
Setelah prosesi pemakaman itu, Mirna seperti dicampakkan oleh keluarga Vicky. Karena mereka sama-sama sibuk dan tidak pernah mengunjungi kamar Mirna. seharusnya Gadis itu mendapatkan sebuah perhatian karena baru saja terjadi sesuatu dalam hidupnya.
Namun ternyata, semua orang yang ada di rumah itu tidak memperdulikan dirinya. mereka membiarkan Mirna berada di kamarnya seorang diri. bahkan Nadira mengusulkan, agar Mirna dipasung. Karena Wanita itu takut, jika Mirna akan menyerang mereka karena menganggap mereka penyebab kematian putranya.
Namun, hal itu di langsung ditentang oleh Vicky. karena memang laki-laki itu masih menginginkan Mirna. lebih tepatnya menginginkan tubuh gadis itu. untuk dijadikan pelayan ranjangnya.
"kenapa kamu tidak ingin memasung dia?"tanya Nadira saat mereka berada di meja makan tengah menikmati sarapan.
Vicky yang mendengar itu, seketika menetap ke arah istrinya itu dengan tatapan tajam."jika aku memasangnya, apakah kau ingin menggantikan dia menjadi pelayanku?"bukannya menjawab, Vicky malah balik bertanya.
Sontak saja, hal itu membuat Nadira yang mendengarnya, seketika menggilingkan kepalanya."enak saja aku tidak ingin seperti itu."ucapnya Seraya bergidik ngeri membayangkan hidupnya akan seperti apa.
"makanya kalau tidak ingin seperti itu, lebih baik diam!"setelah mengatakan hal itu, Vicky segera melangkahkan kakinya untuk pergi. karena laki-laki paruh baya itu, akan memeriksa pekerjaan di tempat lain.
Sementara Nadira dan Marcella, pasangan ibu dan anak itu hanya saling pandang."sudahlah Bu, lebih baik turuti saja apa kata ayah."Marcella mencoba menenangkan ibunya.
Nadira yang mendengarnya, seketika tersenyum misterius. dan dengan segera, kedua wanita itu segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke tempat biasa untuk bersenang-senang.
*****
Sementara itu di dalam kamar, sepertinya Mirna tengah berbincang-bincang dengan seseorang.
"terima kasih ya Mbok. aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi pada anakku jika tidak ada bantuan dari Mbok Min."ucap Mirna Saraya tersenyum kecil. dan saat ini, Gadis itu tengah menggendong putra kecilnya.
Mirna seketika menerawang jauh. karena baru saja, melakukan rencana besar. yaitu menukar putranya dengan boneka bayi yang sangat mirip dengan aslinya.
Flashback on.
Setelah Mirna mengatakan ingin menyelamatkan putranya dari kekejaman itu, Mbok Min seketika berpikir keras. dan akhirnya tercetuslah ide.
__ADS_1
"Mbok Min seperti kamu memiliki barang bagus,"ucap wanita paruh baya itu Soraya melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar Mirna. dan tak berselang lama, wanita paruh baya itu kembali dengan membawa boneka bayi dan juga selimut yang ada di tangannya.
"untuk apa semua itu?"tanya Mirna dengan raut wajah kebingungan.
Mbok Min yang mendengarnya, tidak langsung menjawab. wanita paruh baya itu mengambil sebuah botol kapsul berisi cairan merah seperti darah. dan langsung mengucapkan cairan itu ke tangan Mirna dan juga ke baju gadis itu.
Hal itu membuat Mirna semakin merasa kebingungan. namun gadis itu tetap menuruti apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya itu. setelah selesai meleburkan cairan merah itu, Mbok Min mengangkat sebuah silet yang ada di tangannya.
"benda itu untuk apa Mbok?"tanya Mirna yang langsung mundur hendak menyentuh bayinya. Namun, hal itu dicegah oleh Mbok Min.
"sudah kamu diem aja,"Mbok Min segera menyayat leher boneka bayi itu. dan segera meleburkan cairan merah itu ke bekas sayatan itu.
Mirna perlahan-lahan mulai mengerti apa yang dimaksud oleh wanita paruh baya itu. membuat Gadis itu seketika tersenyum lebar.
"sekarang kamu ambil selimut itu,"tunjuknya pada selimut yang ada di samping boneka itu. dan dengan segera, langsung membungkus boneka bayi itu yang langsung terkena percikan cairan merah itu.
"Mbok Min akan menaruh di mana bayiku ini?"tanya Mirna mencoba menahan lengan wanita paruh baya itu. Karena bagaimanapun, dirinya akan berpisah dengan bayi mungil itu. walaupun itu tidak akan lama.
"kamu tenang saja, simbok akan mencoba membangun sebuah gubuk kecil di belakang rumah ini. semoga saja tidak akan ketahuan."gumam wanita paruh baya itu dengan melangkahkan kakinya dengan cepat.
Akhirnya, dengan cekatan Mbok Min segera membangun sebuah gubuk yang sangat kecil yang mungkin tidak akan terlihat dari depan sana. gubuk itu cukup untuk meletakkan bayi mungil itu.
Setelah selesai, Bu Min segera kembali ke dalam kamar lewat jendela kamar Mirna. dan dengan segera, mereka memerankan peran masing-masing.
"aaaakkhh! Bayiku!"teriak Mirna setelah diberi aba-aba oleh Mbok Min untuk segera memerankan peran.
Hal itu membuat Mbok Min seketika berlari keluar dari dalam kamar dan menghampiri Nyonya dan tuanya.
flashback off.
__ADS_1
Mbok Min yang mendengar itu, hanya menganggukkan kepala Seraya tersenyum tipis.
"sekarang kamu makan makanan yang bergizi ya,"ucap wanita paruh baya itu Seraya menyerahkan semangkuk bubur kacang hijau dan segelas susu kacang almond.
Mirna yang mendengar itu, segera melakukan kepala. dan menyerahkan putranya kepada Mbok Min.
"setelah ini, kamu harus kembali memerankan peran sebagai seorang wanita yang depresi."ucap wanita paruh baya itu Seraya menimang-nimang bayi mungil itu.
Mirna yang mendengarnya hanya mengangguk. dan mulai menyantap makanan itu hingga tandas.
Setelah selesai menghabiskan makanan itu, terdengar suara dari mesin mobil yang masuk ke pekarangan rumah. hal itu membuat Mirna dengan segera kembali berpenampilan acak-acakan. sementara Mbok Min, wanita paruh baya itu segera melompat dari jendela dan bersembunyi di semak-semak belakang rumah itu.
Tepat setelah Mbok Min berhasil keluar, pintu kamar Mirna berhasil dibuka. dan menampilkan kedua wanita itu yang saat ini menatapnya dengan tatapan sangat tajam dan juga berkacak pinggang.
"ada untungnya juga dia gila,"ucap Marcella Seraya melangkahkan kakinya untuk mendekati Mirna.
"iya sayang kamu benar, kita jadi tidak harus memberikan dia perawatan kulit."ucap Nadira Soraya tersenyum menghina.
Sementara Mirna, Gadis itu hanya terdiam seorang yang menetap kosong ke arah depan. tiba-tiba saja, gadis itu melompat ke arah kedua wanita itu.
"kembalikan anakku!"teriak Mirna histeris. hal itu sontak saja membuat Marcella dan juga Nadira yang mendengarnya, beringsut mundur.
"dasar gila!! ayo kita keluar dari sini!"teriak Marcella Seraya menarik tangan ibunya untuk keluar dari tempat tidur.
Dan setelah kepergian dari kedua wanita itu, membuat Mirna seketika Menghela nafas lega.
"syukurlah mereka percaya jika aku benar-benar gila!" gumam Gadis itu Soraya tersenyum kecil.
"seperti yang sebentar lagi kita akan segera keluar dari sini."ucap gadis itu Soraya tersenyum menatap ke arah jendela di belakang kamarnya itu.
__ADS_1