
Aku harus jawab apa ! Pekik Dee dalam hati, cobaan cinta bernama Ricchi sedang menangis dengan membenamkan kepala di atas pahanya.
Sepanjang usia Dee, ini adalah pertama kali seorang pria dewasa menangis seperti anak kecil di depannya, ia pikir pria ada makhluk ciptaan Tuhan yang lebih berlogika ketimbang berperasaan. Menangis adalah hal tabu bagi kaum dominan otot dalam tubuhnya. Tapi itu tidak berlaku pada Ricchi, pria tampan beralis tegas itu tak sungkan meluapkan kesedihan dalam hatinya.
"Kak." Dee berujar sambil membelai rambut pendek Ricchi, hatinya mengharu biru akan sikap pria itu
"Dee, maafkan kakak yang terlihat lemah di hadapanmu. Tapi ini adalah aku yang sebenarnya. Aku yang berduka kehilanganmu di kala cintaku begitu besar, di kala aku sudah bermimpi tinggi hidup berdua denganmu. Inilah perasaan yang aku pendam selama 3 tahun, kakak tidak punya teman untuk berbagi. Yang bisa kulakukan adalah tersenyum di depan kamera, di depan orang banyak bahwa hidupku baik-baik saja."
"Kakak sekarang sudah punya Elvira, sudah bertunangan" tukas Dee
Ricchi menggelengkan kepala menggigit bibir bawahnya. Sesaat kemudian sang aktor rupawan menangkup wajahnya dengan kedua tangan sekaligus menghapus jejak air mata.
"Kakak akan cerita awal mula kami dekat Belviyah Dawn." pria dengan hidung ramping dan mancung itu pun beranjak naik duduk di sebelah Dee.
"Kami bertemu di proyek iklan smartphone, pernah nonton iklannya?" Tanya Ricchi dibalas gelengan dari gadis bermata indah sampingnya "Bodohnya aku, jelas kamu tidak tahu dek, duniamu di sini jauh dari hiruk pikuknya Indonesia."
"Dari proyek iklan itu, Elvira mulai menghubungi, walau awalnya aku berupaya tetap bersikap profesional karena kami bergelut di pekerjaan yang sama. Kemudian aku mulai terbiasa dengan pesan dan perhatiannya. Setahun kamu menghilang aku kembali tinggal dengan papa dan mama, aku tidak bisa pulang ke apartemen yang mana setiap sudut ada kenangan bersamamu. Apalagi di tempat tidur." ucapan Ricchi terdengar lirih dengan suara seraknya
Tubuh Dee bergetar, seolah ada menyalakan tombol rewind dalam memory kepalanya. Tempat tidur Ricchi, tempat ia memberikan dirinya utuh kepada pria itu
"Kamu mengingatnya sayang?" Kata Ricchi lembut, satu tangan mengangkat naik dagu Dee yang tertunduk dengan wajah merona
Ricchi tertawa kecil, Dee melega melihat wajah sang aktor setidaknya tidak seperti tadi.
"Ya, Entah kapan aku juga sudah lupa. Tapi Elvira mengunjungi rumah dan berkenalan dengan papa dan mama, walau kami saat itu belum ada hubungan apa-apa. Melihat kedua orang tua bahagia dengan Elvira, membuatku membuka hati kepada wanita itu. Kakak pikir bersama Elvira bisa melupakanmu dek, sayangnya tidak. Kamu terus membayang-bayangiku bahkan di saat aku tidur dengan Elvira. Gila bukan? Ya, aku sepertinya sudah gila Dee. Kamu membuatku menjadi seperti ini. Membuatku seperti seorang mata-mata yang mengikutimu. Jika dinalar bagaimana mungkin seorang aktor mengstalking seorang wanita biasa. Tapi aku bukan aktor saat ini, kakak hanyalah pria biasa yang tidak bisa berhenti mencintaimu."
Dee spontan berdiri berjalan menuju dapur dengan mengepalkan tangannya, demi menahan air mata yang tak tumpah di depan Ricchi.
"Kemana?" Tanya Ricchi
Dee menghentikan langkah walau tak menoleh, gadis itu lalu berdeham keras membasahi cekikan di lehernya
"Ambilkan air putih buat Kak Ricchi." sahutnya
Dengan tangan gemetar Dee mengambilkan air minum untuk Ricchi, yang sebenarnya hanya jeda untuk dirinya menjauh dari serangan sang aktor yang tampan itu.
"Biar kakak yang bawa." Ricchi sudah berdiri di dekatnya membuat Dee terkesiap kaget, tubuh tinggi dan wangi maskulin seolah ingin menyeretnya masuk ke dalam pelukan.
Tuhan, tolong aku !!
"Tidak punya minuman yang bisa menghangatkan? Masa kakak di kasih air putih di tengah cuaca seperti ini sama cola dingin?" canda Ricchi tertawa dengan memamerkan lubang dalam di pipinya
Tangan Dee kembali mengepal untuk tidak menangkup pada tempat itu.
Seperti inilah godaan dunia, wujud sempurna bergelar mantan kekasih. Jangan salahkan Dee, tapi jika ditempatkan dalam posisi seperti ini siapa yang bisa menolak. Terlebih ketika rasa itu kembali hadir.
Dee membuka lemari kabinet yang berada di atas, nampaklah botol-botol minuman berkadar alkohol tinggi berbaris dengan rapi.
"Kamu jadi pemabuk sekarang dek?" seru Ricchi menaruh baki di atas island table, irisnya membulat tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya
"Tidak kak ! Karena kakak bertanya yah aku kasih lihat" sergah Dee cepat sambil mengibaskan tangannya
"Tapi ini kan banyak sekali, bagus dan mahal pula" Ricchi mengambil satu botol yang dia tahu jelas rasanya
"Sebagian besar dari kantor, dikasih dari teman atau tetangga" ungkap Dee jujur
Ricchi percaya jika gadis cantik itu berkata yang sebenarnya, ia juga paham bahwa kebiasaan orang Rusia yakni meminum cairan yang menghangatkan seperti ini hanya demi bertahan ketika cuaca dingin membekukan tubuh.
"Minumnya dikit, cuma untuk kasih hangat badan"
"Aku tahu sayang"
Ricchi menaruh botol tersebut bergabung dengan air putih dan sekaleng soda ke atas baki. Dengan melangkah santai pria itu kembali ke ruang tengah yang diikuti oleh Dee.
"Kakak jangan mabuk di sini"
"Siapa juga yang mau mabuk"
"Kakak." Dee mencebikkan bibirnya sembari memerhatikan Ricchi mengisi gelas slokinya dengan lamban.
"Dingin dek, walau apartemenmu penghangatnya menyala tapi kakak tadi kena badai salju. Janji cuma segelas.. dua deh" Ricchi beralasan dimana Dee tidak bisa memberikan bantahan kecuali melihat pria itu mulai membasahi tenggorokannya dengan alkohol berkadar 60%
__ADS_1
"Kakak berapa lama di sini?" Tanya Dee tiba-tiba dan Ricchi pun menoleh memandangnya
"Selamanya"
"Jangan bercanda kak" Dee spontan menyahut
Senyuman mematikan itu pun terpampang indah di wajah Ricchi
"6 hari kedepan aku masih di sini Dee."
Mata Dee membulat mendengar Ricchi
Tuhan, berikan aku kekuatan.
"Nginap di mana?"
Ricchi menghembuskan napasnya dalam, bahkan Dee pun bisa mencium aroma manis alkohol yang keluar dari indera pria itu.
"Boleh di sini?"
"Gak !"
"Kenapa abang boleh, aku tidak boleh?"
Dee tidak menjawab
"Kakak tidur di sofa saja, tidak tidur bersama"
Dee kembali tidak menjawab,
"Janji tidak akan menyentuh kamu dek, kecuali kamu mengijinkan "
"Kak Ricchi !" Pekik Dee dengan semburat merah di wajahnya
Ricchi menopang dagu sembari memandang ke wajah gadis di sebelahnya, cantik. Sangat cantik apalagi ketika memberenggut kesal seperti ini. Ekspresi yang tak pernah Ricchi lihat sebelumnya.
"Kekasihku makin cantik dengan rambut panjang" Ricchi mengambil helaian besar rambut Dee dan menciuminya
"Baiklah... Kakak ralat, dulu Belviyah Dawn Ragala adalah kekasihku"
Sama saja, kalimat yang membuat Dee lemas karena jantungnya bekerja marathon.
"Kita berdua sudah punya pasangan kak."
"Saat ini pun aku bisa meninggalkan Elvira demi bersamamu dek"
"Kakak gila yah?! Dari menangis, tersenyum, tertawa, merayu dan sekarang menjadi jahat hanya dalam waktu tidak kurang dari sejam. Kakak tidak pikirkan perasaan Elvira? Jika aku dalam posisi Elvira apa kakak tega?" Dee dengan suara lantang sedikit bergema yang membuat sang aktor malah cengengesan mendengarnya.
Ricchi lalu meraih jemari Dee dan menggenggamnya
"Jika kamu adalah Elvira, kita sudah menikah dan mempunyai anak berumur 2 tahun sekarang, andai kamu tidak meninggalkanku Dee."
Gadis di sebelah Ricchi pun akhirnya menitikkan air mata, terisak pilu.
"Dee sayang." Sang aktor lalu meraih tubuh Dee masuk ke dalam pelukannya, pada dada kokoh dan panas, miliknya
"Maafkan aku." sambungnya membelai punggung gadisnya.
Menangislah di dadaku, menetaplah di sini. Karena sejak dulu ini adalah tempatmu. Aku milikmu, selamanya milikmu.
...
Dee menutup pelan pintu apartemen saat berangkat bekerja, meminimalkan bunyi agar tidak membangunkan Ricchi yang tertidur di kamar satunya. Ya sang aktor itu menginap, Dee berbaik hati menyilakan Ricchi untuk tidur di kamar bukan di sofa. Tentu saja Dia mengunci kamar tidurnya, walau mantan kekasihnya itu sudah mengatakan takkan berbuat macam-macam.
Arrghhh ! jerit Dee setelah keluar dari bangunan apartemennya.
Mukanya memanas mengingat semalaman diberondong rayuan Ricchi, pria yang telah membuat retakan di dinding hatinya. Entah bagaimana caranya ia bisa bertahan 6 hari ke depan.
...
Sesampai di kantor Dee dihajar oleh meeting beruntun, membuatnya sibuk dan sesaat melupakan Ricchi. Perhatiannya kembali terfokus pada pekerjaan, walau di kantor ada satu penggoda yang terang-terangan menunjukkan pesona di dalam ruangan rapat, siapa lagi kalau bukan Andrey Arlovski.
__ADS_1
Pria tampan yang duduk di sebelah Dee berkali-kali menuliskan quotes di bukunya.
You are my blue crayon, the one i never have enough of, the one i use to color my sky
Bibir seksi milik Andrey menyeringai sambil menaikkan kedua alisnya setelah Dee membaca tulisan di buku.
Dee membuang muka ke arah samping, sikutan pelan dari Andrey membuatnya berbalik dan membulatkan matanya.
"Ehemmmm !" Dehaman keras dari Anton Arlovski mengagetkan Dee.
CEO tampan itu tahu jika adiknya sedari tadi berupaya mengganggu manager tercantik perusahaannya. Ia juga tahu jika Andrey jatuh cinta kepada gadis asia itu, berkali-kali Andrey menyinggung ketertarikannya kepada Dee saat makan malam keluarga besar mereka.
"Urusan pribadi sepulang kantor baru dilanjutkan." kata Anton yang melayangkan pandangan ke arah keduanya, sebuah senyum simpul tersungging dari wajah persegi nan seksi. Anton adalah pria dewasa yang seolah keluar dari majalah Men's Health. Sempurna seperti adiknya.
"Yo. " Dee mengurungkan perkataannya yang ingin keluar "your's brother.."
"Maafkan aku Mr. Arlovski" sahutnya, tidak memperpanjang karena semua manager melihatnya sambil menahan tawa.
...
Setelah rapat yang dilanjutkan makan siang, Dee pun kembali ke ruangannya. Dihempaskan bokongnya dengan kasar pada kursi kerjanya yang berbahan kulit. Dee merasakan lelah bahkan baru setengah hari jam kerja dilalui, banyak pikiran yang membuatnya seperti ini.
Dia pun meraih ponsel yang sengaja tak dibawanya ke ruangan meeting.
BF
Biasanya ada ucapan selamat pagi, hari ini kok tidak ada yah?
Milikku sibuk kerja? Jangan lupa makan siang yah Dawn.
Masih sibuk?
Cairan bening pun meluruh di sudut pipi Dee.
Sambil menarik ke dalam bibirnya Dee menekan cepat di layar ponselnya.
Dee
Kakak.. aku rindu, rindu sekali. Bisakah kakak pinjam pintu ajaibnya doraemon dan muncul di ruangan kantorku. Aku butuh kak Liam, sekarang!
BF
Hahahaa.. sungguh menggemaskan. Kakak masih punya waktu sejam sebelum kembali tenggelam dengan pekerjaan. Bagaimana jika pintu doraemon diganti dengan video call?
Dee
Masih di kantor kak, jam istirahatku sudah habis
BF
Wait !
Tunggu ? Maksudnya tunggu apa.. Kak Liam tidak pergi mencari pintu doraemon kan ? Batin Dee sembari meraih tissue dan menyeka bekas air matanya.
BF
Bagaimana? My Dawn masih rindu?
Liam mengirimkan kolase foto wajahnya berbagai ekspresi. Sedetik kemudian meledaklah tangisan Dee sejadi-jadinya di dalam ruangan berdinding kaca berukuran 35 meter persegi.
###
Ricchi
Andrey
Abang 💕
__ADS_1