
Beberapa hari kemudian,....
Mirna masih berada di rumah peninggalan orang tuanya itu. yang dilakukan gadis itu saat ini hanya terdiam. pikirannya masih kalut dengan semua kejadian yang menimpa hidupnya itu.
"aku tidak bisa berdiam diri seperti ini terus. aku harus mencari dia,"setelah mengatakan hal itu, Mirna segera beranjak dari tempat duduknya.
Gadis itu segera keluar dari dalam rumah dengan membawa kunci sepeda motor yang ada di dalam garasi rumahnya. Sesaat, Gadis itu terdiam saat memikirkan bagaimana kondisi ibunya saat ini.
Karena sampai saat ini, pihak kepolisian dan juga pihak rumah sakit belum mengizinkan ibunya untuk dibawa pulang. karena masih dalam proses pemeriksaan.
"aku harus ke rumah sakit dulu kalau begitu,"ucap Mirna mulai melajukan kendaraannya membelah padatnya jalan raya.
Tak berselang lama, Gadis itu telah sampai di depan sebuah rumah sakit. dan dengan segera, Gadis itu segera melangkahkan kakinya untuk menyusuri koridor rumah sakit. setelah memarkirkan motornya di tempat yang aman.
"bagaimana Pak, apa semuanya sudah selesai?"tanya Mirna. saat Gadis itu, berpapasan dengan pihak rumah sakit dan juga pihak kepolisian yang menangani jasad ibunya.
"kami sedikit kesulitan. karena pelaku, tidak meninggalkan jejak sama sekali. bahkan luka-luka di tubuh korban, bukanlah milik pelaku. melainkan milik beberapa binatang buas."ucapan dari dokter forensik itu, sukses membuat Mirna seketika limbung dan jatuh terduduk di atas lantai.
Air matanya kembali mengalir membasahi wajah cantik gadis itu. ini semua terlalu sulit bagaimana bisa hal itu terjadi? tanya Mirna dalam hati.
__ADS_1
Setelah puas menangis, Mirna segera bangkit dan menatap ke arah dua laki-laki yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan mengiba itu.
"kalau begitu, tidak usah dilanjutkan lagi pemeriksaannya. saya akan membawa pulang ibu saya. agar beliau, cepat untuk dimakamkan."ucap Mirna dengan tenang.
Hal itu membuat dokter dan juga polisi yang mendengarnya, seketika saling memandang. "apakah anda yakin, Nona?"tanya polisi itu mencoba untuk memastikan.
Karena pria itu mengkhawatirkan, apa yang dilakukan Mirna itu adalah emosi sesaat. karena mengingat, Mirna masihlah sangat muda. jiwa labilnya masih meronta-ronta.
"saya yakin pak,"ucap Mirna dengan mantap. hal itu membuat polisi dan juga dokter itu, seketika menghela nafas panjang.
Karena bagaimanapun juga, Mirna adalah anggota keluarga dari korban ini. tentu saja Gadis itu memiliki hak sepenuhnya atas tubuh ibunya.
Membuat Mirna yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala."aku akan mencarinya dan mengatasinya dengan caraku."ucap Mirna dengan senyuman yang mengerikan.
*****
Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Mirna telah sampai di sebuah pemakaman umum. Gadis itu terduduk di atas gundukan tanah dengan papan bertuliskan Wati.
"semoga ibu tenang di sana."ucap gadis itu Seraya menaburkan beberapa bunga melati dan juga bunga mawar di atas gundukan tanah itu.
__ADS_1
Tidak ada lagi air mata yang terlihat dari wajah cantik gadis malang itu. yang terlihat saat ini, hanyalah ekspresi wajah datar tanpa senyuman. dan hal itu membuat siapa saja yang melihatnya, seketika bergidik ngeri.
Setelah puas memandangi gundukan tanah itu, Mirna segera beranjak tempat itu. baru beberapa langkah Gadis itu mengayunkan kakinya, tiba-tiba saja seseorang menarik rambutnya dari arah belakang.
Sontak saja hal itu membuat Mirna, menoleh ke arah seseorang yang saat ini tengah berdiri tepat di belakangnya.
"Nyonya Nadira, Nona Marcella?"ucap Mirna dengan ekspresi wajah terkejut.
Sementara dua wanita itu, menatap Mirna dengan tatapan penuh dengan kebencian."puaskan kau, telah membuat Ayahku meninggalkan dunia ini?!"teriak Marcella dengan sangat lantang. hingga membuat pengunjung makam yang lain, seketika menatap wanita itu dengan tatapan keheranan.
Bukannya merasa bersalah, Mirna justru tersenyum sinis."mungkin saja itu balasan, karena ayahmu adalah laki-laki terbejat yang pernah kutemui!"setelah mengatakan hal itu, Mirna membalikan tubuh dan hendak melangkahkan kakinya, untuk pergi dari tempat itu.
Namun dengan cepat, seseorang kembali menarik rambutnya. hingga membuat Mirna, seketika jatuh di atas tanah.
Gadis itu memandang dengan misterius ke arah dua wanita itu. hingga membuat kedua wanita itu, seketika bergidik ngeri. dan tanpa basa-basi, kedua wanita itu segera berbalik badan dan hendak meninggalkan tempat itu.
Namun tiba-tiba, Mirna melempar sebuah batu hingga mengenai punggung kedua wanita itu. hingga membuat mereka, seketika jatuh tersungkur di atas tanah.
"jangan kalian pikir, aku akan diam saja jika kalian tindas."setelah mengatakan hal itu, Mirna segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.
__ADS_1
Jika dulu yang dilakukan Mirna hanya menangis dan menangis, maka tidak untuk saat ini. karena gadis itu, akan memulai aksinya untuk membalas semua perlakuan mereka.