
Setahun kemudian...
Shadow tumbuh besar dan makin cerewet pula lucu, sangat menggemaskan anak Liam Farubun yang mempunyai rambut hitam lurus. Walau tidak mewarisi wajah Liam melainkan sifat ayahnya menurun kepada Shadow.
"Ayah.. Shadow mau ditinggal lagi? Berdua lagi dong sama ibu. Jangan lama, Ayah." Ucapnya merajuk dengan tangan memeluk tubuh Liam, kepalanya disandarkan di dada ayahnya
"Iya.. ayah tidak lama, Shadow." Ucap Liam menangkup wajah kecil yang bibirnya seperti ikan ******, ayah bermata sipit itu pun tertawa geli.
"Ayah... Bawa Shadow ke Mamarika." Sang ayah pun tergelak tawa, karena anaknya menyebut Amerika dengan Mamarika.
"Tapi ibu tidak ikut, kalau Shadow berdua dengan ayah.. Shadow harus janji tidak boleh rewel saat ayah sedang kerja. Seperti saat Shadow ikut di kantor."
Mata anak gadisnya diredupkan dengan bibir menukik ke bawah.
"Ibu harus ikut.. biar ada yang temani Shadow main." Rajuk Shadow memegang wajah Liam dengan kedua tangan kecilnya.
"Jadi Shadow cuma mau ikut ke Mamarika untuk main?"
Mata bermanik hitam dan polos itu pun mengerjap indah seperti mata Dee, istrinya.
"Main sama temani ayah kerja."
Liam mencium lembut kedua pipi anaknya "karena ayah lusa sudah berangkat, jadi belum bisa bawa Shadow. Nanti kalau ayah pulang, kita bertiga dengan ibu ke Mamarika."
Putri cantiknya pun menganggukkan kepala dengan kuat, lalu berseru sembari turun dari pangkuan Liam.
Liam mengikuti pergerakan Shadow yang berlari ke arah kamar tidur, di mana istrinya sedang tidur siang.
Shadow menaikkan badan ke tempat tidur dengan sangat pelan, lalu mengambil tangan Dee untuk memeluknya.
Istrinya tersenyum simpul dan memeluk tubuh anaknya, lalu menepuk-nepuk punggung Shadow.
Liam ikut bergabung dan membaringkan badannya di sebelah Dee, tak lupa ia mengecup pipi istrinya.
"Dia benar anakmu, Dawn." Kekeh Liam melihat Shadow sudah terlelap hanya berapa menit setelah bergabung dengan ibunya.
Perlahan Dee melepaskan tangannya dari kepala Shadow, menggantinya dengan bantal. Setelah itu ia berbalik dan masuk ke dalam pelukan suaminya.
"Aku masih ingat bagaimana seorang gadis tidur di sela-sela pemotretan. Segampang itukah kau tidur, Wifey ?" Liam tertawa pelan menggoda istrinya
"Kakak itu tidak mengerti, waktu itu aku sudah lelah masih disuruh ganti baju, terus foto di atas tempat tidur." Dee menggerutu sambil menatap wajah Liam
"Itu pertama kali kita tidur bersama.. gadis pertama aku temani tidur seranjang, sekarang telah memberiku seorang gadis kecil yang sangat cerewet."
"Cerewet seperti ayahnya. Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya." Ucap Dee melirik anaknya
"Iya.. gadis kecil yang berusia 24 tahun itu sangat canggung denganku. Tidak bisa berbicara, kakak pikir kau bisu.. cantik-cantik bisu."
"Ya ampun aku sangat muda saat itu, kak.. sekarang sudah mau masuk 30 tahun, suamiku sendiri sudah 36 tahun."
"Dan mulai ubanan." Sahut Liam
Dee memerhatikan kepala suaminya, rambut putih mulai tumbuh di mana-mana walau belum merata.
"Aku suka.. karena fase menua bersama telah kita masuki."
"Mana istriku menua? Malah makin cantik... Jangankan uban, kau tertawa pun tidak ada guratan halus di pipimu, sayang." ucapnya sambil mencium pipi istrinya
"Belum, ayah... Mungkin besok setelah usiaku memasuki 40 tahun. Shadow sudah 12 tahun saat itu, masuk SMP ya, kak."
Liam menyipitkan mata "Aku akan mulai pusing di situ, menghadapi anak remaja. Bagaimana waktu kau berusia 12 tahun, Wifey ? Apakah bandel, suka melawan papa dan mama?"
"Istrimu kutu buku, hanya belajar dan belajar mengisi hari-harinya.. bukan pemberontak." imbuh Dee
Liam menghela napas lega "Satu masalah teratasi.. Mungkin kita harus membuat satu masalah besar lagi." Ucapnya menatap Dee dengan sorot mata nakal sambil mengedutkan alis
"Ayahh..." rajuk Dee sembari menggigit bibir bawahnya
"Aku mencintaimu, Dawn." Sembari bangun dan menarik tangan istrinya keluar dari kamar tidur, menuju kamar sebelahnya.
...
Liam pun berangkat ke Amerika, tepatnya ke Los Angeles. Dalam setahun terakhir tak terhitung berapa kali ia menginjakkan kaki di Dream City, tentu saja dalam rangka pekerjaan dan melihat perusahaan perfilman yang dibangunnya bersama Ricchi.
Ya, persetujuan ketika Dee masih mengandung Shadow tetap berjalan malah perkembangannya sangat bagus.
Farubun & Maheswara Film, itu nama rumah produksi keduanya, bukan mengusung Farubun Pictures seperti yang di tanah air. Liam pun hanya sesekali turun tangan menjadi seorang sutradara, ia lebih suka menjadi produser dan Ricchi ? Kalian pasti ingin tahu kabar pria tampan tersebut.
Yes.. Ricchi masih single, dan tak banyak berakting di depan kamera. Pria itu semakin jual mahal setelah film layar lebarnya meledak di bioskop tahun lalu. Ricchi semakin selektif memilih naskah yang masuk dan cenderung terfokus kepada perusahaan mereka.
Liam berpapasan dua orang pria dan wanita menggunakan jas senada sesaat ia masuk ke dalam ruangan kantor Ricchi.
"Bang.. tiba kapan?" Sapa Ricchi langsung berdiri dari kursi kerja dan berjalan menuju sofa di mana Liam langsung mendudukkan badannya setelah menaruh dua gelas kopi berlogo medusa diatas meja
"Kemarin sore." Sahutnya meraih gelas berwarna putih tersebut dan menyeruput americanonya
__ADS_1
Ricchi menatap datar Liam dan lama, pria bermata sipit itu menoleh sambil mengerutkan alisnya.
"Dawn tidak ikut." Ucapnya acuh karena tahu arti tatapan Ricchi
Ricchi mengembuskan napasnya dengan kecewa sambil menghempaskan badannya ke sandaran sofa.
"Tadi mereka marketing apalagi?"
"Yang mana?" Sahut Ricchi malas
"Yang barusan aku papasan."
Ricchi memejamkan masih menghela napas pendek dan penuh kebosanan.
"Ohhh... Aku membeli lahan, agak pinggiran L.A.. tepatnya di sebuah hutan pinus. Dan mereka aku minta untuk membangunkan sebuah rumah. Lahan yang cukup luas, 5 hektar."
Liam membalikkan badannya menatap lurus ke arah Ricchi.
"Rumah yang sekarang kau mau apakan?"
"Tetap ada, karena aktifitas masih banyak di di pusat kota. Rumah yang satunya nanti akan menjadi tempat tinggal sebenarnya. Suasananya tenang, sangat cocok untuk menulis."
Ya, Ricchi memanfaatkan waktu senggangnya dengan menulis buku, sedikitnya sudah 2 novel diterbitkan dan 1 nya telah tertuang menjadi sebuah film.
"Rumah yang kau akan huni dengan istrimu?" Ucap Liam datar masih dengan kopinya, sembari melayangkan pandangan pada ruangan kantor Ricchi berukuran 7x5 meter persegi, kurang lebih hampir sama besar dengan ruangannya dengan design interior yang berbeda.
Ricchi meringis mendengar ucapan Liam "Abang sendiri tahu jika hanya satu wanita yang bisa menjadi istriku, tak lain istrimu."
Liam menolehkan kepalanya memberikan ekspresi malas, reaksi akan ucapan Ricchi.
"Bukannya kau sedang berkencan dengan model itu, siapa lagi namanya ?"
"Paola." singkat sang aktor
"Iya, berkaki jenjang.. model pakaian dalam ala malaikat.. kurang apa coba?"
"Kami sedang break, boleh kok buat abang jika mau.. kita tukaran dengan senang hati."
Liam meninju lengan Ricchi dan memicu gelak tawa pria tampan berlesung pipi yang sangat dalam.
"Paola hanya indah di catwalk, di ranjang aku seperti tidur dengan bangau.. lehernya terlalu panjang, mana desahannya persis seperti suara unggas.. membuatku tidak menikmati percintaan kami."
Liam menutup mulutnya yang terbahak tawa hingga terbatuk.
"Wanita-wanita itu hanya datang dan pergi.. tak ada yang bisa menetap di hati. Aku mulai bosan dengan hidup seperti ini, bang. Makanya aku membeli lahan itu, dan menepi dari hiruk pikuknya Hollywood."
"Kau yang tidak mau membuka hati.." gumam pelan Liam
Ricchi menghela napas berat "Bagaimana bisa membuka hati, jika memang sudah tidak punya.. di bawa seorang wanita yang tidak mau lagi datang ke L.A."
"Hmmmm..."
"Dee mencintaiku bang.. waktu pamit, dia mengatakan mencintaiku dan mencintaimu..." Ucapnya jujur, Liam hanya mengembuskan napas kasar
"Aku menciumnya..."
Liam sontak menegakkan tubuhnya dan menatap Ricchi tajam "dimana ?"
"Bibirlah.. french kiss."
Liam memutar matanya malas lalu mendesis "Kalian tidur bersama ?"
Ricchi menggelengkan kepalanya lemah, Liam pun kembali ke posisinya semula "Andai kami tidur bersama, pastinya dia sudah meninggalkanmu bang.. entah Dee akan bersamaku tapi menurutku Dee akan meninggalkan kita berdua... Menghilang lagi.. menghancurkan hati kita lagi."
Keduanya menghela napas panjang mengingat masa-masa yang mereka lalui saat Dee menghilang.
"Apa kabarnya?"
"Siapa ? Shadow?"
"Bang..."
"Kenapa kau tidak menanyakannya langsung."
"Aku takut memulai.."
"Selama setahun kalian menjauh.."
"Dan selama setahun tidak melihat wajahnya. Sosial medianya hanya berisi foto dan video Shadow.. abang juga terlihat kompak, tidak memamerkan istrimu lagi. Padahal jaman dulu, paling rajin bikin aku cemburu." Ricchi menggerutu
"Dawn sudah bahagia denganku.. aku menikmati setiap momen dengannya dan tidak ada yang perlu dipamerkan. Mungkin kami berdua telah dewasa, tidak terlalu memikirkan publik, atau aku yang mengikuti jiwa Dawn.. dia tidak terlalu suka dengan sosial media, bukan?"
Ricchi mengulum senyumannya "Ingat waktu pertama bertemu dengan Dee.. aku sampai syok mendengar ada orang yang tidak punya instagram. Gadis yang aneh dan tidak kebanyakan."
Liam terdiam sembari menerawang.
__ADS_1
"Aku memikirkan ini kenapa kita begitu mencintai Dawn, hingga tidak bisa melepaskan perasaan yang terlanjur tertanam...." ucap Liam lalu menghela napas
"Karena kita berdua sangat mirip, jiwanya.. selera wanita kita sama.. baik kau dan aku tidak mempunyai teman akrab, selain kita berdua.. kemudian Dawn hadir, gadis polos yang suka mengeluarkan opini-opini yang dengan gampangnya masuk di kepala kita. Dia mengisi hidupku."
"Aku menemukan gadis yang sejiwa." imbuh Ricchi tersenyum simpul
"Dawn seperti magnet, yang tidak bisa dihindari.. aku jatuh cinta saat pertama melihatnya.. Matanya mengerjap gugup melihatku, membuat hatiku berdesir. Tapi aku tak mengindahkannya, hingga terus menerus kami bertemu. Aku mulai candu, selalu ingin dia berada di dekatku.."
"Polos dan gugup, itu yang membuatku suka saat pertama kali melihatnya. Dia sangat cantik.. dan sangat pintar" sahut Ricchi mengingat raut wajah Dee saat itu
"Kita yang bersalah.. menarik masuk ke dunia kita, aku yang salah tepatnya. Andai kami hanya bertetangga biasa saja."
"Dan ya jika abang melakukan itu.. abang akan melihat Dee digaet oleh teman kantornya."
"Angga.. bahkan kita masih "berhubungan" dan aku melihat Dawn di antar pria itu, aku cemburunya bukan main. Dadaku bergemuruh.. sangat aneh, kenapa bisa aku merasakan hal seperti itu ketika aku masih terjerumus dengan dunia gelap."
Ricchi tertawa kecil dengan ungkapan hati Liam.
"Dee yang mengubah hidupku.. mengobati jiwaku yang sakit.. perlahan perasaan itu tumbuh dengan kebersamaan kami. Dia sangat indah.."
"Di tempat tidur." Tebak Liam
Ricchi melirik ke arah Liam dan mata mereka saling berpandangan penuh makna.
"Kaulah pria yang tidur pertama dengan Dawn.."
Ricchi menganggukkan kepalanya "Sekian banyak wanita yang aku temani tidur setelah itu.. tak ada satu pun yang seperti Dee.. bukan karena aku yang pertama, namun dia sempurna dan indah di tempat tidur."
"Sampai sekarang pun Dawn masih seperti itu." Pamer Liam
Ricchi mendengus kesal lalu menaikkan sebelah bibirnya.
"Itu mengapa tidak ada yang bisa menggantikan posisinya dihatiku.. apalagi aku tahu Dee mencintaiku.. aku telah memilih jalan hidupku.."
"Sendiri ? Menepi ?"
Ricchi hanya tersenyum tipis "Bang.. bolehkah aku melihat foto terbarunya."
Liam mengambil ponselnya dan membuka galeri penyimpanan foto dan memperlihatkan gambar istrinya bersama Shadow.
"Dia sangat cantik.. Dee sangat bahagia sekarang yah bang.. senyumnya merekah bak bunga matahari." Puji Ricchi dengan mata berkaca-kaca
"Aku pernah melihatnya mengusap air mata... Mungkin dia mengingatmu.."
"Bukan karena menonton drama." Celetuk Ricchi
"Istriku bukan tipe penonton drama-dramaan, hidupnya sudah drama karena kita berdua. Kita berdua yang salah, Ricchi. Tapi apa jadinya hidup kita berdua jika tidak bertemu dengan Dawn. Mungkin kita akan ke luar negeri melegalkan pernikahan sejenis. Bagaimana dengan keluarga besar kita, apa mereka bisa menerima jalan hidup menyimpang itu. Kita akan menghancurkan hati orang tua.. di tambah publik, fansmu.. hidup kita pasti kacau balau.."
"Seorang Belviyah Dawn Ragala adalah sosok pahlawan di hidup kita berdua, sekalian tumbal akan keserakahan kita." Ucap Ricchi memperkuat penuturan Liam
Liam menarik napas panjang dan dalam
"Bisakah kita membahagiakan hidupnya.. karena di kehidupan selanjutnya, pasti Dawn akan mendapatkan jauh lebih baik dari kita berdua... Sementara kau dan aku akan terpanggang api neraka."
...
Jika aku berkata bahwa aku mencintaimu
Jika aku berkata bahwa aku ingin bertemu denganmu
Jika aku berkata bahwa aku merindukanmu
Kau hanya akan secara sedikit-demi sedikit melarikan diri dariku
Selama hari-hari penuh badai cintaku ditinggalkan seorang diri
Hari inipun seperti ini, masih begitu sepi
Ting tong.. !
"Ibu ada orang..." Seru Shadow menarik tangan Dee yang sedang mencuci sayuran
"Iya.. sabar Shadow.. paling orang antar paket." Dee melepas celemeknya
Anaknya gadisnya tidak mau mengerti, terus menarik tangan Dee menuju pintu depan. Tidak mungkin juga Liam, karena suaminya masih di kantor dan mempunyai kunci rumah.
Jantung Dee jatuh melihat pria tinggi yang mengukir senyuman indah berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kabarmu, Dee?"
###
__ADS_1
Tamat 😁