
Beberapa hari kemudian, Mirna menjalani kehidupannya seperti biasanya. Gadis itu, nampaknya telah terbiasa dengan penyiksaan yang dilakukan oleh keluarga dari Vicky itu.
Bahkan gadis kecil itu akan selalu dipanggil untuk memuaskan dahaga dari laki-laki lucknut itu. Tidak ada rasa sakit yang menyentuh tubuhnya saat ini. Karena semua rasa, telah terbiasa diterima oleh gadis itu.
"Bangunlah, kau dipanggil oleh ayah,"ucap seorang wanita cantik yang masih muda Seraya menarik rambut Mirna. Membuat si pemilik rambut, seketika meringis kesakitan.
"Jangan manja kau!"hardik wanita muda itu Soraya kembali menarik rambut Mirna. Hingga membuat gadis itu, seketika bangun terduduk.
Setelah Marcella keluar dari kamar Mirna, seseorang kembali masuk ke dalam kamar itu. Siapa lagi jika bukan Nadira. Istri tua dari Vicky.
" Heii Wanita j*lang, untuk apa kau masih ada di sini? Segera temui suamiku! karena dia sudah menunggu terlalu lama!"teriak Nadira dengan suara yang sangat lantang.
"Baik Nyonya,"ucap Mirna Seraya menunjukkan kepala. Karena walaupun gadis itu telah terbiasa, namun dia hanyalah anak-anak yang memiliki rasa takut. Apalagi dengan suara yang sangat lantang itu.
Mirna dengan segera langsung bangkit dari duduknya dan menuju ke arah ruangan yang ditunjukkan oleh pasangan ibu dan anak itu.
Saat gadis itu membuka pintu, pemandangan yang ia lihat pertama kali, adalah seorang laki-laki yang tidak ada benang di tubuhnya. Tentu saja, itu membuat Mirna, seketika langsung paham.
Gadis cantik itu segera melangkahkan kakinya untuk menghampirinya
Tanpa basa-basi lagi, laki-laki tua itu segera menarik tangan Mirna. Hingga membuat gadis cantik itu, seketika terhempas dan langsung menubruk suaminya. Belum sempat, Mirna mengatur detak jantungnya akibat terkejut, mulut laki-laki tua itu telah terlebih dahulu "memainkan" benda itu.
Mirna kembali mend*sah. saat tangan laki-laki tua itu kembali menyentuh daerah sensitif miliknya.
Vicky yang mengetahui gadis itu telah terlena, segera menggendong dan membawanya ke sebuah kamar yang ada di ruangan itu.
Dalam sekali hentakan, laki-laki tua itu kembali melancarkan aksinya pada istri kecilnya dengan kejam. Bahkan kegiatan itu, berlangsung hampir 3 jam.
Tentu saja hal itu membuat Mirna merasakan sakit yang luar biasa. Gadis kecil itu kembali masuk ke dalam kamarnya setelah dirinya tidak dibutuhkan lagi.
__ADS_1
"Sampai kapan ini harus terjadi?"tanya gadis cantik itu yang merasa sangat frustasi dengan apa yang terjadi dalam hidupnya.
Setelah puas menangisi dan meratapi kehidupannya, Mirna segera membersihkan diri. Karena selain sebagai pelayan di atas ranjang bagi Vicky, gadis itu juga merupakan pelayan di rumah itu.
Setelah selesai membersihkan diri, Mirna segera melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang seharusnya ya kerjakan.
"Lama banget sih, buruan masaknya!"ucap wanita paruh baya yang tak lain adalah Nadira istri dari Vicky.
"Baik Nyonya, sebentar lagi makan akan segera siap." Ujar Mirna Seraya menundukkan kepala.
"Ya sudah, segera pergi aku muak melihatmu!!"teriak Marcella. Yang tak lain adalah putri dari Vicky.
Membuat Mirna seketika menundukkan kepala dengan tubuh bergetar hebat. Dan tanpa basa-basi, Mirna segera melangkahkan kaki untuk menuju ke arah dapur.
"Aku takut ya Tuhan,"ujar gadis itu yang masih merasa sangat ketakutan karena belum pernah sama sekali dibentak oleh seseorang.
Tak berapa lama, seseorang datang dan langsung menepuk pundak gadis itu. Hingga membuatnya seketika terlunjak kaget.
"Jangan melamun saja!"tegur Mbok Min Seraya mengusap bahu gadis cantik itu.
Mirna yang mendengar itu, segera menganggukkan kepala. Dan dengan segera, langsung melanjutkan pekerjaannya dibantu oleh wanita paruh baya itu.
"Apa kamu masih sekolah?"tanya Mbok Min secara tiba-tiba. Tentu saja, hal itu membuat senyuman Mirna yang sedari tadi mengembang, seketika luntur.
Berganti dengan wajah yang sangat sedih. Mbok Min yang melihat kondisi itu, hanya mengusap bahu gadis kecil itu.
"Kenapa tidak mencoba minta izin pada Tuan, siapa tahu sekarang sudah diperbolehkan untuk bersekolah lagi."ujar Mbok Min berusaha untuk menghibur gadis kecil itu.
"Tapi aku takut Mbok, lagi pula kan aku,.. hiks hiks Mirna tidak dapat membendung air matanya saat mengingat dirinya yang sangat malang itu.
__ADS_1
"Sssttt tidak ada yang tahu kan kalau kamu sudah menikah, jadi selama mereka tidak tahu, tidak menjadi masalah!"ucapnya Seraya mengusap air mata gadis itu yang mengalir seperti sungai.
"Tapi aku takut,"ucap Mirna sekali lagi dengan lirih.
"Kau tidak akan tahu jika tidak mencobanya!"ucapnya sedikit menekankan kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya.
Tujuannya, agar gadis cantik itu memiliki semangat untuk menggapai cita-citanya. "Kau harus semangat Mirna, kamu itu masih sangat muda. Dan jangan pernah menyerah dengan keadaan,"ujar Mbok Min kembali memberikan semangat kepada gadis itu. Mirna yang mendengar itu, seketika mengangguk setuju dan kembali bersemangat.
Mereka sontak terdiam saat mendengar teriakan di ruang makan. Dan tanpa basa-basi, kedua wanita berbeda generasi itu segera melanjutkan aktivitas masing-masing.
Tak berselang lama, Mirna datang dengan membawa nampan berisi nasi dan lauk pauk.
"Kenapa lama sekali sih?!"tanya Nadira Soraya melayangkan tatapan tajam ke arah Mirna.
"Ma,.. maafkan saya Nyonya, Tuan, ini masakannya sudah siap."ucap ucap gadis cantik itu dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
Akhirnya keluarga kecil itu segera menikmati makanan yang dibuatkan oleh Mirna. Senyuman kecil, seketika terbit saat melihat betapa lahabnya mereka menikmati makanan buatannya. Dan tak terasa, akhirnya mereka telah menyelesaikan makanan itu.
"Ternyata, kau memiliki bakat memasak yang sangat enak ya,"ucap Nadira Seraya menatap Mirna dengan tatapan sinis.
"Benar ini Bu, makanannya sangat enak. Bagaimana kalau kita suruh dia memasak setiap hari?"tanya Marcella menatap ke arah Ayah dan ibunya.
Membuat Nadira dan juga Vicky yang mendengarnya, seketika menganggukkan kepala.
"Kau dengarkan itu, jadi mulai sekarang, sebelum kita semua membuka mata makanan sudah harus siap di atas meja!"ucap Vicky tanpa menoleh ke arah lawan bicaranya.
"Baik Tuan Nyonya, saya akan melakukannya sesuai dengan permintaan anda!"ucap Mirna Soraya menundukkan kepala.
Sementara kedua pasangan ibu dan anak itu, segera melangkah pergi dari sana. Saat dirasa semua sudah sepi, Mirna mendekati laki-laki itu yang masih terduduk di tempatnya.
__ADS_1
"Ada apa?"tanya Vicky dengan raut wajah dingin.
"Saya ingin meminta izin untuk sekolah lagi."ucapnya dengan nada lirih dan juga tubuh bergetar hebat karena merasa ketakutan.