DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Just Relax and Enjoy The Moment


__ADS_3

"Apa itu?" Tanya Ricchi menunjuk ke kotak putih di genggaman tangan kanan Dee "Kepiting khas sana yah?" Lanjutnya tersenyum lebar penuh makna.


"Kakak sudah makan?" Tanya Dee sambil membuka pintu rumahnya "Silahkan masuk kak, maaf jika berdebu, dua minggu rumahnya kosong,"


"Belum makan, tapi ini bersih kok" jawab Ricchi memandangi seisi rumah Dee. Yang punya rumah merasa risih, aktor terkenal se-Indonesia Raya menginjakkan kaki di lantai rumahnya yang berdebu.


"Kakak duduk sini dulu." kata Dee menarik kain putih panjang yang selalu dipakainya untuk menutupi semua furniture setiap kali ia melakukan perjalanan dinas luar kota.


Ricchi menghempaskan bokongnya di sofa beledu di depan televisi. Aktor itu sekarang dengan posisi ternyamannya.


"Aku masak nasi dulu yah kak." kata Dee sopan, membuat Ricchi tersenyum geli.


"Anggap rumah sendiri yah kak." tambahnya meninggalkan si tampan Ricchi di sofa ruang tengahnya. Senyuman licik tersungging di bibir Dee membayangkan andai ada fans Ricchi tahu kalau pujaan mereka sedang berada di rumahnya. Sebuah rasa bangga terbentuk dengan besarnya di dalam hati Dee.


Dengan cekatan Dee memasak nasi, sepertinya semua wanita pintar memasak jika hanya menggunakan penanak nasi listrik. Coba suruh masak nasi pakai kompor dan panci mungkin tidak semua bisa melakukan itu.


Setelah memastikan Dee menekan tombol cook ia kembali ke ruang tengah, Ricchi terlihat asyik dengan ponselnya.


"Oh kakak main game itu juga yah?" Tanya Dee menumpu tangannya pada bahu sofa dengan pandangan ke layar ponsel Ricchi.


"Iya, untuk menghilangkan stress," Ricchi bergumam, Dee mengerti kalau pria itu sedang tidak ingin diganggu, posisinya lagi sedang menyerang. Dengan pelan Dee naik ke lantai dua mengangkat kopernya. Ia kemudian memutuskan untuk sekalian mandi kilat ala kucing kena air.


Dee memulaskan lip tint berwarna nude, gadis berambut pendek itu kemudian mematut tampilannya di depan cermin, kaos merah dan celana jogger hitam terlihat sopan dan tidak berlebihan. Tidak mungkin Dee menggunakan salah satu dress yang di belinya beberapa minggu lalu dan dipakai di dalam rumah.


Ricchi seperti dirinya, seorang gamer. Terfokus dengan ponsel tanpa mempedulikan sekitarnya. Aktor itu tak merasakan kehadiran Dee yang lewat di belakangnya, beberapa kali ia membuat keributan ketika mengambil piring dan alat makan lainnya. Kepiting bertelur lada hitam 1 porsi pun telah Dee panaskan di microwave. Semua kemudian tertata rapi di atas meja makan.


"Kak, ayo makan," kata Dee kembali bertumpu di bahu sofa.


Tanpa mempedulikan permainan gamenya yang masih berjalan, Ricchi langsung menaruh ponselnya di atas meja.


"Oke." Sahut Ricchi langsung berdiri dan merangkul tubuh Dee menuju meja makan. Sang aktor lalu menarik kursi untuk Dee dan duduk di sampingnya.


"Selamat makan." Kata Dee selalu memulai dengan berdoa, Ricchi mengikutinya menundukkan kepala sebentar.


Perbedaannya Liam dan Ricchi adalah Liam manja disuapi dan Ricchi mandiri, bahkan membantu Dee mengupaskan kulit kepiting tak jarang menyuapkan langsung ke mulut gadis itu.


"Kakak tinggal dengan siapa? Orang tua?"


"Tidak, aku tinggal di apartemen, Dek. Rumah terlalu besar untukku yang hidup sendiri. Sejak umur 20 tahun aku sudah keluar dari rumah dan mandiri,"


"Oh begitu."


"Ya, lagian waktuku sudah terkuras dengan syuting dan lain sebagainya. Jadi belum punya waktu untuk mengurus sebuah rumah."


"Kalau sekarang? Kakak tidak ada kerjaan?"


"Hmmmm.. belum, lagi libur dulu. Tapi bulan depan syuting lagi dengan Abang"


Abang berarti Liam, apa kabar pria itu?


Hush! Ada pria lain di sampingmu, kenapa terus mengingat Liam. Jerit Dee, yang mungkin dirinya sedang rindu.


"Dek, aku lihat ada playstation. Kamu yang punya?"


Dee mengangguk dan terkikih kecil. Bukan hal umum seorang gadis mempunyai sebuah playstation.

__ADS_1


"Habis makan kita maen PS" kata Ricchi.


"Oke" seru Dee riang. Akhirnya ia punya teman main, yang selama ini ia hanya maen solo di rumah. Sejak kecil Dee sudah dimanjakan oleh papa dengan game, mulai dari nintendo hingga muncul yang namanya playstation. Mungkin saat itu papa berharap punya anak laki-laki dibandingkan anak perempuan hingga lebih membelikan nintendo daripada boneka barbie.


Setelah makan, Dee lalu menyiapkan cemilan dan minuman bersoda di depan televisi, Ricchi telah menunggunya dengan tidak sabaran.


"Main apa?" Tanya Ricchi dengan stik game di tangannya


"Bola?"


Ricchi tergelak tawa dan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia seperti mendapatkan durian runtuh. Gadis yang disukainya mempunyai hobby sama dengannya.


"Oke! Menang 5 kali berturut-turut permintaan yang juara harus dikabulkan," seloroh Ricchi sudah merasa di atas angin.


"Deal" seru Dee meludah sedikit di telapak tangannya, yang diikuti Ricchi lalu kedua tangan mereka saling berjabat sebagai tanda setuju, sebuah perjanjian kuat yang tanpa dibubuhi materai 6000.


4 jam kemudian tidak ada satu pun di antara mereka yang berhasil menang sebanyak 5 kali berturut-turut. Keduanya saling mengalahkan, paling tinggi rekor kemenangan keduanya hanya sebanyak 3 kali.


"Hahaha... Jempolku rasa membengkak, Dek" seru Ricchi menaruh stiknya di meja. Dia lalu menyesap cola ketiganya malam itu.


"Ini pertama kali aku main selama ini."


"Coba lihat ponselmu" kata Ricchi yang diikuti dengan Dee menyerahkan telepon genggamnya


Sang aktor itu membuka aplikasi game Dee, dan melihat profilnya


"Ohh jadi kamu dawn17, ini level pro. Ya ampun cuma 2 di atasmu game ini dek. Tidak ada yang tahu kalau kamu cewek. Kalau mereka tahu pastinya sudah terkenal."


"Aku dalam posisi itu juga sudah terkenal walau tanpa ketahuan aslinya."


"Aku tidak tahu memulai dari mana."


"Nanti... Biar aku jadi managermu."


"Ya ampun Kak Ricchi, hahahaa. Untuk sementara kita main game berdua saja, ke depannya nanti dipikirkan lagi."


Ricchi menghela napas dalam.


"Baiklah dek, pelan-pelan" gumam Ricchi


"Sudah jam 11 malam, aku pulang dulu. Besok kamu ngapain, Dek?" Lanjutnya sambil berdiri, Dee pun ikut berdiri. Kakinya terasa kaku dengan posisi duduk selama 4 jam.


"Di rumah saja, minggu paling bersih-bersih rumah dan mencuci."


"Jam 11 aku jemput, kita jalan-jalan. Oke?" Ujar Ricchi merangkul Dee hingga sampai di samping mobilnya. Sebenarnya ia punya kunci rumah Liam, tapi Ricchi tidak ingin menggunakan fasilitas pria itu untuk mendekati Dee


"Baik kak." Jawab Dee mengiyakan.


"Oke. Sampai ketemu besok, Dek" kata Ricchi mencondongkan tubuhnya ke bawah dan mengecup ringan pipi Dee, senyuman khas dengan lesung pipi yang seolah habis di bor itu pun membingkai wajah sang aktor sebagai tanda perpisahan mereka.


Ricchi menatap dari spion mobilnya, Dee masih berdiri melambaikan tangannya hingga mobilnya berbelok ke arah kanan. Dee, awalnya hanya ia dengar dari cerita Liam yang membuatnya penasaran dan cemburu. Seperti apa gadis kecil yang dimaksud Liam itu, karena sejak mereka bersama tidak pernah sekali pun membahas wanita selain ibu mereka masing-masing.


Cerita pertemuan pertama Liam dan Dee, dan pertemuan selanjutnya wajah Liam seolah berbeda ketika membahas Dee. Lewat pesan pun pembahasan Liam berujung pada tingkah laku Dee yang lucu, menyenangkan dan tentang sifat kepedulian gadis itu yang sangat tinggi.


Usulan malam pertama beberapa minggu lalu yang bertujuan utama untuk memanas-manasi Liam, sebenarnya berhasil namun Ricchi lupa ternyata ia pun akhirnya ikut terjebak dengan pesona Dee. Seorang gadis yang polos tak bernoda, punya wawasan yang luas, bijaksana dan di sisi lain membuatmu hidup dengan celotehan-celotehannya.

__ADS_1


Dan kini setelah menghabiskan 8 jam bersama, dirinya terjebak semakin dalam, Ricchi makin menyukai sosok Dee. Dia gadis paket komplit, seorang gamer pro!


Gila, dari mana selama ini kamu menyembunyikan diri dek, kenapa baru sekarang kita bertemu ! Teriak senang Ricchi mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibukota.


...


"Kak, ada baiknya kita tidak bergenggaman tangan." protes pelan Dee saat mereka berjalan dari parkiran mall besar yang terkenal sebagai mallnya para artis.


"Terus kalau tidak pegang tangan, maunya apa? Pelukan?" Canda Ricchi malah makin mengeratkan genggamannya


"Tapi kakak publik figur, seorang aktor papan atas. Nanti masuk gosip," kata Dee menasehati. Maksudnya Ricchi tidak masuk gosip lambe-lambean dan dirinya lepas dari Wahyu dan geng gosipernya. Memangnya Dee tidak tahu jika cecaran Wahyu selama ini bukan untuk dijadikan bahan gunjingan dengan teman-temannya. Tampan, tinggi tapi bermulut parabola itu adalah Wahyu.


"Aku tidak pernah digosipkan berpacaran, paling yah gosip dekat dengan lawan main di film dan itu pun hanya sesaat. Tapi sekarang aku tidak masalah jika masuk gosip dengan kamu dek. Just relax and enjoy the moment, "


Entah kenapa Dee tidak membalas dengan protes lebih tegas, malah mengikuti kemauan Ricchi. Mereka saling bergenggaman tangan dan berbicara seolah-olah tak ada orang lain di mall tersebut. Tak jarang pula tertawa lepas, padahal beberapa orang mengambil foto, video mereka secara diam-diam, walau tak ada yang berani mendatangi dan meminta foto bersama.


Tahu tidak apa yang pertama kali mereka datangi di mall besar ini? Tak lain adalah wahana game, dari main tembak-tembakan, balapan mobil, motor, tennis, hingga snapshot dengan pose memasang wajah tidak jelas. Terakhir mereka baru main basket, kali ini tidak rivalan. Malah berdua di satu ring basket, Dee di depan dan Ricchi di belakang. Tubuh tinggi Ricchi acap kali menyentuh punggungnya, rasa yang seharusnya tidak hadir pun mengusik hatinya.


...


Senin pagi sesuai prediksi Dee, dari mulai pintu kantor hingga pintu ruangan tatapan semua orang tertuju padanya. Syukur di ruangan team mawar hanya ada Pak Zulfikar yang sedang online di sosial media di komputernya, si biang gosip belum menampakkan batang hidungnya.


"Pagi, Pak." sapa Dee ringan


"Pagi Dee.. Selamat Senin," balas Pak Zulfikar yang terdengar datar, mungkin karena asyik berbalas komentar dengan temannya di sosial media.


Tak lama kemudian yang terakhir Dee harapkan kedatangannya pun muncul dari ambang pintu.


"Selamat pagi semua, alo Deeee." Ucap Wahyu dengan nada kemayu, mengalahkan Mas Indra Herlambang presenter acara gosip "Nih kopi buatmu, sebagai tanda persahabatan kita. Jangan lupa kalau ada acara artis-artis, temanmu satu ini diajak yah. Kamu sukses bikin semua akun gosip heboh, meledak. Ckckck, teman kantor aku pacaran sama Ricchi. Bayangin Dee berapa banyak fans dia semalam patah hati karena kamu. hahaaha. Keren sister, jadi Liam hanya kedok saja pas ke kantor, ikan yang sebenarnya adalah Ricchi. Dasar kucing yang cantik, aku mendukungmu! Semangat Dee!" Pekik riang Wahyu sambil melompat, berubah seperti gerombolan cheerleaders pertandingan tinju yang tayang tengah malam di stasiun televisi.


...


Toronto, Kanada


Liam menggeliat malas di tempat tidurnya, kamar tidur dari sejak kecil hingga remaja yang ia tinggalkan rumah masih seperti dulu, tidak ada yang berubah. Meja belajar, poster-poster menghiasi dinding walau terlihat sudah dimakan usia namun mama merawat kamarnya dengan baik. Bersih dan nyaman untuk di tempati.


Setelah fashion week di Italia dan beberapa pemotretan di sana, Liam memutuskan untuk terbang ke Kanada menengok orang tuanya yang sudah dua tahun tak di kunjunginya.


Sejak dekat dengan Dee, pikirannya terbuka untuk menjalin komunikasi yang baik dengan orang tuanya. Gadis kecil itu memberikan pengaruh positif untuk kehidupannya.


Masih di tempat tidur Liam membuka aplikasi pesan, melihat chat yang tidak dibalas oleh Ricchi dari kemarin dan mencari pesan Dee paling bawah.


Entah kenapa tangannya kemudian memilih membuka sosial media daripada mencoba mengetik pesan kepada kedua orang tadi.


Matanya membulat maksimal melihat unggahan terakhir Ricchi di instagram, foto snapshot berbagai pose dengan Dee, dari pose manyun, akting nangis, saling mencubit pipi hingga gadis kecilnya bersandar di bahu pria yang tadi adalah pasangannya, kini berubah menjadi rivalnya.


Oh yah, keterangan foto Ricchi hanya sebuah ikon hati berwarna merah, kolom komentar semua dinonaktifkan. Tidak perlu bagi Liam mengecek hingga ke akun gosip, dengan sikap go public Ricchi seperti ini pasti beritanya sudah sampai di acara gosip televisi dan tentu saja akan di ulas secara berulang-ulang.


Aku harus pulang secepatnya sebelum semua terlambat. Dasar kamu Ricchi, beraninya di belakangku! Dan Dee, ingat. Aku pernah katakan jika kamu takkan kuserahkan kepada siapa pun. Apalagi itu adalah Ricchi !


###


kalian pilih mana?


__ADS_1



__ADS_2