DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
My Love


__ADS_3


"Wowww, ini rumah kakak ?" Seru Dee berdecak kagum melihat bangunan berdinding bata coklat yang dirambati oleh pohon dollar yang rimbun.


"Hei.. ini rumah Papa dan Mama. Rumah kita ada di Jakarta, Wifey." Sahut Liam sambil membayar ongkos taksi sementara istrinya sedang terpana melihat kediaman tempat ia dilahirkan.


"Kenapa kakak meninggalkan ini semua demi Jakarta." Dee tertawa kecil mengulang kata-katanya.


"Hei Belviyah Dawn berapa kali aku katakan jika aku tidak akan mempunyai istri yang sangat cantik jika terus tinggal di kota ini. Hidupku akan menyedihkan, entah apa yang aku kerjakan jika bertahan disini. Mungkin aku akan berkuliah jurusan umum seperti ekonomi, kemudian bekerja kantoran seperti halnya papa dan mama."


Dee menoleh menatap wajah suaminya lalu menggenggam jemari langsing itu.


"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi andai tidak bertemu denganmu kak. Mungkin sampai sekarang aku masih di Kantor Akuntan itu, atau mungkin telah menikah dengan Angga."


Liam memberenggut kesal mendengar perkataan Dee.


"Aku cemburu Dawn." ucapnya jujur "Bagaimana pun aku harus bertemu denganmu. Dan kamu akan tetap berakhir menjadi istriku."


"Ini baru suamiku yang posesif." Dee terkekeh ringan


Wajah Liam pun kembali cerah akan pengakuan suami dari wanita cantik itu. Dengan semangat Liam mengangkat kedua koper mereka, ia tidak tega menggusur kerikil halaman favorit mamanya.


...


Liam menyalakan macbooknya memilih bekerja di tempat tidur sembari menunggu istrinya bangun. Dee terlelap karena kelelahan karena perbuatannya juga. Adalah Liam yang tak pernah merasa puas untuk terus mencumbui istrinya. Sebuah kewajaran sebagai pasangan baru, namun Liam yakin seumur hidup tidak akan pernah bosan dengan wanita bertubuh seindah istrinya.


Kedua alis Liam berkerut membalas email dari para pegawai Farubun Pictures dan beberapa email dari negara yang bertetangga dengan Kanada. Email yang berisi permintaan Liam menjadi sutradara sebuah film yang akan digarap di Amerika. Ia pun membuka file attachment dan membaca sekilas skenario pendek film tersebut. Tak lama kemudian seolah ada yang membakar jiwanya.


Dia menginginkan film itu !


Gerakan halus di sebelahnya menyadarkan Liam, istrinya terbangun. Bola mata indah milik Dee terpaku menatapnya dan dengan cepat Liam menaruh macbooknya ke atas meja nakas.


"Selamat sore, Wifey ." Liam menyusup lengannya pada tubuh Dee dan menariknya masuk ke dalam dekapan


"Jam berapa sekarang kak ?" Gumam Dee mengecup lembut leher suaminya.


"Jam 4 sore Dawn." Liam mengecup puncak kepala Dee, menyesap wangi surai hitam milik wanitanya.


"Oh Tuhan, kita tidak mempunyai bahan makanan kak. Aku malah tertidur selama dua jam, harusnya kakak membangunkanku."


Liam mengecup puncak hidung istrinya lalu tertawa kecil "bagaimana bisa aku mengganggu tidurmu sayang, kamu begitu lelap. Hingga ngorok."


"Aku tidur ngorok ya, kak?"


Liam menarik bibirnya ke dalam, kemudian menggelengkan kepala.


"Tidak. Aku bercanda Wifey. Ya sudah kita bangun dan mandi lalu pergi berbelanja, mungkin sekalian makan malam juga. Jadi kita tidak perlu memasak di rumah."


"Kakak mengambil libur masak ?"


"Tentu saja Dawn. Aku masih berbulan madu. Belum jadi seorang ayah dari rumah tangga kita. Biarkan kakak menikmati masa-masa ini dulu." Ucap Liam bangun dan menggendong istrinya menuju kamar mandi.


...


"Kamu tak hentinya kagum dengan kota ini Dawn. Apa sudah melupakan Jakarta ? Atau ingin kembali ke Moskow ?" Tanya Liam menggenggam jemari istrinya yang sibuk mengamati toko-toko pakaian yang berjejeran di sepanjang jalan disusurinya. Mereka memilih berjalan setelah menyantap menu makan malam yang sangat enak yaitu salmon and smashed potatoes.


"Aku tidak melupakan Indonesia kak. Tapi sejak tinggal di Moskow, aku jadi suka dengan keteraturan orang-orang luar. Jadi suka jalanan yang tidak ramai. Jika mendengar penuturan Kak Liam yang suka dengan ramainya kota Jakarta, aku malah sebaliknya. Kita benar orang yang berbeda yah kak. Tapi kenapa aku bisa sangat mencintaimu."


Liam menangkup wajah Dee dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Bukankah jika terlalu sama malah membosankan, Wifey. Kita yang berbeda malah bisa mempunyai bahan pembicaraan dan sudut pandang yang lain. Nanti kedepannya, jika aku meminta pendapat kepadamu pasti dari pemikiranmu yang berbeda aku bisa mendapatkan keputusan terbaik. Bukan begitu Dawn ?"


Dee mengulum senyum menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ia sungguh mencintai pria jangkung itu.


"Jika kamu sangat menyukai tinggal di luar negeri, aku sebenarnya mendapatkan tawaran menyutradarai sebuah film. Dan syutingnya mungkin akan di States - Amerika."


Baru saja Dee akan menanggapi namun sebuah tepukan di bahu suaminya membuat mereka menghentikan pembicaraan.


"Liam !" Seru seorang pria hampir sama tinggi dengan suaminya. Kedua pria itu langsung berpelukan sambil tertawa

__ADS_1


"Hendrik !."


"Comment vas-tu ?" - apa kabarmu ?


"Je vais bien merci, et vous? -kabarku baik-baik saja, bagaimana denganmu ?


Dee hanya bisa menganga namun menutup bibirnya sembari mendengar percakapan kedua pria dewasa tersebut.


Dee pun dikenalkan namun dengan menggunakan Bahasa Inggris, hanya sekitar 10 menit pria bernama Hendrik pun mengucapkan salam perpisahan.


"Aku tidak tahu jika kakak bisa berbahasa Perancis !" Dee berseru dengan mata menari


Liam terkekeh ringan "Tentu saja bisa, Wifey. Aku orang Kanada. Bahasa kedua negara ini adalah Bahasa Perancis setelah Bahasa Inggris."


"Tapi baru pertama kali mendengarnya. Kak Liam, aku jadi makin cinta !" Ucap Dee jujur, hatinya berdesir mendengar Liam menggunakan bahasa yang tidak dimengertinya walau tadi hanya sebuah percakapan biasa namun semua terdengar romantis di telinga.


Liam tergelak tawa kemudian merangkul tubuh istrinya


"C’est à tes côtés que je veux construire ma vie, que nous avancions main dans la main." Liam berbisik di telinga Dee membuat wanita cantik itu tersenyum merekah


"Ah kakakk ." Dee tidak bisa menutupi letupan bahagia karena ucapan suaminya


"Kurang lebih artinya, aku ingin membangun hidup denganmu, dan melangkah bersama."


Lagi Dee membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan pria yang sangat romantis.


...


Pada malam harinya, setelah memasukkan belanjaan ke dalam lemari pendingin. Dee membuatkan teh buat suaminya yang terlihat sibuk dengan macbooknya di island table.


"Thank you, Wifey." Liam bergumam sembari membalas email.


Dee memotong chocolate cake yang dibelinya di bakery langganan keluarga Farubun usai mereka berbelanja kebutuhan rumah.


"Maafkan kakak Dawn, mengacuhkanmu bahkan ini masih momen bulan madu kita dan aku sudah sibuk mengurusi pekerjaan. Sekali lagi maafkan aku, Wifey." Liam melirik istrinya yang juga mengarahkan pandangan kepadanya.


Liam mengulum senyum kemudian mengecup pipi istrinya.


"Kamu wanita yang sempurna untukku, Wifey. Tahu tidak, aku sedang berkomunikasi dengan produser besar di Hollywood. Beliau yang akan mendanai film yang aku katakan tadi sore. Film ini sangat-sangat besar Dawn." Mata berbinar Liam menceritakan project film yang kemungkinan besar akan disutradarainya.


"Aku akan mendukungmu kak."


"Jika aku mengambil kesempatan ini, kita akan tinggal di Los Angeles, Dawn. Apakah kamu keberatan dengan kesempatan ini? Jika kamu menolak, kakak tidak akan mengambilnya sayang."


Dee menyaksikan sendiri betapa besar keinginan Liam ingin terjun pada film itu, semua tersirat jelas pada raut wajah suaminya. Dan sebenarnya Hollywood adalah salah satu kota yang ingin Dee datangi, ibarat pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


"Take it suami ! Ambil peluang itu." Deee meremas jemari tangan Liam


"Sungguh ?" Tanya Liam, wajah sang sutradara tersebut merona bahagia.


"Tentu saja Kak." Dee mengeratkan genggaman tangannya, menyakinkan kepada Liam bahwa sepenuhnya ia mendukung keinginan pria bermata sipit itu.


"Kalau begitu kita harus mencari tempat tinggal, single home atau apartemen ?" Liam sekarang menutup emailnya dan membuka website pencarian rumah.


Dee memilih menyandarkan kepala pada bahu Liam sembari menatap layar macbook yang telah memunculkan berbagai macam property di Hollywood.


...


Hanya tiga minggu berselang setelah pembicaraan tentang project film suaminya, Dee akhirnya menginjakkan kaki di Los Angeles. Mereka pun sepakat untuk sementara waktu menyewa apartemen, sembari mencari rumah yang cocok untuk Nyonya Farubun yang cantik.


Ketika suaminya sedang bekerja yang masih dalam tahap pembahasan dengan para jajaran atas proyek filmnya, Dee menyibukkan diri dengan berbelanja kebutuhan untuk apartemen mereka. Hanya berupa pernak-pernik penambah dekorasi. Dee akhir-akhir ini sangat tertarik dengan design interior dan tak jarang waktu senggangnya dipakai untuk membuka halaman pencarian di ponsel tentang minat barunya itu.


Setelah menghabiskan ribuan dollar di toko perabotan rumah tangga, Dee menyusuri Melrose Avenue sembari menunggu Liam menghubunginya. Suaminya yang dua jam lalu mengatakan akan pulang bersama ke apartemen.


Sementara itu..


Ricchi bersandar dengan malas di kursi mobilnya, ia memilih diam setelah hampir 80 jam berada di lokasi syuting. Walau di lokasi disediakan mobil van yang sangat mewah untuknya beristirahat namun Ricchi tidak bisa tidur banyak dengan padatnya jadwal syuting yang telah berada pada tahap akhir.


Sejenak matanya menoleh ke arah jalan yang dilewati menuju kediamannnya, sesosok tubuh yang berdiri di bahu jalan membuat Ricchi menegakkan badannya.

__ADS_1


"Dee !" Serunya, namun mobil yang disetiri Mike, managernya terus melaju.


"Itu tidak mungkin Mbak Dee. Berkali-kali aku berputar arah hanya karena kamu selalu melihat semua wanita seperti Dee." pukas Mike datar


Ricchi mendengus kasar mendengar perkataan Mike. Ya, memang bukan sekali ini saja ia melihat wanita berwajah seperti wanita yang dicintainya itu. Berkali-kali Ricchi harus menelan pil kecewa karena wanita yang diharapkannya tak lain wanita-wanita Asia yang sedang berlibur di Hollywood.


"Tapi yang tadi sangat mirip, Kak Mike ! Rambutnya, wajahnya, tubuhnya. Aku sangat hapal dengan Dee. Please, bisakah kita kembali ke tempat tadi ?" Ricchi meminta dengan wajah memelas.


"Maafkan aku Ricchi, kakak tidak bisa kembali dan mendapati kekecewaan yang sama. Hanya 4 hari yang lalu kamu membuatku berbalik arah dan mendapati Dee yang kamu maksud ternyata wanita dari Jepang. Hanya karena rambutnya berwarna hitam. Lebih baik kita pulang ke rumah, kamu butuh istirahat Ricchi."


Pria tampan yang menumbuhkan kumis dan janggutnya demi peran film pun memilih tak membantah perkataan Mike.


5 jam kemudian Ricchi terbangun dari tidurnya dengan hati yang menghampa. Bukan kenapa ia memimpikan wanita yang dicintainya bergelung dalam pelukan, Ricchi berulang kali didatangi kenangan saat "tidur" bersama dengan Dee.


Seperti biasa saat terbangun dengan mood yang tidak bagus, Ricchi akan berjalan menuju tempat penyimpanan minuman keras yang ia sembunyikan dari Mike. Ia kemudian membuka botol berkadar alkohol sebesar 70 % dan menenggaknya langsung tanpa menggunakan gelas. Ricchi tak butuh itu.


Sembari menikmati cairan berwarna pekat itu, Ricchi membuka sosial media yang sangat dihindarinya beberapa waktu terakhir. Ya, sejak Dee mengunggah foto bersama dengan Liam, yaitu foto pernikahan dan foto bulan madu mereka. Hati Ricchi yang mungkin sebelumnya telah hancur kemudian menjadi debu hanya karena unggahan sosial media seorang Dee.


Tangan Ricchi bergetar melihat unggahan terbaru Liam, swafoto pria itu dan Dee dengan background papan Hollywood.


Jadi benar yang dilihatnya tadi sore adalah Dee ! Wanitanya ada di kota ini !


Dengan mata memburam dan langkah tak stabil, Ricchi meraih gantungan kunci mobil.


"Dee kamu di sini, tunggu sayang. Kita akan segera bertemu !" teriak Ricchi menyalakan mesin mobil mewahnya.


...


Telepon genggam Dee berbunyi membuat wanita yang hanya mengenakan dress bertali berbahan satin pun terbangun. Dengan memicingkan mata ia melihat panggilan masuk dari nomer yang tidak terdaftar.


"Siapa yang meneleponmu dini hari seperti ini, Dawn?" Erang Liam yang ikut terbangun karena gangguan panggilan telepon istrinya


"Tidak tahu, tapi sepertinya nomer lokal kak." Sahut Dee penuh kebingungan


"Angkat saja, Wifey." Liam ikut terduduk di samping istrinya, berikut kepalanya dijatuhkan pada cerukan leher Dee


"Halo."


"Apa benar ini Mrs. Dee ?" Suara perempuan terdengar di seberang telepon


"Ya.. saya sendiri."


"Kami dari Serrano Convalescent Hospital, mengabarkan jika suami anda mengalami kecelakaan."


"Apa ?" Dee tersentak kaget membulatkan mata langsung melirik Liam


"Ada apa sayang ?" Tanya Liam melihat reaksi istrinya


"Sepertinya aku kena prank call, kata wanita di telepon suamiku kecelakaan."


Liam terkekeh mendengar ucapan Dee


"Maafkan aku Mrs. Tapi suami saya ada di sini. Mungkin anda salah sambung."


"Apakah suami anda Mr. Maheswara ? Ricchi Maheswara. Sekarang Tuan Ricchi sedang kritis karena kecelakaan tunggal. Maaf kami hanya menghubungi sesuai kontak di ponselnya. Di ponsel Mr. Maheswara tertulis "my love" kami pikir anda adalah istrinya."


Sedetik kemudian ponsel Dee lepas dari tangan bersamaan dengan jatuhnya cairan bening yang tak tanggung keluar dari kelopak mata.


###


akankah cintamu jadi pemenang ?



akankah kamu akan berakhir bahagia bang Ricchi 😔



semoga kalian tetap bertahan dengan drama, dan bisa menerima ending novel yang tak umum.. 🤭

__ADS_1


__ADS_2