DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
You'll Be Fine


__ADS_3

Dee jemu melihat tingkah laku manager keuangan RusiaDirect Company tempatnya bekerja, pria itu seperti setrikaan rusak, bolak-balik masuk ke ruangannya. Sedari pagi jam 8 kurang pria itu sudah datang membawakannya kopi, jam 11 datang mengajaknya makan siang bersama di kantin perusahaan. Dan barusan Andrey Arlovski datang lagi entah untuk apa, pria itu kemudian duduk di kursi depan mejanya hanya mengutak-atik telepon genggamnya.


Andrey menggunakan kemeja berwarna light blue dengan celana bahan berwarna dark grey, leather shoes berwarna coklat senada dengan ikat pinggangnya, pria itu menyilangkan kedua kakinya dengan kaki kiri di atas kaki kanannya, sangat santai.


Sikap Andrey menjadi seperti ini sebulan lalu sejak kepulangan Dee dari Indonesia, sebuah kemeja batik buah tangan untuk pria itu merubah jarak antara mereka berdua. Sebelumnya mereka seperti kucing dan tikus soal pekerjaan. Dee berada team audit dan Andrey team keuangan, tak jarang Dee bersitegang dengan pria berusia 31 tahun tersebut hanya karena selisih kecil dari departemen Andrey.


"Mr. Arlovski, apa anda tidak mempunyai pekerjaan?" Ucap Dee sopan, namun kemudian mendesis sama bak ular yang ingin mematuk mangsanya, ia sungguh tidak bisa berkonsentrasi dengan laporan yang harus diperiksanya


"Aku tidak punya pekerjaan, semua telah dikerjakan oleh bawahanku" jawab Andrey santai sambil mengarahkan mata abu-abunya yang membulat memandang ke Dee yang sedang cemberut.


Pria itu terlalu santai, Dee tahu jika Andrey pintar namun dia seolah memanfaatkan dirinya sebagai adik bungsu dari CEO RusiaDirect, Anton Arlovski, pria berusia 42 tahun yang sangat tampan dan sudah memiliki istri, konon pasangan Anton dulunya adalah pegawai kantor mereka juga.


"Kamu bisa di ruanganmu kan menunggu jam pulang kantor, Mr. Arlovski," Dee bergumam mencoba kembali memusatkan konsentrasinya pada tumpukan berkas di mejanya.


"Boring, di sini aku bisa melihatmu," sahut Andrey to the point dengan Bahasa Inggris berlogat Rusia, semua di eja sesuai bacaannya.


"Diamlah kalau begitu, aku harus menyelesaikan pekerjaanku. Jika tidak selesai aku harus lembur lagi," ucap Dee kesal, pria hampir tiap hari melakukan hal yang sama, menganggu konsentrasinya.


"Aku akan menemanimu jika kamu harus lembur," Andrey mengurai senyuman simpul walau gadis cantik di depannya tak memandang sedikit pun kepadanya.


Andrey pun kembali memainkan ponsel canggihnya, sesekali ia melayangkan pandangan ke Manager Audit kantornya, Belviyah Dawn Ragala yang selalu dia panggil dengan Miss Ragala. Gadis yang menarik perhatiannya sejak awal, saat Miss Ragala bergabung dengan RusiaDirect. Waktu itu Andrey belum bisa sedekat ini, karena dirinya masih menjalani hubungan dengan Tatyana -kekasihnya. Namun sejak Tatyana mencampakkannya karena pria lain, Andrey tidak bersedih sama sekali karena ia bisa mendekati gadis impiannya.


Andrey dengan sengaja membuat kesalahan pada laporan keuangan atau transaksi-transaksi di departemen keuangan agar mereka bisa saling berkomunikasi. Walau Miss Ragala dengan tampang dinginnya berhasil mencerca departemennya.


Saat mendapatkan buah tangan dari negara asal Miss Ragala berupa sebuah kemeja, yang sekarang menjadi pakaian favoritnya ke kantor. Andrey pun nekat mendekati gadis berambut hitam di depannya, kecantikan yang sungguh berbeda dengan wanita Rusia pada umumnya.


Mungkin bagi orang lain jika membandingkan Tatyana yang bak dewi dengan Miss Ragala pasti akan memilih Tatyana, namun buat Andrey Manager Auditnya lebih menarik. Ia sudah bosan dengan kecantikan gadis-gadis negaranya, terlalu sempurna dan kaku. Hidung pipih, rahang terpahat, mata tajam berwarna, kulit putih pucat, terlalu biasa ditemukan di pinggir jalan. Berbeda dengan Miss Ragala seolah mencari jarum di tumpukan jerami.


"Miss Ragala, kamu akan lembur?" Tanya Andrey melirik jam di tangannya yang hampir menunjukkan pukul 5 sore sementara gadis di depannya masih berkutat dengan laporan audit.


"Da" sahut Dee mengiyakan kembali tanpa menoleh ke arah Andrey, pria itu beranjak dari kursinya sembari mendekat ke samping Dee


"Sepertinya akan lama," Andrey merundukkan kepala dengan sengaja hanya ingin menghirup wangi vanilla dari tubuh Dee yang membuatnya berdebar sedari tadi.


Dee menengadah menatap mata abu-abu itu, kerjapan kelopaknya pun terlihat indah, sesungguhnya dari 3 Arlovski bersaudara, pria di sebelahnya lah yang paling tampan sekaligus seksi.


...


Matanya sudah hampir tertutup saat Dee membuka pintu apartemennya, ia sangat lelah. Untungnya Andrey mengantarkannya pulang, terlebih dulu pria itu mengajaknya makan malam bersama. Walau menjengkelkan dengan mengganggu jam kerjanya namun tadi setelah mengeluarkan kekesalannya dan menyuruh Andrey untuk diam, 2 jam lemburnya berjalan dengan penuh ketenangan.


Sesaat setelah membersihkan diri dengan berendam air hangat, Dee membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Bunyi dering ponselnya membuat Dee meraih benda tersebut di atas meja nakas.


Seutas senyuman merekah di bibirnya saat melihat nama yang tertera di telepon pintarnya itu. Dengan cepat Dee menekan menerima panggilan.


"Dawn." Suara riang Liam memenuhi indera pendengarannya, pria jangkung itu seolah berada di sebelahnya

__ADS_1


"Kak." Dee lirih sembari menggigit bibirnya, matanya berair "Aku rindu." Sambungnya yang sekarang terisak kecil. Hubungan jarak jauh membuatnya merindu hingga ke relung hatinya yang terdalam.


"Aku merindukanmu juga dek, sangat. Sabar yah Dawn, kakak pasti akan datang ke sana saat syuting ini selesai" suara Liam sekarang terdengar sendu. Dua minggu kepulangan Dee ke Rusia, Liam disibukkan dengan premiere film terbaru. Hanya jeda 3 hari ia langsung mengerjakan syuting film yang lain lagi. Dia tidak pernah berpikir sebelumnya saat menyusun jadwal 5 bulan yang lalu bahwa Dee akan kembali ke Indonesia, berakhir dengan gadis itu menerima pernyataan cintanya.


Liam mengutuk kegilaannya akan bekerja, menumpuk syuting demi syuting selama 3 tahun terakhir untuk menyibukkan diri tanpa harus menjalani hari di kantor dan di rumah dengan memikirkan Dee.


"Dawn, kamu menangis lagi, Dek?" Liam mendengar jelas isakan tangis gadis kecilnya yang membuat hatinya ikut pedih, merindu.


"Kak, ceritakan harimu, aku merindukan kamu berbicara tanpa henti." Dee kembali membaringkan kepalanya, menaruh ponsel di di telinganya sambil menutup mata membayangkan wajah Liam, pria spesial yang memiliki dirinya.


Suara Liam mulai menceritakan kejadian demi kejadian yang dialaminya hari itu. Saat senggang seperti ini, Liam akan menelepon Dee namun ketika padatnya jadwal ia hanya akan mengirimkan pesan.


"Jangan terlalu capek, kak"


"Aku ingin menyelesaikannya ini secepatnya. Bahkan aku jarang pulang ke rumah dan menginap di dekat lokasi syuting. Padahal masih di Jakarta juga dek. Arrrgghh."


Liam menggeram membuat Dee tertawa ringan, membayangkan wajah kesal pria bermata sipit itu. Rasa sesak kembali menyergap dadanya.


Selama 30 menit kemudian Liam kembali bercerita, hingga yang tadinya masih mendengar suara Dee lalu digantikan suara napas teratur gadis kecilnya.


"Aku sangat mencintaimu dek. Tunggulah aku di sana, dan kamu akan tidur dalam pelukanku lagi... mimpi indah Dawn." Liam menyudahi panggilannya dengan sebuah kecupan.


...


Dalam rangka merayakan ulang tahun ke 10 RusiaDirect Company, perusahaan tempat Dee bernaung. RusiaDirect melakukan outing ke Solnechnaya Dolina, salah satu dari banyaknya resort untuk wisata ski dan snowboarding. Tidak semua pegawai perusahaan yang ikut serta dari total 500 pegawai, mereka di bagi menjadi 3 kali keberangkatan dengan jadwal yang berbeda.


"Kamu denganku Miss Ragala." Andrey setengah berlari menyamai langkah Dee menuju kereta gantung menuju spot ski, ia memilih level 2 untuk pemula


"Aku hanya di level 2" Dee menatap wajah Andrey sambil tersenyum simpul "newbie... Ini ski keempatku selama di Rusia"


Pria itu menganggukkan kepalanya "Aku akan menemanimu, jika ada teknik yang ingin kamu pelajari. Aku akan memberikanmu private lesson."


"Spasibo..." Ucap Dee mengucapkan terima kasih, walau ia tidak mengharapkan untuk di temani namun dengan keahlian skinya yang hanya kaleng-kaleng membuatnya sedikit tenang didampingi oleh seorang profesional ski seperti Andrey.


Setelah mengunci besi pengaman kereta gantung yang akan mengantarkan Dee dan Andrey ke puncak, kedua bersandar di kursi sambil memanjakan mata mereka dengan pemandangan hamparan salju nan indah.


"Setiap kali naik kereta gantung, aku mengingat film Frozen. Yang thriller, bukan film kartun Frozen Elsa" kata Dee memecah keheningan di antara keduanya.


"Aku tahu film itu, sungguh mengerikan berada di puncak dengan suhu seperti ini. Tapi itu hanya film, denganku kamu pasti aman,"


Ucapan Andrey terkesan membanggakan dirinya tapi sebagai orang Rusia yang lahir dengan salju di pekarangan rumahnya, Dee sangat yakin ia berada di tangan yang tepat.


Dee tertawa kecil kembali memandang ke depan. Andrey ikut tersenyum lebar melihat gadis disukainya mulai membuka diri.


"Ceritakan tentang negaramu Miss Ragala"

__ADS_1


Dee termenung sesaat, memikirkan Indonesia dengan keragaman dan cuacanya.


"Kami tidak punya salju. Hanya dua musim, musim hujan dan musim panas. Matahari bisa sampai 35 derajat celcius"


"Wow, aku menyukai matahari dan pantai. Spanyol adalah negara favoritku, hampir setiap tahun aku berlibur ke sana"


"Kalau begitu kamu harus berkunjung ke Indonesia." ucap Dee ramah


"Ya" Andrey sangat percaya dengan ucapan mengiyakannya undangan Dee, ia akan mendatangi negara gadis cantik di sampingnya.



...


Dee menancapkan tongkat skinya sembari menatap ke depan, di pikirannya telah mengkalkulasi rute yang akan menjadi jalurnya menurun ke bawah.


Gadis berpakaian ski warna kuning dan celana hitam itu menaikkan tongkat ski dan mencondongkan tubuhnya ke depan, kakinya dengan kuat menahan beban sekaligus sekaligus menyeimbangkan.


Perlahan papan skinya meluncur di atas salju. Euforia dan adrenalin mengalir kencang di darah Dee, sungguh sebanding dengan perjalanan menuju resort ini yang berjarak hampir 2000 kilometer dari Kota Moskow.


Sejenak ada rasa bimbang ketika memutuskan mengambil rute sebelah kanan yang membuatnya terjengkang ke depan. Pekikan nyaring dari bibirnya sesaat Dee mendarat tak berdaya dengan tubuh menghempas diatas tumpukan salju.


"Miss Ragala!" Teriakan Andrey yang mengikuti dari belakang langsung mempercepat papan skinya mendekati lokasi Dee yang terjatuh.


"Mr. Arlovski help me" jerit Dee kesakitan sambil memegang kakinya.


Dengan tenang Andrey membuka papan ski Dee.


"Kaki kanan?" Tanya Andrey menatap Dee yang menangis kesakitan lalu mengangguk "Tahan yah, lingkarkan tanganmu di leherku," perlahan pria itu menyusupkan tangannya ke badan Dee.


Kembali suara pekikan dari Dee saat dalam gendongan Andrey. Sejenak pikirannya teralihkan pada otot-otot kekar Andrey, bahkan dengan ketebalan pakaian ski pria itu Dee merasakan dengan jelas kekuatannya.


"Hanya terkilir, percayalah kamu baik-baik saja, Sayang" anggukan dari kepala Andrey sambil menatap dalam jelaga Dee, iris abu-abu kemudian membiusnya.


###


Dawn ngapain yah?



Andrey Arlovski



Ricchi tidak muncul di episode ini.. masih adakah yang team ricchi?

__ADS_1


team liam?


ato team andrey? 🤭


__ADS_2