DI ANTARA DIA

DI ANTARA DIA
I'm Not Gay


__ADS_3

"Kak, bisa tidak pakai baju?" Protes Dee melihat Liam hanya mengenakan boxer dan coat hitam tanpa dalaman. Kekasihnya yang berpenampilan seperti itu pun membuatnya meneguk saliva.


Tubuh jangkung yang sedang membuat kopi bergetar sesaat karena tawa.


"Americanonya, Nyonya Farubun" ucap Liam menaruh mug di depan Dee, pria itu lalu menangkup wajah gadis kecilnya, mengecup bibir merah itu, ringan


"Jangan memikirkan macam-macam dengan otak kotormu, Dawn" canda Liam sembari mendudukkan tubuhnya di kursi samping Dee


"Hish." Dee mendesis lalu memajukan bibirnya "Aku tidak memikirkan yang aneh-aneh kak, cuma di luar dingin kok bisa ada orang bertelanjang dada seperti ini" sambungnya sembari memegang tubuh Liam pada bagian detak jantung berada


Mata Liam membulat seolah ingin menelan Dee hidup-hidup, wajahnya merah merona karena godaan kekasihnya.



"Gadis kecil, aku punya limit loh, sedikit lagi kamu tidak akan ke kantor." Liam membalikkan tubuhnya dari kursi bundar menghadap ke arah Dee, dengan keras ia menarik kursi kekasihnya merapat pada tubuhnya "apa ini yang kamu inginkan?" Lanjutnya menyusuri dari bahu hingga leher Dee dengan lidahnya, terakhir gigitan kecil di ujung telinga kekasihnya


"Kak !" Pekik Dee, dadanya berdegup sangat kencang, wajahnya pasti memerah


"Aku hanya bercanda"


"Makanya makan, habiskan sandwichmu jangan berpikir aneh-aneh." Liam mencubit pipi kekasihnya yang bersemu "Asal kamu tahu Dawn, aku sangat-sangat menahan gairahku kepadamu. Padahal aku ingin memakanmu membuatmu tak berdaya di tempat tidur."


Bulu di tangan Dee meremang mendengar ucapan Liam, terdengar sangat menggoda dengan suara parau kekasihnya.


Dee menoleh memandang ke arah Liam, matanya sayu antara cinta di hatinya atau tubuhnya yang bereaksi akan perkataan pria itu.


"Arrgh." pekik Dee kesakitan, keningnya baru saja diketuk agak keras oleh Liam


Pria itu tergelak tawa bahagia, ia senang gadis kecilnya mempunyai gairah yang sama dengannya.


"Katakan 'Ya, aku akan menikah denganmu Kak Liam' dan saat itu pula aku akan mengangkat tubuhmu ke tempat tidur, kita ambil di depan masa bulan madu kita. Bagaimana dek?" Goda Liam sambil menaikturunkan alisnya


Dee mendengus kasar memalingkan wajahnya


"Marah?" Tanya Liam mendekatkan tubuhnya ke tubuh Dee


"Tidak." Sahutnya masih cemberut


"Yakin tidak marah?"


Kepala Dee manggut-manggut dengan yakin


"Aku tidak bisa marah sama Kak Liam."


"Kenapa tidak bisa marah?"


"Karena aku cinta." Jawab Dee pelan sembari menatap mata Liam, dalam.


"Aku mencintaimu juga dek. Jadi, kapan kamu mau menikah denganku?" Tanya Liam dengan lancar tak berjeda apalagi ragu


"Kak." Dee tertunduk sebentar lalu kepalanya dinaikkan kembali "Berikan aku waktu kak, pekerjaanku menumpuk. Aku tidak mungkin menikah dalam waktu dekat."


"Bukannya menikah itu hanya gampang saja, "aku terima nikah dan kawinnya" just it Dawn. Terus kakak tetap di sini menemanimu, sesekali ke Indonesia melihat perusahaan. Kita bisa membeli rumah di sini, atau apartemen yang lebih besar." ujar Liam panjang seolah semua telah direncanakannya dengan matang


"Tidak, aku tidak mau pernikahan seperti itu kak." sergahnya cepat


Liam tertawa kecil kembali mencubit gemas pipi kekasihnya


"Katakan seperti apa konsep pernikahan yang kamu inginkan sayang?"


"Pernikahan di hall besar, mengundang semua teman dan keluarga. Terus kemudian pestanya sambil berdansa dan bergoyang."


"Dance ala Taylor Swift lagi?" Jenaka Liam kembali mengingat jingkrak-jingkrak tidak jelas Dee 3 tahun yang lalu


"Kakak! Aku serius ini."


" Iya iya, terus apalagi setelah berdansa?"


"Bulan madu ke Spanyol."


Senyum merekah dari bibir Liam "cuma Spain? Tidak ingin ke negara lain? Kanada? Negara kelahiran kakak."


"Aku ingin ke sana juga kak, kapan?"


"Sekarang?"

__ADS_1


Dee mengarahkan pandangannya ke arah jam di dinding, waktu telah menunjukkan jam 8 kurang 10 menit


"Kak ! Aku terlambat ke kantor ! Ya ampun, kakak sih ngajak bicara" pekik Dee gelalapan kembali masuk ke kamar tidur


"Aku tetap antar Dawn." teriak Liam buru-buru ikut masuk ke kamar


"Tidak usah." sahut Dee memandang Liam yang langsung memakai kemejanya "kakak tidak mandi?"


"Tadi aku sudah cuci muka dan sikat gigi. Tidak kentara kalau kakak belum mandi kok." ucap Liam yang telah berpakaian rapi hanya semenit kemudian. Pengalamannya sebagai model yang membuat Liam bisa mengganti baju secepat kilat.


Dee terpana melihat Liam, kekasihnya selalu menarik dan tampan, siapa pun melihat pria itu takkan ada yang tahu mandi dan atau tidaknya.


"Katanya mau cepat-cepat. Itu baru ngobrol biasa saja sudah lupa waktu, belum kakak bawa ke tempat tidur." ucap Liam menarik tubuh kekasihnya yang berdiri mematung


Dee mengeratkan genggaman tangan sambil memandangi wajah Liam, kekasihnya.


Miliknya.


...


Dee tertawa kecil membaca chat Liam yang mengirimkan pesan bergambar gelas kopi berlogo medusa


Liam :


Ini gelas ketiga, kamu ada oralit kan dek? Jaga-jaga kalau kakak diare karena kopi


Dee :


Cukup dengan air rebus dengan garam


Liam :


Daun jambu saja kalau begitu


Dee tergelak tawa bahunya pun naik turun, pria jangkung itu selalu membuat hatinya menghangat, bahkan di luar sana salju sudah mulai menutupi jalanan.


Setiap hari Liam mengantarnya ke kantor, pria itu pun selalu membawa tas ranselnya yang berisi notebook kerja. Sang sutradara itu akan bekerja seharian dengan membooking 1 ruangan meeting di coffee shop langganannya yang berada hanya 3 bangunan dari gedung kantor Dee.


...


Dua minggu sudah berlalu Liam di Moskow dan semuanya berjalan lancar tanpa kendala apa pun. Pekerjaan dan kehidupan asmaranya dengan Dee berjalan seiring, jika nantinya mereka menikah Liam harus menunjuk seseorang yang dipercaya dan bisa diandalkan mengurus Farubun Pictures.


Demi Dee, Liam rela melepaskan hasil jerih payahnya berpuluh tahun. Farubun Pictures yang sudah seperti anaknya sendiri, perjuangan dari titik minus yang sekarang sudah terkenal di dunia internasional.


Liam yang sepanjang usianya hanya terfokus pada karier, keinginannya untuk semakin terkenal, semakin sukses, dirinya yang tergila akan puja-puji selangit akan hasil karyanya, semua itu membutakan hatinya.


Namun bertemu kembali dengan Dee, Liam sadar hanya satu yang diinginkannya sekarang. Gadis kecilnya, cinta dalam hidupnya. Walau Liam sangat tidak menyukai negara bermusim dingin yang panjang, bersalju tebal, sendu. Namun saat bersama dengan Dee semuanya terlihat indah, ceria, berwarna dan hangat.


Liam tidak ingin kehilangan Dee lagi, kali ini gadis kecil adalah miliknya seorang.


MyDawn :


Kangen


Pesan Dee membuat Liam menghentikan pekerjaannya yang disambi dengan berangan-angan tentang masa depan dengan gadis kecilnya.


Liam :


2 jam lagi sayang, sabarlah.


MyDawn:


Jangan menunggu lama di depan kantor, dingin. Datangnya jam 5 pas yah kak


Liam


Ada kamu yang menghangatkanku, jika aku kedinginan


MyDawn


Ya...


Liam


Ya apa ini? Ya menikah atau Ya menghangatkan?

__ADS_1


MyDawn


Ya menjemput !


Liam terbahak tawa membayangkan wajah manyun kekasihnya saat di becandai. Sekarang dirinya yang rindu pada Dee, sangat rindu.


...


Gadis kecilnya seperti biasa menghambur masuk ke dalam pelukannya setiap Liam menjemput Dee di depan kantor. Syukurnya mereka di Eropa bagian terdingin dunia yang tidak begitu peduli keromantisan pasangan yang sedangdi mabuk cinta. Menurut Dee tidak ada satu pun yang membicarakan kemesraan mereka di kantor. Moskow bukanlah Jakarta atau kota lain di Indonesia, di mana-mana ada bibir yang mempunyai kekuatan berlebih membicarakan kehidupan orang lain.


"Perut kakak tidak bermasalah?" tanya Dee meraba perut Liam, mata indah mengerjap dalam dongakannya memandang Liam


"Tidak sayang. Kakak baik-baik saja, kamu tidak perlu mencarikanku daun jambu" Liam tertawa sesaat mata sipitnya menghilang, pria itu lalu melabuhkan kecupan ringan di bibir merah kekasihnya


"Kak, makan apa kita? Di luar saja?"


Liam menelengkan kepalanya tidak setuju


"Di apartemen Dawn, kakak yang akan memasak. Bagaimana dengan chicken teriyaki?"


"Mau !" Seru Dee riang


Keduanya menautkan jemari dalam saku coat Liam, gadis kecilnya bersandar di lengan pria jangkung kekasihnya.


"Aku juga bisa memasak kak, tapi kakak terus yang masak sih." gumam Dee sambil memejamkan matanya


"Seumur hidup kakak akan memasakkan untukmu."


"Kalau kakak sibuk?"


"Kita pesan antar."


"Sayangnya di sini tidak ada aplikasi seperti di Indonesia."


"Iya" sahut Liam mengiyakan, kadang kemudahan negara kelahiran papanya lebih menggoda, namun Dee memilih untuk hidup di negara ini. Di mana pun, Liam akan berdiri di sisi kekasihnya.


Keduanya terdiam di pinggir jalan, dengan suhu dingin dan salju jatuh di puncak kepala mereka. Baik Liam dan Dee tidak merasakan dinginnya suhu minus 7 celcius itu, kedua tangan yang saling bertautan menyalurkan kehangatan hingga hati mereka.


"Naik kereta saja yah dek, tumben taksi tidak ada yang lewat." ucap Liam melihat ke arah jalanan


"Iya kereta saja." sahut Dee menyetujui ide Liam


"Kamu lihat taksi sana, mungkin ada orang kantormu yang pesan Dawn, dari tadi tidak bergerak." Dee hanya menoleh sesaat ke arah yang Liam katakan


"Ada salju di alis kakak." ucap Dee menatap wajah kekasihnya


"Ambilin" Liam merundukkan kepalanya sejajar dengan pandangan Dee, dengan cepat gadis kecil itu menangkup wajahnya lalu mencium bibirnya


"Aku bercanda!" Seru Dee berlari menjauh setelah satu kecupan singkat yang membuat Liam merona


...



Helaan napas berat dari bibir pria tampan yang duduk di dalam taksi, entah berapa kali ia harus membuang muka setiap melihat kemesraan yang terpampang jelas di matanya.


Ya, Ricchi terbang dari negara adidaya ke negara komunis terbesar dunia demi Dee. Sebenarnya Ricchi sudah menduga bahwa Liam masih ada di kota ini, namun ia tidak menyiapkan diri untuk melihat suguhan roman cuma-cuma dari pasangan tersebut.


Sangat mesra, bahkan berbagai adegan film romantis yang dilakoninya tak satu pun seintim dan nyata seperti itu. Saat bersama dengan Dee pun, Ricchi belum sempat semesra itu di muka umum.


Sakit, hatinya sakit mendapati kenyataan Liam yang mengambil tempatnya, posisinya. Dee yang miliknya bermanja dalam pelukan Liam.


Perih, rasa di sudut dadanya. Dee telah membagi sifat manja kepada pria selain kepada Ricchi. Dan kemanjaan Dee hal paling yang dirindukannya.


Dan lihat keduanya yang tak mempedulikan cuaca dingin, Dee dan Liam tertawa bahagia berjalan menjauh dari tempat mobil terparkir, bahkan pemanas taksi bekerja maksimal namun Ricchi masih merasakan dingin menusuk hingga hatinya.


Aku akan mendapatkanmu lagi Dee, hanya untukku. Karena semua ini adalah kesalahanmu, meninggalkanku di saat aku mencintaimu dengan hebatnya. 3 tahun tak sekali pun bayanganmu menghilang, rasamu, wangi tubuhmu, gelak tawamu, semuanya yang sedikit lagi membuatku kehilangan akal sehat. Aku mencintaimu Dee !


###


jangan ragukan aku ...



kurang tidur.. banyak pikiran... tapi tetap ganteng maksimal

__ADS_1



__ADS_2