
Beberapa saat kemudian, Mirna masih mematung di tempatnya. Sepertinya gadis itu, masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya itu. Karena terlihat, Mirna masih sangat shock dengan kejadian yang bersajak ia alami itu.
Bahkan, Mirna membiarkan bayi mungil itu menangis terus menerus. Hingga tubuh mungilnya, bergetar hebat karena saking kerasnya tangisan yang keluar dari mulut mungil itu.
"Astaga Mirna, apa yang sebenarnya terjadi?!" Gadis itu tersentak kaget saat mendengar teriakan dari seseorang di belakang tubuhnya. Tentu saja hal itu membuat Mirna, menoleh ke arah sumber suara.
"I.. ibu,"ucap Mirna dengan perasaan tidak karuan. Ada rasa takut saat melihat raut wajah dari wanita paruh baya itu. Yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. Namun juga ada rasa lega yang menyelinap masuk ke dalam relung hatinya.
Mirna merasa lega, karena laki-laki itu tidak akan pernah kembali lagi saat ibunya ada di rumah.
Wati tidak menghiraukan ucapan putrinya. Wanita paruh baya itu, langsung bergegas cuci tangan dan mengganti pakaiannya dengan keadaan yang sangat terburu-buru. Setelah selesai, wanita paruh baya itu menggendong bayi itu dan menimang-nimang hingga bayi mungil itu tertidur lelap.
Walaupun Wati masih melihat isakan kecil dari bibir mungil itu. Kemudian, wanita paruh baya itu menaruh bayi mungil itu ke dalam ranjang bayi yang memang telah disediakan jauh-jauh hari oleh mereka.
Yap diam-diam Mirna dan juga Wati membeli ranjang bayi bekas dari orang-orang yang tidak membutuhkannya lagi. Dengan alasan, Wati akan memberikan kepada saudara di kota lain. Karena wanita itu tidak ingin jika putrinya menjadi semakin sulit posisinya.
"Kau ini sebenarnya kenapa?"tanya Wati Seraya menatap ke arah putrinya dengan tatapan yang sangat tajam namun juga sangat dalam.
Tentu saja hal itu membuat Mirna, merasa sangat gelagapan. Karena Gadis itu tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya.
Karena Pak Tono, laki-laki paruh baya itu sudah mengancamnya dengan berbagai macam kalimat yang membuat gadis berusia 16 tahun itu, rasa sangat ketakutan.
"Aku tidak apa-apa Bu, aku tadi hanya memikirkan bagaimana kalau juragan Vicky menemukan kita di sini? Apa yang harus kita lakukan?"akhirnya untuk pertama kali dalam hidupnya, Mirna membohongi sang ibu.
__ADS_1
Wanita yang telah melahirkannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Mirna tidak memiliki pilihan lain selain membohongi wanita itu.
"Maafkan Mirna Bu, tapi Mirna terpaksa berbohong sama ibu," ucap Gadis itu dalam hati dengan suasana hati yang sangat sendu.
Wati yang mendengar itu, seketika menghela nafas panjang. "Kau tidak usah khawatir, Ibu sangat yakin kalau mereka tidak akan pernah menemukan kita di sini. Lagi pula siapa yang menyangka bahwa kamu akan bersembunyi di tempat seperti ini?"tanya Wati Seraya kembali menetap ke arah sang cucu yang saat ini tengah menghisap jempol tangannya sendiri.
"Sudah jangan dipikirkan, sekarang kamu beri ASI duluan aku ini. Dia sepertinya sangat kelaparan, Ibu mau mandi di kali dan sekalian cuci baju kamu dan juga Tirta."ucap wanita paruh baya itu Seraya menyerahkan bayi mungil itu kepada ibunya.
"Tirta?"tanya Mirna pada ibunya. Untuk memastikan, apakah dirinya tengah salah mendengar ucapan dari sang ibu.
"Iya aku memberi anakmu nama Tirta Susilo. Apa kau suka?"tanya Wati menatap ke arah putrinya yang saat ini tengah memberikan nasi kepada bayi mungil itu.
Mirna yang mendengar itu, seketika menganggukkan kepala. "Tentu saja aku suka, nama yang Ibu berikan sangatlah bagus dan cocok untuk anakku."ucap Gadis itu suaranya tersenyum kecil kepada ibunya.
Mirna yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepalanya. Sebelum akhirnya, gadis itu menyadari akan sesuatu.
"Astaga aku lupa! Kenapa aku tidak kepikiran tentang ini?!"tanya Gadis itu mulai panik. Mirna dengan segera meletakkan putranya di atas kasur. Dan dengan segera, melangkahkan kakinya untuk menyusul sang ibu.
Namun sialnya, ibunya itu berada jauh dari tempatnya saat ini berdiri. Mirna mencoba untuk memanggil wanita itu. Namun, usahanya sia-sia. Karena Wati sama sekali tidak menggubris teriakannya. Dan tiba-tiba saja....
Hmmpph!! Hmmpph!
Seseorang membekap mulutnya dari arah belakang. Dan dengan segera membawa Mirna masuk ke dalam rumah. Dan dengan kasar mendudukkan Gadis itu di kursi. Seketika itu pula, Mirna merintih kesakitan karena merasakan daerah sensitifnya seperti ngilu karena benturan dengan benda keras itu.
__ADS_1
"Ssssshhh sakit!"ucap Mirna sedikit merintih. Sepertinya Gadis itu masih belum menyadari kehadiran seseorang yang saat ini menatapnya dengan tatapan kelaparan.
"Pak Tono?!"Mirna seketika tersentak kaget saat baru saja menyadari kehadiran laki-laki paruh baya itu di hadapannya.
Laki-laki paruh baya itu seketika tersenyum menyari nyai saat melihat raut wajah ketakutan dari Mirna. Dan tanpa basa-basi, laki-laki paruh baya itu berjongkok di hadapan Mirna. Kemudian, Membuka kedua kaki Gadis itu dan menekuknya ke atas sehingga membentuk huruf M. Tentu saja hal itu membuat Mirna, merasa sangat terkejut.
Sekuat tenaga, Mirna mencoba untuk melawan. Namun, satu tamparan seketika mendarat mulus di wajah cantiknya itu. Hingga membuat Mirna seketika terdiam.
Pak Tono yang melihat Mirna terdiam, segera melanjutkan aksinya. Yaitu laki-laki itu mengunyah dedaunan yang berada di tangannya. Dan setelah lembut, negara mengeluarkan dedaunan itu. Dan menempelkannya di area sensitif gadis itu.
Tentu saja, hal itu membuat Mirna seketika merasakan tubuhnya bergetar hebat. Dan Gadis itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya. Dan tak berselang lama, Mirna merasakan, area itu, mengeluarkan dar*h yang sangat banyak.
"Mungkin ini akan berlangsung selama dua hari. Dan setelah itu selesai, kau harus menemui aku di tempat perjanjian. Dan jika tidak menepati janjimu, maka bersiaplah kau harus keluar dari tempat ini."setelah mengatakan hal itu, Pak Tono segera melangkah pergi dari sana.
Mirna segera bangkit dari tempat duduk itu dan langsung masuk ke dalam kamar untuk mengganti pembalut yang menampung darahnya itu. Karena dirasa oleh gadis itu, darah yang keluar semakin banyak.
"Lebih baik aku menggunakan Pampers ini aja,"ucap Mirna Seraya menunjuk ke arah beberapa box Pampers dewasa yang sengaja dibeli untuk hal-hal tidak diinginkan. Contohnya seperti yang baru saja dialami itu.
"Banyak sekali darahnya,"gumam Mirna saat Gadis itu berada di kamar mandi belakang rumahnya.
Memang Mirna dan ibunya memiliki kamar mandi seadanya. Dengan dinding yang terbuat dari kain bekas. Dan juga tungku yang terbuat dari ember yang mereka beli dari pasar kemarin.
Setelah selesai mengganti dengan Pampers, Mirna segera kembali untuk menemui putranya yang ia tinggal seorang diri.
__ADS_1