Derita Mirna

Derita Mirna
Sesuai Rencana


__ADS_3

Setelah mengirimkan pesan itu, Mirna bergegas untuk turun dari dalam taksi. karena gadis itu, kini telah sampai di tempat tujuan.


Mirna segera bersembunyi di sebuah bangunan kecil yang tidak jauh dari tempat Roni berada. Gadis itu mengamati laki-laki yang masih menjadi ayahnya itu, dengan teropong pribadi yang beberapa saat lalu dirinya beli.


Kedua tangannya seketika mengepal dengan sangat kuat. saat menyaksikan sendiri, laki-laki paruh baya itu tengah tertawa puas karena berhasil meloloskan diri dari aparat hukum yang mencarinya.


"tertawalah sepuasmu. karena sebentar lagi, hidupmu akan berakhir."ucap Mirna Seraya menatap tajam ke arah laki-laki itu menggunakan teropongnya.


Tak berselang lama, sebuah taksi online berhenti tidak jauh dari Mirna berada. dan hal itu membuat Mirna, seketika tersenyum senang. karena ternyata, semua berjalan sesuai rencana.


"Ayu lebih baik kita segera masuk ke dalam."ucap Nadira menarik tangan putrinya untuk segera masuk ke dalam bangunan itu.


"permainannya akan segera dimulai."ucap Mirna Saraya tersenyum menyeringai.


Entahlah. mengapa gadis sebaik dan sepolos Mirna, ini berubah menjadi gadis yang sangat jahat. benar apa kata pepatah. orang jahat adalah orang baik yang terabaikan dan selalu tertindas.


Mirna segera kembali melihat situasi itu dengan teropongnya dengan sesekali tersenyum sinis membayangkan apa yang akan terjadi pada laki-laki itu.

__ADS_1


"nyawa harus dibalas dengan nyawa."gumam gadis itu Seraya mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah.


****


Sementara Marcella dan juga Nadira, kedua pasangan ibu dan anak itu segera masuk ke dalam bangunan itu.


brakkk


Wanita paruh baya itu segera mendobrak pintu bangunan itu. hingga membuat Roni yang berada di dalam sana, seketika terjingkat kaget.


"Da... darimana kalian tahu tempat ini?"tanya Roni dengan tubuh bergetar hebat dan juga suara terbata-bata.


Sementara Nadira dan juga Marcella yang mendengar itu, seketika saling pandang."bukankah kau sendiri yang mengirimkan pesan ini?"tanya Nadira Seraya menunjukkan ke arah ponselnya.


Hal itu semakin membuat Roni yang melihatnya, seketika semakin membulatkan kedua matanya.


"aku tidak pernah mengirimkan itu."ucap laki-laki itu Seraya bergetar hebat. Karena sekarang, Nadira tengah mengangkat tangannya tinggi-tinggi dengan membawa senjata tajam di dalamnya.

__ADS_1


"dasar laki-laki tidak tahu diri! kau akan mati sekarang! hyakk!"teriak Nadira Soraya berlari secepat kilat menghampiri laki-laki itu dan...


slepp...


Benda tajam itu seketika menancap sempurna di perut laki-laki itu. hingga membuat tubuh laki-laki paruh baya itu, seketika terkapar di lantai dengan tubuh bersimbah darah.


"akhirnya kau mati juga!"gumam Nadira Seraya melepaskan tangan palsu yang ia gunakan untuk menusuk laki-laki itu.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat itu dengan senyum lebar."akhirnya dia mati juga!"gumam Marcella Soraya menatap ke arah sang ibu.


Sepasang ibu dan anak itu, seketika meninggalkan tempat itu dengan senyuman yang sangat puas.


Tanpa mereka sadari, perbuatan mereka itu telah direkam oleh Mirna dengan senyuman licik Yang terukir dari bibir tipisnya.


"akhirnya semua sesuai rencana."ucap Mirna tertawa dengan terbahak-bahak.


Setelah ini, kalian yang akan aku singkirkan selanjutnya. pikir Mirna. Gadis itu segera kembali menuju ke tempat tinggalnya dengan perasaan lega.

__ADS_1


__ADS_2