
"Aku menyukaimu Dawn" ucap Liam lembut sambil mengecup kening Dee "Tapi aku tidak tahu apakah ini perasaan cinta karena aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini. Bisakah kamu mengerti, Dek?" lanjutnya yang dijawab anggukan oleh Dee.
Setelah dari pub, Liam mengajak Dee ke pantai terdekat dari ibukota. Mereka berjalan menyusuri bibir pantai sambil bergenggaman tangan, layaknya pasangan yang lagi berkencan. Dengan Liam mengatakan seperti itu berarti tidak ada kejelasan status di antara mereka. Dee bisa mengerti, karena apa yang dirasakan hatinya sekarang sudah bisa diredamnya dengan baik-baik.
Liam baginya seorang yang spesial, dikaguminya, orang yang bisa diandalkan, namun tak terjangkau. Dengan satu ciuman dan kemesraan yang ditunjukkan oleh Liam, Dee seharusnya tidak bisa berharap banyak.
Biarkan saja mengalir, pikir Dee. Setidaknya sekarang Liam sudah berani mencoba mendekati wanita, jika nantinya pria jangkung ini benar-benar sembuh , Dee akan sangat bahagia. Walau bukan dirinya yang akan menjadi pilihan terakhir seorang Liam.
Aku akan menyayangimu dengan caraku, Kak.
...
Setelah memarkirkan mobil masuk ke garasi, Liam menatap Dee lekat.
"Tidur denganku yah, Dek," pintanya, Liam melirik jam di dashboard sudah menunjukkan pukul 4 pagi, mereka sudah lelah dan kenyang. Liam sempat membeli junk food dan mereka memakannya di perjalanan pulang.
"Kakak tidak capek yah, kalau aku temani tidur nanti malah tidak lelap," tolak Dee yang sebenarnya kangen dengan kasurnya, ia sudah memperkirakan akan tertidur hingga sore dengan lelah mendera badannya akibat jingkrak-jingkrak tak beraturan di pub.
Liam cemberut dengan mata menyipit, Dee menggelengkan kepala.
"Kakak itu umurnya berapa sih? Kekanak-kanakan sekali."
"Kita seumuran." jawab Liam spontan sambil terkekeh
"Yah, wajah kita memang tidak jauh beda kak, 11-12. 11 centi 12 kilometer." Gerutu Dee turun dari mobil, dan berjalan menuju rumahnya.
"Dek. Jadi? Aku tidur sendirian?" Teriak Liam yang bisa membangunkan tetangga, teriakan tidak di gubris Dee yang terus masuk ke dalam rumah.
Liam kembali cemberut dan menyalakan kunci alarm mobilnya. Ia pun berjalan gontai memasuki dalam rumah mewahnya -begitu Dee mengatakan.
Rumah mewahnya sekarang menjadi sangat besar dan tampak sepi untuk ditempati sendirian, Liam sudah tidak pernah lagi mengadakan party beberapa bulan terakhir. Entah kenapa ia tidak begitu tertarik dengan keramaian seperti itu lagi, party liar demi menunjukkan status sosialnya yang tinggi di kalangan para kaum jet set.
Liam baru saja menarik selimut untuk menutupi badannya dan sosok Dee berjalan di kegelapan menuju tempat tidur.
"Dawn! Kamu kesini." seru Liam kembali bangun dan menyalakan lampu nakas, gadis kecilnya sudah berganti pakaian, pijama berwarna hijau motif kembang yang terlihat nyaman untuk tidur telah membalut tubuh Dee.
"Kakak bilang mau ditemani tidur." kata Dee menghempaskan tubuhnya di tempat tidur setelah menaruh dompet berisi kunci rumah dan ponselnya di atas meja nakas.
"Kamu habis mandi yah dek, wangi. Segar." ucap Liam melingkarkan tangannya di atas perut rata Dee, dan kepalanya pas di bahu gadis kecilnya
"Gerah, jadi mandi. Selamat tidur ,Kak" ucap Dee lirih.
Tak lama kemudian mereka berdua tertidur, setelah lelah menghabiskan waktu bersama.
...
Bunyi telepon masuk yang membangunkan Dee, dengan mata tertutup dia meraba dompetnya di meja nakas. Dee mengucek pelan matanya menatap jam ponsel menunjukkan jam 2 siang, dan dia pun menggeser layar telepon genggamnya ke atas.
"Siang kak..." erang Dee baru akan menaruh ponselnya di telinga.
"Deeeee ! Kamu di mana? Kamar Abang?" Teriak Ricchi membuat Dee membuka mata total melihat layar ponselnya, dia pikir panggilan suara nyatanya adalah panggilan video.
Walau jendela besar kamar Liam belum terbuka, namun cahaya matahari tetap menyeruak masuk namun tidak seterang jika kain gorden itu terbuka.
"Ehhh...." Sahut Dee gelalapan, seketika ngantuknya hilang karena ketahuan "pacar" jika ia tidur bersama Liam.
"Yah, kami tidur bersama" gumam Liam mengambil ponsel dari tangan Dee, tak lupa menarik Dee masuk dalam rengkuhannya
"Dia pacarku bang. Kenapa kalian melakukan seperti ini ?" protes Ricchi penuh cemburu, wajah tampannya memerah.
"Dawn pacarmu di publik, di kehidupan sehari-hari dia adikku. Kami habis party semalam. So, biarkan kami istirahat dulu,"
Liam langsung mematikan panggilan sekaligus menonaktifkan ponsel Dee, lalu menaruhnya di meja nakas sampingnya.
"Kita tidur saja dek, dia tidak akan datang. Ricchi sedang di Bandung."
__ADS_1
Liam menepuk punggung Dee untuk melanjutkan tidur, mata mereka masih sangat berat menandakan jatah tidur belum sepenuhnya tercukupi.
...
Dee terbangun saat matahari sudah meredup dan tak ada Liam di sebelahnya. Sontak Dee terbangun dan berjalan ke kamar mandi menuntaskan panggilan alam.
Setelah mencuci muka, Dee mencari Liam. Model veteran itu terlihat sedang duduk di kitchen bar sambil membaca di notebooknya, tak lupa segelas americano di depannya.
"Pagi, Tukang Tidur." sapa Liam yang bisa merasakan kedatangan Dee walau ia tidak membalikkan tubuhnya.
"Sore sudah hampir menjelang malam kali." sungut Dee mengambil mug dan menuang kopi dari mesin coffee maker Liam, pria itu terlihat sengaja membuat lebih banyak kopi.
"Aku sudah pesan makanan, sebentar lagi sampai." Liam membuka ponselnya dan mengecek pengiriman via ojek online.
"Kakak tidak masak?"
"Aku lagi tidak stress Dawn, jadi kita makan dari luar."
Dee menyesap kopinya dengan tenang, ia terbiasa dengan suasana ini. Akhir pekan bersama dengan Liam.
"Dek, menurutmu menikah itu seperti yang kita lakukan sekarang ini?" Tanya Liam melirik Dee.
Dee hampir terbatuk mendengar perkataan pria di sebelahnya. Ia lalu menghela napas panjang.
"Sepertinya pernikahan bukan hanya menghabiskan semalaman bersama, tidur bareng, duduk di kitchen bar. Pernikahan itu lebih rumit dari ini, karena dua orang terikat komitmen, lahir dan batin, mereka harus mempunyai konsep yang sama untuk membina sebuah keluarga" ujar Dee asal, entah benar atau tidaknya namun itulah yang muncul di kepalanya.
"Andai menikah seperti ini Dawn, aku ingin menikah. Tapi denganmu." gumam Liam pelan.
Dee tersenyum simpul, ia menebak perkataan Liam hanya asal keluar dari bibir sutradara terkenal itu.
"Aku bahagia kakak sekarang sudah punya pikiran untuk menikah, suatu hari kakak akan tahu arti pernikahan sebenarnya dan semoga saat itu wanita yang kakak pilih mempunyai pemikiran yang sama." kata Dee dengan bijak, matanya bertatapan dengan Liam.
"Jadi bukan kamu wanita itu, Dek?"
...
Suatu awal minggu di mulai lagi, Team Mawar terlihat santai, semua pekerjaan mereka telah rampung minggu lalu. Dee memilih mengorganisir beberapa file lama sementara para pria sedang mengobrol di meja depan, terdengar seru membahas tim bola favorit masing-masing.
Beginilah nasib bekerja dalam satu team dan menjadi satu-satunya wanita, Dee merasakan kesepian. Namun di sisi lain ia merasa nyaman karena dirinya bisa fokus bekerja tanpa ada teman kerja wanita yang mungkin saja hanya akan membahas kosmetik kekinian, perawatan ini itu, dan pastinya akan penasaran akut dengan hubungannya dengan Ricchi.
Berbicara tentang "pacarnya" sejak sabtu siang Ricchi tidak menghubunginya lagi. Dee jengah dan tidak percaya diri untuk memulai menghubungi aktor itu.
Sebuah ketukan pelan di pintu dan hanya Dee yang mendengarnya, para pria tak bergeming dari tempat mereka.
Dee pun beranjak membuka pintu, seorang pria berjaket hijau menyodorkan bungkusan yang sama beberapa hari lalu di dapatkannya
"Mbak Dee ya? Paket makanan dari Tom Cruise," ucap mas di depannya terkekeh pelan namun tetap sopan.
"Terima kasih, Mas"
"Sama-sama, Mbak,"
Dee menarik kertas yang menempel di atas paket bentonya.
One day I caught my self smiling for no reason then I realized I was thinking of you.
Tom Cruise
Dee tersenyum merekah, hatinya menghangat. Ricchi konsisten dengan perkataannya dengan tetap mengirimkan paket makan siang.
Dia mengirimkan foto bentonya saat jam makan siang, namun Ricchi tidak membalas bahkan pesannya tidak dibaca oleh pria itu hingga jam istirahat berakhir. Entah kenapa hatinya merasa sangat kecewa.
...
__ADS_1
Kurang 30 menit jam kantor berakhir namun ruangan Team Mawar telah kosong, kecuali Dee yang tetap bertahan. Para pria memilih menunggu jam pulang kantor di lantai bawah sembari berbincang. Benar-benar santai, namun ada kala pekerjaan mereka sangat banyak hingga subuh tiba, dan Team Mawar masih berkutat dengan pemeriksaan.
Dee mematikan komputernya persis ketika jam di dinding menunjukkan pukul 5 sore. Ia sempat keasyikan bermain game yang diinstall khusus di PCnya. Setelah memastikan tidak ada barang yang ketinggalan, Dee berjalan menuju lift bersama beberapa pegawai dari divisi lain. Sambil menunggu Dee membuka ponselnya, notifikasi pesan terpampang di layar datar tersebut.
Ricchi
Aku menunggu di depan kantormu, Dek
Sontak jantungnya berdebar tak karuan, dengan gelisah Dee menanti pintu lift terbuka.
Dia bisa melihat Wahyu sedang berbincang dengan genk gosipersnya di depan pintu masuk kantor, Dee melewati orang-orang tersebut sembari setengah berlari menuju ke jalanan luar.
Dee tidak melihat mobil yang biasanya Ricchi pakai.
"Dekkk." Seru Ricchi keluar dari pintu geser mobil Alphard berwarna hitam, aktor dengan senyuman mematikan itu berjalan mendekat dengan sebuah buket berisi bunga mawar merah.
Dee tidak perduli jika kedatangan Ricchi menjadi perhatian para pegawai kantornya, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya dengan kejutan tiba-tiba dari aktor tampan itu.
"Buatmu, Dee" ucap Ricchi mengulurkan buket bunga tersebut dengan senyumannya "Kamu tahu betapa aku merindukanmu." tambahnya menundukkan pandangannya sejajar wajah gadis yang membuatnya tidak bisa tidur nyenyak selama dua malam.
Dee gugup, lidahnya kelu tapi matanya memuja penuh kekaguman kepada seorang Ricchi. Aktor yang sangat romantis, entah ini akting atau bukan, namun ia sungguh terbawa suasana. Debaran itu kembali muncul di dadanya.
"Mana kunci mobilmu, Dek?" Pinta Ricchi menaikkan tangannya, Dee pun membuka tasnya dan memberikan kunci mobil dengan gantungan miniatur spiderman.
"Bahkan superhero kita pun sama." kata Ricchi tertawa ringan sambil mengacak rambut Dee pelan.
Keduanya tersenyum lebar, melangkah menuju parkiran mobil. Ekor mata Dee sempat menangkap bagaimana Wahyu dan gengnya menatap mereka tanpa berkedip.
Kalian minta aku kasih ! Tawa jahat Dee dalam hati.
...
"Tunggulah aku di sini, Dee. Mandi dulu, gerah." kata Ricchi membuka pintu kamar berwarna putih.
Ya, sang aktor akhirnya menculik Dee ke apartemennya. Sebelumnya pria itu telah meminta ponselnya sesaat di perjalanan menuju bangunan megah yang berada di pusat ibukota.
Decak kagum Dee melihat kamar khusus untuk bermain game milik "pacarnya", yang tidak tanggung-tanggung. Ia pun kemudian mengambil posisi bersila di atas karpet dan memainkan game favoritnya.
Aroma maskulin memeluknya dari belakang beberapa saat kemudian, kedua paha Ricchi mengunci tubuhnya. Sang aktor menjatuhkan kepalanya di bahu Dee.
"Dee." Ucap Ricchi pelan kedua tangan pria itu melingkar di perut Dee, sangat intim. Ia bisa merasakan wangi nafas mint menguar di hidungnya.
Dee meletakkan stik gamenya, ia tidak bisa berkonsentrasi dengan tubuh Ricchi menempel pada badannya.
"Dek." Ricchi membalikkan tubuh Dee menghadap pria itu, jemari mereka saling bertautan, mata bertatapan menyelami perasaan masing-masing.
"Aku merindukanmu. Jujur, melihatmu tidur dengan Abang membuat hatiku sakit, aku yakin Abang tidak melakukan apa-apa. Tapi tolong hargai perasaanku, aku adalah pacarmu. Jangan berpikir kita cuma bersandiwara. Tidak, aku tidak menganggap hubungan kita hanya sandiwara, Dee" ujar Ricchi jujur, bukan akting terbaca dari matanya, ini murni adalah ungkapan sebuah perasaan.
"Kak." Cicit Dee "Maafkan aku."
Ricchi tersenyum simpul menguraikan genggaman mereka, tangan pria itu lalu menyisir wajah Dee.
"Aku tidak sesantai Abang, yang mempunyai banyak waktu untuk bersamamu Dee. Tapi aku berusaha hadir di waktu luangku. Mulai hari ini kita tidak bersandiwara, bukan akting untuk dunia di luar sana" kata Ricchi lembut.
"Kak." Ucap pelan Dee dengan debaran jantung yang memompa lebih kencang
"Aku mencintaimu, Dee."
###
di kehidupan nyata, author lebih suka Ricchi loh 😅
__ADS_1