DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Ocean Blue


__ADS_3

24 bulan berlalu...


Shadow berusia 25 tahun. Sehari setelah merayakan ulang tahun seperempat abad ia mendapatkan piala Oscar pertamanya


sebagai Best Director. Perhargaan tertinggi dalam karier Shadow mengantarkannya pada ketenaran yang diraih dalam semalam. Momen itu disaksikan langsung oleh ketiga orang tua dan adiknya. Hanya keluarga.


Shadow belum menjalin sebuah hubungan romansa setelah kehadiran Alexandre. Aktor itu semakin bersinar dan masih tetap lajang walau telah berpisah dengan wanita yang memberikannya seorang anak laki-laki.


Nyatanya dalam 2 tahun Alexandre tetap berusaha memenangkan hati Shadow, berkali-kali sutradara cantik itu harus menolak skenario yang membuatnya harus bekerja sama dengan sang aktor. Shadow memilih menjauh, walau ia harus menerima puluhan pesan dari Alexandre dalam setiap harinya.


Shadow tidak mempunyai waktu untuk menjalin sebuah hubungan percintaan. Sebulan lalu mau tidak mau ia harus menerima keputusan sang ayah yang memintanya untuk beristirahat dari pekerjaan. Liam berhenti memberikan project


film kepada anaknya, selama 2 tahun lebih Shadow tidak berhenti bekerja. 70 persen hidup gadis muda itu habis di lokasi syuting, sangat mengkhawatirkan bagi para orang tua.


Selama masa libur yang Shadow belum tahu kapan akan berakhir. Sutradara cantik itu habiskan dengan “me time” layaknya gadis seusianya. Nonton film di apartemen, perawatan ala selebriti Hollywood, mengunjungi gallery yang


dilakukan bersama dengan ketiga orang tuanya.


Hari itu pun Shadow dipanggil sang ibu untuk kembali ke rumah, mereka akan makan siang dengan menu masakan Indonesia. Tentu saja Shadow semangat jika orang tuanya memasak makanan favoritnya, spicy curry.


Shadow mengukir senyuman ketika melihat sosok jangkung berdiri di beranda, Liam telah menanti kedatangannya.


“Ayah.” seru Shadow ketika turun dari mobil. Ia pun bergegas menghampiri ayahnya. Mereka masih bertemu dua hari yang lalu namun tingkat


posesif pria paruh baya itu sangat tinggi. Liam memeluk erat anak gadisnya lalu


menghujaninya ciuman di pipi.


“Papa dan Ibumu di dalam, mereka yang memasak hari ini. Tapi semua sudah selesai.” Ucap Liam merangkul Shadow. Keduanya berjalan memasuki rumah bercat putih tulang itu.


“Ibu.” Shadow melepaskan diri dari rangkulan Liam dan memeluk tubuh Dee, ibunya. Wangi parfum bercampur rempah masakan menguar di


indera Shadow membuatnya tersenyum lebar.


Dee menangkup wajah Shadow, manik hitam sang ibu berkaca-kaca.


“Ibu, ada apa ?” tanya Shadow tetiba risau akan raut sedih ibunya.


Ricchi mendekati ibu dan anak itu.


“Sayang, nanti kita bicara. Shadow pasti melewatkan sarapan demi makan masakanmu.” Ucap Ricci menepuk punggung Dee dengan pelan.


Dee pun mengangguk dan berbalik menatap Ricchi, Liam meraih jemari Shadow menuntun anaknya menuju meja makan.


Shadow memerhatikan tingkah ketiga orang tuanya saat santap siang, tidak ada yang membuka sebuah percakapan dan ia pun tidak berani memulai. Bahkan untuk memuji masakan sang ibu pun diurungkan oleh Shadow.


Setelah 15 menit dalam situasi canggung di meja makan, Shadow kemudian dituntun oleh Ricchi menuju sofa ruang tengah. Wajah Shadow tergurat penuh tanda tanya, ia menatap Ricchi yang tersenyum tipis.


“Tidak ada apa-apa, my girl.” Ucap Ricchi menenangkan kerisauan hati Shadow


“Tapi pa, ibu sampai menangis melihatku. Apakah aku melakukan kesalahan ?” tanya Shadow mendudukkan tubuh diatas sofa. Ricchi pun


duduk di sebelahnya, pria paruh baya itu sekilas menoleh ke arah Liam dan Dee berjalan saling bersisian.


Tangan Shadow digenggam oleh Ricchi menahan agar ia tidak banyak bergerak gelisah, menanti apa yang akan disampaikan salah satu orang


tuanya.


“Shadow, sebenarnya yang ingin kami sampaikan tidak berhubungan langsung denganmu, nak. Tapi ini berkaitan dengan keluarga besar kita.” Ucap Liam memulai pembicaraan, ia bertukar pandangan dengan Ricchi namun pria di samping Shadow memberikan isyarat untuk melanjutkan perkataannya.


“Kau berteman baik dengan Richard, bukan ?” tanya Liam menatap Shadow masih terlihat kebingungan


Anak sulung Liam spontan mengangguk “Ya, kami berteman baik. Hanya saja tidak intens berkomunikasi, ayah tahu sendiri jika Shadow sangat sibuk.”


Dee dan Liam tersenyum simpul dengan kepolosan jawaban anak gadisnya.


“Richard akan menjadi keluarga kita, nak.” Liam berucap dan melihat tubuh Shadow tersentak kaget


“Hah ? Apa ?”


Ricchi mengelus punggung Shadow, papanya mengiyakan perkataan Liam.


“Adikmu Sunshine akan menikah dengan Richard.” Imbuh Ricchi


Bersamaan dengan itu Dee terisak, Shadow mengerutkan kedua alisnya menatap Ricchi, ia membutuhkan penjelasan akan sikap sang ibu. Setahu Shadow, sang ibu adalah wanita yang sangat jarang menangis, yah mungkin beberapa kali dan terakhir ketika ia mendapatkan piala Oscarnya. Namun itu adalah tangis bahagia,


bukan tangis sedih yang terpampang di depan Shadow.


“Sunshine hamil.” Gumam lirih Ricchi membuat tangisan Dee semakin besar. Wanita paruh baya itu pun direngkuh dalam pelukan Liam


Sementara Shadow terperanjat kaget akan ucapan Ricchi, ia pun mulai berkaca-kaca.


“Pa, ini bohong bukan ?”


“Sama sekali tidak, my girl. Adikmu telah hamil 2 bulan. Baru kemarin dia dan Richard mendatangi kami. Mereka akan menikah, walau belum


melakukan pertunangan. Dee sangat bersedih karena ini sangat mendadak dan ibumu

__ADS_1


lebih menginginkan kau yang duluan menikah.” Jelas Ricchi sembari menyeka cairan bening yang jatuh di pipi coklat sang anak


Bibir Shadow menekuk ke bawah, lalu mengarahkan pandangan kepada Dee dan Liam. Ia kemudian berdiri dan lalu menghambur dalam pelukan ibunya.


“Maafkan adikmu, nak.” Ucap Dee dengan suara serak. Anak gadisnya memeluk erat dengan isakan pelan.


“Tidak ada yang perlu dimaafkan, bu. Sunshine tidak punya salah apapun.”


Dee membelai rambut ikal Shadow “Tapi kami semua tahu jika kau menyukai Richard, nak. Berulang kali ibu menasehati Sunshine untuk fokus kepada kariernya bukan pada kehidupan percintaan dengan Richard.”


“Bu, aku sudah tidak punya perasaan apapun dengan Richard. Kami hanya teman, sahabat dari kuliah. Jangan pikirkan Shadow, sungguh kami tidak ada hubungan apa-apa. Terakhir Richard mengirimkan pesan saat memenangi Oscar.”


Liam menarik napas panjang menatap Dee dan Shadow “Kami takut jika pernikahan adikmu akan membuatmu kembali mengingat perasaan dengan


Richard.” Ucapnya dengan hati-hati


Shadow menggelengkan kepala dengan kuat “Ayah, tolong. Bagiku tidak ada Richard lagi, itu cuma kisah lama. Shadow tidak berpacaran karena kesibukan, tidak ada waktu membahagiakan diri sendiri apalagi orang lain. “ sahutnya beralasan, walau sangat kaget akan berita yang didengarnya namun Shadow jujur akan perasaannya. Richard tidak punya tempat istimewa di hatinya, murni sebagai teman dan ke depannya adalah sebagai adik ipar.



Hari pernikahan Sunshine berlangsung sebulan dari pembicaraan terakhir Shadow dengan ketiga orang tuanya, semua direncanakan secara


mendadak. Ada hal yang perlu ditutupi  dengan cepat agar aib keluarga mereka tidak menjadi santapan publik. Kehamilan Sunshine yang belum menampakkan tanda-tanda kehamilan, mungkin karena adiknya itu memiliki tubuh semampai. Belum membuncit lebih mengarah ke badan yang berisi nan seksi.


Sunshine sangat cantik dalam balutan gaun pengantin berwarna putih, sangat pas dengan tubuh indah itu. Tak hentinya Richard memandang sang istri penuh kagum, hal itu juga membuat Shadow bernapas lega melihat pasangan


berbahagia yang sejam lalu mengikrarkan janji sehidup dan semati.


Pun tampak ketiga orang tuanya sangat berbahagia, walau Shadow tahu Dee ibunya bersedih dengan pernikahan Sunshine. Anak bungsunya masih berusia 22 tahun, itu yang membuat Dee belum sepenuhnya ikhlas melepaskan Sunshine. Liam dan Ricchi terus menerus meminta Dee untuk menerima Sunshine


terlebih dulu menikah melangkahi Shadow.


Gadis mengenakan dress berwarna beige berjalan meninggalkan ballroom besar yang bisa menampung ribuan tamu undangan. Shadow merasa tidak ada yang memerlukan kehadirannya di ruangan tersebut. Ketiga orang tuanya lebih


banyak berbincang dengan tamu dan keluarga, pun Sunshine dengan teman-teman sejawatnya yang sengaja terbang demi menghadiri pesta pernikahan di pulau dewata.


Shadow melintasi bagian kolam renang dan hendak menapaki jalanan berbatu namun seseorang menarik tangannya.


“Rich !” pekik Shadow ketika pria mengenakan tuksedo hitam dan kemeja putih itu membawanya ke daerah taman, tidak ke arah bangku besi


berukir melainkan merapat pada tanaman pagar hijau setinggi dada orang dewasa.


Richard sempat memerhatikan keadaan sekitar sebelum berpadu pandang dengan Shadow.


“Shadow…” ucapnya pelan lalu menunduk. Tangannya masih enggan ia lepaskan dari pergelangan tangan gadis yang begitu sangat cantik di matanya. Bahkan melebihi Sunshine, istrinya yang tampil sempurna.


“Ada apa ?” tanya Shadow menangkap sikap Richard yang sangat berbeda saat di dalam ballroom


Plak !


Shadow menampar pipi Richard dengan keras. Manik coklat miliknya berkilat tajam menatap Richard yang sendu. Pria tinggi dan kekar itu


sama sekali tidak mengaduh kesakitan sementara bekas tamparan memerah di pipi.


“Apa maksud perkataanmu, Rich !” Bentak Shadow dengan nada tinggi


“Sshhh.” Richard memberi isyarat agar Shadow tenang


“Maafkan aku, Shadow. Tapi melihatmu sejak pagi, membuatku semakin tidak yakin akan pernikahanku dengan Sunny. Hubungan kami sebenarnya telah merenggang 6 bulan terakhir ini. Tapi kabar jika Sunny hamil membuatku harus bertanggung jawab. Aku salah telah menjalin hubungan begitu intim dengan Sunshine.”


Rahang Shadow mengeras “Itu resiko yang kau harus tanggung, Rich ! aku tidak peduli jika kau tidak yakin dengan pernikahan ini, tapi aku


akan membunuhmu jika menyakiti adikku ! Ayah dan papa juga! Sunshine sedang mengandung anakmu.”


Richard menjatuhkan air mata, sangat lemah untuk pria berbadan kekar itu.


“Shadow, aku mencintaimu. Hanya ada kamu sejak dulu. Aku memang menyukai Sunny, tapi perasaanku..”


“Tidak ! hentikan ucapanmu, Rich. Aku tidak mau


mendengarnya, bagiku kau adalah suami adikku. Tolong kembalilah ke ballroom, Sunshine pasti mencarimu. Semua orang mencarimu.” Pinta Shadow sembari melepaskan tangan dari genggaman Richard


“Shadow, tolong. Hanya kau temanku.”


Shadow mendengus kasar “Juga adik iparku. Maaf aku harus pergi.” Ucapnya dengan tegas, berbalik dan berjalan setengah berlari melewati


taman, pohon palem yang tinggi dan rerumputan hijau terpotong rapi.


Shadow melepaskan heelsnya ketika kakinya mencapai pasir putih nan lembut. Lautan biru dengan matahari sedikit condong ke arah barat membuat napas sesaknya sedikit lega. Gadis bergaun semata kaki itu menghempaskan badannya di atas pasir, sejenak ia menarik napas panjang tak lama kemudian Shadow tersedu.


Tubuhnya bergetar terisak pedih, perkataan Richard mengguncang perasaan Shadow.


“Sialan kau, Richard !” teriaknya menatap ke depan


Shadow mengambil tempat duduk yang agak jauh dari kafe hotel, cenderung menepi dan tidak ada berlalu lalang di depannya. Hanya angin


berhembus dan debur ombak pelan menjadi teman kegundahan Shadow.

__ADS_1


“Hei.” Sapa suara rendah dan dalam membuat Shadow menengadah. Sosok pria bersuit hitam mengulurkan sapu tangan berwarna biru.


“Aku tidak butuh !” tolak Shadow ketus memilih menghapus air mata dengan bagian bawah gaunnya.


Pria jangkung itu sepertinya tidak mengerti akan penolakan Shadow, berikut malah ikut duduk di sebelahnya.


“Mukamu lucu.” Kekeh pria asing itu yang terus menatap Shadow.


Gadis yang ditertawai menatap tajam wajah pria itu, tampan tapi belum apa-apa sudah membuatnya kesal.


“Coba sini.” Tanpa persetujuan pria itu langsung memegang pipi kanan Shadow, sementara jemari panjang satunya mengusap dengan perlahan


pada bagian bawah mata menggunakan sapu tangan berwangi maskulin, citrus, woody


dan floral berpadu dengan kombinasi yang sempurna.


Shadow tidak berkutik dengan dominasi pria asing itu. Alih-alih melayangkan protes malah terdiam seribu bahasa sembari menatap sepasang manik


biru dari wajah yang terlihat sangat serius dengan pekerjaannya.


“Maskaramu meleleh di pipi. Kau seperti hantu dengan wajah seperti ini. Bukannya sekarang sudah jaman menggunakan maskara anti air ?”


suara bergumam rendah membuat Shadow meremang


“Aku didandani oleh makeup artist.” Sahut Shadow


Senyum miring tapi indah terpampang di wajah pria yang mendadak akrab dengannya “Oh, jadi bukan punyamu. Wajarlah jika air mata membuatmu tampak mengerikan. Selesai.” Serunya melepaskan tangannya pada wajah Shadow


“Thank you.” Cicit Shadow kikuk, ia memalingkan wajahnya kembali ke depan, pada biru laut yang berombak pelan


Pria asing itu tertawa kecil “Apakah kau menjalin hubungan dengan pria tadi ? Sang mempelai pengantin ?”


“Apa !” seru Shadow membulatkan matanya menatap pria yang sedang mengukir senyuman mengejek


Suara gelak tawa semakin membesar “Aku melihatmu, suara kalian sangat besar untuk pasangan yang sedang berselingkuh.”


Tangan Shadow hendak memukul namun ditahannya “ Kami tidak berselingkuh, dia adalah suami adikku.” Terangnya tanpa diminta


Pria asing itu menghela napas lega “Syukurlah. Karena pria itu tidak layak untuk kau tangisi.”


Shadow meringis “Richard sangat menjengkelkan. Kami berteman sejak kuliah, dia adalah cinta pertamaku namun tidak sekali pun kami


berpacaran, malah memilih Sunshine adikku. Di pesta pernikahannya ia mengatakan tidak yakin dan mencintai aku. Brengsek bukan ?”


Pria itu tertawa keras sampai memegang perutnya, Shadow pun memberikan pukulan ringan pada lengan kokoh sebelahnya.


“Ini bukan sesuatu yang lucu !”


Pria itu mendengar protes Shadow, manik biru itu mengerjap dengan bulu mata yang lentik “Baiklah aku berhenti. Siapa namamu ?” tanyanya tanpa basa-basi


Shadow merenggut kesal “Ophelia Shadow Farubun. Kau boleh memanggilku Shadow.”


“Namamu keren, Shadow. Bayangan. Itu mengapa pria itu tidak bisa melepaskanmu. Karena kau terus membayangi hidupnya.”


Shadow mendecih kasar, entah mengapa dengan pria yang tidak dikenalnya ia bisa menunjukkan sisi lain dari dirinya.


“Lupakan. Aku tidak mau membahas Richard lagi.”


“Baiklah, tapi kau beruntung tidak bersamanya. Pria itu tidak terlalu tampan.” Ucap pria bermanik biru itu menahan tawa


Shadow bukannya marah namun tergelak tawa “Jadi Richard tidak tampan ?”


“Huum.” Pria itu mengangguk dan terkekeh “Aku jauh lebih tampan dari suami adikmu.”


Gadis bersurai hitam menghentikan tawa dan menatap lekat pemilik wajah yang mengakui kelebihannya “Ya. Kau memang lebih tampan tapi


sekaligus menjengkelkan. Punya percaya diri yang sangat tinggi. Ya, aku akui matamu sangat indah seperti lautan di depan. Biru.” Ucap Shadow kemudian mendengus ringan. Bibirnya cemberut karena mengatakan sebuah kejujuran yang


kemudian disesalinya.


“Seperti lautan ?”


Shadow mencebik lalu mengangguk lemah.


Pria itu mengedikkan bahu, bibir mengulum senyuman “Sesuai namaku, laut.”


Shadow membulatkan mata “Jadi namamu laut ? hahaa.. lucu.”


Gelengan kepala dari pria berwangi maskulin “Laut dalam bahasa Jepang. Nama yang sebenarnya, Kai. Kai Navarro.”


###



part lanjutannya ada di novel Kai 😁


up jam 11 😛

__ADS_1


Love,


D 😘


__ADS_2