DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Put a Little Love On Me


__ADS_3

Kekasih Liam terdiam sembari menggigiti bibir, tak berani menaikkan wajahnya. Dee bersikap seperti itu ketika Liam mengatakan harus kembali ke Indonesia besok lusa. Pengerjaan film yang dikerjakan oleh timnya telah memasuki tahap akhir dan sangat membutuhkan kehadiran Liam.


"Sayang." Ucap Liam lirih, ia pun sangat bersedih harus berpisah dengan kekasihnya. Pilu membayangkan 9.306 kilometer jarak yang memisahkan mereka.


"Kak." Tangis kecil Dee menjatuhkan kepalanya ke dalam dada Liam "Aku sudah terbiasa ada kakak menemani. Bagaimana bisa melewati hari tanpa kakak." sambungnya terisak lebih kencang


Liam mengeratkan pelukannya, ia pun mencium dalam puncak kepala Dee


"Kakak akan cepat kembali Dawn." sahut Liam dipenuhi keraguan, karena ia tahu pekerjaan yang menantinya tidak mudah. Akan memakan waktu paling sebentar 3 minggu, itu pun jika dikerjakan secara marathon.


"Aku tahu kakak bohong."


Kekasihnya pun tersedu seolah sedang berduka se Indonesia Raya.


"Sedalam inikah cintamu kepadaku, Dawn?" Liam merunduk menangkup wajah Dee yang memerah dan mata indah membengkak dan berair


Dee melengkungkan bibirnya ke bawah menganggukkan kepalanya.


"Aku mencintaimu, gadis kecil. Sangat mencintaimu."


Liam lalu memagut bibir Dee, menjelajah setiap sudutnya.


"Ikutlah denganku." Ucap Liam memandangi bibir kekasihnya yang makin memerah karena ciuman panjangnya, bibir yang sangat seksi.


"Engg." Mata Dee sendu mendengar Liam mengucap dua kata itu


"Dan kita takkan terpisah lagi Dawn, setiap pagi bisa melihatku, setiap saat memelukmu seperti ini, menemanimu kemana pun engkau pergi dek"


"Indonesia?"


"Jakarta."


Dee terdiam dan kembali membaringkan kepalanya di dada Liam, matanya terpejam meresapi wangi maskulin manis milik kekasihnya. Pikiran Dee melanglang buana, tak bertujuan tak pula bermuara.


...


Kemanjaan Dee menjadi-jadi kepada Liam, gadis kecilnya terus melengket seperti perangko kemana pun ia bergerak di dalam apartemen. Bahkan saat Liam menyiapkan makanan, ada Dee memeluknya dari belakang.


"Dulu kakak pikir kamu orangnya dewasa, ternyata sangat manja. Manja sekali." ucap Liam tertawa kecil


"Kakak tidak suka, aku seperti ini?" Sahut Dee memberenggut


"Suka, malah makin cinta" jawab Liam menarik senyuman di bibirnya


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini dengan Kak Liam. Padahal umurku sudah 28 tahun tapi seolah berjalan mundur saat denganmu kak. Padahal dulu kakak yang manja, sampai disuapi segala"


Liam manggut-manggut sambil tertawa kecil


"Tanda cinta." Liam bergumam bahagia, perasaannya bersambut sama dalamnya, apalagi yang diinginkannya sekarang kecuali memiliki 24/7 kekasihnya, sah.


"Ya karena aku cuma punya kakak. Karena aku tahu kakak juga mencintaiku. Tidak ada yang kusembunyikan, semuanya keluar kutunjukkan kepada kakak." gerutu manja terdengar seperti melodi indah di telinga pemilik punggung panjang tempatnya bersandar


Liam lalu berbalik memeluk Dee, sebelumnya terlebih dahulu mematikan kompor.


"Terima kasih Belviyah Dawn Ragala, kekasihku. Seumur hidup bermanjalah kepadaku, tolong ingatlah hari ini dengan baik. Simpan dalam memori terkuatmu, untuk kamu ingat ketika kita telah menikah puluhan tahun kemudian. Jika hari ini kita berteguh pada perasaan yang sama, cinta yang besar dan ketakutan untuk terpisah oleh jarak."


...


Masuklah, cuaca dingin sekali sayangku

__ADS_1


Bunyi pesan Liam, melihat Dee masih berdiri di pinggir jalan, sementara taksi yang mengantarkan menuju bandara beranjak menjauh dari kantor kekasihnya


Dee


Aku mencintaimu kak..


BF


Sama.. aku mencintaimu Dawn. Sekarang masuklah, bekerja dengan fokus. Kakak akan terus menemanimu lewat pesan.


Dee mengusap air matanya menggunakan coat pada bagian tangan, dengan malas dan tak bergairah. Ia pun melangkahkan kaki memasuki gedung yang mengekang kebebasannya.


Hati kecil Dee memerintahkan untuk berlari mengejar taksi Liam dan melepaskan semua apa yang dipunyainya di Moskow yang membeku ini, karier, apartemen yang selalu menjadi tempat favoritnya.


"Jadi akhirnya dia pulang juga?" Suara di samping Dee, tak lain milik Andrey si pria tampan bermanik abu. Pria itu telah melihat drama pelukan lama manager audit dengan kekasih jangkungnya, pria berwajah asia yang selalu setia menemani Dee selama 6 minggu.


Dee menoleh menatap sesaat pria itu dengan mata berairnya


"Don't be cry gadis cantik.. Kekasihmu pasti akan kembali." hibur Andrey tak segan merangkul bahu Dee, perilaku yang menjadi perhatian para pegawai RusiaDirect melihat adik CEO tak lain sang manager keuangan sedang melewati batas keakraban sebagai rekan kerja dengan manager audit.


"Ada aku jika kamu kesepian, apa saja yang kamu butuhkan. Pelukan? Ciuman? Hmmm... Apalagi yah?" Lanjutnya menggoda pegawai favorit RusiaDirect yang mendengus kasar usai mendengar perkataannya


Dee melepaskan tangan Andrey dan berjalan cepat menuju lift, Andrey pun tergopoh mengejar gadis asia nan cantik itu.


"Pikirkan apa yang aku ucapkan tadi, kapan pun aku siap. Telepon aku, atau kirimkan pesan jika kamu butuh." bisik pelan di telinga Dee sesaat mereka berdampingan di dalam lift, sementara didalamnya penuh dengan pegawai Rusia Direct Company.


Dee hanya membulatkan matanya sambil meringis ke arah Andrey. Pria tampan itu pun tergelak tawa yang membuat seisi lift menoleh kepada mereka berdua.


...


Dee baru saja melepas boot yang dipakainya seharian di kantor dan bunyi bel apartemennya berbunyi.


Tubuh Dee menegang melihat sosok pria yang berdiri di depan pintunya.


"Hai Dee." sapa Ricchi menaikkan tangannya dengan senyuman merekah yang memabukkan milik pria tampan di depannya


"Kak Ricchi." sahut Dee dengan tatapan kosong, linglung. Ia seolah tidak mempercayai penglihatannya, bagaimana bisa seorang Ricchi mengetahui tempat tinggalnya, terlebih ini adalah Moskow.


"Ya aku." ucap Ricchi dengan mata sendu yang bertahan dengan lengkungan indah bibirnya.


Tubuh tinggi bercoat coklat dengan syal hitam tebal kemudian menurunkan badannya, mengecup pipi Dee dengan lembut.


"It's been a long time darling." Lanjut Ricchi memeluk tubuh gadis yang sangat dirindukannya


Kedatangannya ke Moskow adalah kali kedua untuk Ricchi, di tengah padatnya jadwal syuting di Los Angeles. Dimana kedatangan pertamanya, selama 3 hari berturut-turut dia membuntuti Dee dan Liam, mengamati gerak-gerik keduanya dari kejauhan.


Setelah mendapatkan info dari sekretaris Farubun Pictures bahwa Liam telah kembali ke Jakarta, saat itu pula Ricchi meminta managernya untuk mengosongkan jadwal selama seminggu kedepan.


7 hari mengejar cinta, judul film kisah nyata Ricchi saat ini.


...


Sesaat kemudian keduanya terdiam di sofa, Dee segan bertanya dan memutuskan untuk tidak memulai percakapan, bibirnya kelu dan seperti ada biji kedondong tersangkut di tenggorokannya.


Dee tahu Ricchi terus memandangi wajahnya, hal itu pula yang membuatnya berkeringat sementara Moskow tengah berada di suhu terendah musim dingin tahun ini.


"Dee."


Tak ada jawaban dari gadis cantik yang sedang tertunduk di sebelahnya

__ADS_1


"Hei, aku tidak tahu kalau seorang Belviyah Dawn menjadi pendiam seperti ini sekarang" ujar Ricchi menyikut pelan tubuh Dee


Kepala Dee terangkat dan memandang ke arah wajah rupawan milik sang aktor, kedua mata saling memandang dengan lekat. Cairan bening pun menyeruak dari kelopak mata Dee.


"Maafkan aku kak." ucap Dee pelan, separuh berbisik disertai isakan.


Kedua tangan kokoh Ricchi kemudian merengkuh tubuh Dee


Debaran jantung berdegup kencang dengan nyata Dee dengar sesaat dalam tubuh pria tampan itu.


"Jujur aku tidak tahu harus bersikap apa kepadamu dek. Karena di hatiku, ada marah, kecewa, terluka, sayang, rindu dan cinta. Di satu sisi aku tidak terima, terluka dengan kepergianmu di saat aku sangat serius denganmu. Di satu sisi lagi, aku masih merasakan perasaan yang sama kepadamu Dee, bahkan 3 tahun telah berlalu tapi aku masih mencintaimu." ungkapnya jujur, hati melega setelah mengutarakan semua isinya.


"Kakak sudah bertunangan." ujar Dee dalam pelukan erat pria yang sebagai mantan kekasih sekaligus mantan terindahnya.


"Kamu tahu?" Ricchi mengelus lembut punggung Dee


"Semua orang tahu."


"Dee-ku pun telah bersama dengan abang"


Tubuh Dee bereaksi saat mendengar kata Ricchi, ia kemudian berusaha melepaskan diri.


"Ini tidak benar kak, kita berdua sudah ada yang memiliki." protes Dee namun tak kuasa melawan eratnya pelukan Ricchi


"Tidak ! Dari dulu kamu masih milikku hingga sekarang. Kita tidak pernah benar-benar berpisah, aku tidak menerima pemutusan sebelah pihak seperti itu. Tidak adil Dee, ini tidak adil untukku. Sedikit pun tidak ada pembelaan dariku untuk mempertahankan hubungan kita. Kenapa kamu meninggalkanku dek? Di saat aku sudah ingin melamarmu menikahimu, membangun rumah tangga denganmu!"


Ricchi menangis, tangisan bukan sebuah sandiwara di film yang dibintanginya. Tangis yang murni dari lubuk hati terdalam, hal yang selama ini membuat dirinya kalut.


"Demi Tuhan Dee, aku mencintaimu! Kenapa kamu tega berbuat seperti itu sayang! Aku salah apa padamu?"


Ricchi mengeluarkan semua kesedihan yang mendera jiwanya selama 3 tahun ini.


"Hahhhhh." Tubuh Ricchi tersengal lalu melepaskan pelukan dan beranjak dari sofa. Sang aktor itu berjalan menuju jendela, masih dengan tangisannya.


Dee terisak sedih, perlahan perasaan yang terkubur mulai muncul ke permukaan.


Selama ini ia tidak pernah berpikir jikalau Ricchi terluka dalam akan perbuatannya. Mendengar dari Farah Dewi bahwa Ricchi telah menjalin hubungan dengan sesama selebriti membuatnya menarik napas lega, dan itu pula membuatnya move on dan mengubur cinta sang aktor dalam pusara hatinya.


Ricchi kembali berjalan mendekat, kali ini sang aktor duduk bersimpuh di depannya lalu meletakkan tangannya pada paha Dee.


"Kamu masih mencintaiku kan Dee?" Ricchi dengan tatapan menghiba memandang gadis yang matanya juga berair


"Kak Liam... Aku mencintai kak Liam" ucap Dee sambil mengangguk pelan


Kedua tangan gadis itu lalu digenggam erat oleh Ricchi


"Tidak, bukan itu jawaban yang aku ingin dengar dek. Tolong lupakan semua orang yang tidak ada di sini. Di ruangan ini, hanya ada kamu dan aku. Peduli setan dengan apa di luar sana, sekarang cuma aku dan kamu Dee! Kita berdua" ucap Ricchi tegas namun mendayu, ia kemudian menciumi kedua tangan gadisnya, cinta dalam hidupnya.


"Kak." Dee bergumam, kembali keduanya saling memandang dengan dalam


"Cintai aku Dee, walau itu sedikit."


###


team Liam ?



team Ricchi?

__ADS_1



__ADS_2