DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Aku Memilihmu


__ADS_3

"Jadi band hanya menyanyikan 3 ost saja?" Tanya Liam kepada team yang menangani acara meet and greet film "Debing" yang rencananya akan diselenggarakan di 5 kota besar Indonesia


"Iya pak." sahut Iyan


"Sedikit, harusnya ada 5 lagu. Karena pengalaman kita setiap meet and greet di pusat perbelanjaan selalu dipenuhi hingga ribuan fans"


Ucapan Liam diikuti anggukan peserta meeting, akhirnya film yang dikerjakannya telah memasuki tahap promosi dan setelah itu akan tayang serempak di seluruh bioskop Indonesia. Sebentar lagi Liam akan terlepas dari beban berat dan akan mengunjungi kekasih hatinya.


Hampir dua bulan Liam berkutat dengan tahap akhir film Debing ini, yang diprediksi akan menjadi film horor terseram yang pernah ada. Setelah "Debing" masih ada 2 film yang akan dikerjakan tahun ini, tapi Liam telah membentuk team yang akan menanganinya. Ia sudah lepas tangan, ada hal yang lebih penting dari pekerjaan. Gadisnya yang terus menitikkan air mata setiap kali mereka melepas rindu via panggilan suara dan video.


"Pak Liam." seru Mariana membuat Liam berbalik ke arah wanita yang telah bekerja 6 tahun di Farubun Pictures.


"Apa mbak Mariana? Ada masukan?" Liam mengedutkan alisnya


Mariana tersenyum lebar kemudian menunjuk ke arah luar ruangan meeting, seorang gadis bercoat coklat tua, rok flanel hijau dipadukan timberland boot senada berdiri memandangi Liam.



CEO jangkung itu pun langsung melompat dari kursinya


"Dawn !" Pekik Liam keluar dari ruang meeting, para peserta rapat pun ikut berdiri mendekat pada pembatas kaca melihat reaksi bossnya.


"Dawn !" Liam berhenti menatap kekasihnya, gadisnya melengkungkan bibirnya ke bawah. Mata Dee sudah berkaca-kaca.


"Kakak." Dee menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Liam, kedua tangannya mengerat pada punggung pria yang sangat dirindukannya


Mereka berpelukan cukup lama, tentu saja Liam membiarkan Dee meluapkan kesedihannya karena rindu telah terobati.


"Apakah benar ini Belviyah Dawn Ragala-ku?" Liam seolah masih tak percaya kekasihnya akan memberikannya kejutan seluar biasa ini


Dee menaikkan kepalanya dengan mata berairnya kemudian mengangguk


"Kakak tidak mimpi kan?"


Dee mencubit pipi Lia dengan keras, kekasihnya mengaduh lalu tertawa kecil


"Kak, aku rindu."


"Jadi karena rindu kamu pulang gadis kecilku ? Bukannya cutimu sudah habis sayang, kan kakak sudah bilang kalau dua minggu lagi akan kembali ke Moskow."


"Ya.. "


Dee mengembangkan senyumnya, Liam menangkup wajah gadis kecilnya


"Ya, cutiku sudah habis. Dan aku resign kak."


Liam terkesiap kaget mendengar penuturan singkat kekasihnya, kedatangan mendadak beserta kabar resign Dee sudah membuat jantungnya berpindah tempat, kabar apalagi sesudah ini.


"Kak Liam. Ya, aku akan menikah denganmu." Ucap Dee bersungguh-sunguh


Liam merasakan jantungnya seolah meledak, tangannya yang tadi menangkup kuat rahang Dee mendadak gemetar, kakinya pun ikut meloloskan diri dari tulang penyangga. Liam terduduk dengan tubuh gemetar, bola mata sipitnya meluruhkan air mata.


"Kak Liam." Dee ikut berjongkok di depan kekasihnya menutupi wajahnya dengan kedua tangan langsingnya


"Ini bukan mimpi kan Dawn?" Ucap Liam mencoba tegar menahan air mata bahagia untuk berhenti berjatuhan


"Hishhh. Memangnya kakak selalu bermimpi seperti ini?"


Dee menarik kedua tangan Liam untuk berdiri, tinggi badan mereka kembali berjarak 16 cm. Cukup membuat Dee untuk berjinjit jika ingin mengecup bibir kekasihnya. Tidak ! Dee menahan diri untuk tidak melakukan itu, apalagi dengan tatapan semua orang dari ruang meeting Farubun Pictures tertuju pada mereka.

__ADS_1


"Hampir tiap malam aku memimpikanmu gadis kecil, berkali-kali aku memimpikan kejadian ini, dengan tempat berbeda."


"Dan kejadian nyatanya di kantor". Dee tersenyum simpul kembali mencubit lengan Liam, mata kekasihnya membulat karena merasakan perihnya jepitan tangan Dee yang tak tanggung-tanggung menyakinkan bahwa apa yang dialaminya sekarang bukan sebuah mimpi indah.


"Aku belum selesai !" Liam tersadar jika dia masih mempunyai kewajiban, pria berkemeja putih celana bahan berwarna navy itu menarik tangan Dee mendekat pada pintu ruang meeting, sang CEO itu hanya menongolkan kepalanya "meeting kalian lanjutkan tanpaku, semua saya setujui. Selebihnya jika ada yang penting bisa lewat pesan, tapi saya pikir 90% kita sudah siap."


"Ya pak." suara serempak para peserta rapat


"Saya pulang duluan ya bapak -bapak dan ibu-ibu sekalian." Liam menyunggingkan senyuman bahagia "Oh iya, jangan kasih selamat dulu cuma sekadar informasi, kami akan menikah."


Sorak sorai dan tepukan heboh seusai Liam mengabarkan kabar gembira kepada para pegawainya, tanpa perlu berbasa-basi pria paling bahagia se-Jakarta Pusat itupun menggenggam jemari kekasihnya beranjak meninggalkan kantor Farubun Pictures.


"Kopermu mana dek?" Liam menaikkan tangan kanannya ke atas bahu kekasihnya


"Di lobby bawah, titip di bagian informasi."


"Kekasihku yang nekat dan penuh kejutan, kamu membuatku hampir pingsan karena bahagia. Mengiyakan lamaran di kantor, sungguh tidak romantis." sungut Liam berpura-pura mencandai kekasihnya


"Kakakkk. Aku sudah lelah menangis karena rindu."


"Sama Dawn, kakak juga lelah lihat kamu menangis di telepon." ucap Liam tertawa kecil, tak lama cubitan kecil bersarang di perutnya


...


Setelah berhasil melewati 6 hari bersama Ricchi yang penuh dengan godaan, bukannya Dee kembali pada sang mantan yang tiada henti berusaha memenangkan hatinya, justru malah membuat Dee yakin bahwa cinta hanya untuk Liam seorang.


Walau kekasihnya dulu adalah pria yang meragu untuk memulai hubungan asmara, namun menanti selama 3 tahun yang membuat Dee kagum dengan keteguhan hati Liam.


Selama 6 hari Ricchi terus bercerita tentang masa 3 tahun yang dilaluinya, berulang kali berharap Dee mengerti. Ya, Dee memang mengerti, sangat mengerti malah. Tapi mereka berdua sudah memiliki orang yang mencintai, Ricchi yang selangkah lagi menuju pelaminan dan Dee hanya tinggal mengiyakan lamaran Liam.


Ricchi dan Dee berada di zona waktu yang salah, tempat yang salah. Tidak ada yang perlu diperjuangkan, itu yang terus Dee katakan pada Ricchi. Mereka sudah tidak bisa dipersatukan, bagaimana pun caranya.


Setelah kepergiaan Ricchi, Dee pun mengajukan resign kepada Anton Arlovski. Reaksi CEO-nya tidak serta merta menerima keinginannya, namun Dee menyakinkan pimpinannya itu bahwa cintalah yang membuatnya harus kembali ke Indonesia. Dan Anton pun sempat menanyakan perasaan Dee kepada adik bungsunya, pria tampan dan matang itu berusaha menahan agar Manager Auditnya tetap bekerja di Rusia Direct dan membuka hati untuk Andrey.


Tidak, pilihan ketiga tidak akan pernah jadi pilihan. Selain Dee tidak mempunyai perasaan kepada Andrey, meninggalkan Liam dan mengabaikan Ricchi kemudian bersama pria lain justru akan membuat dirinya akan dihantui rasa bersalah sepanjang hidup.


...


Maafkan Dee, Kak.


Itulah pesan singkat yang dikirim kepada Ricchi ketika Dee menginjakkan kaki di tanah air tercinta. Dee tidak perlu menjabarkan kepada aktor tersebut, lambat laun Ricchi pun akan tahu akan keputusannya.


Liam, pelabuhan cinta terakhir, pemilik masa depan.


...


Tak ada kata yang bisa mewakilkan perasaan Liam sekarang, pastinya bahagia dengan jantung meletup-letup menggetarkan dadanya. Kekasihnya yang sepulang dari kantor menolak untuk makan di restoran, memilih take away junk food dan memakannya di perjalanan pulang. Tipikal Dee ketika lelah mendera tubuhnya, di tambah dengan jetlag. Sesampainya di rumah Liam harus menarik kekasihnya memasuki kamar mandi untuk membersihkan badan dan setelah itu Dee ambruk di tempat tidur.


Napas teratur dari Dee membuat Liam tersenyum tipis melihat gadis kecilnya tertidur lelap di sampingnya. Bahkan Dee sudah terbuai mimpi selama 6 jam, namun kekasihnya terlihat belum menampakkan akan terbangun dalam waktu dekat.


Liam mematikan lampu di atas meja nakas lalu merebahkan kepalanya.


"Aku mencintaimu Dawn." ucap Liam menarik tubuh Dee dalam pelukannya


...


Liam tersentak mendapati lengannya telah kosong, matanya nanar memandangi sekeliling kamarnya. Gadis yang semalaman dipeluknya tak ditemukan sosoknya. Dengan semponyongan ia berjalan dan membuka pintu kamar mandi.


"Dawn." Ucap Liam lirih tak mendapati kekasihnya

__ADS_1


Dawnn !" Pekik Liam dengan suara meninggi, ketakutan apa yang dialaminya kemarin dan semalam hanyalah sebuah mimpi belaka


"Aku di bawah kak !" Teriakan balasan yang tak kalah kencang membuat Liam mencengkeram dadanya, pria jangkung itu pun melangkahkan kaki panjangnya separuh tergesa menuju lantai bawah.


Pemandangan terindah sepanjang hidup Liam pun terpampang nyata di depan mata, gadis berkuncir, miliknya terlihat sedang sibuk memasak di dapur.


"Dawn !" Liam mendekat langsung memeluk kekasihnya erat "Jantungku hampir copot tidak mendapatimu di tempat tidur, kakak pikir..


"Mimpi ?" Dee tergelak tawa, kedua tangannya mencubit pipi Liam dengan keras, menyisakan merah dan ringisan sang CEO "Ya ampun kak, ini bukan mimpi. Aku Dee kekasihmu adalah nyata, terbangun karena kebelet dan lapar. Hampir 12 jam aku tidur, terakhir makan jam 5 sore kemarin. Dan untuk pertama kali lemari pendingin kakak tidak ada isinya, untung ada penjual sayur yang lewat." celoteh Dee dan Liam pun mengecup puncak kepala kekasihnya penuh rasa bahagia


"Maafkan kakak terlambat bangun, nanti kita pergi belanja. Tidak ada kesempatan memasak sayang, karena sibuk kerja." jelas Liam


"Aku mengerti." Dee mengalunkan kedua tangannya pada leher Liam menariknya untuk turun "Dari kemarin aku rindunya dengan ini." kedua bibir pun bertemu, saling ******* dengan panasnya


"Mau sarapan di meja atau di tempat tidur." bisik Liam dengan suara serak, bergairah


Dee menarik tubuhnya ke belakang, melepaskan diri dari tubuh panas Liam.


"Aku lapar kak, sumpah !" Gerutu manja Dee sembari mengambil peralatan makan. Menu pagi ini, sangat sederhana. Sayur bening, tempe, ikan goreng dan sambal tumis yang pedas. Menu yang sangat dirindukan Dee selama di Moskow, bertahan hidup akan kerinduan masakan Indonesia hampir sama dengan menahan kerinduan kepada pria yang sedang mengisi dua mug dengan americano favorit mereka berdua.


"Kita seperti pasangan suami istri." gumam Liam menikmati sarapan terenak yang pernah disantapnya selama 35 tahun usianya.


Dee menoleh melihat senyuman miring Liam yang disertai kedipan mata kekasihnya itu.


"Aku memang istrimu kak, yang belum kamu nikahi." sahut Dee dengan datar, Liam tersedak mendengar kalimat sederhana tersebut namun membuat efek luar biasa di dadanya


Dengan buru-buru Liam menenggak air putih di depannya, setelah berdeham keras kembali mengarahkan pandangannya kepada Dee


"Hari ini kita kabari kedua orangtua kita ya sayang. Oh tidak, kalau mama dan papa di Kanada via telepon saja. Siang ini kita berangkat ke Bandung."


Sambil mengulum senyum Dee menganggukkan kepalanya.


"Tidak ada jalan mundur ya Dawn, tidak ada ragu dengan jalan yang kamu pilih. Tidak boleh meninggalkanku apa pun itu alasannya. Mulai sekarang kita akan terus bersama, selamanya"


"Aku sudah melewati rasa ragu itu kak, semua sudah aku lepaskan untuk hidup denganmu."


Liam memandangi wajah kekasihnya sambil membatin,


Aku tahu dek, aku hanya memastikan lagi tentang perasaanmu. Aku tahu Ricchi mengejarmu, semalam ponselmu terus menyala karena pesan darinya. Maaf jika aku membaca semua pesan Ricchi yang akhirnya aku tahu kalau Ricchi datang ke Moskow. Tapi setelah membaca semua balasanmu kepada pria itu aku juga tahu bahwa kamu sangat mencintaiku.


...


Los Angeles


Ricchi meremas telepon genggamnya, rahangnya mengeras, matanya menyiratkan amarah dan kecewa yang dalam.


Story instagram Liam-lah yang membuatnya seperti ini. Foto Dee tertidur nyenyak dengan caption "yang menemukan jalan kembali pulang, i love you @dawnragala"


Baiklah bang, kamu yang mengibarkan bendera perang. Bersiaplah !.


###


masih ada gak sih suka ma aku? #ricchi



cinta yang besar pasti menang #liam


__ADS_1


__ADS_2