
“Terima kasih, sayang.” ucap Ricchi tulus kepada Dee, wanita cantik yang berdiri di dekatnya.
Dee mengulum senyuman dan merangkul tubuh Ricchi.
“Dia tampan sepertimu, kak.”
Ricchi mendesah dengan perasaan haru dan bahagia “Aku tidak pernah berpikir akan memiliki seorang cucu darimu.”
“Milik kita.” imbuh Dee
“Itu cucuku.” Suara Liam menginterupsi kemesraan Dee dan Ricchi. Pria berwangi manis maskulin itu langsung merangkul keduanya dan berada di antara kepala Ricchi dan istrinya.
Ricchi merenggut lalu menoleh sedikit “Mau gimana lagi, abang datang menjadi orang ketiga di kehidupan asmaraku.” Gerutunya diikuti ringisan
Liam dan tawa kecil Dee.
“Bukannya terbalik, kau yang sok-sok mau kenalan dengan Dee. Berakhir jatuh cinta.” Sindir Liam mengamati bayi laki-laki di dalam gendongan
Ricchi.
“Dia sangat mirip denganku.” Sambung pria bermata sipit itu.
“Dimana letak miripnya ?” tanya Ricchi
“Matanya sipit tajam sepertiku, hidungnya mancung.” Liam menjawab disertai dengan senyuman polos.
Ricchi membalikkan badannya “Mancung karena Richard, papanya. Bukan dari abang.”
“Tetap saja dia adalah cucuku juga, bukan milikmu saja.” Liam tidak mau mengalah dan membuat Dee hanya bisa menggelengkan kepala.
“Iya, ini cucu kita bertiga.” Ucap Ricchi mengalah, ia tidak mau bertengkar di hari pertama bayi kecil itu menghirup udara, dan telah mendengarkan perdebatan para kakeknya.
Sunshine melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan dengan berat 3,2 kilogram, suaminya yang tak lain Richard mendampingi keseluruhan proses persalinan yang ditempuh dengan prosedur normal. Konflik di awal pernikahan adalah masa
terberat bagi Sunshine dan Richard. Namun semakin besar kandungan Sunshine, mereka akhirnya menemukan ritme dan arti kehidupan berumah tangga itu sendiri.
“Ada kabar dari Shadow ?” tanya Dee menatap ke arah suaminya.
Liam mengangguk “Dia tidak bisa meninggalkan syutingnya, kita tahu sendiri bukan ? Jadi bersabarlah beberapa minggu lagi, Wifey. Tadi Shadow juga sudah bicara dengan Sunshine dan memberikan ucapan selamat.”
“Kak Liam sih yang memberikan proyek film.” Dee melayangkan protes kepada suaminya, pria tampan dengan mata sipit tajam itu langsung memasang wajah sendu.
“Aku tidak pernah memikirkan jika syutingnya diperpanjang karena cuaca buruk. Kau tahu jika Eropa utara memiliki cuaca yang tidak bagus
ketika musim dingin. Setidaknya anakku tetap produktif.” Liam membela anak sulungnya sementara Ricchi pura-pura tidak mendengar dengan menyibukkan diri dengan bayi yang belum memiliki nama.
Adalah Richard dan Sunshine masih bingung menentukan nama kepada anak pertama mereka, walau sebenarnya Liam beserta Ricchi sudah memiliki berbagai usulan nama untuk sang cucu pertama. Tetap saja, baik kedua ayah itu memilih
untuk diam, karena pemberian nama adalah hak mutlak Richard dan Sunshine.
“Semoga anak kita satu itu tidak pulang ketika bayi ini sudah berjalan.” Imbuh Ricchi
“Kau seperti ingin mendepak anakku, hanya karena telah memiliki cucu.” Sindir Liam
“Tuhan, sini kak bayinya. Kak Liam dan Kak Ricchi keluar dari ruangan ini.” protes Dee mengambil cucunya dengan memberikan tatapan tajam
kepada kedua pria itu.
Liam dan Ricchi saling berpandangan lalu tersenyum simpul.
“Ayo bang, kita selesaikan pembicaraan di luar. Kekasihku semakin tua semakin galak.”
Mata Dee melebar mendengar perkataan Ricchi, dengan cepat Liam menarik Ricchi keluar dari ruangan VVIP yang terbagi antara dua ruangan untuk sang ibu dan bayi itu sendiri.
“Dia akan marah karena perkataanmu tadi .” Ucap Liam ketika sudah berada di depan ruang VVIP, rumah sakit yang sama dengan tempat Ricchi menjalani perawatan karena kecelakaan yang mempersatukan mereka.
Ricchi mencebik “Dee tidak pernah marah lama denganku.” Ucapnya sambil mendudukkan tubuh di atas kursi tunggu, Liam pun mengambil tempat di sebelahnya.
“Karena kau pintar mengambil hatinya.”
Ricchi menghela napas dalam “Sudahlah bang, yang lalu tidak usah diingat. Ini hari bahagia kita, abang dan aku sudah memiliki penerus.”
“Begitu ? Biasanya kau paling semangat membahas tentang perasaanmu terhadap istriku.” Timpal Liam meluruskan kaki dan bersandar malas pada kursi.
Ricchi mengikuti posisi Liam, mereka sebenarnya sangat lelah dan kekurangan jam tidur, itu disebabkan karena menunggu persalinan Sunshine yang berjalan lebih dari 6 jam. Sekarang ibu baru itu telah beristirahat ditemani oleh Richard, sementara Liam, Dee dan Ricchi tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dengan memilih untuk menemani cucu mereka.
“Perasaanku sudah tidak semenggebu-gebu dulu.” Ricchi memejamkan mata
“Aha !” seru Liam, Ricchi sontak membuka matanya dan menoleh ke Liam, wajah pria partner di industri film terlihat itu sangat berseri.
“Apa ?”
Liam menaikkan bahunya “Mungkin kau ingin pergi dari rumah ?”
“Itu tidak akan terjadi, bang. Jika aku keluar dari rumah, aku lebih memilih pindah ke rumah Sunshine. Ketika mereka sibuk dengan
pekerjaan, ada aku yang akan mengurus bayi
itu.”
“Tidak !”
“Kenapa abang protes, bukannya aku memiliki pengalaman mengurus dan membesarkan bayi. Shadow dan Sunshine-lah, mereka tumbuh besar
seperti ini sekarang adalah berkatku.”
__ADS_1
Liam menatap tajam kearah Ricchi “Aku tidak mungkin membiarkanmu sendiri mengurus cucuku.”
Ricchi berdecih “Tadi siapa yang berbinar aku mengatakan jika tidak punya perasaan menggebu-gebu terhadap Dee. Itu ada maksud dari perkataanku, bang.”
“Apa ?” sahut Liam dengan datar
Ricchi melayangkan pandangan pada selasar yang sepi, mereka berdua seolah berada dalam scene film horor.
“Kita semua sudah berada di usia ini, bang. Cukup dewasa untuk memahami hidup. Ketika berada di usia 20an aku merasakan jatuh yang hebat
kepada Dee, tidak bisa melepaskan perasaanku terhadap gadis yang menyerahkan dirinya utuh. Dee bersamamu bukan membuatku sadar jika harus melepaskan perasaan, malah makin menyiram tanaman cinta di dada. Rumah sakit ini mengingatkan aku kepada kejadian puluhan tahun lalu, sentuhan Dee menyadarkanku dari koma.” Suara Ricchi bergetar, matanya berkabut.
Liam merangkul bahu Ricchi “Tuhan menyayangimu, memberi hidup sepanjang ini.”
Pria pemilik lesung pipi indah dan sangat dalam itu mengangguk dengan bibir terlipat “Banyak kejadian membuatku semakin menyadari
makna hidup, hari ini salah satunya. Aku tidak pernah berpikir dari sentuhan Dee itu, mengembalikanku dari tidur panjang. Dan berpuluh kemudian di rumah sakit sama, aku akan menggendong cucu darinya, darah dagingku sendiri. Bang, ini sebuah keajaiban dan anugerah untuk hidupku. Cintaku kepada Dee tetap sebesar cinta di hatimu, bang. Bagaimana pun Dee adalah istri sah dari Liam Farubun, sementara aku cukup puas dengan statusku sekarang. Tidak adalagi yang ingin kukejar dari seorang Belviyah Dawn Ragala, dia telah memberikan semuanya.”
“Belviyah Dawn Farubun.” Liam mengoreksi sambil tertawa kecil.
“Terserah bang, kita tetap membicarakan wanita yang sama.”
Keduanya menoleh lalu berpandangan, pun kemudian gelak tawa menghidupkan di selasar sepi itu.
“Semua ini berkat abang.”
“Aku ?”
Alis Ricchi terangkat dan menganggukkan kepala “Ya, membiarkanku masuk di antara kalian dan kita sudah berada di sini. Aku yakin mencari pria yang sama dengan abang sangatlah susah, maksudku membiarkan pria lain mencintai istrinya. Apakah aku boleh bertanya, bang ?”
“Apa itu ?”
Lesung pipi itu terpajang di wajah Ricchi ketika menatap ke arah Liam, sok manis yang membuat pria di sebelahnya meringis.
“Apakah abang benar-benar tulus dengan semuanya ? Aku di kehidupan rumah tangga kalian, apakah abang tidak pernah merasakan cemburu ?”
Liam menurunkan tangan dari bahu Ricchi sembari mengembuskan napas panjang dan dalam.
“Tentu saja aku cemburu, Ricchi. Tapi aku bukan tipe orang yang cemburu hingga akal sehatnya hilang. Membabi buta, hingga merusak segalanya. Atau mungkin aku yang telah kehilangan akal sehat, jika dipikir dengan nalar orang di luar sana.” Gurau Liam
“Abang bukan orang kehilangan akal sehat.”
“Ya hanya keluarga yang mengerti jalan pikiran kita bertiga. Aku-lah yang meminta Dawn untuk menemani proses recovery pasca komamu. Saat itu aku melihat tatapan wanita yang kucintai masih memiliki perasaan kepadamu. Saat
di Georgia berbagai macam berkecamuk di hati dan pikiranku. Kehamilan pertama memisahkan kalian lagi, seiring waktu aku melihat Dawn memberimu semangat untuk sembuh melalui telepon dan panggilan video. Itulah yang membuatku sadar jika kita bertiga tidak bisa terpisah. Aku tidak menyangka jika akan tinggal
serumah, saat itu terpikirkan jika seumur hidup bertiga kita akan saling berhubungan.”
“Dan abang dan sayangku kembali ke L.A.”
“Ya, kau mengajak kami tinggal bersama. Aku melihat Dawn sangat bahagia dengan kehadiranmu, hidupnya lengkap. Aku tidak bercanda ketika memintanya untuk menikah denganmu, malah hal itu yang membuat kita kembali terpisah. Selama itu aku melihatnya bahagia namun tidak seperti ketika kita hidup bersama. Dia mencintaiku tapi ada dirimu di hatinya. Aku bisa apa kecuali membahagiakannya, tidak pula ingin melepaskannya kepada orang lain selain dirimu.”
“Aku juga tidak bisa, Dawn adalah ibu Shadow. Tidak mungkin anakku dalam pengasuhan pria lain.” Liam bersungut lalu menggelengkan kepala.
“Aku mencintai istriku, sangat mencintainya. Dan keinginan terbesarku adalah membahagiakannya, dan bahagia seorang Dawn adalah ketika kau berada di sampingnya. Jika aku adalah bulan dan kegelapan malam, baginya kau adalah matahari. Harus ada kedua itu agar hidup terus berlangsung.”
Ricchi mengulum bibir sambil menganggukkan kepala pelan “Kau tidak segelap itu bang, mungkin kita berdua adalah matahari.”
Liam menggeleng sambil tersenyum “Tidak, aku lebih baik menjadi malam. Aku menenangkan tidurnya, kau menghangatkan harinya.”
Ricchi tertawa “Baiklah. Aku terima itu, bang.”
Keduanya kembali berpandangan lalu tertawa dengan hangatnya.
“Aku penasaran nama apa yang diberikan Richard kepada anaknya.” Sambung Ricchi
“Entahlah, setidaknya kita harus menunggu sampai besok.”
“Bang, bagaimana dengan Shadow ?” tanya melirik Liam, pria yang bersedekap sembari menyandarkan punggungnya.
“Ada apa dengan Shadow ?”
Ricchi mengangkat bahu “Kapan kira-kira anak kita satu itu menikah ?”
Liam tertawa kecil menoleh dengan alis bertautan “Sejak kapan kau memberikan target kepada Shadow. Biarkan dia menikmati hidupnya, jika
jodohnya telah tiba kita tinggal merestuinya. Ada-ada saja kau bahas. Sepertinya kita berdua telah sangat lelah, Ricchi. Ayo masuk ke dalam, dan tidur.” Ucapnya berdiri lalu menarik tangan Ricchi untuk berdiri.
“Terima kasih bang.” Ucap Ricchi tulus ketika berjalan bersisian
Mata sipit itu menatap heran “Terima kasih untuk apa ?”
Ricchi tertawa kecil dan merangkul bahu Liam “Untuk semuanya. Hatimu yang tiada bandingan, pemikiranmu, kebijakan yang berada di luar nalar.”
Liam mendengus “Itu demi Dawn.” Ucapnya berpura-pura kesal
“Mungkin aku tidak memiliki saudara kandung, tapi Tuhan memberikan lebih baik daripada itu. Dan itu adalah abang, terima kasih.” Ucap Ricchi
diikuti desisan bercampur tawa geli dari Liam.
…
Seutas senyuman lebar tersungging di bibir Dee ketika melihat dua pria hebat di hidupnya duduk di beranda belakang, menikmati sore dengan ditemani minuman kesukaan masing-masing. Liam dengan kopi sementara Ricchi dengan
jus berwarna orange kemerahan.
__ADS_1
“Apa Max sudah tidur ?” tanya Ricchi ketika melihat kedatangan Dee, wanita cantik mengisi hatinya itu langsung mendudukkan tubuh di kursi
panjang antara Liam dan dirinya.
Dee tersenyum tipis menggelengkan kepala “Milian, kak.”
“Sama saja Wifey, namanya Maximilian Maheswara. Ricchi bisa memanggilnya Max dan kau memanggilnya Millian, tapi aku lebih suka dengan nama Milan. Kota yang akan kukunjungi bulan depan.” Sahut Liam lalu menyesap isi
gelasnya. Wajahnya menyiratkan kenyamanan ketika cairan kafein itu membasahi kerongkongannya.
“Bang, aku ikut kan ?”
Liam menatap ketus ke arah Ricchi “Berapa kali kau akan menganggu ketenangan bulan madu kami ?”
Ricchi mengambil jemari tangan Dee dan memasang wajah sendu, tidak lama kemudian matanya berkabut. Sungguh seorang aktor yang sangat handal.
“Sayang, aku juga ingin merasakan kota Milan.”
Liam mencondongkan badan melihat mimik Ricchi yang sangat diketahuinya itu hanya sandirawara belaka.
“Bukannya kita sudah pernah ke Milan, beberapa kali.” Ucap Liam
“Iya, tapi itu dulu, bang. Sekarang di usia segini belum pernah lagi. Bersama-sama.”
Dee hanya menggelengkan kepala, sejujurnya memang lebih baik melihat keduanya dari kejauhan dibanding ikut bergabung menikmati sore. Ketenangan mereka berdua berakhir perdebatan kecil yang berulang dan tak berujung.
“Kak Liam.” Dee menoleh ke kanan dan menatap penuh harap persetujuan suaminya.
Liam mengembuskan napas panjang “Kau boleh ikut tapi berkencanlah dengan wanita lain selama di sana, biarkan aku menghabiskan waktu bersama dengan Dawn.”
“Tidak !” serentak Ricchi dan Dee bersuara.
Liam menangkup kepalanya sembari tergelak tawa.
“Dasar kalian, sepertinya aku yang menjadi orang ketiga di hubungan ini.” gurau Liam.
Dee memajukan bibir bersamaan dengan alis hitamnya bertautan
“Aku-lah orang ketiga di antara kalian berdua.” Gerutunya membuat kedua pria yang memiliki ketampanan berbeda itu terbahak tawa yang keras.
Wanita cantik yang telah memiliki satu cucu itu membiarkan Liam dan Ricchi menikmati kelucuan dari perkataanya.
“Sudah ?” ucap Dee usai menyesap americanonya, tawa dua pria itu di sebelahnya digantikan oleh senyuman lebar.
“Jadi kita akan pergi ke Milan berwisata. Mengulang masa-masa lalu.” Ucap Ricchi sambil menaik turunkan alisnya kepada Liam dan Dee.
“Terserahlah, selama kau bahagia Ricchi Maheswara.” Liam mengedikkan bahu dengan bibir melengkung ke bawah, namun mata menyiratkan bahagia.
“Tentu saja aku bahagia, bang. Aku memiliki kalian berdua, sungguh hidup yang menyenangkan. Bukan begitu sayang ?”
Dee menganggukkan kepala dengan antusias, senyumnya melebar penuh, bergantian menatap Ricchi dan Liam.
Pemilik lesung pipi dalam itu tertawa kecil lalu mengecup jemari tangan Dee, di depan Liam yang meringis.
“Sayangku Dee, jika ada kehidupan kedua, apakah kau akan mencari kami lagi dan menyelamatkan hidup pria-pria penuh dosa ini ?” tanya Ricchi menatap lekat manik hitam dan indah milik Dee.
Dee mengecup pipi Ricchi ringan dan kembali menatap wajah dua pria tampan memiliki hatinya “Tentu saja aku akan mencari kalian berdua,
kak. Kita mulai dari awal lagi, bertetangga dengan Kak Liam, bermain game dengan Kak Ricchi. Puluhan tahun yang penuh arti, tidak ada waktu yang terbuang percuma. Hal yang tidak mengenakkan pun menjadikan kita seperti ini. Terima kasih Kak Liam, terima kasih Kak Ricchi.” Ucapnya memegang ke dua tangan pria
itu.
“Aku mencintaimu, Wifey.” Liam mengelus pipi istrinya
Dawn menoleh menatap Liam sambil tersenyum “Aku mencintaimu, kak. Pria terhebatku.” Ucapnya bersamaan air matanya jatuh.
“Aku mencintaimu sayang.” ucap Ricchi mengacak rambut Dee. Wanita cantik yang memberikannya dua anak perempuan yang sangat cantik itu nampak tertawa kecil.
“Aku… “ ucap Dee terpotong karena Liam membekap bibirnya. Bersamaan dengan itu Liam menarik tubuh Dee masuk ke dalam pelukan.
“Jangan dijawab, Wifey. Biar aku saja.” Liam menatap Ricchi menyunggingkan seringaian tidak terima.
“Aku mencintaimu Ricchi.” Liam mengucap dengan tubuh bergetar karena tawa.
Ricchi semakin merenggut “Ya, aku mencintaimu bang. Hanya saja sekarang aku sudah sangat normal”
Tinju melayang di lengannya “Dasar, itu dulu ucapanku.”
Dee sekilas memeluk suaminya lalu duduk dengan punggung yang tegap.
Ia pun mengambil kedua tangan pria dan menggenggamnya “Aku mencintai kalian berdua, kita akan hidup bersama-sama seperti ini sampai menua, hingga cucu-cucu kita besar dan jangan pernah mati sebelum aku pergi duluan. Jujur aku tidak bisa hidup tanpa kalian.”
Ricchi menatap Liam dan menganggukkan kepala “Hidup bersama dan mati pun bersama ?”
Dee mendengus geli.
“Walau itu kecil kemungkinan, tapi aku setuju kak.” Dee menyahut lalu menyandarkan kepala di bahu suaminya, namun jemati tangannya terjalin dalam genggaman erat si pria berlesung pipi dalam.
“Jadi di kehidupan berikutnya siapa yang akan kau nikahi, Wifey ?” tanya Liam mengecup puncak kepala istrinya, ia terpaku sesaat melihat beberapa helai surai telah. berganti warna.
Dee sudah mulai menua, sama seperti
dirinya. Hidup sungguh sangat singkat !
Dee menarik napas panjang setelah terdiam beberapa saat “Siapapun yang duluan aku temui, itulah yang akan aku nikahi selanjutnya. Jadi, berlombalah untuk ditemukan, kak.”
__ADS_1
THE END
###