Derita Mirna

Derita Mirna
Masalah Lagi


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Mirna dan juga Wati telah terbiasa hidup di tempat seperti itu. mereka sangat beruntung karena masih dapat merasakan bangunan yang membuatnya tidak kepanasan dan tidak kehujanan.


"apa kita akan terus tinggal di sini?"tanya Mirna saat mereka tengah berada di dapur Setelah berbelanja ke warung.


"kenapa? apa kamu tidak nyaman?"tanya Wati yang saat ini tengah menggoyang-goyangkan jarik yang mereka pasang untuk ayunan Susilo. putra dari Mirna.


Sementara Mirna yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala. karena memang bukan itu maksud dari pertanyaannya


"bukan bu, tapi aku hanya merasa, kalau kita tidak boleh tinggal di sini lagi. ini kan punya orang lain Bu, bagaimana nanti kalau orangnya marah kita menempati rumah ini?"tanya Mirna dengan raut wajah polosnya.


Wati yang mendengar itu, seketika hanya terkekeh pelan."kamu tenang saja sayang, kita tidak akan pernah diusir dari sini."ucap Wati dengan perasaan yakin.


sementara Mirna yang mendengar itu, seketika menautkan kedua alisnya."kenapa Ibu bisa seyakin itu?"tanya Mirna dengan raut wajah penasaran.


"karena rumah ini, sebentar lagi akan dihancurkan."ucap Wati Seraya menyerahkan beberapa lembar kertas yang ia temukan saat membersihkan rumah itu.


"ini adalah sertifikat milik pemilik rumah ini."lanjut wanita paruh baya itu.


Mirna yang mendengar itu, seketika hanya menganggukkan kepala."beruntung sekali kita bisa tinggal di sini,"ucap Gadis itu Seraya tersenyum kecil.


Mereka kembali melanjutkan aktivitas masaknya.


*****


Sementara itu di tempat lain, terlihat beberapa wanita paruh baya tengah berbincang-bincang dengan serius di sebuah warung kecil pinggir jalan.


"eh ibu-ibu apakah kalian tahu, Jika di rumah kosong pinggir jalan sana, ada dua orang wanita. sepertinya ibu dan anak,"ucap seseorang yang memakai kebaya warna putih.


"terus?"tanya yang lain Seraya menatap ke arah ibu berkebaya putih itu, dengan raut wajah kebingungan.


"sepertinya mereka sedang melakukan pelarian,"ucap ibu-ibu berkebaya putih itu dengan yakin.


"kenapa kamu bisa seyakin itu?"tanya yang lain.

__ADS_1


"karena di antara mereka, ada seorang bayi yang digendong oleh wanita paruh baya itu. Dan aku dengar, dia adalah warga yang diusir dari kampung lain karena perbuatan yang tidak terpuji."ucapan itu mulai mengompori ibu-ibu yang lain.


"terus apa masalahnya Bu? jika memang itu benar, itu adalah urusan mereka. kita tidak bisa ikut campur,"tiba-tiba saja si pemilik warung, ikut menimpali ucapan ibu-ibu berkebaya putih itu.


Membuat wanita paruh baya itu, seketika mendelik tajam. ke arah si pemilik warung. karena berkat ucapan pemilik warung itu, dirinya tidak bisa mempengaruhi ibu-ibu yang lain untuk mengusir dua orang itu.


Tidak kehabisan akal, ibu-ibu berkebaya putih itu segera memutar otak untuk mencari bahan ucapan yang lain.


"tapi bagaimana jika perilaku gadis itu diikuti oleh yang lain? akan jadi apa desa ini nantinya?"ibu berkebaya putih itu seketika tersenyum senang. saat mendapati, yang lainnya seperti terpengaruh.


"jadi apa yang harus kita lakukan?"seorang wanita paruh baya yang memakai baju berwarna hijau itu.


Berhasil, apa yang dilakukan oleh wanita berkebaya putih itu, akhirnya berhasil. dirinya berhasil untuk mempengaruhi pikiran para warga.


Memang, semenjak kedatangan Mirna dan juga ibunya itu, ibu berkebaya putih itu, langsung menatap mereka dengan tatapan tidak suka. entah apa penyebabnya.


****


"Bu ini masakannya sudah matang, sebaiknya kita segera sarapan. setelah itu, biar Mirna cari kerjaan."ucap Gadis itu Seraya tersenyum tipis.


"apa kamu tidak ingin bersekolah lagi?"tanya Wati Seraya menatap putrinya dengan tatapan iba.


Bagaimana tidak iba, putrinya baru saja akan lulus dari Sekolah Menengah Atas. dan itu akan beberapa bulan lagi terlaksana. namun, semua angan-angan itu pupus saat gadis itu dinikahi secara paksa oleh juragan Vicky. laki-laki yang lebih tepat, menjadi ayahnya itu.


Mirna yang mendengar itu, sejenak terdiam. dan tak berselang lama, Gadis itu menggelengkan kepalanya.


"saat ini aku tidak ingin membahas tentang itu, Bu!"ucapnya saya tersenyum getir mengingat akan masa depannya, yang telah hancur berkeping-keping itu.


"yang terpenting saat ini, kita bisa hidup dengan tenang dan tidak bertemu dengan orang-orang seperti itu,"imbuhnya.


Wati yang mendengar itu, segera mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang."semoga, jika nanti kita memiliki uang Ibu bisa menyekolahkanmu lagi,"ucapan Seraya tersenyum hangat.


Membuat Mirna yang mendengar itu, hanya dapat melakukan kepala."Ibu tidak usah khawatir."ujarnya tersenyum tipis.

__ADS_1


Tak berselang lama, terdengar suara pintu yang didobrak dari arah luar. dan tak berselang lama, terdengar kaca jendela yang dihantam oleh sesuatu.


brakk!!


prang!!


Seketika itu pula, Mirna terjingkat kaget. dan hal itu membuat putranya, seketika menangis kencang karena merasa terkejut.


"Ibu ini ada apa?"tanya Gadis itu dengan tubuh bergetar hebat.


"Ibu juga tidak tahu sayang, sebaiknya kita segera keluar saja."ucap Wati mencoba menenangkan putrinya. walaupun sebenarnya, wanita paruh baya itu juga merasa sedikit ketakutan.


"kenapa masalah selalu datang bertubi-tubi seperti ini?"tanya Mirna dalam hati. Gadis itu baru saja merasakan lega karena berhasil keluar dari masalah.


Namun, lihatlah sekarang. sepertinya Mirna akan kembali diusir dari tempat mereka berteduh ini.


"keluar kalian semua!"teriak salah seorang wanita paruh baya yang memakai kebaya berwarna putih itu.


"kenapa, ada apa?"tanya Wati dengan raut wajah kebingungan.


Dengan segera, wanita itu menceritakan maksud kedatangan mereka. tentu saja hal itu membuat Wati dan juga Mirna yang mendengar, seketika membulatkan kedua mata.


"lebih baik sekarang kalian pergi saja dari sini!"usir wanita berkebaya putih itu dengan amarah yang meluap-luap.


"tapi kan ini rumahnya jauh dari pemukiman kalian,"ucapati mencoba untuk membela diri.


"tidak kami tidak ingin, para generasi penerus kami berperilaku seperti salah satu diantara kalian. memiliki anak tanpa seorang suami!"tegas wanita berkebaya putih itu.


"tapi saya tidak,..."ucapan Mirna terhenti saat merasakan pergelangan tangannya digenggam erat oleh sang ibu.


Membuat Gadis itu seketika menoleh. dan mendapati gelengan kepala dari ibunya. tentu saja hal itu membuat Mirna yang hendak bersuara, seketika mengurungkan niatnya.


"sudahlah lebih baik kita pergi saja dari sini,"fisik wanita paruh baya itu kepada putrinya.

__ADS_1


Dan sekali lagi, Mirna mendapatkan hal seperti ini. dirinya harus keluar dari tempat berteduhnya. walaupun, tempat berteduhnya kali ini berada di pinggir kota.


"semuanya sudah beres!"kuman wanita berkebaya putih itu dengan tersenyum senang.


__ADS_2