DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
Where You Have Been


__ADS_3

Beberapa kali mata Dee beradu pandang dengan sang mempelai pria yang berdiri di atas pelaminan, pria berambut hitam dan berwajah tampan tersebut mengumbar senyum simpul ke arahnya. Karena pria itulah Dee menginjakkan kakinya kembali ke Indonesia setelah 3 tahun lamanya ia pergi meninggalkan negara kelahirannya. Sang mempelai pria yang menggunakan suit wedding mahal berwarna putih itu pun beberapa kali mendatanginya di Moskow.


"Harusnya kamu yang bersanding di atas, Sis," tegur pria bersuit hitam di sampingnya.


"Wahyu !" Seru Dee langsung memeluk pria yang tersenyum lebar itu.


"Kamu makin cantik, Dee" puji Wahyu mengusap punggung mantan teman sekantornya. Ia pun sama dengan Dee, telah meninggalkan kantor akuntan tempat mereka bekerja sekitar 2 tahun lalu, dan menjadi internal auditor sebuah perusahaan di kota pahlawan.


Dee tergelak tawa "*Thank you. By the way* mana yang lain?" Tanyanya sambil mengedarkan pandangan.


"Entahlah, aku baru bertemu dengan Reza di pintu masuk. Hey Dee, apa kabar? " Ujar Wahyu memandang penampilan gadis cantik berdress sparkly sequin berwarna pink light, tubuh tingginya makin semampai dengan stiletto berwarna senada.



"Seperti yang kamu lihat, Bro." Jawab Dee memutar badannya dengan senyum semringah, wajahnya berbinar dan Wahyu bisa melihat perbedaan sikap Dee yang semakin terbuka dibandingkan saat-saat mereka masih menjadi teman sekantor.


"Kamu makin berkilau, negara yang dingin justru membuatmu lebih hidup, Dee" puji Wahyu lagi "Dan lihat lah Angga. Bahkan dia telah bersanding dengan istri cantiknya namun pandangannya berkali-kali ke kamu," sambungnya terkekeh memandang ke arah pelaminan.


Dee ikut tertawa ringan. Ya ini pesta pernikahan Angga Karunasankara, pria yang berjasa di hidupnya. Adalah Angga yang menguruskan beasiswa untuk berkuliah di Moskow State University, Rusia. Negara yang tidak pernah hadir di bayangan Dee sebelumnya, dan sekarang menjadi tempat tinggalnya selama 3 tahun terakhir. Selepas menyelesaikan pendidikan magister accounting and auditing, Dee langsung bekerja di perusahaan telemarketing sebagai Internal Audit dan 2 bulan lalu ia telah menduduki jabatan sebagai Manager Audit perusahaan tersebut.


Selama di Moskow Angga sering mendatanginya, sejak mulai berkuliah hingga 6 bulan lalu. Pria berambut hitam dan dingin itu tetap dengan misi yang sama yakni mengajaknya menikah. Segala upaya telah dikerahkan Angga untuk menggaet hati Dee namun ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk tetap hidup sendiri.


Entah kenapa pernikahan bukan lagi menjadi target hidup Dee selama di Eropa. Dan lagi yang terpenting Dee tidak mencintai Angga, tidak ada pria spesial di kehidupannya lagi walau di lingkup kampus, kantor dan pergaulan sosialitanya dirinya sadar sebagai seorang primadona. Kecantikan Asianya menarik para pria Eropa dan beberapa pria berasal dari negara yang sama.


Sejak bekerja Dee tinggal di apartemen berkamar dua yang berada di pusat kota, kantornya hanya berada 4 blok dari tempat tinggalnya. Kadang Dee berjalan kaki ke kantor, namun di saat musim dingin dia akan menggunakan taksi atau kereta bawah tanah.


Selama di Moskow, kedua orang tuanya dan Kevin rutin mengunjungi setiap setahun sekali ketika adiknya sedang liburan sekolah.


Di samping keluarga intinya, hanya Angga dan Farah Dewi sahabatnya yang mengetahui kontak pribadinya. Dan dari Farah Dewi, Dee bisa mengetahui perkembangan Ricchi dan Liam.


Ricchi dua tahun belakangan ini lebih banyak di berada USA, aktor tersebut telah menembus pasar Hollywood dengan 3 film layar lebar bergenre action movie. Mantan kekasih Dee itu telah bertunangan dengan seorang bintang film Indonesia, wanita yang berusia dua tahun di bawah umur Ricchi. Menurut Farah Dewi mereka terlibat proyek iklan bersama, kemudian Ricchi dan Elvira Renata sang aktris memutuskan untuk menjalani hubungan percintaan dan 5 bulan lalu keduanya telah bertunangan.


Pria jangkung sang sutradara masih bertahan dengan status singlenya dan semakin terkenal. Dalam setahun Liam bisa membuat 3 film dan semuanya meledak menjadi box office. Satu film Ricchi disutradarai oleh Liam, yang mengantarkan sang aktor ke Hollywood dan itu pula menjadikan dirinya sebagai sutradara yang diperhitungkan di kancah perfilman internasional.


Nama besar Liam sudah mencapai pasar luar namun pria itu lebih suka tinggal di Indonesia dan hanya akan ke USA ketika mengerjakan sebuah proyek film.


...


I met a superhero


I lost her


I want her back


She did things to me that no one else could


And I miss that


Lauv - Superhero


Dua gadis saling berangkulan menuruni tangga eskalator mall PI, satu gadis berbadan tinggi semampai, tubuhnya di balut jaket kulit hitam dengan dalaman putih dipadukan jeans denim biru dan boot hitam. Gadis satunya atau bisa dikatakan ibu hamil berusia sepantaran Dee menggunakan dress berwarna coklat tua dengan flat shoes senada dengan sling bagnya berwarna hitam. 8 bulan lalu sahabatnya Farah Dewi menikah dengan pacar abadinya sejak kuliah yang tak lain adalah Brian Mulandra.


"Maafkan aku sayang jalan-jalan kita berakhir secepat ini" ujar Farah Dewi mengeratkan gamitan tangannya di lengan sahabatnya.


"Aku tidak menginginkan kamu melahirkan sebelum waktunya cinta, melihatmu megap-megap seperti tadi membuatku khawatir," tukas Dee memandangi wajah Farah Dewi membulat seperti bakpao, hidung mancungnya hampir tenggelam dengan kenaikan berat badannya yang sangat drastis.

__ADS_1


"Berhenti memandangiku seperti itu Dee, nanti jika kamu hamil akan merasakan hal yang sama aku rasakan sekarang. Tidak bisa bernapas dengan badan membesar 3 kali lipat," gerutu Farah Dewi membuat keduanya tertawa terbahak, Dee pun lalu mencium pipi sahabatnya penuh sayang.


"Dawn!" Teriakan lantang mengagetkan Dee dan Farah Dewi, keduanya mencari asal suara yang memanggilnya sesaat mereka melewati tiga toko dari tangga eskalator.


Liam beserta rombongan besar yang menenteng kamera memandang ke arah Dee dan Farah Dewi. Tidak! ada pria lain sedang menggamit seorang wanita berjalan maju menembus rombongan tersebut. Ricchi dan tunangannya.


Cantik, gumam dalam hati Dee melihat wanita berambut pendek dalam gamitan tangan sang mantan kekasihnya itu.


"Kak." Ucap Dee lirih namun mengembangkan senyuman lebarnya ke arah Liam dan Ricchi.


Remasan tangan Farah Dewi di jemari Dee menguatkan dalam menghadapi situasi yang tak bisa dihindarinya lagi.


Langkah Liam berderap cepat menghampiri Dee, dan sebuah pekikan kecil dari bibir Farah Dewi ketika pria jangkung itu memeluk erat sahabatnya.


"Where you have been, Dawn! " jerit Liam sambil mencium puncak kepala Dee, tubuhnya bergetar bercampur haru dan bahagia.


"Kak." Gumam Dee pelan, hatinya berdesir hebat. Dada hangat beraroma maskulin manis menguar di indera penciumannya. Salah satu wangi yang dirindukannya.


"Farah Dewi, kan?" Tanya Liam mengendurkan pelukan memandang ke arah wanita di samping gadis kecilnya yang sontak menutup kedua bibirnya terheran mendengar pria jangkung itu mengetahui namanya.


Farah Dewi pun mengangguk dengan tersenyum simpul.


"Kakak ingat Farah Dewi?" Cicit Dee menengadah menatap wajah Liam dan pandangan keduanya bertemu, intens.


"Tidak ada satu pun yang aku lupakan tentangmu, Dawn," ucap Liam sembari menghela napas dalam.


"Kalian pasti tidak membawa mobil ke sini, kita akan mengantar Farah Dewi pulang," Liam melayangkan pandangannya ke arah bumil cantik yang kembali mengangguk setuju, Dee hanya termangu dengan sikap posesif sang sutradara jangkung bermata sipit tanpa lipatan itu.


Liam kemudian merangkul tubuh gadis kecilnya tanpa mempedulikan rombongan wartawan yang baru saja mewawancarai perihal film terbarunya yang sebentar lagi akan tayang di bioskop. Film yang kembali menjadikan Ricchi sebagai bintang utama, dan tunangan pria itu menjadi pemeran utama wanitanya.


Belviyah Dawn Ragala, gadis yang meninggalkannya 3 tahun lalu tanpa diketahui kemana perginya.


Selama setahun setelah kejadian itu, Ricchi mencari informasi tentang Dee, namun nihil. Tidak ada satu pun berita menjelaskan gadis itu pergi kemana, akhirnya Ricchi menyerah dengan hati yang masih berharap untuk bisa bertemu kembali.


Ya, 5 menit lalu akhirnya Ricchi melihat wajah mantan kekasihnya, cantik.. malah semakin cantik. Rambutnya memanjang sepunggung, raut wajahnya semakin dewasa dan senyuman merekah dari bibir merah itu membuat hatinya berdebar tak karuan. Besar keinginan hatinya ingin bergabung dan memeluk tubuh indah Dee, tubuh yang selalu dirindukannya setiap malam. Namun apa daya ada gamitan tangan Elvira tunangannya yang semakin kencang melihat Dee. Elvira tahu dengan benar siapa Dee, karena gadis itu pernah menghiasi berita infotainment dan foto Dee masih Ricchi simpan di sosial medianya.


...


Sesaat kemudian..


Dee terpaku melihat Liam mengemasi barang-barang pribadinya sesaat mereka tiba di kamar hotel. Setelah menurunkan Farah Dewi dengan selamat di rumahnya, Liam menuntut Dee menunjukkan hotel tempatnya menginap selama di Jakarta.


Rumahnya telah dijual dua tahun lalu. Atas permintaan Dee sendiri juga yang menginginkan rumah tersebut dijual dan hasil penjualannya dipakai untuk membangun sebuat kost-kostan berkamar sebanyak 20 yang lokasinya tidak jauh dari kompleks tempat tinggalnya dahulu.


"Aku tidak bisa membiarkan kamu menginap di hotel dek, sementara kakakmu punya rumah. Harusnya begitu kamu sampai di Indonesia, langsung ke tempatku saja" ujar Liam menyusun dengan rapi peralatan mandi, make up dan pakaian kotor di dalam koper. Dari celotehan Farah Dewi di perjalanan pulang tadi akhirnya Liam tahu semua informasi tentang Dee, 3 tahun di Moskow Rusia menjauh dari dirinya.


"Ayo, kita kembali ke rumah, selama kamu di Indonesia tinggallah denganku sama seperti saat dulu, Dawn." Liam merangkul Dee yang terdiam mengikuti keinginan pria posesif itu.


...


Ricchi melangkah pelan memasuki apartemen yang telah ia tinggalkan selama 2 tahun, masih seperti dulu tak berubah sedikit pun letak furniturenya. Pria yang berapa jam lalu dihadapkan kenyataan bahwa gadis yang menghilang muncul kembali di hadapannya.


Ricchi menghela napasnya dengan dada yang nyeri sembari mengingat kenangan Dee tersimpan rapi di setiap sudut apartemennya. Dari ruangan tempat bermain game, sofa, bahkan tempat tidur tempat terakhir mereka bersama, menyimpan kenangan manis tentang mantan kekasihnya itu.


"Dee sayang, betapa aku merindukan dan masih mencintaimu. Tapi tatapan matamu tadi seolah aku bukanlah siapa-siapa lagi di hatimu." ucap Ricchi lirih, perih menyergap jiwanya.

__ADS_1


Getaran di saku celananya membuat Ricchi merogoh ponsel pintarnya


Elvira mengirimkan pesan


Aku tunggu di rumah yah honey


Ricchi lalu menarik pendek napasnya


Tidak usah menunggu. Aku akan ke rumah mama hari ini.


Sejak setahun yang lalu Ricchi membeli rumah di kawasan elit tempat kebanyakan para selebriti menetap, sebuah rumah mewah di tempati berdua dengan Elvira tunangannya. Mereka hidup layaknya sepasang suami istri, tanpa ikatan pernikahan.


Rencana pernikahan mereka pun masih terkendala oleh kesibukan Ricchi yang sangat padat dengan syuting di luar negeri dan di Indonesia.


Ricchi lalu mematikan ponselnya setelah membalas pesan Elvira, ia memilih membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur, tempat Dee melepaskan kegadisannya dengan sukarela.


Setetes cairan bening jatuh di sudut matanya, pikirnya ia telah melanjutkan hidup, memilih bunga terindah menjadi tunangannya namun ternyata hatinya tetap terpaku dengan wanita yang lebih indah dari sekuntum bunga. Kecantikan dan aura Dee yang melebihi apapun di hidup Ricchi. Tidak ada membandinginya, tidak akan pernah ada.


...


"Serius cuma mau makan mie instan?" Tanya Liam sambil mengaduk serpihan mie di dalam panci yang mempunyai pegangan itu.


Dee menganggukkan kepala dalam pangkuhan tangannya di island table, ia mengamati Liam dengan cekatan memasakkan mie instan sesuai permintaannya.


"Dawn, katakan ingin makan apa dan kakak akan masakkan apa pun yang kamu inginkan." celoteh Liam yang sedari tadi mendominasi percakapan mereka, pria jangkung itu pun menarik kursi di samping Dee setelah menaruh semangkok mie yang telah bercampur dengan bakso dan telur rebus, tak lupa Liam memasukkan potongan sawi hijau di dalamnya.


"Terserah apa yang kakak masak, aku pasti akan memakannya." sahut Dee mulai menyantap mie instan buatan Liam, satu-satunya pria yang pernah memasakkannya makanan.


Giliran Liam berpangku tangan dengan arah tatapannya kepada Dee, hatinya sedari tadi berteriak riang, bahagia. Ia telah melupakan perasaan patah hati yang dibawanya selama 3 tahun terakhir, hanya semenit setelah Dee berada dalam pelukannya.


"Dawn." Liam bergumam pelan.


Dee pun lalu menolehkan kepalanya menatap ke arah Liam yang sedang mengerucutkan bibirnya


"Apa kamu sudah punya kekasih atau suami?"


Dengan mulut masih mengunyah Dee terkikih pelan, ia meraih gelas berisi air putih di depannya dan menenggak isinya separuh lalu menaikkan jemari kirinya ke atas.


"Jika aku punya suami harusnya sudah memakai cincin pernikahan bukan kak? Dan, aku tidak mempunyai pacar, kekasih, gebetan apalagi tunangan." ucap Dee jujur membuat Liam tersenyum lebar, sangat lebar memperlihatkan barisan gigi putihnya yang indah


"Berarti kali ini adalah milikku." Ucap Liam pelan dengan binar mata bahagia ke arah Dee, tangannya mengusap lembut pipi gadis kecilnya


Ya, kali ini adalah kesempatanku memilikimu, lanjutnya membatin.


~


Cinta bukan melepas tapi merelakan. Bukan memaksa tapi memperjuangkan. Bukan menyerah tapi mengikhlaskan. Bukan merantai tapi memberi sayap.


Fiersa Besari


###



__ADS_1


__ADS_2