena mendapatkan pertanyaan yang di luar dugaan mereka.


"Ma... maksud Mbah Mur apa ya?"tanya Wati dengan tubuh sedikit gemetar dan kata yang terbata-bata.


Seketika itu pula, wanita tua itu menatap dalam ke arah mata Mirna. Yang membuat Gadis itu seketika menundukkan kepala karena merasa takut.


"jawab saja. Aku tidak akan pernah menyakitimu."ucap Mbah Mur Soraya mengusap perut Gadis itu dengan lembut.


"Apa kau tidak bahagia dengan pernikahanmu, sampai-sampai kau memilih untuk kabur dan berada di desa ini?"wanita renta itu sekali lagi bertanya dengan tatapan dalamnya.


Mirna yang mendengar itu, seketika tubuhnya bergetar hebat. Karena Lagi Dan Lagi, ternyata wanita tua itu mengetahui tentang kehidupannya.


"Maaf Mbah, bagaimana Mbah tahu semua tentang putri saya? Apa jangan-jangan Mbah adalah mata-mata dari laki-laki kejam itu?"karena sudah merasa tidak tahan dengan situasi yang ada di antara mereka, Wati memberanikan diri untuk bertanya seperti itu.


Pertanyaan yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari si pemilik rumah. "Saya bukan orang yang sepicik itu!"ucapnya dengan nada yang sangat tegas.


Hingga membuat Wati seketika juga ikut menundukkan kepala karena merasa takut dan telah menuduh wanita itu secara sembarangan.


"maafkan saya Mbah,"ucap Wati Seraya masih menundukkan kepala.


Mbah Mur yang mendengar itu seketika menghela nafas panjang. Kemudian memberikan sebuah ramuan yang memang telah dipersiapkan oleh wanita sepuh itu.

__ADS_1


"Sekarang kamu minum ini,"perintah wanita tua itu pada Mirna.


Gadis itu dengan segera menerima gelas yang terbuat dari lempengan emas itu dengan sedikit tubuh bergetar hebat.


"Tidak usah berpikir macam-macam, aku tidak akan pernah menyakitimu."tegas Mbah Mur yang seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Mirna. Sejenak, Gadis itu mencoba untuk tenang.


Dengan perlahan-lahan, Mirna mulai meneguk setetes demi setetes air yang ada di dalam gelas itu hingga tandas tak tersisa. Tidak seperti dugaannya, karena ternyata minuman itu tidak memiliki bau dan tidak memiliki rasa.


"Kandunganmu pasti akan kuat. Dan saat kamu menyelesaikan sekolahmu, maka tidak akan ada orang yang menyadari akan hal itu."ujar Mbok Mur.


Mirna dan Wati yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. Dan memberikan sebuah amplop berwarna putih pada wanita tua itu.


"Terima kasih Mbah, ini saya ada sedikit."ucap Wati Seraya mengulurkan tangannya memberikan sesuatu itu kepada Mbok Mur.


Namun sangat di luar dugaan, wanita renta itu justru menepis amplop berwarna coklat itu hingga isinya berhamburan kemana-mana.


"Jangan pernah menghinaku!"ucap Bu Mur dengan nada yang sangat tinggi. Tentu saja hal itu membuat Wati dan Mirna yang mendengarnya, merasa sangat ketakutan.


Karena wanita paruh baya itu jika sedang marah, ekspresinya sangat mengerikan persis seperti seorang iblis yang tengah murka.a


"Ma...afkan saya Mbah saya tidak bermaksud menghina anda. tapi saya,.."ucapan Wati segera terhenti saat mendapatkan tatapan tajam dari wanita paruh baya itu.


"Sudah, pergi kamu dari sini!"teriak Mbah Mur dengan wajah merah padam. Pertanda bahwa wanita sepuh itu telah benar-benar marah.


Bergegas Wati dan juga Mirna pergi dari sana dengan langkah yang sangat cepat. Mereka begitu merasa takut mendapati kemarahan dari wanita tua itu.a


"Ingat! Jika nanti usia kandungan putrimu telah memasuki 8 bulan atau 7 bulan, segera bawa dia kemari!"samar-samar, Wati dan juga ibunya mendengar suara teriakan dari wanita tua itu.


Hosh hosh


Dua wanita berbeda generasi itu, sampai di rumahnya dengan keringat dingin yang membasahi tubuh mereka.


"Mengerikan sekali entah itu jika sedang marah,"ucap Mirna Seraya mengatur nafasnya yang masih memburu.


"Dia marah karena kita memberikan uang sebanyak itu. Dia mengira kita sedang melecehkan dia!"ucap Wati yang ikut duduk di kursi panjang ruang tamu.

__ADS_1


"Yang terpenting saat ini, kamu telah mendapatkan ramuan penguat kandungan. Untuk itu kamu tidak perlu khawatir lagi."sambung wanita paruh baya itu Seraya mengusap perut putrinya dengan gerakan lembut.


Mirna yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. Tangan mungilnya juga ikut mengusap perut yang masih rata itu dengan gerakan lembut.


__ADS_2