
Beberapa bulan kemudian,....
Kini kandungan Mirna, telah memasuki usia Sembilan bulan. Yang membuat gadis itu, sudah tidak bisa bergerak leluasa. Gadis cantik itu juga tidak keluar rumah sama sekali semenjak dua bulan yang lalu.
Karena selain merasa begah dengan keadaan dirinya saat ini, Mirna juga merasa malu jika harus bertemu dengan orang-orang yang pasti akan mencurigainya. Walaupun dirinya hamil dengan bersuami, tentu saja Mirna merasa malu karena umurnya masihlah sangat mudah untuk dikatakan wanita berumah tangga.
Untuk itulah, Mirna memutuskan berdiam diri di dalam rumah. Dan hanya sang ibu yang keluar rumah untuk mencari sesuatu agar bisa dimakan oleh mereka berdua.
"Aduh bu sakit,"tiba-tiba saja Mirna mengaduh saat merasakan perut bagian bawahnya seperti diremas-remas dari dalam.
Wati yang melihat itu, seketika membulatkan matanya. Karena wanita itu melihat, ada cairan bening yang mengalir di sela-sela kaki putrinya.
"Astaga sayang! Kamu sudah akan melahirkan!" Pekik wanita paruh baya itu sembari menuntun putrinya untuk duduk di kursi rotan.
"Kita harus segera ke rumah Mbah Mur kamu akan segera melahirkan."ucap Wati mulai bersiap untuk memapah gadis cantik itu.
Namun seketika terhenti saat mendengar ucapan dari Mirna.
"huh, huh, huh, tidak usah Bu sepertinya aku sudah tidak kuat!"ucap Mirna Seraya mengatur nafasnya yang mulai tersengal-senggal.
Wati yang mendengar itu mulai meneteskan air mata. Karena jujur saja, wanita paruh baya itu tidak mengetahui bagaimana caranya menolong seseorang yang akan segera melahirkan seperti ini.
Namun begitu, Wati mencoba menenangkan dirinya. Wanita paruh baya itu mencoba menghirup udara sebanyak mungkin. Dan setelahnya, mulai menghembuskannya secara perlahan. Dan hal itu dilakukan Wati beberapa kali.
Setelah dirasa cukup tenang, Wati mulai memberanikan diri untuk melihat ke arah kedua kaki putrinya yang sudah terbuka lebar itu. Dan seketika itu pula, jantungnya seakan ingin lepas dari tempatnya.
Di mana Wati melihat, kepala seorang bayi seperti akan keluar dari daerah sensitif putrinya. Tentu saja hal itu membuat Wati merasa sedikit ketakutan. Tubuhnya bahkan bergetar hebat Dan hampir saja tumbang. karena tidak kuasa menahan rasa nyeri yang tiba-tiba menyeruak di dalam tubuhnya.
Walaupun Wati pernah melakukan prosesi persalinan seperti ini saat melahirkan Mirna dulu, wanita itu tidak akan pernah menyangka jika prosesnya sama mengerikan ini. Karena dulunya, Wati melahirkan di rumah sakit ternama.
Sehingga wanita paruh baya itu, tidak pernah merasakan sesuatu yang menyakitkan seperti ini. Karena dirinya, lebih memilih operasi caesar ketimpangan normal. Karena jujur saja, Wati sedikit takut pada darah.
__ADS_1
Namun kendati demikian, wanita paruh baya itu tetap berusaha untuk menyemangati putrinya agar segera mengeluarkan cabang bayi itu dari dalam perutnya. Karena bagaimanapun juga, mereka berdua adalah harta yang tidak ternilai bagi Wati.
"Ayo sayang durung terus!"ucap Wati Seraya mencoba menggenggam tangan putrinya. Saat gadis itu, mulai mengejan.
"Euuuggghhh! Ssstt"Mirna segera mengejan sekuat tenaga. Hingga tak lama berselang,....
Oeeekk....! Oeeeekkkk...!!! Oeekk....!
Suara tangisan seketika menggema di dalam ruangan kecil itu. Dan hal itu membuat Mirna dan juga Wati merasa sangat lega.
Walaupun Wati harus bersusah payah untuk menjaga keseimbangannya. Akibat rasa takut karena melihat darah yang keluar dari daerah sensitif putrinya.
"Ibu, ibu tidak apa-apa?"tanya Mirna yang mencoba bangkit dari posisi berbaring setelah selesai melahirkan.
Wati yang mendengar itu seketika menggelengkan kepala dan tersenyum tipis. "Ibu tidak apa-apa Mirna, kamu jangan terlalu banyak bergerak. Sekarang, ibu akan membersihkan bayi kamu ini."ucap Wati dengan perasaan campur aduk.
Dengan perlahan-lahan, wanita paruh baya itu mulai mengangkat dan menggendong bayi mungil yang berjenis kelamin laki-laki itu. Sejenak Wati merasa sangat kagum dengan wajah dari bayi itu.
"Ibu kenapa tersenyum seperti itu?"tanya Mirna yang merasa heran. Karena memang, gadis itu belum melihat bagaimana rupa dari sang anak.
Meninggalkan Mirna yang saat ini tengah meneteskan air mata. Perasaannya seketika campur aduk. Ada rasa bahagia sekaligus sedih yang menyelinap masuk ke dalam relung hatinya.
Senang karena sekarang, dirinya telah menyandang status sebagai seorang ibu. Dan sedih karena, di usianya yang baru 16 tahun, sudah mendapatkan cobaan seberat ini.
Namun Mirna merasa sangat bangga karena dapat mempertahankan bayi itu sampai saat ini.
"Kamu kenapa menangis Mirna?"tanya Wati yang ternyata telah berada di sebelah Gadis itu Seraya menggendong seorang bayi yang telah diberi bedong kain jarik.
Mirna yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa Bu, aku hanya merasa terharu karena dapat mempertahankan anakku sampai sejauh ini."ucapnya dengan mengusap air matanya yang mulai membasahi wajah cantiknya itu.
Sangat diuntungkan memang, karena jarak rumah antara satu warga dengan warga yang lain sangatlah jauh. Sehingga tangisan dari putra Mirna, tidak terdengar oleh orang-orang sekitar.
__ADS_1
"Ini kamu susui dulu anak kamu, nanti setelah itu, ibu akan membuatkan ramuan yang pernah diberikan oleh Mbok Mur,"ucap Wati Seraya menyerahkan bayi mungil itu ke dalam pelukan putrinya.
Mirna yang mendengar itu, seketika tersenyum tipis. Dan dengan segera, Gadis itu mulai mengeluarkan salah satu dari bukit kembarnya.
Sesekali Mirna akan meringis saat ujung bukitnya dihisab oleh makhluk kecil itu membuat Mirna sesekali menahan sakit.
"Sssshhh aww!"Mirna merintih pelan menahan ngilu dan juga sakit yang secara bersamaan.
"Sabar sayang, memang awalnya akan merasa sakit tapi, nantinya akan terbiasa."ujar Wati Soraya duduk di samping putrinya.
Wanita paruh baya itu menyuruh Mirna untuk segera meminum ramuan yang telah ia racik itu. Agar kondisinya cepat membaik.
Mirna segera meminum ramuan itu dengan perasaan mual. Karena rasanya, sangatlah aneh. Hingga membuat isi perutnya, seakan ingin keluar.
"Tidak apa-apa, nanti juga kamu akan terbiasa."ujar Wati Soraya mengusap kepala putrinya itu dengan perasaan sayang.
Mirna yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala. Dan mulai meneguk air itu perlahan demi perlahan hingga tanda tak bersisa.
"Sekarang kamu istirahat, ibu akan keluar sebentar untuk membelikan kamu pemb*lut untuk orang melahirkan."ucap Wati yang beranjak dari duduknya.
Ajaib memang, ramuan itu sangatlah mujarab. Terbukti dengan kondisi tubuh Mirna saat ini yang sangat nyaman dan pegal-pegalnya pun rasanya hilang.
Mirna segera meletakkan bayi mungil itu di sampingnya. Kemudian melingkarkan tangannya memeluk malaikat kecilnya yang masih tertidur lelap.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Mirna membuka mata. saat merasakan, kepalanya diusap oleh seseorang.
"Eh ibu membangunkan kamu ya?"tanya Wati yang merasa tidak enak karena ulahnya putrinya sampai terbangun.
Mirna yang mendengar itu, menggilingkan kepala Seraya tersenyum kecil. "Nggak apa-apa Bu, aku juga sudah merasa badanku segar kembali. Dan aku ingin mandi sekarang,"ucap Mirna mulai bangkit dari pembaringan.
"Hati-hati nak, apa kamu ingin mandi dengan air hangat?"tanya Wati Seraya menggendong sang cucu dan menimang-nimalnya.
__ADS_1
"Tidak usah Bu, Ibu bermain saja dengan malaikat kecil itu,"ucap Mirna tersenyum kecil. Gadis itu seakan tahu, bahwa ibunya sangat menyayangi dan ingin sekali menggendong bayi itu. Terlihat dari matanya yang sangat berbinar-binar.
Wati yang mendengarnya, ikut tersenyum kecil. Kemudian dengan segera, menyanyikan lagu-lagu yang menurutnya sangat cocok untuk didengar oleh anak kecil. Ya walaupun, bayi mungil itu belum mengerti apa yang dimaksud oleh sang nenek.