
Dee tertunduk lesu dengan mata nanar menatap lantai marmer kantornya usai keluar dari ruangan pimpinan kantornya, Bapak Ari Suhandoyo. Selama sejam ia di dalam, berbicara panjang lebar atau lebih tepatnya mendengarkan Ari Suhandoyo memberikan pandangan tentang masa depan untuk Dee.
Bukan hal asmara Dee yang dibicarakan Ari, pimpinannya itu bukan tipe orang yang mencampuri hubungan pribadi karyawannya. Walau sekarang seluruh karyawan kantor telah mengetahui hubungan Dee dengan Ricchi Maheswara, sang aktor papan atas negara ini.
Dee menghempaskan bokongnya di kursi, tangannya sedikit gemetar meraih ponsel pintarnya di atas meja. Matanya berkaca-kaca menekan file penyimpanan foto bertiga Ricchi, Liam dan dirinya saat di Bogor seminggu yang lalu.
Senyuman lebar bahagia mereka di setiap foto, gelak tawa riang masih terus terulang di telinga Dee. Momen itu hal paling membahagiakan di hidup Dee, kedua pria yang ia sayangi dalam satu frame.
Dan mungkin kejadian itu takkan bisa terulang kembali.
...
Di kegelapan kamar Dee, ia berdiri menatap rumah Liam yang selama 2 minggu tak berpenghuni. Akhirnya proyek film yang dikerjakan sang sutradara tersebut memasuki tahap syuting, yang mana bintang utamanya tak lain adalah Ricchi. Syuting film yang berlokasi di Sumatera, dan menurut Liam akan berjalan selama 6 minggu, belum apa-papa Dee sudah kesepian tanpa kedua pria yang selalu ada di setiap harinya.
Secara fisik memang Ricchi dan Liam tak hadir, namun keduanya selalu menyempatkan diri mengirimkan pesan kepada Dee. Terlebih Ricchi di saat senggang pasti kekasihnya itu menghubungi via panggilan video.
Dee rindu, mungkin sangat rindu akan senyum, tawa Ricchi, suara kekasihnya yang selalu lembut dan menenangkan.
Sebuah mobil berhenti di depan rumah Liam membuat Dee terpaku, matanya membulat menunggu sosok pengemudi turun dari sedan mewah yang terlihat asing.
Pria berjaket kulit hitam dengan celana hitam senada, bertengger kupluk warna lebih muda di kepalanya. Sosok pria itu menatap ke arah lantai dua rumah Dee, tepatnya kamar tidurnya.
"Kak Ricchi!" Pekik Dee dari kamar, sontak ia pun berlari menuju lantai bawah dan membuka pintu dengan tergesa-gesa.
"Kak!" Teriak Dee langsung menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Ricchi, kekasihnya itu tertawa bahagia.
"Kakak pikir kamu sudah tidur, Sayang" Ricchi merengkuh erat tubuh gadis yang sangat dirindukannya.
"Kenapa kakak bisa ke sini? Bukannya harus syuting?" Dee mendongakkan kepalanya memandang wajah Ricchi yang tersenyum lebar
"Karena rindu. Kakak rindu kamu, Dee," Ricchi membingkai wajah Dee dengan kedua tangannya, sang aktor tampan itu pun menjatuhkan bibirnya ke bibir kekasihnya untuk pertama kali.
Manis, lembut dan bercampur aroma mint definisi ciuman Ricchi. Sebuah belaian di rahang Dee saat pria itu melepaskan ciuman mereka.
"Aku mencintaimu, Dee" Ricchi memeluk Dee dalam rengkuhan, jantung keduanya berdebar kencang.
Keduanya seolah tak mempedulikan jika mereka sedang berpelukan lama di depan rumah.
"Dee." Ucap pelan Ricchi "Kita ke apartemen yah, menginap di sana. Besok kan libur," sambungnya yang diikuti anggukan setuju dari Dee.
10 menit kemudian, Dee telah duduk manis di belakang kemudi mobil mewah yang masih tercium wangi baru keluar dari showroom. Gadis rambut sebahu itu dengan berganti pakaian sebuah sweater berwarna soft pink di padu jeans hitam membalut tubuhnya.
Permintaan Ricchilah yang menginginkannya untuk mengemudikan mobil tersebut, yang dimaklumi Dee jika Ricchi sangat kelelahan. Menurut penuturan sang aktor jika dia baru mendarat 2 jam lalu dan Ricchi hanya baru tertidur selama penerbangan dari Sumatera ke Jakarta.
"Kakak tidur saja," ujar Dee melirik Ricchi yang menguap saat mobil berhenti di rambu persimpangan jalan. Jam menunjukkan hampir jam 12 malam dan jalanan mulai terlihat lengang.
Ricchi menggelengkan kepalanya, walau pria itu sedang bersandar di kursi, namun pandangan mata tak lepas dari kekasihnya. Senyuman tersungging, hati berbunga dengan lonjakan debaran setiap melihat kedipan mata Dee. Betapa Ricchi mencintai gadis yang sesekali tersenyum itu.
...
Mereka kembali berpelukan erat di depan pintu apartemen Ricchi, sikap sang aktor yang tak biasanya membuat Dee tersenyum geli.
Dee menekan password pintu apartemen, ia baru saja hendak meraih saklar lampu namun matanya terpaku pada sudut ruangan di dekat sofa. Satu-satunya bagian ruangan yang lampunya menyala, dinding di dekorasi dengan balon keemasan bertuliskan "Happy Birthday 25" dan tak lupa di atas meja terdapat kue ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Sayang." Kata Ricchi dari belakang yang sedang merekam gambar video.
"Kak." Dee kembali memeluk Ricchi.
Jika ada wanita yang bahagia di tengah malam seperti ini, itu adalah Belviyah Dawn Ragala. Ia tidak memikirkan Ricchi menyiapkan surprise birthday untuknya, dengan kedatangan kekasihnya di tengah padat jadwal syuting sudah merupakan hadiah ulang tahun untuk Dee.
"Make a wish, Sayang" kata Ricchi setelah menyalakan lilin dengan angka 25 di atas kue berselimut cream putih.
__ADS_1
Dee memandang Ricchi 3 kejapan mata, ia pun lalu tersenyum simpul dan memejamkan mata dengan kedua tangan mengatup.
Tuhan, bahagiakan Kak Ricchi. Pinta Dee tulus.
"Kadonya." Kata Ricchi membuka tangan Dee dan menaruh kunci mobil yang tadi dikemudikannya menuju apartemen.
Mata Dee membulat maksimal, tangannya menerima gantungan kunci mobil BMW M6 Grand Coupe yang serupa dengan mobil Ricchi hanya berbeda warna saja.
"Ini terlalu berlebihan kak, aku tidak bisa menerima ini,"
Ricchi menggelengkan kepalanya "Tidak sayang, hanya ini yang aku bisa berikan,"
Ucapan Ricchi terdengar tidak masuk akal menilai kecil sebuah mobil yang seharga 1,7 milyar.
"Tapi aku tidak bisa memakainya ke kantor, karena pasti menjadi pembicaraan orang-orang. Aku bekerja 20 tahun pun di kantor akuntan tak akan mampu membeli mobil seperti itu, Kak"
"Katakan, kekasihku yang memberikannya sebagai kado ulang tahun. Ya ?" Ujar Ricchi mencuil cream kue dan mengolesnya di bibir merah kekasihnya.
Seutas senyuman nakal Ricchi sebelum pria itu menjatuhkan ciuman ke bibir penuh cream kekasihnya. Ciuman pertama mereka berapa jam lalu adalah pembukaan segel ciuman-ciuman panas berikutnya.
...
"Kak, peluk aku," pinta Dee saat mereka terbaring di tempat tidur. Ricchi pun bergeser mendekat dan meraih Dee dalam pelukannya. Gemuruh bercampur desiran di dada tiap sentuhan tangan Ricchi di puncak kepala Dee.
"Kak, Jika suatu hari kita tidak bersama lagi. Ingatlah saat ini, di mana aku sangat mencintaimu. Ketika hatiku hanya milikmu, dan raga ini juga milikmu," Dee meraih rahang Ricchi dan membelainya dengan perlahan menyusuri setiap sudut wajah kekasihnya.
Dee mengecup bibir Ricchi dengan manik mata saling mengunci. Pria itu bernapas pendek, ada kabut gairah di matanya.
"Miliki aku seutuhnya, Kak." Bisik Dee, membuat Ricchi terbangun dan memandang lekat wajah kekasihnya.
"Dee." Ucap Ricchi dengan suara rendah serak.
"Do it with gently.. Because this is my first time."
Mata Ricchi pun sayu dan semakin berkabut gairah.
"Our first time." gumam Ricchi mendekatkan wajahnya dengan pelan.
...
Di luar Matahari telah bersinar terang namun seorang gadis bertubuh polos dalam selimut masih meringkuk manja di pelukan kekasihnya.
Dee lelah dengan percintaan mereka hingga menjelang subuh, itu pula membuatnya sangat sadar bahwa Ricchi telah menjadi pria yang sangat normal. Gairah kekasihnya seolah tak pernah padam yang terus meminta penyatuan raga mereka.
"Sayang." Ricchi membelai pipi Dee, gadis itu tetap menutup mata walau dia tahu kekasihnya itu telah terjaga sedari tadi.
"Ya." Erang Dee menggeliat pelan, tubuhnya yang terasa remuk redam.
"Bangun. Dan menikahlah denganku," ucap Ricchi lembut, mata Dee sontak terbuka lebar dan gadis itu pun terkikih pelan.
"Kak. Apa yang kita semalam lakukan bukan berarti aku menjeratmu untuk bertanggung jawab. Aku menginginkan kakak menjadi pria pertamaku."
"Dan juga yang terakhir !" Potong Ricchi dengan tegas. Pria itu pun langsung memeluk lebih erat tubuh Dee.
"Kamu sudah mengatakan jika dirimu dan hatimu adalah milikku, Sayang. Jadi selamanya kamu adalah milikku, takkan pernah berubah!"
"Walau kita sedang di tempat tidur seperti ini, namun aku serius. Tentang pernikahan! Tanpa kita "tidur" pun aku sudah memikirkan itu jauh hari. Aku ingin memilikimu Dee, sah di mata hukum dan agama. Bukan sebuah ikatan yang rapuh seperti ini,"
Tubuh Dee bergetar keras dengan air mata meluruh bak banjir bandang, sesak di hatinya menghimpit hingga napas semakin tak beraturan.
"Kak, maafkan aku," gumam Dee dalam hati.
__ADS_1
...
Berapa jam kemudian,
Di tempat lain, sebuah kota di Pulau Sumatera. Pria jangkung sedang mengomel sesaat membaca pesan aktornya yang baru saja mengabari bahwa dia sudah naik ke pesawat dalam perjalanan kembali untuk melanjutkan syuting setelah menghilang selama 28 jam.
Liam hanya memberi istirahat kepada semua kru film selama 12 jam, namun Ricchi menggunakan kesempatan itu untuk kembali ke Jakarta. Apalagi jika bukan untuk menemui Dee, bukan hanya Ricchi saja merasakan rindu bahkan Liam pun merasakan hal yang sama. Rindu yang membuncah dalam hatinya, yang harus dipendam dan cukup mendengar suara Dee via panggilan telepon.
Jemari langsingnya mengarahkan untuk menekan aplikasi instagram, matanya membulat ketika melihat unggahan video Ricchi. Kejutan ulang tahun buat Dee, dengan balon-balon keemasan.
"Tuhan, kenapa aku tidak tahu jika Dee berulang tahun" gerutunya dengan kesal tingkat tinggi, Liam pun langsung berdiri dari kursi sutradaranya dan mencari tempat lebih sepi, lalu menepi.
"Hai, Kak" wajah Dee berseri saat panggilan video mereka tersambung.
Lagu "happy birthday" mengalun indah dari bibir Liam yang sukses membuat Dee tersenyum merekah, bola mata gadis kecilnya berkaca-kaca.
"Selamat ulang tahun Dawn, adik kakak yang tersayang. Apa pun yang kamu inginkan, kakak berikan," ucap Liam sendu.
Dee pun semakin terisak.
"Aku rindu, Kakak." Ucap Dee lirih, gadis kecil itu pun menyeka air matanya.
"Sabar yah dek, aku akan membuat syuting ini berjalan lebih cepat. Tunggulah kakak di sana sembari memikirkan kado ulang tahun yang kamu inginkan"
Dee menggigit bibir bawahnya menganggukkan kepalanya dengan sangat perlahan.
...
3 minggu kemudian, dua pria dengan tubuh yang lelah karena sejam lalu baru saja mendarat di Cengkareng di tambah syuting yang baru berakhir dini hari tadi.
Begitu mobil Alphard milik sang aktor memasuki blok rumah Liam, keduanya spontan menegakkan punggung.
"Kita bisa tidur dulu sambil menunggu Dawn pulang kantor," kata Liam melirik Ricchi mengangguk sambil menaikkan kacamata hitamnya.
"Ricchi, rumah Dee dikontrakkan yah?" Celetuk Mike manager Ricchi saat menghentikan mobil.
Baik Liam dan Ricchi mengarahkan pandangan pada rumah minimalis di sebelah kanan mereka. Benar di depan rumah Dee terpasang spanduk "DIKONTRAKKAN HUBUNGI : 081... "
Jantung Ricchi mencelos, dengan jemari berkeringat gemetar merogoh saku celananya meraih telepon genggamnya. Dia pun menekan nomer telepon kekasihnya, gadis yang semalam masih membalas pesannya.
Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.
"Tidak aktif" kata Ricchi panik.
"Pesanku cuma tercentang satu!" sahut Liam dengan mata memburam "Dawn!" Jeritnya dengan hati berdenyut sakit.
###
alo kesayangan 😁,
author kalian ingkar janji lagi,
harusnya kemarin aku update Ricchi namun author harus menemani, menghibur, memberi wejangan pada bestfriend yang lagi patah hati dari siang sampai malam 😔
yah, beginilah author sebagai psikolog dadakan - jika ada yang pengen konsultasi bisa di 080989999 😂
dan sekarang author sedang di perjalanan menuju luar kota. semoga Hugo besok update. Hugo atau Ricchi di up? pasti penasaran kan? 😅
love,
__ADS_1
D 😘