Derita Mirna

Derita Mirna
Meminta Bantuan


__ADS_3

Beberapa hari pun, berlalu dengan sangat cepat. dan kondisi Mirna semakin lama semakin memburuk. dan hal itu membuat Mbok Min yang melihatnya, merasa sangat khawatir.


Wanita paruh baya itu, seketika berfikir untuk mencari bala bantuan. karena dua wanita iblis itu, semakin menggila dalam menyiksa Mirna. baik fisik maupun batinnya. dan hal itu membuat Mbok Min, semakin merasa khawatir.


Apalagi, Mirna baru saja melewati fase melahirkan. tentu saja kondisi itu membuat tubuh seseorang menjadi terguncang. "aku harus mencari bantuan segera,"ucap wanita paruh baya itu Seraya menatap ke arah Mirna yang telah tertidur lelap. dan di samping gadis itu, terdapat seorang bayi mungil yang juga ikut terlelap.


Memang Jika malam hari, Mbok Min akan menyerahkan bayi laki-laki itu untuk bersama ibunya. karena hanya malam hari itulah, Mirna dapat memberikan ASI kepada makhluk kecil itu. karena jika hari telah terang, maka mereka akan kembali memerankan perannya masing-masing.


Sebenarnya Mirna maupun Mbok Min, merasa sangat kasihan pada bayi mungil itu karena harus memberikan air putih di siang hari sebagai pengganti ASI. karena memang Mirna tidak diberi uang untuk berbelanja.


Karena menurut keluarga Vicky, Mirna hanyalah seorang pelayan dan seorang bud*k. Maka menurut mereka, tidaklah penting memberikan uang untuk gadis itu.


Setelah cukup lama Mbok Min mengamati dua orang yang tengah tertidur lelap di atas tempat tidur itu, wanita paruh baya itu segera melangkahkan kakinya untuk keluar dari kediaman Vicky.


"aku harus cepat!"gumam wanita paruh baya itu Seraya melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa. karena selain wanita itu tidak ingin ketahuan oleh para pegawai juragan Vicky, wanita paruh baya itu juga tidak ingin menimbulkan kegaduhan terhadap orang di sekitarnya.


Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir satu kilometer, wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya. dan dengan segera matanya awas menatap ke sekeliling. seperti seseorang yang tengah mencari sesuatu.


"ssshhhh aku tidak tahu harus mencari bantuan kepada siapa?!"gumam wanita paruh baya itu Seraya berjongkok di tepi trotoar itu.


"permisi ibu siapa, ya?"ucap seseorang tepat berada di hadapan Mbok Min. sontak saja hal itu membuat wanita paruh baya itu, seketika mendongakkan kepalanya. dan dengan segera, berdiri tepat di hadapan orang itu yang tak lain seorang laki-laki.


Mbok Min seketika terdiam. karena memang wanita paruh baya itu tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan selanjutnya. jika dirinya meminta bantuan kepada orang itu, wanita paruh baya itu takut akan semakin runyam masalahnya.


Namun jika tidak meminta bantuan, makam Mirna akan tetap menjadi budak dan juga menderita di dalam rumah itu. akhirnya setelah cukup lama, wanita paruh baya itu memutuskan untuk pergi meninggalkan laki-laki itu. karena Mbok Min merasa, laki-laki itu tidak bisa membantunya.


"Ibu maaf,"tiba-tiba saja suara laki-laki terdengar memanggil Mbok Min. membuat wanita paruh baya itu, seketika menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"kamu memanggil saya?"tanya wanita paruh baya itu memastikan. apakah laki-laki itu memanggilnya atau tidak. Mbok Min segera melangkahkan kakinya untuk mendekati laki-laki itu, saat mendapatkan anggukan kepala dari lawan bicaranya.


"ini tadi fotonya jatuh,"ucap laki-laki itu Seraya menyerahkan selembar foto kepada Mbok Min.


"oh terima kasih anak muda."ucap wanita paruh baya itu Seraya hendak memasukkan foto itu ke dalam saku bajunya. namun, gerakannya tiba-tiba saja terhenti. saat mendengar pertanyaan dari laki-laki itu.


"euumm Maaf Bu, jika saya lancang."ucap laki-laki itu seperti tidak enak hati.


"tidak apa-apa Mas, Mas mung bicara apa?"tanya Mbok Min Seraya menatap ke arah laki-laki itu.


"Itu foto siapa, ya?"tanya laki-laki itu memberanikan diri untuk bertanya.


"oh ini foto gadis yang sudah saya anggap seperti anak saya sendiri. memangnya kenapa?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah heran.


"itu seperti foto teman saya. apa namanya Mirna?"tanya laki-laki itu yang tak lain adalah Ridho.


Sementara Ridho yang melihat raut wajah dari wanita itu, segera mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan sebuah foto kebersamaan dirinya dan juga Mirna.


Tiba-tiba saja, Mbok Min menangis tersedu-sedu."Alhamdulillah ya Allah, akhirnya menemukan orang yang tepat."ucapnya yang masih tergugu.


Sementara Ridho, laki-laki itu tampak semakin kebingungan. karena merasa tidak mengerti dengan apa yang dilakukan wanita itu.


"memangnya ada apa?"tanya Ridho dengan hati-hati. karena laki-laki itu, tidak ingin dianggap kurang ajar atau tidak sopan karena mencampuri urusan orang lain.


"apa kamu bisa bantu saya?"tanya wanita paruh baya itu. yang langsung memperkenalkan diri dan juga menceritakan semuanya pada laki-laki itu.


Tentu saja hal itu membuat Ridho yang mendengarnya, seketika membulatkan kedua matanya. karena laki-laki itu tidak menyangka, jika gadis yang selama ini bersemayam di hatinya, telah mendapatkan nasib buruk seperti itu.

__ADS_1


"kalau begitu, kita harus cepat menyelamatkan Mirna dan juga bayinya."ucap Ridho Seraya menarik tangan wanita paruh baya itu.


"tunggu, kita tidak boleh gegabah!"ucap Mbok Min Seraya menarik tangan laki-laki itu. membuat si pemilik tangan, seketika berhenti.


*****


Sementara itu di tempat lain, terlihat seorang wanita paruh baya tengah terduduk di atas lantai dengan kaki terikat oleh rantai besi.


"tolong lepaskan aku!"teriak wanita paruh baya itu dengan kondisi memprihatinkan.


Tak lama berselang, terdengar suara pintu yang dibuka dari arah luar. dan tak berselang lama, seorang laki-laki masuk ke dalam ruangan itu. dia berjongkok menatap ke arah wanita itu yang lain adalah istrinya dengan tatapan garang.


"berani beraninya kau menyembunyikan Mirna!"ucap laki-laki yang tak lain adalah Roni itu mencengkeram dagu istrinya.


"Dia adalah anakku!"teriak Wati tepat di depan wajah Roni.


plak


Seketika itu pula, wajah wanita paruh baya itu tertoleh ke arah samping dengan kuat. setelah mendapatkan tamparan keras dari suaminya.


"berani kau berbicara seperti itu padaku?"ucapnya Seraya menarik rambut wanita itu.


Setelah itu, beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. membuat Wati, seketika menangis tersedu-sedu.


"aaaakkhh! aku ingin keluar!"teriak Wati dengan suara parau. wanita itu terus memikirkan bagaimana nasib putrinya saat ini.


"aku harus mencari bantuan!"gumam wanita paruh baya itu Seraya menatap ke arah sekeliling. memastikan ada celah atau tidak untuk melarikan diri dan meminta bantuan.

__ADS_1


__ADS_2