Derita Mirna

Derita Mirna
Melarikan diri


__ADS_3

Setelah laki-laki paruh baya itu tidak mengalami pergerakan, Mirna dan juga yang lain, segera mencoba untuk melarikan diri. namun sayangnya, pergerakan mereka harus terhenti. dengan kedatangan Nadira dan juga Marcella yang menatap mereka dengan tatapan nyalang.


"dasar gadis tidak tahu diri!"maki wanita paruh baya itu Seraya melangkahkan kakinya hendak menarik rambut Mirna.


Namun, dengan cepat Ridho menarik tangan Mirna hingga membuat tarikan itu terlepas. laki-laki itu segera menyembunyikan Mirna di belakang tubuhnya.


Karena memang, postur tubuh Ridho sangatlah besar dan juga tinggi. sementara postur tubuh Mirna, mungil dan juga kecil. hal itu yang menyebabkan Mirna, dapat dengan mudah bersembunyi.


"dasar gadis kurang ajar! sini kau!"teriak Nadira yang hendak menarik rambut Mirna kembali. namun dengan segera, tangan wanita itu segera ditepis oleh Ridho.


"jangan pernah kalian mengganggu Mirna. atau kalian mau, kalian akan aku laporkan ke polisi dengan tuduhan menyiksa dan menculik anak di bawah umur?"tanya Ridho Seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Sementara Nadira yang mendengar itu, seketika tersenyum miring."dasar anak bau kencur! Kau pikir kau bisa menekanku? jangan harap kau bisa menekanku!" seru wanita itu Soraya melayangkan tatapan tajam.


"aku tidak lagi menekanmu. ucapanku ini, adalah ucapan bersungguh-sungguh!"ucapnya Seraya menatap Nadira dan juga Marcella dengan tatapan tak kalah tajamnya.


Tiba-tiba saja, wanita paruh baya itu kembali tertawa terbahak-bahak. hingga membuat Ridho, seketika melangkah mundur Seraya menggenggam tangan Mirna yang terasa bergetar.


"dasar anak bau kencur!"hardik Nadira Soraya menatap tajam ke arah Ridho dan juga Mirna."asal kamu tahu, di surat perjanjian itu tertulis bahwa Mirna menerima semua keputusan yang akan dilakukan oleh suamiku. dengan kata lain, apa yang dilakukan suamiku selama ini, adalah murni atas kesepakatan gadis bau kencur ini."ucap Nadira Seraya menunjukkan Mirna.


Tentu saja hal itu membuat Mirna yang mendengarnya, seketika ingatannya terlempar kepada kejadian beberapa saat yang lalu. Sesaat, Setelah dia baru saja sah menjadi istri dari juragan Vicky.


"kau harus menuruti apa yang aku katakan dan apa yang aku lakukan. karena jika kau membantah, maka kau akan langsung aku seret ke jeruji besi"

__ADS_1


Begitulah kata juragan Vicky setelah mereka sah menjadi suami istri Beberapa bulan yang lalu. mengingat akan hal itu, tubuh Mirna seketika menegang. Gadis itu seakan baru saja tersadar dari sebuah kesalahan bodohnya.


"maafkan aku Ridho, tapi apa yang dikatakan oleh Nyonya Nadira itu memang benar. jadi sebaiknya kalian pergi saja dari sini."ucap Gadis itu Seraya menundukkan kepala.


"nggak, aku nggak mau ninggalin kamu sendirian di sini. kita sudah melakukan sejauh ini. jangan pernah membuat usahamu sia-sia hanya karena perasaanmu itu. karena terkadang logika harus dipakai terlebih dahulu. baru setelah itu, hati kita."setelah mengatakan hal itu, Ridho segera menarik tangan Mirna dan juga Mbok Min yang memang tidak jauh dari tempat itu.


"eh, jangan kabur kau!"teriak Nadira dan suka Marcella secara bersamaan. kedua wanita berbeda generasi itu, segera berlari dan berusaha menggapai tubuh salah satu di antara mereka.


Mirna yang melihat itu, seketika langsung menarik tangan Mbok Min dan mensejajarkan tubuh wanita paruh baya itu, diantara tubuh mereka. karena memang, di antara mereka bertiga itu hanya Mbok Min yang melangkahkan kakinya sedikit lelet.


Mungkin, hal itu dilandasi dengan faktor u alias faktor usia. Karena bagaimanapun juga, baik Mirna ataupun Ridho, mereka sama-sama anak milenial yang pastinya tenaganya masih sangat kuat. sementara Mbok Min, wanita paruh baya itu usianya hampir menginjak 50 tahun. jadi wajar saja jika berlari sedikit lambat dari yang lain.


"ayo mbok lebih cepat!"seru Mirna Soraya sesekali mata Gadis itu menatap ke arah belakang. di mana saat ini, Gadis itu melihat dua wanita itu tengah mengejarnya dengan beberapa pasukan yang ada di belakangnya.


Memang terkadang, perasaan seorang wanita itu, sangat sulit untuk ditebak. karena mereka rata-rata menggunakan hati bukan logika. tak berselang lama, mata Mirna seketika berbinar. saat Gadis itu tidak sengaja melihat angkutan umum yang baru saja lewat di hadapan mereka.


Karena saat ini, Mirna dan yang lain telah sampai di sebuah jalan raya yang cukup ramai. mata Mirna seketika menatap ke arah belakang. dan senyumannya semakin lebar saat tidak mendapati orang-orang itu.


****


Sementara itu di tempat lain, seorang wanita paruh baya juga tengah mencoba untuk melarikan diri.


"aku harus cepat!"ucap wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Wati. Wati sesekali menoleh ke arah belakang. memastikan jika suaminya, tidak lagi mengejarnya.

__ADS_1


"aku harus ke mana ini?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah kebingungan. saat kakinya telah melangkah jauh meninggalkan rumah itu.


"lebih baik aku segera berjalan terus. jangan sampai aku tertangkap dengan laki-laki b1@dap itu."gumamnya Seraya menoleh ke arah belakang beberapa kali.


Wati dengan segera melangkahkan kakinya semakin cepat menyusuri jalanan yang tampak sepi itu. wanita paruh baya itu berharap, jika dirinya segera menemukan orang baik yang ingin memberikannya tumpangan.


"Pak tolong saya!"ucap wanita berubah yaitu dengan raut wajah sedikit panik.


"mau ke mana Bu?"tanya sopir kendaraan umum itu dengan menatap ke arah Wati dengan tatapan menyelidik.


Karena laki-laki itu takut, apa yang dilakukan Wati adalah hanya modus semata. seperti berita-berita yang santer didengar itu.


"antarkan saya ke depan sana Pak!"ucap wanita itu dengan tubuh bergetar hebat. membuat sopir angkutan umum itu, sejenak terdiam. berusaha mengamati wanita paruh baya itu dari atas sampai bawah.


"Pak kenapa malah diam?"tanya Wati dengan tubuh semakin bergetar hebat.


"Wati tunggu kau!"teriakan dari seseorang dari arah belakang, sukses membuat Wati dan sopir angkutan umum itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.


"Pak ayo cepat! kalau saya tertangkap, saya akan langsung habis di tangannya."teriak wanita paruh baya itu dengan tubuh semakin menggigil ketakutan.


Akhirnya, mau tidak mau laki-laki paruh baya itu segera melajukan kendaraannya secepat mungkin. agar tidak dijangkau oleh laki-laki yang ada di belakang sana.


Untung saja, sopir kendaraan umum itu melajukan kendaraannya dengan sangat cepat. karena jika tidak, Wati tidak tahu lagi nasib apa yang akan ia terima nantinya.

__ADS_1


__ADS_2